Tampilkan postingan dengan label Tulisan dari Berbagai Sumber. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan dari Berbagai Sumber. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 November 2012

Antara Kesepian Sekuler dan Kebersamaan Islam

Dec 21, '10 4:28 AM
untuk semuanya

assalaamu’alaikum wr. wb.

Dalam sebuah majalah yang khusus membahas masalah-masalah sastra, penyair kawakan Taufik Ismail pernah menjelaskan standar yang digunakannya untuk menilai suatu karya sastra itu mengandung unsur-unsur porno atau tidak.  Cara sederhana yang diajukannya adalah dengan mengganti nama-nama tokoh perempuan dalam karya tersebut (karena biasanya yang porno-porno selalu berkaitan dengan tokoh perempuan) dengan nama ibu kita, kakak/adik perempuan kita, bibi kita, istri kita, atau anak perempuan kita.  Jika kita merasa risih atau jijik dengan cerita yang dihasilkan, berarti karya itu memang porno.

Taufik Ismail bukan sekedar penyair yang gemar bermain kata-kata.  Sebagai seorang Muslim, kepenyairannya tak pernah bisa dipisahkan dari identitasnya sebagai seorang Muslim.  Karena cara berpikirnya telah terwarnai (ter-shibghah) dengan ajaran Islam, maka responnya terhadap masalah pun sejalan dengan pandangan Islam.

Apa yang dikatakan oleh Taufik Ismail nyaris sama persis dengan pendekatan masalah yang digunakan oleh Rasulullah saw. ketika seseorang datang menghampirinya untuk meminta izin berzina.  Permohonan izin itu disampaikannya terang-terangan, sehingga orang-orang di sekitarnya pun mendengar.  Mereka yang mendengar berusaha mencegahnya mendekati Rasulullah saw., namun beliau justru menyuruhnya untuk mendekat.  Setelah itu, Rasulullah saw. membimbingnya untuk memikirkan keinginannya sekali lagi.  Bagaimana jika ada orang lain yang berzina dengan ibunya?  Bagaimana jika ada orang yang berzina dengan bibinya?  Bagaimana jika putrinya diajak berzina oleh orang lain?  Jika kita tak suka ada orang yang berzina dengan ibu, bibi atau putri kita, maka kita pun tak boleh berzina, sebab yang kita ajak berzina pastilah ibu, bibi atau putri orang lain.  Argumen ini begitu sederhana, begitu mudah dicerna akal.

Seringkali perbuatan keji dianggap biasa hanya karena kita melihatnya dari kaca mata ‘pelaku’.  Sebagai pelaku, kita hanya merasakan kenikmatan sesaat dari perbuatan keji yang kita lakukan.  Adapun konsekuensi jangka panjangnya, apalagi dosa yang baru ketahuan akibatnya di akhirat nanti, biasanya akan dianggap remeh.

Masalahnya akan lain jika kita menggunakan kaca mata ‘pengamat’, apalagi kaca mata ‘korban’.  Mengakses situs-situs porno mungkin terasa menyenangkan, namun jika kita melihat para pelajar dan mahasiswa mengaksesnya di warnet-warnet, akan terasa betul betapa keji dan menjijikkannya perbuatan tersebut.  Banyak orang senang melihat supermodel yang membuka auratnya lebar-lebar, tapi kita tidak tahu persis bagaimana reaksinya jika putrinya sendiri menjadi supermodel yang berbuat demikian.  Ada perempuan yang jadi istri simpanan, dan akhirnya bisa menyingkirkan istri tua dari suaminya, lalu kemudian ia pun disingkirkan oleh perempuan yang lain lagi.  Apa anehnya?  Lelaki yang mengkhianatinya kini adalah lelaki yang sama yang pernah mengkhianati perempuan lain.  Hanya saja, ia lalai mengganti ‘kacamatanya’ sebelum bertindak jauh, sehingga pada akhirnya ia terpaksa merasakan perspektif ‘korban’ secara nyata.

Inilah sisi sekuler yang jarang dipikirkan orang.  Sekularisme menghendaki dipisahkannya agama dari kehidupan sosial manusia.  Akibatnya, tidak ada aturan yang mengikat interaksi sosial kita.  Karena awalnya tidak ada aturan, maka aturan pun diada-adakan dengan melakukan penyesuaian dari masa ke masa, karena ia adalah sebuah produk dari akal manusia yang kapasitasnya terbatas.  Hasilnya adalah relativitas nilai.  Apa yang dianggap hina dulu bisa dianggap heroik di jaman sekarang, demikian juga hal-hal yang dianggap mulia sekarang mungkin akan dianggap sebagai sebuah kecelakaan sejarah di masa mendatang.

Manusia sekuler hidup dengan memisahkan dirinya dari yang lainnya, baik manusia lain yang hidup di sekitarnya maupun manusia lain yang pernah hidup dalam sejarah.  Mereka memandang segala sesuatunya secara parsial.  Sebaliknya, Islam selalu menggunakan cara berpikir yang komprehensif, menggunakan segala sudut pandang yang mungkin digunakan.  Itulah sebabnya, menurut ajaran Islam, manusia dibedakan derajatnya berdasarkan tingkat ketaqwaannya, sedangkan ketaqwaan itu diwujudkan dalam ketelitian dan kehati-hatian dalam segala sesuatunya.  Orang yang bertaqwa bukan yang tidak pernah salah atau khilaf (bahkan tak ada seorang pun manusia yang seperti itu), namun ia pastilah orang yang sangat memperhatikan detil dari segala tindak-tanduknya.  Teliti dan komprehensif dalam segala tindakan ini berasal dari sikap ihsan, yaitu senantiasa merasa berada di bawah pengawasan Allah Yang Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha Adil.

Sekularisme adalah ideologi kesepian, di mana setiap manusia hidup untuk dirinya sendiri dan tak bisa mengharapkan pertolongan dari orang lain.  Seorang ibu tak bisa melindungi anak-anaknya dari pornografi lantaran pemerintahnya memutuskan untuk menjadi sekuler.  Mereka tahu bahaya minuman keras dan prostitusi, tapi sekularisme mengharuskan mereka untuk hidup ‘rukun’ bersamanya.

Adapun Islam, ia adalah ajaran yang selalu mementingkan kebersamaan.  Apa yang kita lakukan akan berdampak pada orang lain, demikian juga apa yang orang lain lakukan pastilah berdampak pada kita.  Islam tidak hanya melarang zina, tapi juga melarang mendekati zina, bahkan juga melarang orang untuk berdiam diri ketika menyaksikan perzinaan terjadi di lingkungannya.  Mencegah perzinaan dan menghukum orang yang berzina bukanlah kepentingan pribadi per individu, karena yang dirugikan adalah seluruh elemen masyarakat.  Segala bentuk kemaksiatan senantiasa bersifat menular dan tumbuh perlahan bagaikan virus.  Islam menyuruh manusia untuk membasmi virus-virus maksiat, sedangkan sekularisme hanya memberi perhatian pada mereka yang sudah hampir sekarat akibat virus-virus tersebut; itu pun hanya memberi perhatian, bukan menyembuhkannya!

Begitu seorang bayi lahir ke dunia, Islam mengakuinya lebih cepat daripada orang tuanya sendiri.  Sementara akta kelahiran – yang menunjukkan kewarganegaraan yang sah dari bayi tersebut – belum lagi dibuat, Islam sudah mengakuinya sebagai bagian dari umat yang satu.  Setiap Muslim adalah saudara dari Muslim lainnya.  Setiap Muslim adalah ayah, saudara laki-laki, dan anak lelakinya, sedangkan setiap Muslimah adalah ibu, saudara perempuan, dan anak perempuannya.  Jika ada nenek renta yang ditinggal sendiri di rumahnya, masyarakat Muslim tak melempar tanggung jawab untuk merawatnya.  Janganlah heran, dahulu pernah terjadi pengepungan terhadap warga Yahudi Madinah demi kehormatan seorang Muslimah.  Ketika itu, sekelompok pemuda Yahudi menyingkap pakaian sang Muslimah sehingga terlihat auratnya.  Seorang pemuda Muslim yang ada di sekitar situ langsung membunuh pemuda Yahudi yang melakukan pelecehan tersebut, dan kemudian ia pun dikeroyok hingga terbunuh juga.  Keadaan darurat segera dikumandangkan, dan kabilah Yahudi tersebut dikepung.  Pelecehan terhadap Muslimah yang tidak dikenal sebelumnya sama dengan pelecehan terhadap saudara kandung kita sendiri.

Islam tidak mengijinkan setiap orang berpikir sekuler; mereka tak boleh memisahkan dirinya dari yang lain.  Mereka harus menyadari bahwa hidupnya hanya untuk Allah, dan Allah menghendaki hamba-hamba-Nya untuk saling mengenal, saling memahami dan saling menanggung beban satu sama lainnya.  Itulah sebabnya keimanan seseorang tak bisa disebut sempurna jika ia belum mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.  Tidak perlu heran jika ada mujahid yang sedang sekarat justru ingin mengoper minumannya kepada saudaranya yang juga sedang sekarat.  Saudaranya pun ingin mengoper lagi minumannya, hingga ketiga mujahid itu akhirnya menghembuskan napas terakhir sebelum sempat meneguk air.

Sekularisme menghendaki jiwa yang kerdil, kehidupan yang sempit dan kesepian yang tak ada ujungnya, sedangkan Islam mengajarkan manusia untuk berjiwa besar, memiliki kehidupan yang luas dan kebersamaan yang hanya dibatasi oleh umurnya di dunia.  Maka berhentilah berpikir sekuler dan tinggalkanlah cara berpikir yang parsial dan individual, agar Anda tidak kesepian di dunia, dan lebih kesepian lagi di akhirat.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

copas dari Blog Malami Bookstore


Minggu, 25 Desember 2011

♥ Bernafaskan Do'a ♥



“Hebatnya Allaah adalah menyatukan kata ‘individu’ dan ‘sosial’ dalam satu penciptaan, yaitu manusia. Setiap diri dibuat unik. Namun, tak mungkin hidup, hanya berbekal keunikan. Maka keunikan2 itu, di lahirkan di tengah-tengah keluarga.”
Apakah jadinya, jika seorang Adam hanya diciptakan sendirian..? Ia hidup sendiri. Menghadapi masalah sendiri. Ibadah sendiri. Mengenal Rabb-nya dengan bersendiri. Ia pula tiada memiliki tanggung jawab kecuali atas dirinya sendiri. Bayangkanlah ‘dia’, yang bersendiri itu, adalah kita. Tiada manusia lain yang diciptakan Allaah kecuali kita. Kitalah yang kala itu menjadi ‘individu’, yang hidup dengan memikirkan diri sendiri. Berjuang demi memenuhi kebutuhannya sendiri. Serta tiada yang akan membantu kita menyelesaikan pekerjaan lain yang tentu tidak akan terselesaikan dengan mengandalkan seorang manusia berkaki dua, bertangan dua dan dengan satu kepala. Karena kewajiban selalu lebih banyak dari waktu.

Kemarin-kemarin, ketika 30 November itu tiba. Setiap tahunnya, aku cuma mengingatnya seorang diri, dalam rangka lebih banyak memuhasabah-i diri. Mungkin yang ingat tanggal itu adalah lingkungan keluarga. Rekan kerja, yang kadang-kadang ingat, kadang-kadang lupa. Begitulah, lingkunganku, yang memang tidak menjadikan satu peristiwa bernama ’hari lahir’ adalah tradisi luar biasa, yang perlu dilestarikan. Karena sebenarnya, memang Rasuulullaah Muhammad, tidak mencontohkannya. Namun, ketika mereka mengingatnya, tentu ada perasaan senang dan bahagia, karena kita tentu merasa ada orang lain yang memperhatikan kita. Mmm.. merasa ada satu kekuatan tersendiri, mengetahui ada di sekitar kita, orang-orang yang meski tidak memberikan sesuatu yang bernilai secara materi, namun kita ketahui sedang mendo’akan kita, men-support gerak kita dan selalu siap, kala kita terpuruk untuk menitipkan sedikit beban kita di pundak mereka. Paling tidak, mereka mau mendengarkan curhat kita.

Namun, mari kita soroti satu hal, yang dilakukan orang-orang tercinta, tersayang, terdekat, atau minimal mereka-mereka yang mengenal kita dimanapun belahan bumi sedang mereka dan kita pijak saat ini. Ialah mendo’akan kita.
Itulah yang terasa berbeda sekitar dua tahun ini. Aku jadi memiliki lebih banyak kiriman do’a dari pada tahun-tahun sebelumnya. Entah mengapa, itu menjadi satu energi tersendiri yang men-charge kembali semangat yang mulai ’low’. Ketika secara sadar merasakan ’cinta-cinta’ yang hadir melalui posting-an2 di dinding akunku. Do’a.. do’a dan do’a saja yang terbaca. Terlafadz dari bibir hati dan lisanku, hanya Amiin.. Amiin dan Amiin. Hingga esok harinya, terasa ringan melangkah, bergerak lebih bebas, pikir lebih jernih dan semuanya terbantu dengan mengingat untaian do’a-do’a itu.


Teringat olehku satu kisah,
Tentang tiga sahabat yang berjilbab, mengenyam pendidikan di satu sekolah yang sama. Mereka bersahabat layaknya remaja pada biasanya. Kemana-mana selalu bersama. Singkat cerita, tibalah masa kelulusan. Dua dari mereka bersekolah di luar kota. Seorang lagi tetap tinggal di kota kelahiran mereka itu. Beberapa tahun kemudian, mereka membuat janji untuk berjumpa. Saat bertemu, betapa terkejutnya dua sahabat yang datang dari perantauan. Demi melihat kondisi sahabat mereka. Ia sudah tidak berjilbab dan penampilan yang tidak sebaik mereka. Namun, hal itu tidak mereka singgung. Mereka berdua bercerita tentang kesuksesan studi dan karir mereka. Tibalah masanya bagi sahabat mereka untuk bercerita. Tapi, bukan bercerita yang dilakukan oleh sahabat ini. Ia bertanya, ”Di tengah kesuksesan kalian. Adakah satu waktu, kalian mendo’akan aku..?”, yang ditanya saling berpandangan. Mereka tak sanggup menjawab, bahwa mereka tidak pernah mendo’akan. ”Aku disini sendiri, di tengah keterpurukanku, tiada lupa mendo’akan kalian.”
Terlepas dari penyebab keterpurukan sahabat tersebut. Tidakkah, do’a telah menjadi satu harapan yang luar biasa, dari sebuah hubungan..? Tidakkah do’a akan menyambung setiap hati yang berjauhan..? Tidakkah do’a adalah energi istimewa yang akan senantiasa menguatkan..?

Betapa, sekuat-kuatnya Samson.. dia perlu mencintai Delilah untuk bisa menghadirkan kekuatannya di kala sedang terbelenggu. Sehebat-hebatnya Fir’aun, ia perlu ’Asiah untuk melembutkan hatinya, meski tak sampai akhir hidupnya. Secerdas-cerdasnya seorang Habiebie, ia butuh seorang ’Ainun untuk tidak menangis. Seindah-indahnya seorang Fathimah, ia menjadi lengkap dengan kehadiran ’Ali. Sesukses-suksesnya seorang anak, ia disokong oleh pemeliharaan sang ibu hingga ia dewasa. Setiap hubungan di atas, tidak diragukan lagi, semuanya adalah hubungan yang bernafaskan do’a. Kekuatan yang tiba-tiba muncul dengan luar biasanya pada Samson, adalah hasil do’a Delilah. Melembutnya Fir’aun di sekelip waktu itu, adalah berkat do’a Asiah. Transfer do’a seorang ’Ainun di kala hidupnyalah yang sanggup meredam tangis seorang Habiebie. Serta do’a ’Ali dan seorang ibu-lah yang menambah keindahan seorang Fathimah dan melejitkan kesuksesan seorang anak.
Hanya berusaha mendo’akan siapa saja yang aku temui dalam perjalan kehidupan ini. Do’a untuk seseorang yang hampir menyerempet di jalan. Do’a bagi siapa saja yang merendahkan. Do’a bagi siapa saja yang melukai hati. Do’a bagi siapa saja yang kita cintai. Do’a bagi semua yang sempat bertatap mata atau sekedar mengenal nama. Karena kita tidak tahu, kapan dan dimana, seseorang membutuhkan do’a kita. Mungkin dia sedang tersesat, sedang kita tak melihat. Mungkin dia sedang bersedih, kala kita jauh. Mungkin dia sedang terpuruk, ketika kita sedang sibuk. Kita bahkan tidak tahu, kala kita berdo’a, mungkin itulah satu-satunya do’a yang menyelamatkan seseorang.
Izinkan ku ulangi, dengan sedikit berbeda,
“Hebatnya Allaah adalah menyatukan kata ‘individu’ dan ‘sosial’ dalam satu penciptaan, yaitu manusia. Setiap diri dibuat unik. Namun, tak mungkin hidup, hanya berbekal keunikan. Maka keunikan2 itu, di lahirkan di tengah-tengah semesta.”
Di tengah kebersamaan ini, bercita-cita.. bisa selalu mendo’akan, dimanapun dan kapanpun.

Dengan dido’akan, aku tak merasa sendiri.. Sendirikah kamu..? Biar aku do’akan..
~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

Jazakumullaah khair atas semua do’a dan kirimannya di hari berkurang tahunku

Afiani Gobel (Fiani Gee) always Powered by Pertemanan, Persahabatan dan Persaudaraan..

*Menjadi temanmu.. adalah indah.. Sangat..

Perihal: Perempuan Itu...


Perempuan itu tidak menangis ketika kekasihnya meninggalkannya
Tidak pula berlinang airmata ketika dunia sedang mengkhianatinya
Ia menyimpan dukanya di bawah bantal, yang tak pernah mengeluh mendengar curahan hatinya setiap malam

Perempuan itu enggan berduka ketika cinta diam-diamnya memilih hati selainnya
Tidak pula bersedih ketika semua pinangan berakhir di kata TIDAK
Ia memilih menganggap semua itu alur maju hidupnya, indah yang akan datang pada waktunya

Perempuan itu tetap tersenyum, pun bila hatinya tergores ribuan luka
Ia mungkin sudah lupa bagaimana rasanya merayakan kesedihan
Atau menertawakan kedukaan

Dia hanya tahu, dia sedang diberi waktu
Untuk lebih mengerti dirinya
Untuk lebih mencintai hidupnya

Perempuan itu hanya menangis ketika merasa jauh dariNya
Merasa lemah tanpa rangkulanNya
Karena dia sadar, dia melalaikan titahNya

Perempuan itu mulai menangis saat ia mulai goyah ketahanannya
Enggan bersandar pada kekuatanNya
Tidak sepenuhnya yakin pada ketetapanNya





===== end =====

goresan pena mb Fitri Gita Cinta
http://www.facebook.com/#!/gitacinta/notes

Selasa, 13 Desember 2011

Memahami Kehendak Jiwa


by Ibnu Syahri Ramadhan on Tuesday, 13 December 2011 at 01:30

Sekali waktu  mungkin kita pernah berfikir untuk menarik tuas waktu kehidupan kita. Lalu  terlempar jauh ke masa lalu. Tepatnya, saat pertama kali kita berdiri di persimpangan, lalu memutuskan untuk mengambil jalan hidup yang sekarang ini. Di sana nanti, kita hanya ingin menemukan jawaban dari sebuah pertanyaan sederhana, mengapa dulu aku mengambil jalan ini?
 Meskipun itu adalah sesuatu yang mustahil. Tapi pikiran semacam itulah yang kerap hadir. Biasanya, pikiran semacam itu menghampiri,  kala kita benar-benar tidak begitu menikmati jalan hidup yang sekarang ini. Kita kehilangan semangat untuk melanjutkan segalanya pencapaian. Seolah jejak yang telah ditapaki, bukanlah seutuhnya kehendak kita.
 Ini bukan cerita penyesalan. Karena kita telah memilih jalan hidup itu dengan penuh kesadaran. Ini hanyalah perasaan yang hadir, karena kita ingin mempertegas kembali arah hidup kita. Apakah benar jalan hidup yang kita tempuh sekarang ini,  sudah sejurus dengan tujuan hidup yang hendak kita capai.
 Karena mungkin saja, keputusan hidup yang kita ambil itu adalah wujud cinta kita pada orang-orang terkasih. Kita bersedia merubah arah hidup kita, lalu merelakan diri melewati hari-hari yang letih untuk mewujudkan kehendak orang terkasih itu.
 Tak ada yang salah memang. Apalagi pengorbanan karena cinta adalah sesuatu yang mulia. Hanya saja kita kerap lupa, bahwa kala itu kita membutuhkan kesepakatan jiwa. Batin kita sebenarnya belum benar-benar siap, tapi kita terlalu berani untuk memutuskan segera. Akibatnya, batin ini kerap berbisik, Rasanya, dulu itu bukan aku.
 Rasanya, dulu itu bukan aku.  Adalah bisikan yang hadir karena diri ini terus merasa asing. Kita memberi jarak sendiri antara diri kita dengan tujuan hidup. Sehingga setiap tindakan hanyalah sekedar menuntaskan kewajiban, bukan karena panggilan nurani.
 Inilah yang menyebabkan mengapa kita tidak totalitas dalam berikhtiar. Karena kita belum terlebih dahulu menuntaskan definisi bahagia yang sesungguhnya dalam diri ini. Padahal itu adalah tuntutan jiwa yang harus dipenuhi. Sehingga hati tak bisa menerimanya. Padahal, di sanalah terbitnya kekuatan untuk berbuat.
 Oleh karena itu, bila kita menemukan kegundahan dalam setiap langkah hidup ini. Kita tak perlu berpikir untuk memutar waktu agar kembali ke masa lalu. Cukuplah merenung sejenak, lalu memahami kehendak jiwa ini maunya apa?  Diri ini mau di bawa ke mana?
 Bila pertanyaan-pertayaan kegusaran ini telah kita temukan jawabannya. Maka tak ada lagi rasa bimbang untuk melangkah, kita pun bisa lebih fokus dalam menempuh tujuan. Namun, bila kegusaran terus menghampiri. Jalan hidup ini tak juga menemui titik terangnya. Bisa jadi, bahwa sebenarnya, memang ada kehendak jiwa yang hingga kini belum mampu kita fahami.
 Meunasah Baet, 13 Desember 2011
Pukul 00;59 WIB
(Kenny G, I will be home)

Minggu, 16 Oktober 2011

CINTA BEGITU SENJA IN REAL LIVE

Jika Anda sudah membaca cerpen karya Asma Nadia berjudul "Cinta Begitu Senja" pada salah satu cerpen di buku "Emak Ingin Naik Haji" kisah di bawah ini mungkin sedikit mirip. Hanya saja kisah di bawah ini adalah kisah nyata yang kita bisa belajar darinya. Kisah ini banyak beredar di internet, sudah dicopy paste di mana-mana jadi agak sulit mengungkap narasumber aslinya. Semoga yang menulis mendapat pahala.

Silakan simak dan ambil hikmahnya:



Kisah ini terjadi di beijing Cina, seorang gadis bernama Yo Yi Mei memiliki cinta terpendam terhadap teman karibnya di masa sekolah. Namun ia tidak pernah mengungkapkannya, Ia hanya selalu menyimpan di dalam hati dan berharap temannya bisa mengetahuinya sendiri. Tapi sayang temannya tak pernah mengetahuinya, hanya menganggapnya sebagai sahabat, tak lebih.

Suatu hari Yo Yi Mei mendengar bahwa sahabatnya akan segera menikah hatinya sesak, tapi ia tersenyum “Aku harap kau bahagia“. Sepanjang hari Yo Yi Mei bersedih, ia menjadi tidak ada semangat hidup, tapi dia selalu mendoakan kebahagiaan sahabatnya

12 Juli 1994 sahabatnya memberikan contoh undangan pernikahannyayang akan segera dicetak kepada Yi mei, ia berharap Yi Mei akan datang, sahabatnya melihat Yi Mei yang menjadi sangat kurus & tidak ceria bertanya“Apa yang terjadi dengamu , kau ada masalah?

Yi mei tersenyum semanis mungkin ” Kau salah lihat, aku tak punya masalah apa apa, wah contoh undanganya bagus, tapi aku lebih setuju jika kau pilih warna merah muda, lebih lembut …” Ia mengomentari rencana undangan sahabatnya tesebut.

Sahabatnya tersenyum “ Oh ya, ummm aku kan menggantinya, terimakasih atas sarannya Mei, aku harus pergi menemui calon istriku, hari ini kami ada rencana melihat lihat perabotan rumah … daag“. Yi Mei tersenyum, melambaikan tangan, hatinya yang sakit.

18 Juli 1994 Yi Mei terbaring di rumah sakit, Ia mengalami koma,Yi Mei mengidap kanker darah stadium akhir. Kecil harapan Yi Mei untuk hidup,semua organnya yang berfungsi hanya pendengaran, dan otaknya, yang lain bisa dikatakan “Mati“ dan semuanya memiliki alat bantu, hanya muzizat yang bisa menyembuhkannya.

Sahabatnya setiap hari menjenguknya, menunggunya, bahkan ia menunda pernikahannya. Baginya Yi Mei adalah tamu penting dalam pernikahannya.Keluaga Yi Mei sendiri setuju memberikan “Suntik Mati“ untuk Yi Mei karena tak tahan melihat penderitaan Yi Mei.

10 Desember 1994 Semua keluarga setuju besok 11 Desember 1994 Yi Mei akan disuntik mati dan semua sudah ikhlas, hanya sahabat Yi Mei yang mohon diberi kesempatan berbicara yang terakhir, sahabatnya menatap Yi Mei yang dulu selalu bersama.

Ia mendekat berbisik di telinga Yi Mei“ Mei apa kau ingat waktu kita mencari belalang, menangkap kupu kupu?...kau tahu, aku tak pernah lupa hal itu, dan apa kau ingat waktu disekolah waktu kita dihukum bersama gara gara kita datang terlambat,kita langganan kena hukum ya? “

“Apa kau ingat juga waktu aku mengejekmu, kau terjatuh di lumpur saat kau ikut lomba lari, kau marah dan mendorongku hingga aku pun kotor ?...Apakah kau ingat aku selalu mengerjakan PR di rumahmu? ...Aku tak pernah melupakan hal itu … “

“Mei, aku ingin kau sembuh, aku ingin kau bisa tersenyum seperti dulu, aku sangat suka lesung pipitmu yang manis, kau tega meninggalkan sahabatmu ini ?....”Tanpa sadar sahabat Yi Mei menangis, air matanya menetes membasahi wajah Yi Mei

“ Mei...kau tahu, kau sangat berarti untukku, aku tak setuju kau disuntik mati, rasanya aku ingin membawamu kabur dari rumah sakit ini, aku ingin kau hidup, kau tahu kenapa ?...karena aku sangat mencintaimu, aku takut mengungkapkan padamu, takut kau menolakku “

“ Meskipun aku tahu kau tidak mencintaiku, aku tetap ingin kau hidup,Aku ingin kau hidup, Mei tolonglah, Dengarkan aku Mei … bangunlah …. !! “Sahabatnya menangis, ia menggengam kuat tangan Yi Mei“ Aku selalu berdoa Mei, aku harap Tuhan berikan keajaiban buatku, Yi Mei sembuh, sembuh total.Aku percaya, bahkan kau tahu?.. aku puasa agar doaku semakin didengar Tuhan “

“ Mei aku tak kuat besok melihat pemakamanmu, kau jahat ... !!kau sudah tak mencintaiku, sekarang kau mau pergi, aku sangat mencintaimu…aku menikah hanya ingin membuat dirimu tidak lagi dibayang-bayangi dirikusehingga kau bisa mencari pria yang selalu kau impikan, hanya itu Mei … “

“Seandainya saja kau bilang kau mencintaiku, aku akan membatalkan pernikahanku, aku tak peduli … tapi itu tak mungkin, kau bahkan mau pergi dariku sebagai sahabat“

Sahabat Yi mei mengecup pelan dahi Yi Mei, ia berbisik” Aku sayang kamu, aku mencintaimu ” suaranya terdengar parau karena tangisan.Dan apa yang terjadi ?....Its amazing !! ” CINTA “ bisa menyembuhkan segalanya.

7 jam setelah itu dokter menemukan tanda tanda kehidupan dalam diri Yi Mei,jari tangan Yi Mei bisa bergerak, jantungnya, paru parunya, organ tubuhnya bekerja, Sungguh sebuah keajaiban !!Pihak medis menghubungi keluarga Yi Mei dan memberitahukan keajaiban yang terjadi.Dan sebuah mujizat lagi … masa koma lewat ….pada tgl 11 Des 1994

14 Des 1994 Saat Yi Mei bisa membuka mata dan berbicara,sahabatnya ada disana, ia memeluk Yi Mei menangis bahagia, dokter sangat kagum akan keajaiban yang terjadi.“ Aku senang kau bisa bangun, kau sahabatku terbaik “ sahabatnya memeluk erat Yi Mei

Yi Mei tersenyum “ Kau yang memintaku bangun, kau bilang kau mencintaiku,tahukah kau aku selalu mendengar kata-kata itu, aku berpikir aku harus berjuang untuk hidup ““Lei, aku mohon jangan tinggalkan aku ya, aku sangat mencintaimu ”Lei memeluk Yi Mei “ Aku sangat mencintaimu juga “

17 Februari 1995 Yi Mei & Lei menikah, hidup bahagiadan sampai dengan saat ini pasangan ini memiliki 1 orang anak laki laki yang telah berusia 14 tahun. Kisah ini sempat menggemparkan Beijing.

Apa hikmah dari kisah ini? Cinta adalah keajaiban. Kekuatan Cinta...Ya itu yang banyak dibahas dibahas di internet. Tapi saya justru ingin mengambil sudut pandang lain. Apa yang ingin saya sampaikan? KOMUNIKASI dan ASUMSI. Betapa banyak orang menderita hidupnya hanya karena dua hal ini, salah ASUMSI dan salah KOMUNIKASI.

Jangan BERASUMSI atas HASIL sebelum MENCOBA. Saya takut menyerahkan naskah, takut ditolak penerbit... Saya takut minta naik gaji, nanti dianggap gak tahu diri... Saya takut melamarnya nanti ditolak... Saya takut ikut lomba nanti kalah...

Jangan BERASUMSI atas HATI orang lain. Jangan BERASUMSI atas pikiran orang lain. Telusuri dulu, jangan sampai hanya karena ASUMSI sampai mengorbankan diri sendiri. Jangan takut MENGUNGKAPKAN apa yang ada dalam hati atau pikiran, lakukan KOMUNIKASI.

Anda bekerja tidak pernah naik gaji, padahal sudah lama. Anda berharap bos pengertian tapi tidak ada reaksi. Dulu Anda bujang lalu, menikah gaji tidak naik juga. Anda berharap bos pengertian tapi tetap gaji tidak naik. Lalu Anda punya anak, biaya hidup meningkat. Anda berharap bos pengertian tapi tetap gaji tidak naik. Akhirnya gaji Anda tidak naik-naik.

Di sisi lain Bos Anda merasa membayar Anda cukup mahal untuk pegawai bujang. Ketika Anda menikah, sang Bos merasa gaji Anda memang sudah cukup besar untuk pasangan muda. Apalagi Bos berasumsi Anda menikah dengan pasangan yang berpenghasilan, jadi hidup Anda makin makmur. Ketika Anda punya anak, Anda tidak minta naik gaji dan tetap semangat kerja, jadi Bos merasa Anda sudah merasa cukup. Bos Anda berpikir selama tidak diminta naikkan gaji, kenapa harus repot-repot naikkan gaji. Walah.

Kuncinya KOMUNIKASI. Komunikasikan KEINGINAN, PERASAN, PIKIRAN Anda dengan baik di rumah, di kantor, di sekolah di mana saja. MENGKOMUNIKASIKAN jauh lebih baik daripada MENGAMSUMSIKAN. Mungkin setelah KOMUNIKASI hasil bisa baik atau tidak sesuai dengan harapan. Tapi paling tidak kita tidak hidup di awang-awang. Jika Anda optimal menggunakan kekuatan KOMUNIKASI Mungkin akan memberi hasil lebih baik dan membuat hidup Anda lebih mudah.

Kalau masih tidak percaya pentingnya mengkomuniskasikan diri, silahkan baca "Cinta Begitu Senja" di buku Emak Ingin Naik Haji". Siap-siap urut dada.

J.I.K.A

  • Jika seorang pria benar-benar mencintaimu, dia akan memanjakanmu seperti anak kecil, bahkan dia sendiri tidak tau alasan memanjakanmu seperti itu
  • Jika seorang pria benar-benar mencintaimu, dia akan senantiasa membuatmu senang, sebab dia tidak akan membiarkanmu meneteskan air mata
  • Jika seorang pria benar-benar mencintaimu, dia akan menangis u/ mu tanpa tau kenapa dia dapat begitu lemah didepanmu
  • Jika seorang pria benar-benar mencintaimu, dia akan aktifkan HP 24jam u/ mu, sebab dia mau kapan dan dimana saja kamu bisa menemukan dirinya
  • Jika seorang pria benar-benar mencintaimu, dia akan menganggapmu paling baik tidak akan membandingkan mu dengan wanita lain
  • Jika seorang pria benar-benar mencintaimu, dia akan selalu menemanimu walaupun dia sedang sibuk
  • Jika seorang pria benar-benar mencintaimu, dia tidak akan setuju kamu diet sebab kesehatanmu menjadi prioritas utama
  • Jika seorang pria benar-benar mencintaimu, dia sangat ingin hidup bersama mu menghabiskan hari-harinya hanya bersamamu sebab kamu menjadi bagian terpenting dalam hidupnya
  • Jika seorang pria benar-benar mencintaimu, dia akan mencium kening mu dengan penuh kasih sayang bukan nafsu
  • Jika seorang pria benar-benar mencintaimu, dia akan menyimpan segala sesuatu tentang mu di HP nya dan akan tertawa bodoh sendiri ketika melihatnya
  • Jika seorang pria benar-benar mencintaimu, diaa akan dengan sabar mendengar curhatmu saat kau sedang sedih sebab dia tak ingin membuatmu merasa sendiri
  • Jika setelah kamu membaca kalimat" ini kmu memikirkn seorang pria maka dia lah pria yg sedang benar-benar mencintaimu (y)

Copas dari FB Mbak Lygia Pecanduhujan