Tampilkan postingan dengan label Zee Ikut Lomba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Zee Ikut Lomba. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Juni 2015

Tips Menabung Ala Prita Ghozie dan Ustadz Budi Ashari

Setahun lalu, aku pernah dilanda kepanikan luarbiasa, usia sudah memasuki usia untuk menikah, namun satu hal yang masih berantakan, mengelola keuangan, aku punya masalah dengan menabung, sulit sekali menabung, penyebabnya banyak, selain pemasukan yang gak tetap, tapi pengeluaran banyak yang tetap harus dikeluarkan, memang gak untuk diri sendiri semata diantaranya membantu keuangan orangtua. 

Aku sadar akan kelemahanku itu, maka 3 bulan sebelum nikah, aku banyak membeli buku, salahsatunya tentang mengelola keuangan, dan jatuhlah pilihan pada buku yang ditulis Prita Hapsari Ghozie, seorang financial planner , berjudul Menjadi Cantik, Gaya, dan Tetap Kaya terbitan Elex Media Komputindo. Uhuy, judulnya impian semua wanita banget yah. 


dok.pri

Selama ini kan buku yang membahas manajemen keuangan pribadi itu njlimetyah, bahkan jarang banget ditulis dengan bahasa sederhana, tapi buku yang ditulis Prita beda banget.

Ngobrolin menabung, pasti tujuannya gak jauh jauh dan simple, agar kaya, nah apa sih defenisi kaya? Dari buku yang cover-nya pink unyu unyu gitu, aku setuju dengan definisi kaya yang dijelaskan Prita di halaman 53,

Buat saya dan suami, 5 hal yang buat kami merasa memiliki hidup kaya adalah bila kami bisa mencukupi kebutuhan hidup tanpa kesulitan (rumah, pakaian dan makanan), bisa melihat anak anak tumbuh besar dan bahagia, bisa berlibur dan bersenang senang dengan keluarga, bisa melakukan pekerjaan yang kami sukai, dan paling penting diberi kemudahan untuk beribadah kepada Allah SWT.

Wuih adem bangetkan definisi kaya menurut Prita, dan aku setuju berat, defenisi tersebut juga pas dengan definisi karya di keluarga kecilku.

Nah, untuk mencapai dan mewujudkan definis kaya, Prita membocorkan konsep mengatur pendapatan rumah tangga kita dengan cantik, nama metodenya metode ZAPFIN, ( hlm. 64) 

Zakat, sebenarnya, zakat bukan berarti kita keluarkan pada saat bulan Ramadhan saja, tapi dalam tiap uang yang kita peroleh ada hak orang lain di dalamnya. Alokasi standarnya, 2,5 % dari pendapatan kita, kecil kan sebenarnya, tapi bila rutin dilakukan Subhanallah efeknya, harta menjadi berkah, jauh dari harta haram. InsyaAllah.

Assurance, melindungi keluarga untuk hal yang tak terduga. Pilihan asuransi sekarang banyak yah, bila bingung pilah pilih asuransi yang terbaik dan terpercaya, situs cermati.com bisa membantu. Tentang situs cermati.com, nanti kita bahas lebih lanjut. Untuk alokasi, Prita menjelaskan, minimal 5% untuk membangun dana darurat dan 5% untuk bayar premi asuransi.
Present Consumption, menyisihkan dana untuk kebutuhan sehari hari, nah ini sebaiknya tidak lebih dari 60%.

Future Spending, menabung untuk rencana rencana indah hidup keluarga kita beberapa tahun mendatang, apakah hendak berlibur bersama keluarga, atau membuka tabungan haji misalnya.

Investment, pasti dah tahu dong, apalagi kalau bukan investasi. Nah, untuk poin empat dan lima, kita bisa mengalokasikan dana untuk tabungan dan investasi sebesar 15%
            Sisanya tinggal 13,5 % lagi yah kalau gak salah hitung hihi. Sisa ini bisa untuk bayar cicilan hutang, sebaiknya alokasi untuk cicilan hutang jangan sampai lebih dari 30%, jika itu terjadi maka yang akan dikorbankan adalah dana present consumption, hiks, jangan sampai gak makan demi bayar hutang, dan kalau bisa jangan sampai terlibat hutang.

            Gimana cukup menginspirasi bukan? , lalu bagaimana pula tips menabung versi Ustadz Budi Ashari? Ustadz Budi Ashari adalah seorang parenting nabawiyah, dalam hal ini, aku ingin memaparkan, seharusnya bagaimana kita mempersiapkan harta untuk anak kita kelak? Siapa sih orangtua di dunia ini yang ingin anaknya hidup melarat sepeninggal orangtua, gak ada ya. Kalau bisa anak anak kita sejahtera dan hidup layak.

            Namun, di zaman serba konsumtif ini, aku sebagai calon orangtua, takut juga bila nanti anak anak hidup dalam kondisi memperebutkan harta orangtuanya, Naudzubillah ya Allah.  Banyak yah fenomena sekarang yang begitu, gegara harta, hubungan darah bisa terputus, padahal pada akhirnya harta gak dibawa mati, dan kasihan orangtuanya juga, kalau masih hidup pasti bakal stress, kalau sudah tiada, tentu akan sedih di alam baka sana melihat keturunannya serakah.

            Ustadz Budi menjelaskan bahwa, hal terpenting yang harus diingat dalam hitung hitungan detail biaya masa depan anak adalah jangan sampai kehilangan Allah. Sesungguhnya yang Maha Tahu tentang masa depan, tentu Allah SWT, kita hanya bisa merencanakan, Man purpose, God dispose. Kalau Allah tidak dilibatkan, maka akan hilang keberkahan, harta banyak yang kita siapkan tidak memberi kebaikan sama sekali untuk anak, tentu kita gak mau yah.

            Sebagai renungan, ada sebuah kisah dari dua khalifah yang sama sama memiliki 11 anak. Hisyam bin Abdul Malik dan Umar bin Abdul Aziz. Perbedaan keduanya, Hisyam meninggalkan jatah warisan bagi anak-anak lelakinya, 1 juta Dinar (sekarang 1 dinar berapa yak? *kalkulator mana kalkulator*

            Sedangkan anak Umar, hanya mendapat ½ Dinar, perbandingannya berkali kali lipat jauhnya yah. ckckc

            Nah, ternyata peninggalan Hisyam yang melimpah untuk anak-anaknya tidak membawa kebaikan, anak-anaknya malah hidup dalam keadaan miskin sepeninggal Hisyam, sedangkan anak-anak Umar, hidup dalam keadaan kaya.

            Dimana letak perbedaan keduanya?

            KEBERKAHAN, berkah adalah kebaikan yang bertambah tambah.

            Jadi, simpulannya, jika kita hendak meninggalkan jaminan masa depan untuk anak kita berupa tabungan atau asuransi, pastikan bahwa harta tersebut tidak diragukan kehalalannya.

            Untuk urusan masa depan, jangan mendahului Allah, dan hati hati bila kita terjebak dan bergantung pada harta.

            Nah, tidak semua orangtua seberuntung Hisyam, yang bisa meninggalkan 1 juta Dinar harta untuk anak anaknya, untuk orangtua yang hartanya belum cukup, yang menjamin masa depan anak anak adalah keshalihan para ayah dan keshalihan anak-anaknya. Dengan begitu Allah akan senang mengurus, menjaga dan menolong keluarga kita kelak. InsyaAllah.

            Sekilas Tentang Situs Cermati.Com
            Zaman sekarang tuh enak banget yah, salahsatunya kalau bingung memilih produk finansial ( perbankan, asuransi, telekomunikasi), eh ada Cermati, sebuah perusahaan start-up yang tumbuh dan fokus di bidang teknologi finansial. Bervisikan, menjadikan informasi finansial lebih mudah diakses, apalagi hampir semua orang pengguna smartphone aktif dan sudah mulai melek internet dan teknologi IT.

            Dengan memanfaatkan layanan Cermati, kita memungkinkan untuk melihat, menelaah, membaca dan membandingkan informasi produk finansial yang disediakan. Dengan begitu kita bisa membuat keputusan finansial yang cermat. 

            Kamis, 02 April 2015

            Welfie Pertama Semenjak Menikah

            Menikah, siapa sih yang gak happy? hehehe semua pasangan yang menikah pasti sangat berbahagia termasuk kami. Pernikahan kami termasuk yang gak biasa, ala ala Siti Nurbaya Modern gitu, pakai perjodohan dan super kilat, cerita lengkapnya disini ^o^

            Jadi tiga hari nikah, langsung masuk bulan madu eh bulan puasa maksudnya , ini tantangan berat buat kami *halaaah lebay :-D , emang disuruh nelen angkot? * sebenarnya gak berat berat amat sih, ya hitung hitung masa pacaran setelah nikah *haseek*

            Nah, selama nikah nih ceritanya kami belum pernah welfie, seringnya kami yang difoto, dan susah juga nyari momen welfie yang private :-D ditambah masih malu malu kucing juga hahaha, dah gitu setelah puasa dan lebaran berlalu, Aa mesti ke Padang selama sebulan buat nyelesein thesis, pengen ikut, tapi ntar siapa yang bantu nyiapin pesta resepsi nikah? akhirnya daku ditinggal.

            Kemudian, sebulan berlalu, eh langsung pesta resepsi, pokoknya tiga bulan pertama, riweuh se riweuh riweuh nya dan baru bisa bernapas saat harus pulang kampung sekeluarga suami sekaligus mau menghadiri wisuda Aa.

            Momen pulang kampung inilah bulan madu kami hihi, sengaja berangkat lebih cepat dari jadwal wisuda, biar aku bisa nikmati liburan di Rao,Pasaman,Sumatera Barat, tanah kelahiran suami.

            Perjalananan pulang kampung memang agak menderita kalau naik bus, apalagi jarak tempuh Medan-Pasaman memerlukan waktu 12 jam perjalanan. Aku sih asyik asyik aja, tapi dari perjalanan ini setidaknya aku tahu bahwa aku menikah dengan pria pemabuk haha, mabuk perjalanan darat. Sepanjang perjalanan Aa cuma bisa meringkuk di kursi bus, kadang tidur dipangkuanku, #eaak

            Pagi hari, sepertinya kami sudah masuk daerah Sumatera Barat, indaaah sekali. Huwaa suasana kampung memang ngangenin yah, udara sejuk , sawah masih membentang dimana mana, kolam ikan yang lebar lebar, sungguh kemewahan yang gak bakal bisa didapat di kota besar.

            Rencananya aku bakal 5 hari di kampung. Hari pertama di Rao, setelah mandi dan makan, aku diajak Aa ke Tabek (kolam ikan Mas) punya nenek, mumpung lagi berdua, seronok kami welfie welfie berlatarbelakang luasnya Tabek nenek. Bener-bener romantiiiss abiiiss.

            Welfie pertama semenjak menikah,  usia pernikahan 4 bulan waktu itu (♡˙︶˙♡) setelah itu ketagihan welfie :-P dua duanya gila foto ternyata ^o^

            Duluuu sekali waktu kecil, Aku pernah juga pulang kampung di kampung Emak, Pariaman, disana juga bertebaran Tabek,  hanya saja Tabek sekarang lebih modern, makanan ikan Mas nya aja pelet, kalau dulu makanan ikan Mas itu salahsatunya p*p manusia,  jadi selain bertebaran Tabek, di kampung bertebaran toilet umum yang dibangun di atas Tabek,  jadi kalau p*p , p*p nya nyemplung langsung ke Tabek di Tabek mulut mulut ikan Mas dah pada mangap mangap hahaha,  kenapa aku tahu?  Karena waktu kecil pernah merasakan sensasi p*p di toilet darurat di atas Tabek Hahaha.

            Esoknya, Aa ngajak keliling kampung, yeaay \( รถ )/ khususnya ke sawah nenek, wuaa bahagianya, hijaunya (♡˙︶˙♡) sukaaa, daan kami gak bosannya welfie disini hihi, tapiii banyak pacet 〒_〒 setengah jam di sawah nenek, eh tiga pacet sudah bertebaran di sepanjang kakiku, untung pakai perlengkapan tempur yang lengkap, celana training yang tebel ditambah lagi rok hitam hehehe. Walau sempat mencak mencak karena pacet, Alhamdulillah, Aa dengan sigap membuang pacet dari kakiku, mana lagi sih yang lebih romantis dari ini semua.

            Hari ketiga di Rao, Aa mesti ke Padang, karena mau persiapan gladiresik wisudanya, dan aku harus tinggal, berangkat ke Padang dua hari lagi bersama emak dan bapak mertua.

            Sesampainya di Padang, huhu di Padang agak panas cuacanya, jadi kangen kampung hehehe, gak banyak yang bisa dilakukan selain menunggu hari H wisuda. Di hari ke tiga di Padang atau pasca wisuda baru bisa jalan jalan itu pun hanya untuk beli oleh oleh, jadi pas kelar beli oleh oleh, aku kan pengen banget ke Jembatan Siti Nurbaya, eh di tengah perjalanan hujan deras, terpaksa deh berteduh di sebuah warung yang tutup, dan di sela sela menunggu, kamiii welfie welfie hehe, ini romantis yang kesekian :-P

            Salahsatu yang membuat sebuah perjalanan itu lengkap selain kamu, Aa #uhuy , adalah kamera yang megapixel nya maksimal, lebih praktis lagi kamera hape, Alhamdulillah, smartfren Andromax V, melengkapi perjalanan kami, kalau gak ada si Asrok (aku menamainya Asrok, dia lelaki hihi) mana ada hasil welfie sekeren yang kayak foto welfie kami di atas. Thanks Smartfren Andromax V. :-* emmuaah.

            Buatku dan Aa, it's such a perfect honeymoon ever. Alhamdulillah 3 bulan (tepatnya di usia 6 bulan pernikahan) kemudian aku hamil, jiaaah jauh ya jaraknya efek honeymoon tadi   :-P . Semoga, setelah first baby lahir dengan normal sehat selamat, kita bisa jalan jalan lagi yaaa dan welfie lagi pastinya pakai Kamera HP Smartfren doong. Aamiin.

            http://www.emakgaoel.com/2015/03/lomba-selfie-story-bersama-smartfren.html?m=1

            Minggu, 29 Maret 2015

            Dee’s Coaching Clinic Medan : Menguak Teknik Menulis Seorang Dee Lestari

            Pertama kali dapat informasi bahwa Dewi Lestari akan mengadakan roadshow ke Medan, senang bukan main. Infoku dapat dari rajin ngecek newsfeed Facebook, hihihi. Membaca cara dan persyaratannya, seperti mungkin tak mungkin, tapi mungkin, soalnya lagi disela sela mengerjakan yang ‘deadline’ juga. Akhirnya, karena memang lagi hamida (hamil muda) maka yang biasa melalak cantik ke toko buku agak ditunda dulu. Maka, kuputuskan untuk membeli novel Gelombang via bukabuku.com aja, dan sempat khawatir karena pengiriman lama sampai bersebab stok gak ada di gudang bukabuku.com mesti jemput ke supplier lagi. Untuk jaga jaga, aku pesan lagi novel Gelombang via Ririn. Alhasil, novel Gelombangku ada dua, hahaha, yang mau beli samaku boleh, masih berplastik, discount, jual murah aja, Rp.60.000, (harga di Toko Buku Rp. 89.000, promosi terselubung haha)

            sumber : bentangpustaka.com


            Awalnya hopeless ya baca novel Gelombang, karena aku gak ngikutin novel serialnya Dee, dari KPBJ sampai serial kelimanya ini, Gelombang, jadi merasa gak maksimal gitu ngikutin kisahnya, tapi demi demi, kubaca juga lah, ternyata gak hopeless hopeless amat kok hehehe, pas baca mencoba mempasrahkan diri, Oke, berlagak sudah baca aja lah dari seri pertamanya.

            Sampailah pada detlen, hohoho aku pun melambaikan tangan ke kamera, gak sanggup jenderal, makin kesini makin banyak kisah science fiction yang gak sampe otakku bacanya, stop dulu. Dan menyerahkan semuanya pada Allah, mendukung teman teman yang sudah ikutan dan mendoakan mereka agar lulus ikutan DCC. Padahal pengen banget T_T.

            Seminggu kemudian (masih kepo kepo cantik, berharap ada keajaiban haha) dapat kabar lomba review diundur, yeay sempat senang, tapi teteup aja lagi lagi melambaikan tangan ke kamera, dan pasrah yang kesekian *ngemut netbuk*

            Dua hari kemudian ( *triinggg) bahagianya dapat, kabar dari grup Kumpulan Emak Blogger yang diposting Mak Indah Julianti Sibarani, bahwa KEB Medan dapat jatah 5 kursi (yaelah bahasanya politik politik gitcu) untuk hadir dalam DCC. Subhanallah, suennengnya bukan main, yeaay, terimakasih KEB *emmuaah*.



            So, Here I am,

            Menunggu hari Minggu tanggal 22 Maret 2015, itu kayak menunggu kamu iya kamu *terus ngegombal :-p *

            Jam 09.05 menit aku tiba di Hotel Santika Medan, berhubung karena gak tahu lokasinya, Benteng Room, Alhamdulillah ada pegawai hotel yang baik banget, mulai dari mengantarkan sampai di lift pertama, hingga memberi petunjuk untuk melanjutkan perjalanan dengan menggunakan lift kedua menuju lantai tiga, *Makasi Bang hehe*

            Udah beberapa kali ya dapat kesempatan menghadiri acara di Hotel Santika? Tiga kali kalau gak salah, teteup, tempatnya nyaman, keren, dan bikin betah #eh *ingat rumah, Rul hihihi*

            Setiba di ruang Benteng, wow sudah ramai, kita registrasi dulu yaa. Oh ya, ternyata dilokasi udah ada Mak Windi dan Mak Lia Cerya, sebelum duduk, cipika cipiki dulu yeaaa..


            Terus Mbak Dee dimana yak *celingak celinguk* oh ternyata lagi sarapan, baiklah, lanjut lagi say hello nya ke teman teman yang sebagian besar aku kenal hahaha, ada dari Komunitas Blog Em (Blogger Medan) , beberapa pemenang lomba review, dan dari Komunitas FLP SUMUT (Forum Lingkar Pena Sumatera Utara).

            Seperti biasa, ritual Emak Blogger kalau lagi kopdar, foto foto yuhuuu, berhubung belum rame dan formasi masih lengkap serta banner belum digulung, maka berfotolah kami, tarraaaa…




            Jam, 09.30 pun acara dimulai, gak lama setelah Mbak Dee masuk ke ruangan, wuaaa Mbak Dee seger bangeeeettt, aku kira rambutnya masih cepak, ternyata rambut panjang, anggun deh, aaarrggh aku tersepona eh terpesona, makin semangat lah korek ilmu dari Mbak Dee *pasang ikat kepala*

            (Sok) Kenal Dee

            Pertama (sok) kenal Mbak Dee kapan ya, oh pas dia masih di grup musik RSD Rida Sita Dewi, *dah lama banget ya, nampak kali kelahiran 90-an, (sok tua oiii :-D) * . Kemudian, saat Novel Perahu Kertas booming makin kenal lah dengan sosok Dee Lestari, berlanjut ke karya selanjutnya yakni Madre, Rectoverso dan Filosofi Kopi.

            Nih cewek keren dalam hatiku, darimana asal mula ide ide gilanya, istilah istilah unik yang ada di Perahu Kertas, lalu membaca Madre, sampe ngiler roti aku, baca Filosofi Kopi, aroma kopinya sampe bisa kubayangkan. Gila nih orang.

            Belum lagi, diksi diksi dia yang gak mendayu sih, namun puitis, seperti kenal dengan gaya diksi dia tapi punya siapa ya, dan aku akhirnya tahu pas ikut DCC hihihi. Selain prestasi di dunia kepenulisan, ternyata karyanya juga mempengaruhi industri musik Indonesia, beberapa lagu ciptaannya dinyanyikan oleh penyanyi kece semua, ada NOAH Band, Glenn Fredly, Maudy Ayunda, dan beberapa penyanyi terkenal lainnya. Lalu, hampir semua karya tulisnya, sudah difilmkan semua. Ajiiib dah.

            Semua itu berawal dari M.E.N.U.L.I.S.

            Dah gak sabar pengen tahu seperti apa keseruan DCC di Medan, lanjut terus baca blog daku yaaah…

            Seru dari Awal Acara sampai Akhir

            Keseruan DCC makin lengkap dengan keberadaan MC kondang kota Medan Putri Rizki Ardhina. Tau aja MC nya sebagian peserta belum sarapan hihi. Oh ya baru pembukaan acara aja, peserta udah dibagikan hadiah loh, bagi yang bisa jawab pertanyaan, huwaa, daku belum beruntung.



            Dalam opening nya MC juga bilang bahwa peserta aktif bakal dapat kesempatan lunch bareng Dee dah gitu, buat peserta yang selama acara nge-live tweet dan paling banyak nge-tweet, bakal dapat hadiah kaos gelombang kece loooh.

            Apa gak makin semangat tuh peserta, bangeeetttt!

            Nah, berhubung waktu singkat banget, maka DCC pun dimulai, aarrggh Dee is in action, now T_T


            Dee, dengan runut langsung menjelaskan latar belakang DCC ini diadakan, ternyata, Dee buka bukaan loh, maksudnya, DCC lahir karena keprihatinan Dee akan kurangnya sumber pustaka kita di Indonesia tentang proses kreatif seorang penulis. Untuk beberapa penulis, pasti akan merahasiakan proses kreatifnya, padahal bukannya ilmu itu berkah dan akan terus bertambah kalo dibagi yak, daku setuju keras dengan rahasia yang diungkapkan Dee. Tetapi, menurutku juga nih, sekarang Alhamdulillah beberapa penulis yang aku kenal, memang baik hati dan gak segan membagi ilmu proses kreatifnya, kadang secara cuma cuma lagi, tinggal kitanya aja nih, mampu gak meramu itu semua menjadi karya yang fenomenal dan inspiratif jangan hanya sekadar rajin datang ke pelatihan penulisan eh tetapi gak nulis nulis. JLEB!

            Kemudian Dee lanjut menjelaskan, bahwa Medan terpilih sebagai kota yang diyakininya sebagai tempat yang akan melahirkan penulis penulis besar, lebih dari itu Dee yang juga mengalir darah Batak dalam dirinya merasa terpanggil untuk membesarkan kota Medan dari sisi para penulis lokal. Aku saja baru tahu sejak baca profil Dee di novel Gelombang, ya ampuun Dee, kamu berdarah batak asli Balige toh, hehehe. Bangga jadi anak Medan #uhuk.

            Sebagai penutup, sebelum ke inti acara yakni tanya jawab, Dee meyakinkan peserta bahwa, inilah kesempatan berharga, tanyakan saja hal hal yang terkait kepenulisan, jangan malu bertanya, dan satu lagi, DCC bertujuan mencari penulis berbakat, maka peserta yang beruntung dan hadir di DCC adalah bagian dari eksperimen Dee bwuahahaha * ketawa cantik * berefek dahsyat kah DCC ini? Jawabannya dilihat dari berhasilnya peserta dalam berkarya, dan bila berkenan, Dee berharap sekali setiap progress yang sudah dijalankan, Dee ingin mengetahuinya, ‘Silahkan kabarkan kebahagiaan itu kepada saya, boleh via twitter atau instagram’, huwaaa…luarbiasa kereeen. Someday mau jadi penulis kayak gitu deh, never stop sharing and caring.

            Sebagai, awalan untuk ke inti acara, dari tadi awalan mulu yah, hihi, *tenang, santai* Dee menanyakan aspirasi peserta dulu nih, kira kira apa kerisauan, kegelisahan, motivasi peserta hingga pengen banget ikut DCC. Ada sekitar 5 orang yang share aspirasinya, daan semua ditanggapi Dee sebagai key bahwa peserta DCC ini mau dibawa kemana, ya semacam apersepsi gitu deh kalau dalam dunia pendidikan, hihihi.

            Selesai pemaparan aspirasi, mulailah Dee menuju ke papan kertas dengan spidolnya, untuk termin pertama dibuka 5 penanya pertama, daaan, hahaha, penanya emang 5 , taapiii, 1 penanya terdiri dari 3 pertanyaan, saking antusianya peserta. Dee pun mulai mencatat sendiri tanya demi tanya peserta, semua dijawab Dee dengan sabar dan fuuuulll, gak setengah setengah bagi ilmunya, berikut uraian pertanyaan dan simpulan jawaban dari Dee yang bisa dan sempat daku rekam di notes unyu ku ini.

            Bagaimana mengolah ide agar tidak tergoda untuk mengelola ide yang tetiba datang?

            Inti pertanyaannya sih, bagaimana agar setia/fokus dengan satu ide *eaaak*

            Dipelatihan kepenulisan mana pun yang pernah daku hadiri, pertanyaan seperti ini laris banget meluncur dan sering jadi pertanyaan jagoan dari peserta pada umumnya, dan jawaban yang kudapat dari Dee memang beda, bedanya dimana, yuuk lanjut baca…

            Untuk menjawab satu pertanyaan ini, peserta sampai diajak Dee ke masa kecilnya, hehe, jalan jalan ceritanya nih.

            Saking panjangnya, kaki Dee kelelahan karena memakai sandal ber-hak, tanpa jaim jaim, Dee izin kepada peserta untuk melepaskan alas kakinya, dan kembali melanjutkan perjalanan ia mulai menulis. Peserta yang melihat Dee beraksi apa gak makin santai tuh, berasa dekat dan nyaman ngobrol sama Dee.

            Ternyata Dee sudah mulai menulis sejak kelas 5 SD tahun 1985 *oke, daku entah berada dimana, eh Dee udah nulis aja* dan dari proses yang panjang itu, di tahun 2000, adalah tahun dimana Dee menyelesaikan manuskrip pertamanya.

            Dee adalah tipe penulis yang gak bisa dikekang, pernah diminta menulis untuk suatu media, namun harus terpenjara dengan ketentuan ketentuan menulis di majalah, bagi Dee hal tersebut justru malah mematikan kreatifitasnya, maka tak heran, untuk ukuran cerpen, Madre dan Filosofi Kopi, adalah cerpen yang panjang.

            Lalu, dulu Dee merupakan penulis yang bermusuhan dengan disiplin dan ritual, ya lagi lagi alasannya bisa mematikan kreatifitas. Akhirnya setelah menulis beberapa novel dari serial KPBJ, setiap serialnya punya cerita dan proses kreatif masing masing, sampailah Dee kepada pilihan untuk memakai formula menulis berikut ini.

            Tentukan Niat Awal Menulis

            Ngobrolin tentang niat, Dee jadi teringat dengan ungkapan awal sekali dalam Buku 7 Habits of Highly Effective People karya Steven Covey, bahwa ketika kita merencanakan sesuatu, kita harus tahu hasil akhirnya akan seperti apa.

            Nah loh, kalau bunyinya udah seperti itu, masa iya masih menafikan kekuatan dahsyat dari penegakan disiplin bagi seorang penulis? Tentu manfaat banget yah, fokus udah pastilah.

            Seorang Dee aja sebelum setenar sekarang karya karyanya, ternyata sangat mengimpikan bahwa suatu hari buku bukunya ada di toko buku, dan lihat! Kejadiankan! Hampir di seluruh tobuk di Indonesia, menjual buku karya Dee.

            Gimana? Niat udah oke toh? Sudah tau kira kira bakal membutuhkan waktu berapa bulan untuk menyelesaikan novel yang tertunda? Oke, keep dulu, kalau udah, sekarang Dee mengajak peserta, gimana caranya agar disiplin menulis.

            Hayooo ngaku siapa disini yang sering pasang tampang bego di depan netbuk atau komputer? Gak tau mau nulis apa? Hahahah

            HADIIIRR! Akulah salahsatu orangnya, daku sering kali kejebak nostalgia *eh ini mah Raisa yak haha* maksudnya kejebak dalam godaan untuk mengecek medsos , yang kadang bisa makan waktu dua jam >.< hingga berujung aku mengurungkan niat untuk menulis. Kalau kamu, apa sih yang mampu mengalihkanmu dari kegiatan menulis?

            Sebenarnya ide itu banyaaak sekali, kalau peserta malah sering bertanya bagaimana mencari ide, saya justru bagaimana memberhentikan aliran ide yang deras ini, nah loh, begitu kata Dee, hahaha, bagi bagi dong Mbak Dee ^^

            Ini lagi bagi bagi ilmu keleeesss, jadi, penulis itu sebenarnya harus memiliki kamera penulis, gunakan kamera ini untuk melihat, mendengar, merasakan, sekitar kita paling gampangnya, teman teman kita, saudara, sahabat, tetangga, lokasi tempat tinggal, kampung halaman. Dengan merekam itu semua di kamera penulis kita, maka nanti kita jadi punya Bank Data yang sewaktu waktu bermanfaat sekali saat kita berproses menyelesaikan karya.

            Nah setelah itu, kan gak semua ide yang kita peroleh tumplek plek di satu cerita? Maka saatnya menentukan Angle, hal apa sih yang mau kita ceritakan. Kemudian mulailah dengan pembukaan cerita yang tidak biasa, buatlah yang seenak mungkin dibaca oleh pembaca kita.

            Dee sendiri dalam menulis, jarang sekali menggunakan prolog, yang kayaknya kok ngajarin pembaca melihat bareng bareng apa yang terjadi yah, dan ‘saya lebih nyaman langsung membuka cerita dengan satu kalimat yang tidak biasa’, jelas Dee, yang kemudian mencontohkan kalimat yang tidak biasa itu dari novel Gelombang,

            Hutan dapat mengubah seseorang dalam sekali sentuhan

            Kereeen!

            Setelah menentukan edi eh ide yang hendak ditulis, lalu diapain doong? Ya gak juga dielus elus juga sih, tetapi…

            Buat Takaran Waktu Penyelesaian

            Dee menggunakan istilah kuantifikasi, dan dalam menakarnya gunakan intuisi *jari telunjuk memegang dahi sambil pejam mata* udah kayak Pak Tarno aja nih, hihi, maksud Dee adalah, hal yang perlu ditakar adalah dari segi kita hendak menulis novel yang akan kita tulis itu berapa kata, Dee menakar bahwa novel Gelombang-nya akan ia tulis dalam 80.000 kata, dan memang kita lihat saja, tebalnya ampun ampunan, ternyata dibalik pengerjaannya gak main main, yaiyalah sudah dikuantifikasi, mana bisa gak serius. Tul gaak?! , selain menakar dari jumlah kata, lalu tokoh dan jumlah halaman.

            Sebagai contoh, Dee memisalkan dalam menakar jumlah kata saja. Misal, kita hendak menulis novel yang berjumlah 40.000 kata lalu, oke. Lalu, kita target selesai 6 bulan, kemudian hari kerja maunya 3 hari, yuk sekarang kita hitung *kalkulator mana kalkulator* dalam 1 bulan berarti kita punya hari kerja 12 hari, dikalikan 6 maka, dalam 6 bulan kita punya 72 hari kerja, yuk sekarang kita bagikan 40.000 dibagi 72 = sekitar 550 kata, hohoho, itu setara dengan dua halaman gak nyampe malah. Ternyata gak sesulit yang kita kira ya kalau kita mau.

            Setelah Dee sadari, bila ritual disiplin itu tidak ada, maka akan berlindung dibalik yang namanya tidak mood , malas, dan alasan lainnya.

            So, bersahabatlah dengan deadline, jadikan DEADLINE alat untuk kita menyelesaikan tulisan bukan sebagai ALASAN kita menulis. Cakeeep banget dah wejangan Mbak Dee yang ini.

            Oh ya, satu hal, dengan rutinitas disiplin menulis tersebut, jangan takutnya bila novel kita nantinya akan garing, kan kita tadi punya Bank Data yang mumpuni, efek dari mengoptimalkan kamera penulis kita.

            Dan, aku pikir, disiplin menulis Dee ini, berlaku untuk menulis apa saja yah, nge blog mungkin, nyicil menulis novel (udah pasti lah ya), atau konsisten nyetor tulisan bagi kontributor media online.

            Bicara disiplin memang gak lepas dari jam biologis para penulis, nah ini sebenarnya pertanyaan daku yang dijawab Dee. Seorang Dee Lestari dulunya sangat akrab dengan hantu malam alias jam biologis menulisnya itu malam hari, sekarang sudah menjadi ibu rumah tangga, berisiko sekali menulis di jam jam segitu. Aku aja pernah begadang zaman kuliah dulu, nah sehari begadang, rasa ngantuknya bisa bertahan sampai seminggu, ditambah lagi dengan penyakit yang menanti, semacam flu dan masuk angin hahaha

            Sekarang Dee Lestari lebih memilih jam biologis menulis itu pada subuh hari selama 2 jam. Baru deh setelah itu aman mengerjakan pekerjaan rumah tangga, bila ada waktu kosong di siang hari, kita bisa melanjutkan tulisan kita, jadi 2 jam di Subuh hari seperti jam tetap ngantor.

            Terkait jam biologis menulis, Dee jadi keinget pertemuannya dengan seorang penulis asal Belanda, ‘Kamu harus terbiasa bersahabat dengan hantu hantu siang juga, dan cukuplah sudah bersahabat dengan hantu hantu malam’

            Keren ya istilahnya, hantu malam dan hantu siang hihihi

            Oke, sampailah kita pada pertanyaan awaaal sekali, ketika menulis, muncul ide lain,nah yang Dee lakukan adalah ngomong dengan IDE, ‘De’ tunggu dulu ya, saya gak cuekin kamu, tapi saya sedang mengerjakan yang lain’

            Kebanyakan dari kita sering tergoda dengan ide baru yang datang, sekaliber Dee aja paling gak bisa mengerjakan dua naskah novel sekaligus. Konon lagi aku *nunjuk hidung, tapi gayanya udah kayak ngerjain banyak naskah, satupun belum ada selesai, curhat nih yeee :-P

            Saran Dee, jangan jadikan ide baru itu sebagai kutukan, bersahabatlah dengan ide lain yang datang.

            Find what you love and stick to with.

            Gimana serukan? Pokoknya Dee bener bener membongkar semua rahasia proses kreatifnya. Apalagi pertanyaan yang satu ini.

            Bagaimana Membuat Buku yang Page Turner?

            Page Turner adalah istilah untuk buku yang bila dibaca kita pengen baca lagi dan lagi, penasaran dengan kisah dan adegan selanjutnya. Dan itu kita lihat dari karya Dee ya, yang sulit sekali lepas kalau sudah dicengkram sama tokoh dan kisah yang dikarang Dee.
            Rahasianya adalah, cerita yang seru itu adalah yang mengandung rangkaian sebab-akibat. Jangan kebalik.

            Kemudian, gabungkan antara fiksi dan realitas, dan pastikan tokoh kita punya habit, contoh di Perahu Kertas, buatku Kugy adalah tokoh cewek yang unik, suka curhat di perahu kertas dan membiarkan perahu kertasnya mengalir di sungai kecil, lalu hobi nulis dongeng. Nah, habit ini bisa kita lihat dari teman teman kita, mereka inspirasi kita loh, masukkan ke bank data, maksimalkan kamera penulis kita.

            Bagaimana menyelipkan humor dalam novel kita?

            Ukuran sebuah humor yang lucu itu adalah, apabila kita yang menuliskannya juga ketawa, yakinlah pembaca juga bakal ketawa. Begitu juga untuk membuat adegan sedih, kalau kita sedih bacanya, pembaca pasti sedih juga.

            Sebaiknya sudut pandang keberapa yang dipakai untuk novel biografi? Hihi ini pertanyaan daku

            Jenis sudut pandang ada tiga ya, orang pertama yaitu aku, orang kedua itu kamu, dan orang ketiga. Sudut pandang orang ketiga (dia) ini terbagi lagi, terbatas, maksudnya, menceritakan satu orang yang sudah kita tentukan, sedangkan tidak terbatas, maksudnya sudut pandang kayak Tuhan.

            Dee menyarankan kepadaku, untuk menggunakan sudut pandang pertama saja, sudut pandang ini membuat pembaca lebih dekat dengan tokoh tokoh dalam cerita kita.

            Pertanyaan berikut, setiap kita punya orang yang menginspirasi kita untuk terus maju berkarya, begitu juga Dee. Nah siapa saja tokoh dibalik suksesnya Dee?

            Jujur Dee mengakui, ia tipe penulis yang gampang terpengaruh tulisan dari penulis lain, sehingga tampak sekali tulisan Dee memang dipengaruhi tokoh dari buku yang dia baca, ada Sapardi Djoko Damono, seorang sastrawan senior Indonesia yang puisinya tidak bermain diksi memang, tapi di tangan SDD kata biasa jadi luarbiasa, dan aku merasakan ada SDD dalam tiap karya Dee khususnya syair syair di novel novel Dee, lalu ada Saman karya Ayu Utami, kemudian Dan Brown, Dee belajar page turner dari karya karya Dan Brown.

            Gak berasa, 3 jam bersama Dee akan berakhir, maka sebagai sharing penutup Dee membagi ilmu tingkat tinggi dalam menulis versi Dee, *dah berasa masuk perguruan shaolin mana gitu ya hehehe, level jurusnya makin tinggi*

            Dee, dalam perjalanan melahirkan novel novelnya memakai berbagai metode dalam teknik menyusun cerita, diantaranya,

            Ketika menulis Akar (2002) Dee menggunakan metode TIMELINE garis waktu, menyusun peristiwa berdasarkan waktu terjadinya

            Mind Map , metode ini dipakai Dee saat menulis Partikel (2012) dan Mind Map bisa dibuat untuk mengembangkan karakter dari Tokoh kita.

            Story Board, kalau aku bilang nama metode yang Dee pakai untuk menyelesaikan Intelegensi Embun Pagi (coming soon). Sediakan bahan seperti kertas karton 4 kajang , beda warna, kemudian stick note. Nah, kertas tersebut di temple, dan diberi label Bab I, Bab II A , Bab IIB, dan Bab III. Kenapa gak ada Bab III, karena eh karena, idealnya untuk menulis novel hanya diperlukan tiga pembagian Baba tau dikenal drama tiga babak, Bab pertama disana semua pengenalan tokoh dan menanamkan konflik serta memunculkan pertanyaan pertanyaan yang akan diungkap di Bab II A dan Bab II B , nah di Bab III , closing gak perlu panjang panjang.


            Dari proses tersebut, Dee kemudian menyimpulkan bahwa sebenarnya kegiatan menulis itu adalah crafting (kerajinan) , penulis sama dengan pengrajin kata kata.

            Thanks for sharing Mbak Dee, begitu berharga banget deh ilmunya.

            Acara selanjutnya, adalah booksigning yeaaah…puas puasin dah foto bareng, booksigning, salam-salaman.





            Thanks Kumpulan Emak Blogger

            Thanks Bentang Pustaka, sering sering ya ngadain acara beginian hehe.

            Saatnya action, SEMANGAT!

            PS: teknik menulis lengkap ala Dee bisa dibaca disini, Kak Windi Teguh pakai recorder dia haha, jadi komplit dah, thanks kakak

            http://windiland.blogspot.com/2015/03/dees-couching-clinic-medan-menulis-ala.html?m=1

            Senin, 09 Maret 2015

            Panduan Lengkap Sukses Nikah di Usia Muda

            Judul Buku : Married Because of Allah
            Penulis : Anugrah Roby Syahputra
            Penerbit : Noura Books
            Cetakan ke : 1, Mei 2014
            Halaman : 310 Halaman


            Love is an ideal thing, marriage is a real thing
            (Goethe)

            www.goodreads.com

            Nikah di usia muda saat ini bukan sesuatu yang baru, malah menjadi tren, baik itu dikalangan orang biasa sampai selebriti. Kalau dahulu, pelaku nikah muda justru dicurigai telah accident atau ‘kecelakaan´duluan sehingga muncul istilah Married By Accident. Dan Anugrah Roby Syahputra seorang pelaku nikah di usia muda mencoba ‘membersihkan’ istilah MBA menjadi Married Because of Allah melalui bukunya ini.

            Rasanya seperti mimpi buruk saat harus membaca rangkaian data dan angka tentang pelaku seks bebas di kalangan remaja Indonesia, kemudian korban praktek aborsi lalu pengidap virus HIV AIDS, belum lagi berbagai kasus pelecehan seksual dan pekerja seks komersil.

            Berawal dari fenomena itulah, buku Married Because of Allah hadir, Terdiri dari 14 Bab, disajikan dengan bahasa yang renyah dan meremaja, serta pembahasannya juga komplit plit plit.

            Pada permulaan Bab, penulis memaparkan semua fakta tentang akibat yang ditimbulkan oleh remaja yang berpacaran, lalu pembahasan tentang kucing garong yang dipelopori oleh Cassanova, seperti apa profil Cassanova hingga dicap sebagai The Godfather of Playboy? Ada di halaman 27, serta hal-hal apa saja yang membuka peluang yang menghembuskan semangat dan gejolak untuk berpacaran.

            Memasuki pertengahan Bab, pembaca disuguhkan sebuah pola pikir bahwa, untuk menuju gerbang pernikahan tidak mesti menggunakan kendaraan bernama pacaran (hal.65), bila pun sudah berpacaran, tentu mata ini pun buta untuk menyelesaikannya atau mengambil keputusan untuk ‘putus’ hubungan, paling tidak ‘putus’ kan untuk menikah, dan ini yang dibahas di Bab 5, Seribu Argumen Front Pembela Pacaran (hal.93), nah apakah kita termasuk FPP? Kalau ya, Bab tersebut pas banget.

            Buku ini begitu runut sekali, jadi pembaca juga tidak perlu merasa jadi terdakwa saat membaca, tak ada kesan menggurui dari buku yang ber-kover kan biru langit ini, hanya ingin menyampaikan cara terindah untuk menunjukkan bukti cinta Anda pasangan yakni menikah.

            Menuju Bab-bab penghujung, pembahasan akan lebih renyah dan open mind, seperti, apa yang harus dilakukan bila Anda terlanjur pacaran, sementara menikah itu ibadah, dan pacaran itu banyak maksiatnya (hal 133). Kemudian pada Bab selanjutnya dibahasa ternyata menikah itu tidak repot, penasaran, silahkan menuju Bab 8.

            Nah, ada pun di kebanyakan buku yang menguliti pernikahan, jarang sekali ada yang ringan, meski tidak bisa pula diringan-ringankan, karena itu perintah Allah. Namun buku MBA yang diterbitkan NouraBooks ini semua dibahas dengan pemaparan yang sederhana, termasuk pembahasan tentang Ta’aruf, semua dijelaskan di halaman 179, Kemudian buat yang masih belum percaya bahwa menikah bisa dilaksanakan tanpa harus pacaran, maka Anda mesti baca Bab 11, Tujuh Persiapan Nikah Tanpa Pacaran.

            Terakhir, buku ini tak menutup kemungkinan dibaca oleh para Jomblo, justru dengan membaca buku Married Because of Allah, menjadikan gerbang menjemput jodoh terbuka lebar.

            Bahkan saya salut dengan para jomblo yang hari ini masih berpegang pada prinsip ‘akan halal pada waktunya’ , di tengah gempuran godaan untuk berpacaran dari arah depan belakang, atas bawah, kiri kanan, pasti tidak mudah melewatinya. Tetapi saya yakin, Allah akan menolong hambaNya yang berniat untuk senantiasa terus memperbaiki diri. Janji Allah itu pasti, pria yang baik untuk wanita yang baik pula. So, dalam buku ini juga ada tips menjadi High Quality Jomblo, silahkan dibaca di Bab 12.

            Dua Bab terakhir, adalah pemaparan kisah nyata mereka yang sukses menikah tanpa pacaran, bahkan awet sampai detik ini. Sedikit curhat, saya menyesali kenapa buku Married Because of Allah, terbitnya di saat usia saya menginjak tak remaja lagi hehehe, tapi ya sudahlah, Alhamdulillah, menempuh jalur ta’aruf itu menenangkan hati sekali.

            Mau sukses cepat, segeralah menikah. Selamat Membaca!

            Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Resensi di Blog >>> http://18.flpjaya.com/

            Senin, 16 Februari 2015

            Surat untuk Stiletto Book

            Sebelumnya aku ucapkan selamat menempuh usia baru ya Stillo, usia 4 tahun bukan waktu yang singkat untuk terus berproses, dan semakin kesini Stillo semakin keren. Keberadaanmu gak hanya ditunjukkan dengan aktif menerbitkan buku buku kece, tapi juga dalam mengadakan give away keren untuk pembaca di seluruh Indonesia.

            Ini kali kedua aku mengikuti event menulis surat untuk Stillo, awal kenalan kita, sudah kuceritakan disini. Sekarang aku mau bercerita panjang lebar tentang perkembangan Stillo versi Loyal Readers.

            Sepanjang 2014 aku merasakan Stilo dekat banget dengan pembaca, khususnya aku hihi, karena aku termasuk pembaca kamu loh ^^. Kamu makin eksis, terbukti kamu sudah ada di instagram, kalau twitter dan facebook, sudah dari kemarin kemarin yak :-D .

            Betapa senangnya aku ketika aku menang giveaway notebook. Huwaaa notebook nya lucu *_* . Dan notebook ini salahsatu produk Stiletto Book selain buku, Stiletto Book juga memproduksi merchandise, seperti tottebag, ish, aku mupeng, cakep tottebagnya, mewakili isi hati para predator buku hehehe, bisa nambah kepedean 120 % saat jalan jalan ke toko buku hehehe, oh ya baru baru ini juga Stilletto mengeluarkan bantal sofa yang ada bacaannya, masih juga tentang buku, dijamin bantal sofa ini mempercantik sudut ruang baca favorit di rumah kita. Makin betah deh membaca sambil meluk meluk bantal ^^.




            Ya semoga dengan beberapa inovasi produk yang Stillo lakukan, Stillo tetap komitmen untuk terus menerbitkan buku buku perempuan yang inspiratif, agar perempuan Indonesia bisa tercerahkan dengan buku terbitan Stillo yang T.O.P B.G.T .

            Memasuki tahun ke empat ini, selain dari diproduksinya beberapa merchandise yang pas banget bila kita bingung membeli kado untuk teman yang gila baca, aku perhatikan Stillo juga makin pintar dalam pemilihan cover buku, hanya saja, di buku non fiksi, ada beberapa cover buku yang kaku menurutku, seperti cover di buku Say Yes to Homemade MPASI, Handbook for New Mom, dan kenapa judulnya harus berbahasa Inggris, mungkin banyak yang jadi pertimbangan Stillo yak, untuk cover dan judul. Untuk buku yang lain cover-nya colourful loh, aku sukaaa.

            Kemudian, belakangan kualitas buku yang diterbitkan Stillo pas banget dengan yang dibutuhkan wanita masa kini, contohnya aku yang sedang hamil muda, aku pikir sebagai calon ibu, aku perlu buku buku yang mendukungku agar kelak jadi ibu yang cerdas, dan betapa inginnya aku mengoleksi buku-buku yang ada di kategori Ibu dan Anak ( Mom Lit) seperti Say Yes to Homemade MPASI, Anakku Sehat Tanpa Dokter dan Handbook for New Mom serta Sukses Bekerja dari Rumah, dari judulnya aja aku yakin profesiku sebagai Ibu Rumah Tangga bisa lebih produktif lagi dengan membaca pemaparan dari buku ini. Tapi ntar deh, pas Aa gajian hehehe, biar sekalian mengaktifkan kartu SBC ku dengan melakukan pembelian buku Stilletto online, pertama kali.

            Well, Stillo, gak berasa bentar lagi udah mau 600 kata, dan aku harus mengakhiri suratku ini. Stillo yang smart dan sexy, semoga di usia yang ke empat tahun, kamu makin berjaya dengan menerbitkan buku yang diperlukan perempuan perempuan Indonesia, diperhitungkan dalam dunia penerbitan di Indonesia, makin dekat dengan pembaca ( sumpah, admin-admin akun sosmed Stillo ramah ramah, bawaannya mau curhat aja #eh ^^ ) , kualitas editing juga makin oke, minimalisir typo, ramah mata pembaca, dan semoga aku bisa masuk jajaran penulis Stillo *pengen banget, someday naskahku berjodoh dengan Stillo, aamiin), Oh ya, makin sering ngadain give away , tentunya dengan hadiah hadiah yang selalu bikin ngiler, hihihi.

            Dok.Pri
            Sekali lagi semangat menempuh usia baru Stillo ^^

            Nurul Fauziah
            nufazee@gmail.com
            IG : @nufaz3e

            Tulisan ini diikutsertakan dalam Writing Contest 'Surat Untuk Stiletto Book, info lengkap cek disini yah http://www.stilettobook.com/index.php?page=artikel&id=119

            Sabtu, 24 Januari 2015

            Konsep Pesta Pernikahan Mendadak Trulalala ala Nufa

            Sumber :baitijannati.wordpress.com


            Kalau baca rincian dana diatas pengen nenggak saos sambal berbotol botol yak hihihi, tapi Alhamdulillah kemarin nikah gak mikir sampai sedetil itu yang penting hayuk aja. Aku menikah tanggal 26 Juni 2014, pernikahan yang gak disangka-sangka, cerita lengkapnya ada disini.

            Dan apa yang kami rasakan setelah menikah, mirip banget dengan pasangan Bara dan Gina dalam Yummy Tummy Marriage. Aku sama sekali gak kenal siapa calon suamiku, pas sudah nikahlah aku tahu luar dalamnya dia, begitu juga dia #yaeyalah , si Bara yang kalau pagi pagi jadi sasaran omelan Gina gegara ngeletakkin handuk dan kain kotor sembarangan di kamar yang sudah dirapikan Gina :-p , lalu Bara yang super duper sibuk sampai bulan madu cuma dikasi libur 3 hari dan itu pun perginya ke Dufan hahaha, benar kata Goethe, filosof Yunani ribuan tahun lalu, Love is an ideal thing, marriage a real thing. Nah kalau mau tahu kehidupan yang sebenarnya, maka menikahlah dan bacalah buku Yummy Tummy Marriage :-D #sekilas info 

            dok. pribadi

            Jauh sebelum aku menikah, saat duduk dibangku Aliyah, aku sudah punya mindset ingin konsep pesta pernikahan seperti apa, bahkan sampai ke kriteria calon suami, dan aku yakin pasti efek dari bahan bacaanku pas Aliyah, Kuliah Kerja Nikah penerbit Pro U, lalu Gue Never Die, penerbit Pro U juga, lalu buku Catatan Hati Pengantin, waktu itu diterbitkan oleh Lingkar Pena Publishing House, sekarang diterbitkan Asma Nadia Publishing House. Tamat Aliyah menuju gerbang perkuliahan, makin dalam lagi bacaanku hahaha, seperti Kupinang Engkau Dengan Hamdalah dan Indahnya Pernikahan Dini karya Ustadz Fauzil Adhim. Maka terbitlah dibenak untuk menikah muda. 

            Karena hobi menulis catatan harian dan mengikuti saran dari para penulis buku pra nikah yang sudah kusebutkan di atas, maka aku yakin saja, bahwa impian bila dituliskan saja itu sudah 1 % terwujud, dan 99 % lagi on progress  dan aku percaya itu. Akhirnya kutulislah kriteria detil calon suami, konsep pernikahan bahkan sampai ke gaya rumah tangga kami nantinya #eaaak.

            Untuk detil calon suami, Alhamdulillah sudah terwujud *colek Aa’ :-p *, Dan apa yang pernah kutuliskan di buku harianku tentang calon suami, ya memang benar terwujud ^_^ luar biasa, kekuatan mimpi dan doa itu yak :-D

            Konsep pesta pernikahan juga sudah terwujud, walau dengan sekuat tenaga lah memegang prinsip dan pada akhirnya harus mengalah demi suara terbanyak T..T .

            Inti dari pesta pernikahan kami adalah sederhana dan mencari keberkahan Allah. Sederhana yang dimaksud, untuk pakaian pengantin, teratak, beberapa alat masak, bahkan bidan pengantin, Alhamdulillah dapat yang satu paket, karena bidan pengantinnya adalah sahabat nenek. Ketika berjumpa dengan bidan pengantin, aku rasa aku yang paling cerewet hahaha, bidan pengantinnya kawan nenek, dah pasti nenek nenek juga ya kan, aku tegaskan, make up ku gak mau menor, aku tunjukkan gambar pengantin yang gak menor *sebelumnya aku googllng sebagai contoh* , lalu aku gak mau cukur alis. Itu aja yang kuminta, dan Nek Maryam pun setuju. Pokoknya aku bertekak aja lah sama nenek ini dari awal,tapi si nenek gak marah, hahaha. Mahaphkan aku ya nek. 

            Kemudian acara, tadinya mau pakai adat Minang, Randai, pas pulak Bapak mertua adalah anggota Randai, tapi batal karena anggota Randai yang lain pada sibuk, akhirnya tidak jadi. Dan konsep acara yang paling aku wanti wanti sekali, tidak mau pakai kibot dan biduanita, mending putar kaset / DVD lagu lagu islami, lebih hemat mat mat, dan dananya bisa dialokasikan kemakanan biar semua kebagian, tapi mamak tetiba tanpa sepengetahuan aku sudah memesan tim kibot -_-“ aaarrrrgghhh, rasanya pengen cakar cakar aspal, akhirnya buat kesepakatan sama Mamak, lagunya gak boleh dangdut, deal.

            Selain itu,cetak undangan mengusung konsep go green *mau bilang menghemat biaya aja susah amat :-p  gak cetak banyak, undangan diberikan kepada rekan rekan Aa yang dosen di kampus dan pegawai admin lainnya, kemudian untuk teman-teman kedua orangtua kami, teman nenek, teman kerjaku, guru-guruku, selebihnya para teman sebaya, cukup undangan soft yang di-post  di fesbuk dan via SMS. Harga undangan juga gak mahal-mahal, sengaja dipilih yang harga cetak per eks nya itu Rp. 850 , karena pengalaman, kebanyakan kertas undangan yang mewah pun berakhirnya jadi alas untuk obat nyamuk bakar, untuk ganjelan pintu, untuk kipas, dan kadang berakhir di pembakaran sampah.

            Oh ya, baju pengantin adat, kami sewa, sedangkan untuk acara bebas pas malam hari, aku minta dibuatkan gaun putih sederhana, yang bahan rendanya itu di hunt pas diskon akhir tahun, hahaha, kalau gak didiskon, dua meter bisa Rp.500.000 – an T,,T 

            Kalau urusan makanan, gak pakai acara penghematan, dan dibagian ini yang paling boros uang T,,T secara apa apa mahal, belum lagi jumlah undangan disebar 300 eks, tentu yang datang diprediksi bakal dua kali lipat bahkan lebih. Menu makanan di pesta pernikahan kami kemarin juga yang biasa tapi enak, rendang daging dan ayam semur menu wajib deh hahaha, oh ya sup bening satu lagi, sama gado gado, lalu kerupuk, udah. Snack juga disiapkan, masih yang murah meriah juga, es timun, buah jeruk, dan kue semprong, aku ingat banget buat kue semprong ini seminggu sebelum hari H berturut turut, dan aku ngerjainnya seharian T,,T ngupas kulit bawang berkilo kilo. Membersihkan kulit jahe juga berkilo kilo T,,T.  Intinya sebelum jadi raja dan ratu sehari, aku berlatih membabu seminggu-an.  Hahaha. Kalau suami, sehari sebelum pesta pernikahan dia baru touchdown di Medan, karena dia menyelesaikan tesis di Padang, jadi aku membabu, dia berjuang menyelesaikan tesis. So sweet. :-p

            :-D Dalam hati udah horror aja, sempat suami gak tiba di Medan tepat waktu, mungkin aku bakal sewa stuntman untuk pengantin pria hahaha. 

            Souvenir di pesta pernikahan kami adalah sumbangan dari ibu, anak nenek yang baru nikah setahun lalu :-D , berupa jepitan rambut mini terbuat dari kain batik, untuk tambahannya aku beli souvenir lagi berupa * apa ya kok aku lupa* kayaknya gantungan kunci deh. Sekarang untuk souvenir udah gampang yak, kita bisa beli di Pajak Petisah, keperluan keranjang hantaran yang sudah berhias pun sekarang sudah ada dijual, praktis ^_^

            Demi kekompakan keluarga besar E. Suherman, aku beli baju batik orange untuk ayah dan para adik lelakiku, baju emak dan Sarah, sudah ada, warna orange juga :-D dipakai pas pesta pernikahan sepupuku di Jakarta. 

            Aku juga ada sewa fotografer, berhubung karena fotografernya adalah adik kelas waktu di organisasi mahasiswa, akhirnya bisa diskonan juga. Pokoknya ada aja penyambung tangan Allah yang bekerja di detik detik terakhir, bayangkan, aku mempersiapkan semuanya sendiri dan waktu yang ada hanya sebulan ( menikah Juni, Juli-Agustus puasa dan Lebaran serta menyiapkan pesta pernikahan, 21 September resepsi), ngantar undangan juga sendiri kadang ditemenin ibu, suamiku di Padang T,,T jadi kalau ada biaya yang kurang, nenek sang bendahara bakal ngejar ngejar akuh, tapi aku lari lah hahaha *becanda* yang ada aku berdoa semoga dicukupkan dan berkah. Kalau dihitung hitung, budget habis, sekitar 15 juta-an , ya karena segitu yang dikasi calon suamiku waktu akad 3 bulan lalu ^_^ dan keluarga kami menerimanya, bahkan niat kami hanya syukuran sederhana, makan-makan, tidak pakai pelaminan dan acara adat segala macam, karena aku dan suami memang gak suka keramaian, apalagi dipajang di pelaminan tapi eh tapi nenekku punya niat, ya sudahlah, akhirnya jadi juga.

            Begitulah kira kira konsep pernikahan kami, adapun kami kebobolan ya karena si mamak sewa kibot itu, dan you know what pas hari H , dangdut pun terputarkan juga T,,T , aku yang sedang duduk di pelaminan di dalam rumah, ingin rasanya keluar tempat kibot diputar dan mencabut kabel utamanya -_-“ diam diam, tapi apalah daya, dalam hati aku menolak itu semua huwaaaa T_T, belum lagi di sore hari, keluargaku yang heboh, pada goyang oplosan, Oh My Goooddd, >_< kalau ibu ibu ku inilah memang. Kibot aku tegaskan gak boleh sampai malam, batas sampai jam 6 sore, diatas jam segitu acara pindah ke dalam rumah, bajuku sudah berganti gaun, wajah tak semenor tadi , suami juga begitu, hanya kemeja putih dan celana keper hitam, dia dah macam mahasiwa baru selesai ujian masuk tes apa begitu :-p. Tamu kami masih berdatangan sampai jam 11 malam, begitu juga kado, masih ada aja yang ngasih sampai November hehehe. Alhamdulillah. Semoga menginspirasi yaaaa…


            Dok.Pri
            Oh ya, tulisan ini kan diikutsertakan dalam Kompetisi Membuat Wedding Plan. bentangpustaka.com/kompetisi-blog-dreamweddinglit/