Minggu, 25 Desember 2011

Perut yang BaikBudi


Perut, aku tau bener gimana perutku #yealah, namanya juga perut sendiri. Jadi, segala sesuatu bermula dari apa yang masuk ke dalam perut kita. Masih ingat dengan istilah you are, what you eat –kamu adalah apa yang kamu makan.  Ya, kita adalah apa yang kita makan, jika apa yang masuk dalam perut kita sesuatu yang halal, bergizi lagi baik, insyallah, perilaku kita pun tidak jauh-jauh dari apa yang kita makan, begitu juga sebaliknya.
Jadi, di Jum’at berkah nan tralalala itu, nakal dan rakusku lagi kumat. Jajan. Tidak ada larangan dalam berjajan ria, sekarang yang dilarang adalah barang apa yang jadi jajanan kita. Padahal pagi itu, sebelum pergi ke sekolah untuk mengawasi anak-anak ujian semester, aku sarapan. Dan biasanya pada jam-jam 10, perutku yang elegan dan minimalis ini minta diisi, akhirnya daku minta tolong ke anak-anak belikan Miss-nya tempe goring di kantin. Eh, ternyata tempe favoritku stoknya kosong. Oke. Perutku pun sabar. Tak lama, mataku bertemu dengan coki-coki, itu loh coklat pasta yang dikemas dalam plastic ramping nan panjang. Hadeeehh…itu cemilan akuuu banget, tak kuaseee aku menolaknyeee…terbeli juga lah 4 coki-coki sekaligus.
Disela-sela menikmati coki-coki, muridku yang lagi remedial bawa jajanan bakso yang disate, tapi kurasa bukan bakso seutuhnya, tepung goreng rasa bakso lalu disirami kuah saos yang puedaasssnya aku gak tahan #orang padang tapi lidah sunda hihihhihi. Tapi, aku seleraaaa #gak pake ngences ngences. Akhirnya aku minta tolong sama muridku untuk membelikanku bakso yang serupa, Rp.1000 dapat dua tusuk bakso bersimbah kuah saos cabe.  Saatnya menikmati. Gigitan pertama. Gak enaaakkk. Rasa plastic. Sambalnya pedaasss. Huhuhuhuh T_T. Anehnya…dua tusuk bakso itu habis juga sama akuuuhhh. Hihihihi. Lapar apa doyan sih??? ^_^.
 
PESAN SPONSOR:
Kepada penjual jajanan pasar, please jualan dengan ikhlas dong, jgn nyakitin byk orang apalagi generasi muda. Masak demi keuntungan yg gak seberapa, masak gorengan, supaya rapuh gorengnya, ntu minyak dicelupin segenggam sedotan. Celakain orang banget kan? N merusak kesehatan generasi muda. Kebayang gak sih, banyak anak2 SD yg beli gorengannya tiap kali ia jualan. Semua anak pada makan plastik bukan makan gorengan. Masyaallah :(

Sebenarnya, aku mau minta maaf sama perutku yang sudah tidak tegas memilah milih makanan yang bakal masuk ke perut. Sebenarnya juga, aku dah feelingperutku bakal ngulah kalo masuk makanan yang beginian (cokicoki berkolaborasi dengan bakso aneh tralalal itu), tapi aku malah nyantai aja makannya tanpa rasa bersalah. Akhirnya…
Malam sabtu perutku demo, antara PMS dan sakit perut yang masuk angin susah dibedakan. Asli, aku gak bisa tidur. Miring sana. Miring sini. Gelisah. Huhuhuh perutku sakiiittt. T_T. Paginya, aku melakukan ritual em em. Dan…dear diare…menyapaku. Huwaaa…tobaatt.  Seharian sabtu pagi, aku lemas, lesu, lunglai, dan mesti masih harus ke sekolah pula. Siangnya, Emak nawarin makan rujak dekat sekolah itu juga. Jadilah, makan siangku diawali dengan makan rujak, lalu dibawa tidur siang, gara2 kekenyangan makan rujak dan lupa makan siang yang sesungguhnya.  Dear Diareku makin sempurna. Malam minggu, diareee…gak bangeettt.
Aku gak selera makan malam. Aku berusaha melupakan sakitku dengan menonton koleksi film yang ada di Bluser. Namun, aku gak bisa lupa. Aku pun gak kuat. Aku bangunkan nenek pukul 11 malam minta Entrostop, ternyata gak ada, aku pun disaranin minum teh pahit. Aku pun buat teh pahit, tiga bungkus teh celup, aku celupkan ke segelas air panas. Hitam. Kelat. Pahiiitttt L.
Aku paksa makan nasi walau sedikit, lalu aku minum teh pahit tadi, trus sambil banyak minum air putih hangat, trus obat cina, andalanku kalo diare, namanya bubuk Menara Lima. Bubuk ini dituang seujung sendok makan terus dicampur air hangat seukuran sendok makan juga. Ini obat juga pahit. #kenapa gak ada obat yang semanis aku (menatap cermin). Ritual itu yang aku lakukan di malam minggu yang tralala. Akhrinya jam 12 teng, pas labu berubah jadi Cinderella, aku baru bisa tidur. Minggu pagi, Alhamdulillah aku sedikit lebih baik. Hanya saja. Aku kedinginan, bahkan menjadi keringat dingin. Gak enaakk bangeett. T_T, menjelang siang aku sudah lebih baik.
Guys, aku tobat jajan sembarangan. Tobat diserang dear diare lagi T_T. Gakgakgakgakkuat #sevenicon. Mulai sekarang, jajan yang elegan aja dah. Koleksi cemilan sehat. Biskuit sehat, Beli rujak tanpa bumbu rujak #masih adilkah ini disebut makan rujak? Beli rujak tanpa bumbu??? Merusak tatanan kuliner indonesa saja. Beli Roti sehat. Makan cokicoki secukupnya jangan sampe overdosis =D.

♥ Bernafaskan Do'a ♥



“Hebatnya Allaah adalah menyatukan kata ‘individu’ dan ‘sosial’ dalam satu penciptaan, yaitu manusia. Setiap diri dibuat unik. Namun, tak mungkin hidup, hanya berbekal keunikan. Maka keunikan2 itu, di lahirkan di tengah-tengah keluarga.”
Apakah jadinya, jika seorang Adam hanya diciptakan sendirian..? Ia hidup sendiri. Menghadapi masalah sendiri. Ibadah sendiri. Mengenal Rabb-nya dengan bersendiri. Ia pula tiada memiliki tanggung jawab kecuali atas dirinya sendiri. Bayangkanlah ‘dia’, yang bersendiri itu, adalah kita. Tiada manusia lain yang diciptakan Allaah kecuali kita. Kitalah yang kala itu menjadi ‘individu’, yang hidup dengan memikirkan diri sendiri. Berjuang demi memenuhi kebutuhannya sendiri. Serta tiada yang akan membantu kita menyelesaikan pekerjaan lain yang tentu tidak akan terselesaikan dengan mengandalkan seorang manusia berkaki dua, bertangan dua dan dengan satu kepala. Karena kewajiban selalu lebih banyak dari waktu.

Kemarin-kemarin, ketika 30 November itu tiba. Setiap tahunnya, aku cuma mengingatnya seorang diri, dalam rangka lebih banyak memuhasabah-i diri. Mungkin yang ingat tanggal itu adalah lingkungan keluarga. Rekan kerja, yang kadang-kadang ingat, kadang-kadang lupa. Begitulah, lingkunganku, yang memang tidak menjadikan satu peristiwa bernama ’hari lahir’ adalah tradisi luar biasa, yang perlu dilestarikan. Karena sebenarnya, memang Rasuulullaah Muhammad, tidak mencontohkannya. Namun, ketika mereka mengingatnya, tentu ada perasaan senang dan bahagia, karena kita tentu merasa ada orang lain yang memperhatikan kita. Mmm.. merasa ada satu kekuatan tersendiri, mengetahui ada di sekitar kita, orang-orang yang meski tidak memberikan sesuatu yang bernilai secara materi, namun kita ketahui sedang mendo’akan kita, men-support gerak kita dan selalu siap, kala kita terpuruk untuk menitipkan sedikit beban kita di pundak mereka. Paling tidak, mereka mau mendengarkan curhat kita.

Namun, mari kita soroti satu hal, yang dilakukan orang-orang tercinta, tersayang, terdekat, atau minimal mereka-mereka yang mengenal kita dimanapun belahan bumi sedang mereka dan kita pijak saat ini. Ialah mendo’akan kita.
Itulah yang terasa berbeda sekitar dua tahun ini. Aku jadi memiliki lebih banyak kiriman do’a dari pada tahun-tahun sebelumnya. Entah mengapa, itu menjadi satu energi tersendiri yang men-charge kembali semangat yang mulai ’low’. Ketika secara sadar merasakan ’cinta-cinta’ yang hadir melalui posting-an2 di dinding akunku. Do’a.. do’a dan do’a saja yang terbaca. Terlafadz dari bibir hati dan lisanku, hanya Amiin.. Amiin dan Amiin. Hingga esok harinya, terasa ringan melangkah, bergerak lebih bebas, pikir lebih jernih dan semuanya terbantu dengan mengingat untaian do’a-do’a itu.


Teringat olehku satu kisah,
Tentang tiga sahabat yang berjilbab, mengenyam pendidikan di satu sekolah yang sama. Mereka bersahabat layaknya remaja pada biasanya. Kemana-mana selalu bersama. Singkat cerita, tibalah masa kelulusan. Dua dari mereka bersekolah di luar kota. Seorang lagi tetap tinggal di kota kelahiran mereka itu. Beberapa tahun kemudian, mereka membuat janji untuk berjumpa. Saat bertemu, betapa terkejutnya dua sahabat yang datang dari perantauan. Demi melihat kondisi sahabat mereka. Ia sudah tidak berjilbab dan penampilan yang tidak sebaik mereka. Namun, hal itu tidak mereka singgung. Mereka berdua bercerita tentang kesuksesan studi dan karir mereka. Tibalah masanya bagi sahabat mereka untuk bercerita. Tapi, bukan bercerita yang dilakukan oleh sahabat ini. Ia bertanya, ”Di tengah kesuksesan kalian. Adakah satu waktu, kalian mendo’akan aku..?”, yang ditanya saling berpandangan. Mereka tak sanggup menjawab, bahwa mereka tidak pernah mendo’akan. ”Aku disini sendiri, di tengah keterpurukanku, tiada lupa mendo’akan kalian.”
Terlepas dari penyebab keterpurukan sahabat tersebut. Tidakkah, do’a telah menjadi satu harapan yang luar biasa, dari sebuah hubungan..? Tidakkah do’a akan menyambung setiap hati yang berjauhan..? Tidakkah do’a adalah energi istimewa yang akan senantiasa menguatkan..?

Betapa, sekuat-kuatnya Samson.. dia perlu mencintai Delilah untuk bisa menghadirkan kekuatannya di kala sedang terbelenggu. Sehebat-hebatnya Fir’aun, ia perlu ’Asiah untuk melembutkan hatinya, meski tak sampai akhir hidupnya. Secerdas-cerdasnya seorang Habiebie, ia butuh seorang ’Ainun untuk tidak menangis. Seindah-indahnya seorang Fathimah, ia menjadi lengkap dengan kehadiran ’Ali. Sesukses-suksesnya seorang anak, ia disokong oleh pemeliharaan sang ibu hingga ia dewasa. Setiap hubungan di atas, tidak diragukan lagi, semuanya adalah hubungan yang bernafaskan do’a. Kekuatan yang tiba-tiba muncul dengan luar biasanya pada Samson, adalah hasil do’a Delilah. Melembutnya Fir’aun di sekelip waktu itu, adalah berkat do’a Asiah. Transfer do’a seorang ’Ainun di kala hidupnyalah yang sanggup meredam tangis seorang Habiebie. Serta do’a ’Ali dan seorang ibu-lah yang menambah keindahan seorang Fathimah dan melejitkan kesuksesan seorang anak.
Hanya berusaha mendo’akan siapa saja yang aku temui dalam perjalan kehidupan ini. Do’a untuk seseorang yang hampir menyerempet di jalan. Do’a bagi siapa saja yang merendahkan. Do’a bagi siapa saja yang melukai hati. Do’a bagi siapa saja yang kita cintai. Do’a bagi semua yang sempat bertatap mata atau sekedar mengenal nama. Karena kita tidak tahu, kapan dan dimana, seseorang membutuhkan do’a kita. Mungkin dia sedang tersesat, sedang kita tak melihat. Mungkin dia sedang bersedih, kala kita jauh. Mungkin dia sedang terpuruk, ketika kita sedang sibuk. Kita bahkan tidak tahu, kala kita berdo’a, mungkin itulah satu-satunya do’a yang menyelamatkan seseorang.
Izinkan ku ulangi, dengan sedikit berbeda,
“Hebatnya Allaah adalah menyatukan kata ‘individu’ dan ‘sosial’ dalam satu penciptaan, yaitu manusia. Setiap diri dibuat unik. Namun, tak mungkin hidup, hanya berbekal keunikan. Maka keunikan2 itu, di lahirkan di tengah-tengah semesta.”
Di tengah kebersamaan ini, bercita-cita.. bisa selalu mendo’akan, dimanapun dan kapanpun.

Dengan dido’akan, aku tak merasa sendiri.. Sendirikah kamu..? Biar aku do’akan..
~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

Jazakumullaah khair atas semua do’a dan kirimannya di hari berkurang tahunku

Afiani Gobel (Fiani Gee) always Powered by Pertemanan, Persahabatan dan Persaudaraan..

*Menjadi temanmu.. adalah indah.. Sangat..

Perihal: Perempuan Itu...


Perempuan itu tidak menangis ketika kekasihnya meninggalkannya
Tidak pula berlinang airmata ketika dunia sedang mengkhianatinya
Ia menyimpan dukanya di bawah bantal, yang tak pernah mengeluh mendengar curahan hatinya setiap malam

Perempuan itu enggan berduka ketika cinta diam-diamnya memilih hati selainnya
Tidak pula bersedih ketika semua pinangan berakhir di kata TIDAK
Ia memilih menganggap semua itu alur maju hidupnya, indah yang akan datang pada waktunya

Perempuan itu tetap tersenyum, pun bila hatinya tergores ribuan luka
Ia mungkin sudah lupa bagaimana rasanya merayakan kesedihan
Atau menertawakan kedukaan

Dia hanya tahu, dia sedang diberi waktu
Untuk lebih mengerti dirinya
Untuk lebih mencintai hidupnya

Perempuan itu hanya menangis ketika merasa jauh dariNya
Merasa lemah tanpa rangkulanNya
Karena dia sadar, dia melalaikan titahNya

Perempuan itu mulai menangis saat ia mulai goyah ketahanannya
Enggan bersandar pada kekuatanNya
Tidak sepenuhnya yakin pada ketetapanNya





===== end =====

goresan pena mb Fitri Gita Cinta
http://www.facebook.com/#!/gitacinta/notes

Makna Kecewa dan Dikecewakan


MARAH DENGAN ANGGUN
adalah bersikap tegas tanpa kasar,
dan tetap memelihara rasa hormat orang yang kita marahi.
Dalam hidup, ntah sudah berapa kali diriku dikecewakan dan mengecewakan orang lain. Termasuk hari ini. Dikecewakan dan mengecewakan. Nggak tau harus apa.
Agenda hari ini sudah diatur sedemikian rupa. Semuanya penting. Yah, lagi-lagi cacat komunikasi yang membuat ini semua berantakan. Kalo saja semua dikomunikasikan dengan jujur sepahit apapun, mungkin agenda bisa diatur secepat mungkin untuk beralih ke plan B. Namun, komunikasi itu terlalu manis namun berakhir amat menyakitkan. Terlalu sering dibeginikan. Sedikit mulai terbiasa. Semoga tidak menjadi kebiasaan.
BERSABAR adalah tetap merasa marah,
... tapi tidak menggunakannya untuk merendahkan diri
dan merusak hubungan baik dengan orang lain.
Agenda hari ini, agenda wajib em em, lalu silahturahim ke rumah sahabat yang udaaaah lama gak ketemu, dia sampai meneleponku secara khusus untuk datang, dan kau tau kawan, aku begitu kangen dengan sahabat lama ku ini, sehingga jawaban undangannya di telepon itu aku iyakan sepasti mungkin aku bisa datang, karena agenda wajib em em ku dimulai pagi dan silahturahim di rumah sahabat lama dijadwalkan pada siang hari. Jadi, jika semuanya in time aku bisa memposisikan diriku di kedua tempat secara adil. Namun, aku mengecewakan sahabat lamaku, aku total gak jadi datang ke kediamannya. Maafkan aku T_T,  Sungguh, aku kangen kumpul bareng kalian semua, Sungguh!!! Semoga dilain kesempatan kita disatukan dan dipertemukan Allah lagi ya, maaf atas janji-janji manisku yang lalai aku tepati. Aku tau kau kecewa, karena sudah beberapa kali aku mengecewakan janji untuk ketemu, tapi selalu begini jadinya. Maaf jika menyampaikan maaf via blog yang ntah kau baca ntah tidak. Maaf.
RASA MARAH adalah berkah,
agar kita menemukan kekuatan yang besar
untuk mengubah perilaku yang merusak moral,
menyengsarakan masyarakat, atau merusak alam.
Mungkin lagi-lagi kata maaf gak cukup, oke, aku berharap pada waktu yang mungkin akan meletakkan keberpihakannya hingga suatu saat kata maafku berguna.
Yang dilarang adalah menggunakan rasa marah
untuk menyebabkan kerusakan pada diri sendiri,
hubungan baik dengan orang lain, atau merusak alam.

Mario Teguh - Loving you all as always
Pada akhirnya, aku gak akan menyalahkan siapa-siapa. Ikhlas. =)

Selasa, 13 Desember 2011

Memahami Kehendak Jiwa


by Ibnu Syahri Ramadhan on Tuesday, 13 December 2011 at 01:30

Sekali waktu  mungkin kita pernah berfikir untuk menarik tuas waktu kehidupan kita. Lalu  terlempar jauh ke masa lalu. Tepatnya, saat pertama kali kita berdiri di persimpangan, lalu memutuskan untuk mengambil jalan hidup yang sekarang ini. Di sana nanti, kita hanya ingin menemukan jawaban dari sebuah pertanyaan sederhana, mengapa dulu aku mengambil jalan ini?
 Meskipun itu adalah sesuatu yang mustahil. Tapi pikiran semacam itulah yang kerap hadir. Biasanya, pikiran semacam itu menghampiri,  kala kita benar-benar tidak begitu menikmati jalan hidup yang sekarang ini. Kita kehilangan semangat untuk melanjutkan segalanya pencapaian. Seolah jejak yang telah ditapaki, bukanlah seutuhnya kehendak kita.
 Ini bukan cerita penyesalan. Karena kita telah memilih jalan hidup itu dengan penuh kesadaran. Ini hanyalah perasaan yang hadir, karena kita ingin mempertegas kembali arah hidup kita. Apakah benar jalan hidup yang kita tempuh sekarang ini,  sudah sejurus dengan tujuan hidup yang hendak kita capai.
 Karena mungkin saja, keputusan hidup yang kita ambil itu adalah wujud cinta kita pada orang-orang terkasih. Kita bersedia merubah arah hidup kita, lalu merelakan diri melewati hari-hari yang letih untuk mewujudkan kehendak orang terkasih itu.
 Tak ada yang salah memang. Apalagi pengorbanan karena cinta adalah sesuatu yang mulia. Hanya saja kita kerap lupa, bahwa kala itu kita membutuhkan kesepakatan jiwa. Batin kita sebenarnya belum benar-benar siap, tapi kita terlalu berani untuk memutuskan segera. Akibatnya, batin ini kerap berbisik, Rasanya, dulu itu bukan aku.
 Rasanya, dulu itu bukan aku.  Adalah bisikan yang hadir karena diri ini terus merasa asing. Kita memberi jarak sendiri antara diri kita dengan tujuan hidup. Sehingga setiap tindakan hanyalah sekedar menuntaskan kewajiban, bukan karena panggilan nurani.
 Inilah yang menyebabkan mengapa kita tidak totalitas dalam berikhtiar. Karena kita belum terlebih dahulu menuntaskan definisi bahagia yang sesungguhnya dalam diri ini. Padahal itu adalah tuntutan jiwa yang harus dipenuhi. Sehingga hati tak bisa menerimanya. Padahal, di sanalah terbitnya kekuatan untuk berbuat.
 Oleh karena itu, bila kita menemukan kegundahan dalam setiap langkah hidup ini. Kita tak perlu berpikir untuk memutar waktu agar kembali ke masa lalu. Cukuplah merenung sejenak, lalu memahami kehendak jiwa ini maunya apa?  Diri ini mau di bawa ke mana?
 Bila pertanyaan-pertayaan kegusaran ini telah kita temukan jawabannya. Maka tak ada lagi rasa bimbang untuk melangkah, kita pun bisa lebih fokus dalam menempuh tujuan. Namun, bila kegusaran terus menghampiri. Jalan hidup ini tak juga menemui titik terangnya. Bisa jadi, bahwa sebenarnya, memang ada kehendak jiwa yang hingga kini belum mampu kita fahami.
 Meunasah Baet, 13 Desember 2011
Pukul 00;59 WIB
(Kenny G, I will be home)

Sabtu, 10 Desember 2011

Ini Tentang Kata ‘Maaf’



Engkau yang sedang marah, … sudahlah …

Janganlah kau teruskan memarahinya,
yang sesungguhnya sudah tahu bahwa dia salah.

Bukankah penyesalannya sudah cukup menyiksanya?

Apakah engkau menjadi lebih mulia
dengan membuatnya merasa semakin rendah
dan terluka dalam penyesalannya?

Apakah dunia ini menjadi lebih baik
denganmu yang marah tanpa arah,
dan dia yang meminta maaf kepadamu
yang tanpa rasa kasihan?

Sudahlah …

Lembutkanlah hatimu, dan lihatlah dia dengan kasih sayang.

Ingatlah,
suatu ketika nanti engkau akan juga berada
dalam keadaan yang sama.
Dan engkau akan tahu rasa dari penyesalan
dan permintaan maaf yang ditepis seperti lalat yang kotor.

Sudahlah …

Berkasih sayanglah. Damaikanlah hatimu dengan memaafkannya.

Dan dalam tangis yang bersulam tawa kecil,
dan dalam senyum haru yang berlelehkan air mata,
lupakanlah masa lalu,
hiduplah sepenuhnya hari ini,
dan jadilah pribadi yang sehat, damai,
dan bernafas lapang
menyambut semua kemungkinan baik masa depan -
yang disediakan bagi jiwa
yang meneruskan kehidupan dengan damai,
walau keadaan dan kejadian
seperti memberimu hak untuk marah
dan merusak dirimu sendiri.

Berhentilah marah.

Memaafkan menjadikan jiwamu berpendar indah.

Memaafkan menjadikanmu sesuai bagi keindahan hidup yang kau rindukan.

Tersenyumlah, dan bernafaslah dalam selapang-lapangnya dada.

Mario Teguh –

Aku tercekat membaca kalimat bijak MT pagi itu. Seketika membawaku pada masa lalu, masa dimana aku pernah marah luarbiasa pada seseorang dan butuh waktu berhari-hari memaafkannya. Aku marah waktu itu, ya, aku akui aku emosi, seminggu berlalu, marahku mulai ubah orientasi, marahku untuk memberinya pelajaran dan semoga tidak ada lagi korban selanjutnya yang berjatuhan. Aku sadari, sifat burukku jika sudah kecewa berat, adalah diam, dan kalau bisa jangan sampai bertatap muka dulu dengan orang tersebut demi menghindari pahalaku berpindah padanya. Time will heal everything, ya yang kubutuhkan hanya waktu, waktu untuk melupakan semuanya dan waktu untuk memaafkan.

Dan sekarang, kejadian berbalik padaku, aku membuat seseorang kecewa berat. Kau tau rasanya, mendapati orang terdekat kita kecewa gara-gara kita? Sakit!, secara fisik memang berada dalam satu tempat, satu ruangan, satu kota, tapi secara batin aku merasa bermil-mil jauhnya dari orang tersebut, sifatnya berubah 3600padaku, yah, selayaknya orang lain yang nggak saling mengenal, kalo kata MT, mungkin orang tersebut udah kayak bertemu lalat yang kotor, jijik. Jika sudah begitu, aku makin terkubur dalam lubang penyesalan. Sedih kali lah pokoknya T_T.

Aku sudah berusaha minta maaf, atau mungkin di matanya usaha minta maafku belum maksimal, tapi ntahlah aku masih nggak ngerti standar maksimal sebuah permintaan maaf. Aku hanya bisa mendelegasikan hatinya pada Allah, supaya dilembutkan dan mau menerima permintaan maafku. Itu aja.

Satu hal yang paling aku ingat dari perkataan Ippho, bahwa bisa jadi sukarnya urusan-urusan kita selama ini, seretnya rezeki, adalah karena kita terlalu sering merapuhkan hubungan kita dengan sesama manusia. Maka, berbuat baiklah dan bermaaf-maafan lah.

Aku yang sedang belajar menjadi dewasa. Sekali lagi, dari lubuk hati yang paling dalam Aku minta maaf, dan aku siap terima risikonya bahwa mungkin setelah ini aku harus mengenalmu dari awal lagi, dan segalanya tidak akan pernah sama lagi seperti sebelum aku membuatmu sekecewa ini. #rasanya pengen pergi jauh, sejauh-jauhnya dari semua orang yang pernah mengenalku.

Muharram dan Desember, benar-benar menguras perasaan dan airmata. Huwaaa…kalo diingat2, perih kali rasanya, permintaan maaf blm diterima, dikhianatin teman, bla…bla…bla.

Ikhlas rul!. SEMANGAT! ^_^