Selasa, 09 Juni 2015

Master Chef Indonesia Session 4 dan Ayam Goreng Jahe

Master Chef Indonesia sebuah ajang pencarian chef handal yang diadopsi dari program yang sama asalnya dari Inggris sana dan bekerjasama dengan RCTI. Sebenarnya saya gak terlalu mengikuti program ini, hanya saja Sabtu, 6 Mei 2015, pas lagi nonton TV dan kejebak nonton, sembari nonton Indonesia Open juga hihi.


Kebayang dong tantangannya berkali lipat, lihat aja jurinya, paling gak peserta harus hati hati sekali memikirkan apa yang hendak dimasak, sekalinya membuat masakan khas Italia, namun gagal di lidah Sir Matteo, habislah dicaci maki. Di episode perdana MCI #4 itu saja, udah banyak peserta yang kena semprot Sir Matteo, hiiii, kritikannya buat JLEB dan ‘sakitnya tuh disini, Sir’. Kalau Chef Arnold, kritikannya masih wajarlah penggunaan kata yang dipakai, tapi kalau Sir Matteo, ‘Ini masakah dari Neraka’, aih. Kalau aku digituin, dah lah gulung gulungkan aja adek Bang ke adonan spageti itu.

Ingin rasanya bisik di telinga Sir Matteo dan Chef Arnold, kata Rasulullah, kalau kita gak suka dengan makanannya, sebaiknya kita diam, dan itu sunnah. Hehe.



Namun, diantara sekian banyak drama yang terjadi di tayangan perdana MCI #4 lalu, satu hal yang jadi perhatianku. Sebelumnya, inti dari ajang ini sebenarnya sederhana, peserta diminta membuat masakan yang sederhana pun jadi tapi walau sederhana buatlah enak dan pas final touch sajikan dengan mewah. That’s The Point. Masalahnya, di tantangan kedua, perkara mencabut bulu ayam okelah, namun ketika proses memasak ayam yang bisa dibilang waktu dah mepet banget, karena waktu membersihkan bulu ayam digabung dengan waktu mengolah ayamnya menjadi masakan lezat, disitulah tantangannya.

Jadi, ada satu peserta yang buat masakan olahan ayam yang super duper guampang banget,apalagi kalau bukan Ayam Goreng, ya Ayam Goreng pemirsah, namun judulnya Ayam Goreng Jahe. Dan tahu apa yang terjadi pas proses penjurian, Chef Arnolf membelah sepotong paha ayam itu daaaann dilihat masih berdarah, merah kehitaman dari tekstur daging ayam yang belum masak itu kelihatan pemirsa. Wuidih, aku aja ngeliatnya, sama geramnya dengan ekspresi Chef Arnold, fatal sekali itu. How come, girl?

Aku lupa nama peserta yang melakukan kesalahan fatal itu, tapi yang jelas dia sebelum masuk MCI mestilah berguru padaku dulu soal masak memasak ayam goreng #Plak *ditabok pake ayam goreng*

Adapun masak ayam goreng yang lezat itu adalah direbus dulu dengan bumbu atau istilahnya diungkep, jadi pas digoreng, gak perlu minyak goreng banyak atau digoreng sebentar pun gak masalah, karena udah matang pas diungkep.



Resep Andalan Ayam Goreng Andalan The Nufa’s Family:

Bahan:
1 Kg daging ayam, potong 10, sesuai selera

Bumbu ungkep:
5 siung bawang putih
Jahe segede ibu jari
1 sdm Ketumbar
Garam secukupnya

Semua bumbu haluskan, masukkan ke dalam ayam yang sudah bersih, aduk sampai bumbu tercampur merata, tuangkan sedikit saja air. Kemudian ungkep/rebus sampai air rebusan ayam menyusut.

Kemudian ayam siap digoreng. Hmm, harum dan lezat. Sisa rebusan ungkepan ayam bahkan bisa buat bumbu tempe goreng , tahu goreng, atau brokoli goreng tepung. Keluargaku doyan banget makannya.

Selamat Menonton MCI dan mencoba resep ayam goreng ala The Nufa’s Family.

Resep Cemilan Andalan Nenek Lempeng Pisang Mas

Beberapa hari ini stok pisang melimpah ruah di rumah dan tetiba kangen dengan cemilan buatan Nenek, namanya Lempeng. Haha. Bukan lempeng sembarang lempeng, apalagi lempengan bumi, tapi ini Lempeng Pisang, sebut saja Lempeng Pisang Mas. Soalnya aku gak tahu namanya apa, si nenek yang asli minang setiap kali ditanya nama cemilan tersebut, dia pasti jawab ‘Lempeng’.

Pisang Mas ( Sumber Foto : www.andi.my.id)

Oke saking rindu dan kepengen banget makan Lempeng, aku pun berinsiatif membuatnya sendiri di rumah. Resepnya sederhana saja dan tradisional banget hehe.

Berhubung saya keluarga besar, jadi kalau buat cemilan dalam porsi banyak.

Bahan:

Daun pisang secukupnya

2 Sisir Pisang Mas, haluskan
6 sdm Tepung Terigu
6 sdm kelapa parut
Gula secukupnya
Garam secukupnya

Cara Membuat:

Selagi kita menyiapkan adonan, sebelumnya keringkan daun pisang, untuk kemudian di lap bersih dengan kain lap kering tentunya, untuk menghilangkan debu dan serangga halus.

Haluskan pisang ( saya menggunakan gelas atau bisa juga botol bekas sirup) , masukkan tepung sedikit demi sedikit, kemudian masukkan kelapa parut, lalu gula dan garam, aduk adonan sampai rata.



Siapkan kuali, panaskan dengan api kecil, letakkan daun pisang kemudian letakkan adonan, bentuk bulat seperti adonan pizza, tutup adonan pisang dengan daun pisang lagi, kemudian tutup pakai tutup panci, tunggu 7 menit, setelah adonan bawah mulai matang, bersiap untuk membalikkan adonan, pelan pelan ya Bu, dan hati hati lengannya kena bibir kuali hehe, karena panas. Masak 7 menit juga. Kemudian angkat. Sajikan.

Kalau bisa diawasi terus ya Bu adonannya, jangan sampai gosong. Stok daun pisang kalau bisa agak banyak, satu helai daun pisang yang lebar itu cukup untuk buat adonan Lempeng Pisang Mas.

Gimana? Mudahkan. Selamat Mencoba ya Bu.

Cemilan saya ini, habis sekali hap, haha.

Senin, 08 Juni 2015

To Be or Not To Be



…Begitu muda kita menempelkan suatu profesi hanya karena melakukan satu-dua pekerjaan saja. Menyebut diri blogger hanya karena punya blog (padahal tidak update juga), satu dua kali menulis menyebut diri penulis, sesekali bepergian melabeli diri traveler, bikin satu-dua kali koleksi busana sudah menjadi desainer dan seterusnya. Mungkin ini urusan pribadi, namun di ranah professional hal ini sulit dibenarkan. Penghargaan terhadap mereka yang betul betul berprofesi itu menjadi terabaikan. Apalagi ketika kalah ‘pamor’ dengan para wannabe ini yang populer di ranah maya. Selalu ada proses yang dilewati untuk boleh memakai label profesi tertentu, kalau mau pekerjaan itu disandang dalam jangka waktu lama, Tidak hanya musiman atau ikut ikut terus.

Petty S Fatimah-Pemimpin Redaksi Majalah Femina

Sumber Foto dari Fesbuk Mba Ani Berta


Awal baca pernyataan tersebut sempat menggelegak juga kepala saya haha, pernyataan yang sama pernah saya dapat dari diskusi dengan kawan kawan penulis, bahwa belum disebut penulis kalau belum menerbitkan buku, heuheu. Mendengarkan hal itu saya langsung menciut ciut dan ciut.

Sementara salahsatu guru kepenulisan saya Bang Ali Murthado, redaktur Harian Analisa pernah bilang, bahwa kalau kita sudah pernah menulis, ya kita penulis, bagi saya gak ada penulis pemula apalagi manula hehe, begitu kata Bang Ali.

Kontradiktif memang, namun namanya hidup, gak bisa semuanya harus ideal sesuai ingin kita.

Sebenarnya ada dua sikap untuk merespon pernyataan Bu Petty diatas

Motivasi yang Makjleb. Bu Petty gak salah tapi gak juga benar, bagi yang mental tahan banting, pernyataan Bu Petty di atas merupakan cambukan banget. Iya yah, aku blogger, tapi blog gak up date, iya yah aku ngaku penulis tapi gak berkarya, dan iya yah lainnya, ya sebelas dua belas dengan, iya yah, ngakunya muslimah, tapi gak berjilbab, hehey.

Motivasi yang buat down, bagi yang baru mulai nge blog atau menulis, pasti pernyataan Bu Petty ini mematikan, sangat mematikan semangat kita kita yang baru memulai dunia nge blog, dunia tulis menulis, dan dunia yang katanya ‘profesi’, tapi benar juga dalam komen Bang Aswi- Blogger Bandung di fesbuk Mbak Ani Berta, blogger yang memposting pernyataan Bu Petty pertama kali, bahwa sebuah profesi dikatakan profesi apabila dalam pengakuan profesinya kita diminta sumpah untuk itu, seperti profesi dokter, pengacara, dll, nah penulis dan blogger, profesi gak yah hehe, buka kamus lagi yuk.

Jadi, sebenarnya sah sah aja sih pernyataan Bu Petty, yang penting diri kita nih, kalau kita memang passion dengan sesuatu, pasti akan diseriusin, love what you do, do what you love, sederhana bukan?

Cuma memang, saya akan mengeluarkan pernyataan yang sama seperti Bu Petty kepada kawan kawan yang memang sudah lama bergelut di dunia blogger dan kepenulisan, terlebih diri saya sendiri, biar jadi penyulut api semangat lagi untuk nge blog dan menulis.

Dan saya hindarkan sekali mengutarakan pernyataan tersebut kepada newbie dan lihat jiwa dan bahasa tubuhnya, kalau kira kira dia golongan darah B haha, kenapa jadi lari ke golongan darah, ya lihat audiens nya maksud saya, gak mau jadi pematah semangat orang, karena saya tahu rasanya semangat saya dipatahkan orang lain.

Makanya sesekali kita perlu orang orang yang mendukung kita, dan kadang kita perlu orang yang mengkritisi kita, semua itu pasti baik untuk kita, biar kita jangan terlena dengan zona nyaman, tapi ayo cari yang lebih menantang, mestilah naik level, belajar belajar dan belajar.

Sabtu, 23 Mei 2015

Mengenalkan Sastra pada Anak ala Helvy Tiana Rosa

Sungguh kesempatan luar biasa Medan bisa kedatangan Helvy Tiana Rosa lagi pada tanggal 22-24 Mei 2015. Salahsatu agenda Bunda Helvy adalah menjadi pembicara di Forum Silaturahim Ayah Bunda Medan pada Sabtu, 23 Mei 2015.



Dengan pembahasan Mengenalkan Sastra pada Anak, sekilas pembahasannya sederhana ya, tapi efeknya luar biasa, sastra menjadi asupan penting dalam perkembangan anak, itu sebab mengapa Umar bin Khattab, seorang Khalifah yang kita kenal galak, namun sanggup menyampaikan pernyataan, ‘Ajarkanlah kepada anakmu sastra, karena akan melembutkan hatinya’, sampai disini, simpulannya adalah ternyata sastra itu penting loh.

Belum lagi kesukaan saya pada drama Korea kolosal yang mengangkat kisah para raja dan ratu di istana pada zamannya, ada adegan anak Raja wajib belajar sastra. Jangankan drama korea, Imam Syafi’I saja sampai berguru pada Mus’ab bin Zubair, awalnya permintaan Imam Syafi’I untuk belajar mengarang puisi ditentang keras oleh sang Ibu, karena lebih baik belajar Al Qur’an daripada mengarang puisi, namun apa kata Imam Syafi’I kepada ibunya, hingga ibunya luluh dan mengizinkannya belajar mengarang puisi?

“Wahai Ibu, Zaid bin Tsabit adalah seorang penghafal Al Qur’an, tetapi ia juga pandai bersyair dan menjadi penyair kesayangan Rasulullah. Jika seseorang pandai menulis syair, kata katanya menjadi menarik dan orang akan mudah paham mendengar kata katanya” *

Subhanallah, wajar sekali bila banyak kata kata mutiara yang lahir dari lisan Imam Syafi’I dan sampai sekarang masih dibaca serta kita renungi maknanya. Saya faans berat Imam Syafi’I saya jatuh cinta pada kata kata bijak berhikmah yang ia ciptakan.

Andai hidayah bisa kubeli, akan kubeli berkeranjang keranjang untuk kubagikan kepada mereka yang aku cintai (Imam Syafi’i)

Itu salahsatu kata kata bijaknya. Kereen banget kan?

Penasaran dong ya, seperti apa seorang Bunda Helvy, sastrawati Indonesia dalam mendidik kedua buah hatinya. Bunda mengawali materinya dengan menceritakan sekilas kehidupan rumah tangganya.

Ternyata anak Bunda Helvy empat, namun keguguran, jadi anak Bunda yang ada yakni Abdurrahman Faiz (20 th) dan Nadya Paramita ( 8 th).

Istri dari Tomi Satryatomo ini, adalah sosok yang romantis, dalam penyampaiannya Bunda tidak pernah membangunkan suaminya dengan cara cara ekstrim, hehe, tapi ala ala penyair.

‘Bagaimana saya tidak jatuh cinta berkali kali sama kamu setiap hari, kalau caramu membangunkan saya seperti ini, begitu kata Mas Tomi saat saya membangunkannya dengan kata kata puitis di telinganya setiap hari’, ujar Bunda saat menceritakan kehidupan rumah tangganya.

Begitu punya anak, Faiz juga diperlakukan seperti itu oleh Sang Bunda. Saat menulis catatan ini, saya sempat stalker juga di google tentang Abdurrahman Faiz, putra pertama Bunda Helvy, dan muncullah sekelumit profil di situs Wikipedia. Subhanallah prestasi Faiz terutama dalam ber-syair sungguh luar biasa dan ada juga karya berupa buku yang ia tulis saat usia belia. Sekarang Faiz sedang menyelesaikan studinya di Turki.

Lalu, bagaimana cara Bunda Helvy mengenalkan sastra kepada anak anaknya?

Ramaikan anak kita dengan buku, meskipun dia belum mengerti dan bisa membacanya, tentu pilihlah bahan material buku yang tidak gampang koyak. Bahkan sampai mainan pun, Bunda menyiapkan mainan yang berbentuk Buku.
Bunda juga membeli buku buku puisi terutama karangan Sapardi Djoko Damono, dari puisi puisi SDD lah Bunda mulai menghujani suami dan anak anaknya dengan jutaan kalimat puitis.

Setiap pagi Bunda membangunkan Faiz dengan puisi, ‘Subhanallah Faiz, pagi ini Allah masih memberikan kita kehidupan, Bunda mencintai Faiz seperti Bunda mencintai pagi, selesai mengucapkan kalimat tersebut di telinga Faiz, kemudian Faiz saya cium dan saya peluk’, ujar Bunda membagikan pengalamannya dalam mengenalkan sastra kepada Faiz sejak dini.

Efeknya, Faiz di usia tiga tahun, Bunda dikejutkan dengan moment wow Faiz yang membisikkan ke telinga Bunda Helvy ‘Bunda, Faiz mencintai Bunda seperti Faiz mencintai syurga’

Arrgghh, saya saja membayangkannya sudah meleleh, apalagi Bunda Helvy sendiri selaku ibu kandung Faiz. Hihi

Bunda juga mengenalkan sastra pada Faiz dengan cara mendongeng. Ada satu pengalaman dimana Bunda waktu itu baru pulang kerja dan dalam keadaan lelah luar biasa, bayangkan sebaik turun dari angkot, berjalan lemas, tetiba dari rumah disambut Faiz dengan teriakan " Woi, itu Bundaku, Bundaku pulang, Bundaku jago dongeng" , disusul dengan rombongan teman teman Faiz yang penasaran pengen didongengin oleh Bunda Helvy, hahaha.

Ada satu tips dongeng dari Bunda, bahwa dongeng yang berhasil itu bukan saat kita dongeng kemudian anak sukses tertidur, tapi anak malah sukses melek dan semangat mengikuti alur cerita dongeng yang kita bawa. Itulah ukuran berhasil membacakan dongeng untuk anak.

Selain itu, apa yang dilakukan Bunda tidak hanya mengenalkan sastra saja pada akhirnya, tapi juga mengajarkan anak cinta buku, cinta ilmu, cinta kegiatan menulis.

Keluarga Bunda Helvy menerapkan setiap anggota punya buku harian, sampai kepada asisten rumah tangga Bunda, Saya pernah baca juga di buku Bunda Helvy lupa saya judulnya, Bunda Helvy dan suaminya kalau marahan ya ditulis di buku harian, anak anak juga begitu. Nah, nanti anggota keluarga membaca isi hati dari tiap anggota keluarga, jadi gak ada yang dipendam, semua disalurkan melalui tulisan dan kemudian dikomunikasikan untuk sama sama dicari solusinya. Marahan aja bisa jadi tulisan ya hehe.

Kebiasaan Bunda Helvy menulis buku harian tidak lepas dari kebiasaan Ibu Bunda Helvy yakni Ibu Maria yang juga selalu menulis setiap jam 2 pagi, ternyata kebiasaan ibunya itu ia rekam dan ia ikuti sampai sekarang.

Kemudian, tipsnya lagi, di setiap kamar anggota keluarga, ada perpustakaan kamar dan ada juga perpustakaan keluarga. Wuaa buku dimana mana, pasti menyenangkan sekali.

*Sumber :
Talib, Abu Latip, 2010, Imam Syafi’I : Pejuang Kebenaran, Penerbit Emir Cakrawala Islam

Senin, 20 April 2015

Mamak Mertuaku

Dalam rangka memeriahkan #K3BKartinian Posting Serentak Hari Kartini, daku ingin berbagi kebahagiaan karena sudah 8 bulan terakhir punya mamak mertua.


Pertama kali ketemu mamak, waktu itu masih calon mamak mertua, pada saat mengantarkanku ke Bandara Kuala Namu International Airport, selama perjalanan di Bus Damri kami ngobrol, 2 jam ngobrol mengupas kehidupan mamak, membicarakan anak lelakinya yang kini jadi suamiku dan banyak hal hehe termasuk mewawancaraiku.

Ini semua rencana Mbakku, dia mengatur pertemuanku dengan calon mamak mertua, kebayang dong deg deg annya, tapi aku bawa cool aja, soalnya udah campur campur rasa di dalam hati, antara deg deg an mikirin perjalanan pertama backpacker ke Malaysia berdua dengan Kak Erna dengan deg deg an untuk bertemu calon mamak mertua, aarrgghh. Aku harus ngomong apa? Aku harus bagaimana?

Jadi, ceritanya, aku ketemu calon Mamak Mertua dulu, sedangkan berkomunikasi dengan calon suami seadanya aja via Bbm, itu pun kebanyakan aku cuekin haha, pas ketemu calon mamak mertua, calon suami udah panik hihi, langsung dia BBM, ‘Mamak cerita apa aja?’, ‘Mamak kalau udah ngobrol suka wawancarai orang’, bla bla…aku cuma balas, gak ada cerita apa apa kok :-p , dalam hati ‘mamakmu udah cerita dari A-Z tentang kamu loh’, bwuahahahaha *evil laugh*

Tanggal 9 Juni 2014 bener bener hari bersejarah dah, ke bandara pakai diantar calon mamak mertua uhuy banget dah. Nah, balik lagi ke dalam Bus Damri, kami banyak ngobrol di dalam perjalanan ke bandara itu, satu hal yang paling aku ingat, aku bilang gini ke mamak, ‘Mak, mohon maaf banget, saya gak bisa masak Mak’, dan mamak jawab begini, ‘Ibu *waktu itu masih panggil ibu, ciyeeee* juga gak pande masak, Rul’, Gubrak! Rasanya pengen high five dengan mamak, tapi kan gak mungkin, jaga image dong depan calon mamak mertua.

Dan sekarang setelah tinggal seatap dengan mamak, huwaaa…aku sampai bingung mana mamak kandungku hihi, mamak mertua dah kayak mamak kandung, mamak kandung dah kayak mamak mertua, heuheu, jauh, sebulan sekali mamak kandung datang ke rumah, kadang aku yang datang nengok Emak dan Ayah. Ternyata kangen juga T_T.

Dan kadang suami suka protes, ‘Mamak ini, anak kandung mamak, aku atau Zee sih?’ hihi, Aa suami panggil aku Zee. ciyee cemburu ciyee.

Begitulah, jadi kalau ada yang hari ini masih ada stigma negatif bahwa punya Mertua atau tinggal serumah dengan Mertua merupakan momok atau jadi ketakutan tersendiri, buang jauh jauh deh. Tahu gak, salahsatu resep buat suami bahagia adalah ketika dia melihat hubungan yang harmonis antara istri dengan mamak kandung suami.

Kalau ditanya, bagaimana sih membangun hubungan harmonis dengan mertua? Sebenarnya susah susah gampang, sama seperti kita membangun hubungan dengan orangtua kandung kita. Hanya saja kalau sudah jadi istri tentu yang jadi prioritas adalah orangtua suami, meskipun tidak menutup kesempatan istri untuk berbakti dengan orangtua kandungnya juga, tergantung komunikasi dengan suami.

Adapun yang aku terapkan sebenarnya menjalankan nasihat yang aku dapat sebelum menikah, bahwa kelak jika sudah menikah, dan memiliki mertua, pertama, jangan pernah menolak permintaan mertua, contoh: suami beli 10 daster nih untuk istrinya, eh sampai di rumah, mamak mertua naksir satu daster, sebenarnya bisa aja aku protes, itu kan daster aku semuaaa, tapi aku gak begitu, hehe, mak bisa milih daster mana yang ia suka walau itu sebenarnya punyaku, lagi pula semenjak ia bermenantu, mamak mertua baru mulai lagi untuk mengoleksi dan mengenakan daster, biasanya si mamak tomboy abis, tapi kalau pakai daster, anggun banget. Kemudian apalagi, ya? Masih belajar sih, hehe.

Yang jelas, anggap kayak mamak sendiri dan tentu dengan tata cara yang baik sebagaimana Al Qur’an mengajarkan hubungan antara anak dengan orangtua.

Sekarang, makin sayang sama mamak mertua, hiks hiks, selama hamil, aku dimanja abis. nenekku sampe marah , ‘Jangan dimanja kali si Nurul itu’, hihi , *kabuuur, sembunyi dibalik punggung Mamak Mertua*

Sayaaang, Mamak `(*∩_∩*)′

Dok.Pri

Minggu, 05 April 2015

Anak Pesantren Menulis Cerpen, Kenapa Gak?

Judul : Antologi Pria di Menit Akhir
‘Kumpulan Cerpen Inspirasi Islamis’
Penulis : Irhas Ad- Dilisardani
Penerbit : Wal Ashri Publishing
Cetakan : 1, 2015
Halaman : 270 Hal
Harga : Rp. 30.000

Idealnya, seorang lulusan pesantren menulis kitab agama, ya, dan aneh sekali bila sebaliknya justru menuliskan karya bermodalkan khayalan yang dikhawatirkan dapat melalaikan pembacanya. Tapi gak juga kok, banyak ulama yang menulis novel bahkan romantis maksimal, contohnya saja yang paling fenomenal Buya Hamka dengan novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

Saya pikir ini pemikiran kuno. Berdakwah melalui tulisan memang seharusnya gak melulu soal buku agama, tentu yang baca, pasti kalangan yang minat terhadap persoalan agamanya, namun bagaimana dengan orang orang yang ingin mengetahui agamanya lebih dalam tapi tanpa harus digurui, salahsatunya dengan media fiksi.

Sekitar tahun 1997-2004 fiksi islami mekar mengharum di dunia perbukuan Indonesia, yang paling fenomenal adalah cerpen karya Helvy Tiana Rosa berjudul Ketika Mas Gagah Pergi, cerpen itu seperti oase di Padang Fiksi yang kering hikmah, banyak pelajar putri yang berjilbab sedangkan pelajar putra mulai ikut pengajian.

Cover kumcer KMGP terbaru,  dukung pembuatan filmnya yuk

Itulah salah satu alasan fiksi islami lahir, bersebab ingin meredam geliat fiksi yang hanya mengumbar aurat, aurat dan aurat yang waktu itu juga laris manis. Fiksi Islami hadir sebagai bacaan yang ringan, menghibur namun sarat akan pesan yang membekas bagi pembaca, bahkan mampu menggerakkan pembaca untuk berubah ke arah yang lebih baik. Nah, beberapa tahun terakhir, selera pembaca akan fiksi islami, khususnya kumcer agak menurun, ini berefek sekali terhadap enggannya penerbit untuk menerbitkan naskah kumpulan cerpen islami, bila tanpa embel embel nama besar dari si cerpenis. Sungguh salut luar biasa saya kepada penerbit Wal Ashri Publishing, yang dimiliki Bang Ali Murthado, seorang redaktur di Harian Analisa Medan.

Perjalanan Pria di Menit Terakhir

Dok.Pri

Latarbelakang antologi cerpen ini lahir, berawal dari kesukaan Irhas, si penulis yang hobi berkhayal, selanjutnya tanpa ingin menyiakan khayalan yang ada, ia pun menuliskannya. Cerpen pertama yang ditulis untuk antologi ini berjudul Injury Time. Nah, setelah terkumpul semua cerpen. Tahun 2013,Irhas datang pada saya melalui email, karena waktu itu saya sudah tidak aktif lagi di kampus setelah wisuda.

Dalam email tersebut, Irhas meminta saya untuk mengedit cerpennya. Pelan tapi pasti, cerpen pun teredit semua, kemudian membuat judul dan sinopsis, Alhamdulillah Irhas cukup sabar menghadapi kakak seniornya ini yang (sok) sibuk hahaha.

Cukup lama memikirkan judul yang menarik untuk antologi cerpen Irhas ini, akhirnya ketika nonton film barat yang diputar disalah satu stasiun TV, ada sebuah dialog yang membuat saya sukaaa banget, you’re the man in the last minute, kamu adalah pria di menit terakhir. Wuih keren nih dialog untuk judul kumcer Irhas. Saya ajukan judul ke Irhas dan dia suka. Kemudian saya bantu buat sinopsis, dan done. Saatnya mengajukan kumcer ke beberapa publisher, ada tiga penerbit yang kita lamar, namun belum berjodoh, hingga pada akhirnya tahun 2015 Pria di Menit Akhir berjodoh di penerbit Wal Ashri Publishing, sebuah small publisher di Medan.

Pria di Menit Akhir, adalah kumcer yang terdiri dari 10 cerpen, ditulis oleh cerpenis muda Kota Medan, Irhas Ad-Dilisardani nama pena-nya, lulusan pesantren (sekarang melanjutkan studi di sebuah pesantren di Bogor), dalam dunia tulis menulis, sepak terjangnya jangan ditanya lagi, ia dan temannya pernah menerbitkan buku panduan belajar Nahwu Bahasa Arab.

Beragam Tema yang Diangkat

Oke, langsung saja ya kita menguliti buku kumcer ini, dengan dominasi warna coklat, buku kumcer Pria di Menit Akhir datang pada saya dalam bentuk PDF dulu hehe karena memang lagi masa cetak waktu itu, dengan gambar badan pria berbaju koko menyandang tas, saya yakin ini penggambaran sosok Irhas eh Ilyas. Siapa Ilyas? Nanti kita bahas lebih lanjut. Tentang judul cover, sebenarnya gak perlu pakai kata ‘antologi’ karena disinopsis sudah dijelaskan bahwa ini kumcer, jadi kata kata antologi menurut saya gak perlu ada. Kemudian ada judul, kalau judul, ‘aku sih yes’ hihi.

Mengenai tagline ‘kumpulan cerita pendek Inspirasi Islamis’, kedengannya kumpulan cerita pendek ISIS yah haha, menurut saya ini mubazir, sebab sesuatu yang sudah islami ( bersifat islam, berbau islam) InsyaAllah menginspirasi, jadi lebih baik, taglinenya ‘kumpulan cerita pendek islami’ udah begitu aja.

Sekarang, kita masuk ke isi kumcer, kita akan disambut oleh deretan judul 10 cerpen, namun saya akan bahas beberapa cerpen yang menurut saya menarik.

Jadi, hampir diseluruh cerpen memiliki tokoh utama bernama Ilyas. Kenapa Iiyas? Setelah di klarifikasi langsung oleh penulis dalam bedah bukunya yang diadakan 6 April 2015 lalu di Aula lt.II UIN SU, bukan karena apa apa, terlebih karena Ilyas adalah singkatan dari Ilmu, Yes Selalu! Hahah ada ada aja yak. Hanya saja ada satu cerpen dimana nama Ilyas bukan tokoh utama, tapi antagonis, di cerpen manakah itu? Beli bukunya yak ^_^

Foto bareng Irhas usai Bedah Buku ^o^

Tentunya cerpen Pria di Menit Akhir menjadi salahsatu cerpen yang menarik buat saya, sekilas judulnya romantis balalala yah, tapiii…kalau kita sudah baca ceritanya dijamin seperti nonton film action, keren filmis. Geregetan dan ngakak juga. Ilyas dalam cerpen Pria di Menit Akhir adalah seorang pelajar yang bertugas mengantarkan baju seragam sepakbola temannya, namun dia kesiangan ke sekolah, seperti apa perjuangan Ilyas dalam mengantarkan baju seragam sepakbola teman temannya? Ada di halaman 17.

Uniknya dalam setiap cerpen yang ditulis Irhas, sarat akan pesan agama dan nasihat nasihat bermanfaat. Apalagi di cerpen yang berjudul Gadis Perantara, berkisah tentang perjuangan eksekutif muda sukses tapi minus pengetahuan agama namun ingin menikahi putri seorang ustadz. Ada satu kalimat yang JLEB banget.

‘Kalau Allah sudah menentukan dia jodohmu, walaupun semua makhluk berusaha menggagalkan maka kalian akan tetap bersatu. Sebaliknya kalau Allah menentukan dia bukan jodohmu, walaupun semua makhluk di bumi merestui dan mendukung, kalian tetap tidak akan bersatu’, (hal.13)

Dalam kumcer ini tema yang diangkat tidak hanya seputar pernikahan dan perjodohan, ada juga tentang cinta kepada keluarga, lalu ada cerpen komedi di ‘Si Jampang’, ‘Extra Large’ , ‘Seperti Roda Bajaj’, dijamin ngakak bacanya hehe.

Bagaimana? Penasaran dong ingin baca kumpulan cerpen karya anak Medan, lulusan pesantren pula, dan sarat akan hikmah serta pesan pesan bijak.

Kumcer Pria di Menit Akhir, recommended banget dibaca oleh semua kalangan, pelajar, mahasiswa, orangtua , semua deh. Buruan koleksi yah.

So, untuk pemesanan buku bisa langsung ke Amel di 085761702356 , harga buku Rp.30.000. Murah kaan ^o^

Selamat Membaca!

Kamis, 02 April 2015

Welfie Pertama Semenjak Menikah

Menikah, siapa sih yang gak happy? hehehe semua pasangan yang menikah pasti sangat berbahagia termasuk kami. Pernikahan kami termasuk yang gak biasa, ala ala Siti Nurbaya Modern gitu, pakai perjodohan dan super kilat, cerita lengkapnya disini ^o^

Jadi tiga hari nikah, langsung masuk bulan madu eh bulan puasa maksudnya , ini tantangan berat buat kami *halaaah lebay :-D , emang disuruh nelen angkot? * sebenarnya gak berat berat amat sih, ya hitung hitung masa pacaran setelah nikah *haseek*

Nah, selama nikah nih ceritanya kami belum pernah welfie, seringnya kami yang difoto, dan susah juga nyari momen welfie yang private :-D ditambah masih malu malu kucing juga hahaha, dah gitu setelah puasa dan lebaran berlalu, Aa mesti ke Padang selama sebulan buat nyelesein thesis, pengen ikut, tapi ntar siapa yang bantu nyiapin pesta resepsi nikah? akhirnya daku ditinggal.

Kemudian, sebulan berlalu, eh langsung pesta resepsi, pokoknya tiga bulan pertama, riweuh se riweuh riweuh nya dan baru bisa bernapas saat harus pulang kampung sekeluarga suami sekaligus mau menghadiri wisuda Aa.

Momen pulang kampung inilah bulan madu kami hihi, sengaja berangkat lebih cepat dari jadwal wisuda, biar aku bisa nikmati liburan di Rao,Pasaman,Sumatera Barat, tanah kelahiran suami.

Perjalananan pulang kampung memang agak menderita kalau naik bus, apalagi jarak tempuh Medan-Pasaman memerlukan waktu 12 jam perjalanan. Aku sih asyik asyik aja, tapi dari perjalanan ini setidaknya aku tahu bahwa aku menikah dengan pria pemabuk haha, mabuk perjalanan darat. Sepanjang perjalanan Aa cuma bisa meringkuk di kursi bus, kadang tidur dipangkuanku, #eaak

Pagi hari, sepertinya kami sudah masuk daerah Sumatera Barat, indaaah sekali. Huwaa suasana kampung memang ngangenin yah, udara sejuk , sawah masih membentang dimana mana, kolam ikan yang lebar lebar, sungguh kemewahan yang gak bakal bisa didapat di kota besar.

Rencananya aku bakal 5 hari di kampung. Hari pertama di Rao, setelah mandi dan makan, aku diajak Aa ke Tabek (kolam ikan Mas) punya nenek, mumpung lagi berdua, seronok kami welfie welfie berlatarbelakang luasnya Tabek nenek. Bener-bener romantiiiss abiiiss.

Welfie pertama semenjak menikah,  usia pernikahan 4 bulan waktu itu (♡˙︶˙♡) setelah itu ketagihan welfie :-P dua duanya gila foto ternyata ^o^

Duluuu sekali waktu kecil, Aku pernah juga pulang kampung di kampung Emak, Pariaman, disana juga bertebaran Tabek,  hanya saja Tabek sekarang lebih modern, makanan ikan Mas nya aja pelet, kalau dulu makanan ikan Mas itu salahsatunya p*p manusia,  jadi selain bertebaran Tabek, di kampung bertebaran toilet umum yang dibangun di atas Tabek,  jadi kalau p*p , p*p nya nyemplung langsung ke Tabek di Tabek mulut mulut ikan Mas dah pada mangap mangap hahaha,  kenapa aku tahu?  Karena waktu kecil pernah merasakan sensasi p*p di toilet darurat di atas Tabek Hahaha.

Esoknya, Aa ngajak keliling kampung, yeaay \( รถ )/ khususnya ke sawah nenek, wuaa bahagianya, hijaunya (♡˙︶˙♡) sukaaa, daan kami gak bosannya welfie disini hihi, tapiii banyak pacet 〒_〒 setengah jam di sawah nenek, eh tiga pacet sudah bertebaran di sepanjang kakiku, untung pakai perlengkapan tempur yang lengkap, celana training yang tebel ditambah lagi rok hitam hehehe. Walau sempat mencak mencak karena pacet, Alhamdulillah, Aa dengan sigap membuang pacet dari kakiku, mana lagi sih yang lebih romantis dari ini semua.

Hari ketiga di Rao, Aa mesti ke Padang, karena mau persiapan gladiresik wisudanya, dan aku harus tinggal, berangkat ke Padang dua hari lagi bersama emak dan bapak mertua.

Sesampainya di Padang, huhu di Padang agak panas cuacanya, jadi kangen kampung hehehe, gak banyak yang bisa dilakukan selain menunggu hari H wisuda. Di hari ke tiga di Padang atau pasca wisuda baru bisa jalan jalan itu pun hanya untuk beli oleh oleh, jadi pas kelar beli oleh oleh, aku kan pengen banget ke Jembatan Siti Nurbaya, eh di tengah perjalanan hujan deras, terpaksa deh berteduh di sebuah warung yang tutup, dan di sela sela menunggu, kamiii welfie welfie hehe, ini romantis yang kesekian :-P

Salahsatu yang membuat sebuah perjalanan itu lengkap selain kamu, Aa #uhuy , adalah kamera yang megapixel nya maksimal, lebih praktis lagi kamera hape, Alhamdulillah, smartfren Andromax V, melengkapi perjalanan kami, kalau gak ada si Asrok (aku menamainya Asrok, dia lelaki hihi) mana ada hasil welfie sekeren yang kayak foto welfie kami di atas. Thanks Smartfren Andromax V. :-* emmuaah.

Buatku dan Aa, it's such a perfect honeymoon ever. Alhamdulillah 3 bulan (tepatnya di usia 6 bulan pernikahan) kemudian aku hamil, jiaaah jauh ya jaraknya efek honeymoon tadi   :-P . Semoga, setelah first baby lahir dengan normal sehat selamat, kita bisa jalan jalan lagi yaaa dan welfie lagi pastinya pakai Kamera HP Smartfren doong. Aamiin.

http://www.emakgaoel.com/2015/03/lomba-selfie-story-bersama-smartfren.html?m=1