Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Juni 2015

Dia Bukan Jodoh Kita, Sampai…


Judul                 : InsyaAllah, Sah!
Penulis             : Achi TM
Penerbit            : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan            : 1, April 2015
Halaman           : 328 Halaman


http://www.gramedia.com/insya-allah-sah.html


-->
Salahsatu urusan yang paling misteri dalam hidup ini adalah urusan jodoh. Bener gak? Mau jungkir balik kayak mana pun kita suka dengan seseorang yang kita cintai tapi dasar gak jodoh, pasti gak nyatu juga. Tapi, ada tapinya ni masih ingat dengan firman Allah SWT?

“…Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui” ( QS.Al Baqarah : 216 )

Namun, apalah daya Kiara menasihati sahabatnya Silviana yang amat sangat cinta kepada Dion. Dan memang menasihati orang yang lagi jatuh cinta itu susah, pasti gak bakal didengar. Begitulah yang terjadi pada Silviana pemilik Silviana Sexy Boutique, makin jatuh cinta kepada Dion, setelah penantian 4 tahun berpacaran akhirnya Dion, sang produser sebuah girl band  pun berniat melamar Silvi setelah didesak Silvi, hihi. 

Bagi Silvi, Dion adalah segalanya, “…Aku mencintai Dion seperti hutan yang tak mau kehilangan pepohonan. Pohon memang bisa menciptakan oksigen, tapi pohon tak bisa hidup tanpa tanah. Aku memang bisa hidup, tapi aku tak akan bisa bernapas bahagia tanpa Dion disisiku.” (Hal.10)

Kebayang dong, betapa yang ada di kepala dan hati Silvi hanya Dion, Dion dan Dion.

Suatu hari Dion melamarnya dan mengundang Silvi makan siang romantis, tapi pas sekali di hari tersebut Silvi banyak dikejar deadlinepesanan baju, akhirnya makan siang itu batal dan berganti Silvi berkubang rasa bersalah, Silvi pun setengah mati menghubungi Dion untuk minta maaf, namun no respond dan berlanjut mendatangi kantor Dion untuk minta maaf langsung, sesampainya di lift, hanya ada Silvi dan seorang lelaki di dalamnya, Raka.  Kondisi Silvi sudah berantakan banget nih, karena ada aja yang menghalangi dia untuk sampai ke kantor Dion dengan anggun. Tak disangka, belum selesai lagi Silvi mengatur napas mengejar waktu, lift kantor Dion tetiba bermasalah, berhenti, gelap. Disinilah cerita bermula lebih seru lagi.

Singkat cerita, saking frustasinya Silvi karena lift juga gak kunjung terbuka, ponsel ketinggalan di mobil, sementara Raka sudah bernazar dari tadi bahwa ia akan puasa tiga hari bila lift terbuka, namun belum terbuka. Akhirnya, Silvi pun mulai memikirkan nazar yang tepat, berkali kali ia bernazar, mulai dari tobat minum wine, akan menyumbangkan semua pakaian di butiknya edisi Juni ini kepada fakir miskin, menghajikan ibunya, akan menyayangi kucing walau sebenarnya Silvi alergi kucing, sampai kepada nazar akan teriak I Love you, Dion sambil berlari keliling monas, juga belum kebuka. Dan taraa, inilah nazar pamungkas Silvi yang gak hanya membuat pintu lift langsung terbuka tapi juga membuka episode hidup Silvi yang akan mengubahnya 100%, 

“Ya Allah…kalau pintu lift ini terbuka sekarang, aku akan memakai jilbab dan baju muslimah selamanya” ( Hal. 32)

Nazar dan Persiapan Pernikahan Ala Silvi
Sebenarnya mesti hati hati juga dalam bernazar, ibarat janji, harus dipenuhi, kalau tidak ada aja hal yang menyulitkan kita. Sebaik lift terbuka, disambut Dion di depan pintu lift, Silvi langsung lupa dengan nazarnya. Hehe.

Sampailah hari lamaran itu tiba, dan disepakati persiapan pernikahan hanya 3 bulan lebih. Silvi berinisiatif menyiapkan persiapan pernikahannya tanpa wedding organizer dan berharap banyak Kiara, sahabat baiknya banyak membantu, namun ketika acara lamaran selesai, perut Kiara menubruk meja, kontan saja hal tersebut mengancam kehamilannya yang baru berusia lima bulan, dan harus bedrest.

Dan untuk seterusnya pembaca akan disuguhkan bagaimana satu persatu rencana persiapan pernikahan Silvi gak ada yang beres, sementara waktu akad dan resepsi semakin dekat.

Sejak kejadian nazar, kemudian kendala kendala selama proses persiapan pernikahan, kisah Silvi sudah bisa ditebak.

Namun, adegan demi adegan tak terduga membuat InsyaAllah, Sah! susah untuk gak diselesaikan segera. Mbak Achi selaku penulis dan kepiawaiannya menulis scenario mau gak mau terbawa juga dalam gaya kepenulisan novelnya, lebih filmis. Dan  keseharian Mbak Achi yang humoris, humor humor renyah ada juga tersempil di novel yang desain covernya cakeeep abis, di awal Bab, aku bacanya ngakak loh sampe dipelototin sama suami haha, lucu kali si Silvi, dibalik gayanya yang anggun dan fashionable tapi kalau udah terkejut, pasti rahang Silvi mau jatuh. ( hal. 9, 14, 101)

Belum lagi karakter Raka, pria yang terjebak di lift bersama Silvi, yang ternyata produser juga tapi di lini musik Islami satu kantor dengan Dion. Raka inilah yang menjadi oase di tengah gurun pasir kehidupan agama Silvi yang gersang. Raka merupakan tokoh yang digambarkan sebagai sosok yang alim namun tak terkesan menggurui.  Ada banyak nasihat Raka untuk Silvi,

Perbuatan maksiat itu seperti bom waktu. Dia kadang diabaikan, tapi sebenarnya sedang mempersiapkan diri untuk meledak”
“Meledakkan apa?” aku memiringkan wajah memberikan aksen penasaran
“Ya meledakkan manusia itu sendiri. Memang Mbak piker minuman keras, seks bebas, pembunuhan, pencurian, jika dibiarkan akan bisa membuat manusia itu damai?” (Hal.119)

Belum lagi pas episode, Silvi beneran pakai jilbab, huwaa perjuangan Silvi membuat aku geregetan juga, wajar banget sesekali Silvi goyah,  tapi pas Silvi mempertahankannya itu loh. Mending baca sendiri aja deh.

Jadi, buat kita yang sedang galau, bener gak yang aku pacari selama ini adalah jodohku? Novel ini pas banget dibaca, terus,  buat yang lagi heboh mempersiapkan pernikahan,  bisa belajar dari Silvi, apa saja Do dan Don’t  dan yang paling adem banget, bagaimana proses seorang Silvi, pemilik butik baju baju seksi, berproses memakai jilbab, seperti apa tantangan yang ia hadapi dan bagaimana cara Silvi menghadapinya, membaca novel InsyaAllah, Sah! adalah pilihan yang pas sekali. 

Dan yang buat penasaran, apakah pernikahan Silvi dengan Dion berakhir di pelaminan? *ceileeh gaya gue kayak pembawa acara inpohteinmen itu*

Gramedia Pustaka Utama dan Genre Islami
Sepertinya bukan sekali dua kali deh GPU menerbitkan novel bergenre Islami, aku pernah baca novel teenlit yang ditulis Asma Nadia berjudul, 101 Jo dan Kas diterbitkan GPU, ini isinya Subhanallah mencerahkan sekali, cocok dibaca adik kita yang remaja, islaminya dapet , renyah ceritanya juga mantap, bahkan jalan ceritanya membekas diingatan sampai sekarang.

Sekarang, membaca novel yang versi dewasa bergenre Islami, diterbitkan GPU udah gak salah lagilah pasti isinya bagus, tapi tetep ada yang mau kukritisi hehe, tentang kesalahan pengetikan, semoga edisi revisi lebih rapi dan kece yah, InsyaAllah!

Berbinis ( hal. 18) seharusnya berbisnis
Risi (hal 20) seharusnya risih

Gak banyak banyak sih soal kesalahan pengetikan, kemudian untuk jalan cerita, di awal pembaca diajak nyantai banget, kemudian beranjak serius, lalu serius banget, hiks daku ikutan merasakan apa yang dirasakan Silvi, antara persiapan pernikahan dengan menghadapi penerimaan keluarga soal keputusan kita berjilbab, apabila kita lahir di keluarga yang mungkin belum sepenuhnya paham terkait hakikat menjalankan perintah berjilbab, pasti diawal sulit sekali menjelaskan, memberikan pemahaman, namun percayalah, pertolongan Allah itu dekat sekali.

Selamat Membaca! 
 
dari IG: @tausiyahku_

Kamis, 29 November 2012

Ketika Imam Syaikh Hasan Al Banna Hidup (Lagi)

Judul                 : Sang Pemusar Gelombang
Penulis              : M.Irfan Hidayatullah
Penerbit           : Salamadani
Cetakan            : I, Juli  2012
Halaman          :500 Halaman

Ketika Imam Syaikh Hasan Al Banna Hidup (Lagi)
Oleh: Nurul Fauziah
Fitrahnya, masa muda adalah masa-masa optimal, dimasa itulah terjadi proses kematangan jasmani, perasaan dan akalnya. Saking masih fresh-nya wajar sekali jika seorang pemuda memiliki kepekaan yang tinggi terhadap lingkungan. Pemikiran kritisnya sangat didambakan umat.
Adalah M. Irfan Hidayatullah, dosen Sastra Indonesia di Universitas Padjajaran, dan juga penulis yang pernah memegang amanah sebagai ketua umum sebuah komunitas penulis terbesar di Indonesia, Forum Lingkar Pena, eksis kembali dengan karya monumentalnya di tahun 2012 ini berjudul Sang Pemusar Gelombang.
Novel ini mencoba mengangkat dunia generasi muda dengan segala polemiknya. Randy, sang mahasiswa Fakultas Hukum, dari keluarga kaya raya nan moderat, pelan menjadi aktivis dakwah kampus yang militant, lalu seorang Superstar, Cikal, ujung tombak dari grup band The Soul mendadak mundur dari posisi vokalis ditengah-tengah puncak karir yang menanjak, Cikal merasa jiwanya kosong apalagi sejak dihantui sms bernada sarkastis dari gadis yang ia namai Najwa, kemudian ada Hasan, pelanggan setia Sam & Jack Café yang juga mahasiswa nyantai namun fans berat dengan rakyat kecil yang tertindas serta memiliki pemikiran radikal.
Dinamika hidup ketiga pemuda dan seorang pemudi serta perjalanan pemikiran merekalah yang pada akhirnya menjadi pencerahan buat mereka bahkan mempersatukan mereka, terutama dipertemukan oleh takdir dalam sebuah aksi bertajuk, aksi Zaitun, aksi membela Palestina.
sumber gbr: http://bit.ly/ILrnZ2
Untuk pertama kalinya pesona kepribadian pemuda Hasan Al Banna hidup kembali dalam novel ini dengan begitu semua mata terbuka bahwa kondisi pemuda hari ini miskin teladan terhadap tokoh perubahan, seperti Imam Syahid Hasan Al Banna.
Siapa yang tak kenal Imam Syahid Hasan Al Banna? Ia adalah seorang tokoh pendiri pergerakan Islam Mesir Ikhwanul Muslimin sebuah organisasi yang aktivitasnya berfokus pada amal saleh. Penjelasan lebih gamblangnya silahkan baca novel yang mengemas secuil biografi dan pemikiran Hasan Al Banna.
Menanggapi isu pemuda kita yang miskin respon dan teladan tokoh perubahan, maka mengutip penjelasan Masyhuri NIQ, ia membagi empat kelompok  pemuda berdasarkan pemahaman dan kecenderungan mereka secara umum jika diperhatikan dari apa yang terjadi di kampus-kampus di negeri ini.
Kelompok pertama, adalah mereka yang merasa tidak puas dengan kondisi sekarang, lalu melakukan berbagai perubahan. Mereka melihat bahwa sistem kehidupan yang berlaku sekarang hanya melahirkan penderitaan dan kesengsaraan yang berkepanjangan.
Kelompok kedua adalah mereka yang cuek terhadap kondisi kehidupan masyarakat. Yakni, mereka yang tidak peduli dengan penderitaan dan kesengsaraan masyarakat.
Kelompok ketiga adalah mereka yang ‘terbius’ sehingga terjerat dan terjerumus dalam bejatnya sistem kehidupan masa kini. Sistem kapitalis yang mengagung-agungkan materi, telah mencabut nilai-nilai kehidupan lainnya ( akhlaq, kemanusiaan, dan kerohanian (agama)). Korban-korban sistem ini sudah cukup bergelimpangan.
Kelompok keempat adalah kelompok pemuda-mahasiswa yang peduli lingkungan dan sadar akan kerusakan dan kebrobokan sistem yang ada akibat tidak diberlakukannya aturan Islam dalam realitas kehidupan. Dengan pemahaman terhadap kenyataan seperti itu, disertai pendalaman terhadap tsaqofah Islam, mereka melakukan perjuangan dakwah, menyeru umat untuk kembali kepada Islam.
Pemuda kita hari ini, di kelompok yang mana ya? Jangan sampai Imam Syeikh Hasan Al Banna harus bangkit dari kubur untuk memperbaiki kualitas pemuda kita.
Sang Pemusar Gelombang, sebuah novel rasa dakwah namun tak seperti mendakwahi, justru mengajak pembaca berpikir dan perlahan menjadi mengerti.  Ditulis dengan gaya bahasa yang mengalir dan kisah hidup tokohnya dekat banget dengan realita kondisi pemuda kita. 
Buat yang segan membaca buku memoar  Hasan Al Banna versi aslinya, dan terjemahan pula, maka novel ini alternatif dari pengganti buku memoar yang asli dan menjelaskan siapa Hasan Al Banna sebenarnya (hal 67-75). Kemudian, pada beberapa paragrap narasi, penulis menyelipkan kata Bahasa Indonesia yang jarang digunakan, seperti repih (hal.109), kolofon(hal. 171), berbaur bancuh (hal.115), cukup menambah kosakata baru nih. Terlepas dari semua  itu, yang jelas Sang Pemusar Gelombang is a must read novel. Layak dibaca siapa saja baik yang pemuda,  berjiwa pemuda dan peduli pada pemuda.
Sebuah penutup berupa syair yang menohok dari pujangga Mesir ternama, Syauqi Bek, bahwa “Sungguh hanya di tangan pemudalah terletak kejayaan ummat, dan dalam derap langkah merekalah hidup matinya suatu bangsa.” Selamat Membaca!

#Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Resensi Novel Sang Pemusar Gelombang



Rabu, 18 Januari 2012

Bukan Kisah Klasik Masa Lalu






Impian harus menyala dengan apapun yang kita miliki, meskipun yang kita miliki tidak sempurna, meskipun itu retak-retak
-9 Summers 10 Autumns, a novel-

Beberapa tahun terakhir rak toko buku di seluruh Indonesia diramaikan oleh buku fiksi berbalut kisah masa lalu yang berbuah manis di masa depan. Sebut saja Tetralogi Laskar Pelangi, Trilogi Negeri 5 Menara, dan 9 Summers 10 Autumns  serta masih banyak novel lain yang menginspirasi. Setidaknya untuk saat ini cerita masa lalu terbukti sukses diceritakan dan dibukukan.
Kenangan, masa lalu adalah jejak yang berlengan, selalu akan menarik ke belakang bila tidak berani melepaskan. Berbeda dengan seorang Iwan Setyawan, ia justru membiarkan lengan masa lalunya menarik ke belakang sebagaimana yang ia kisahkan di novel ber-coverkan dua buah apel, dari Malang (terkenal dengan Apel Malang-nya) hingga ke New York (The Big Apple—sebutan untuk kota New York).
Kisah dalam novel dibuka dengan adegan seorang anak kecil, usia sekolah dasar menyaksikan peristiwa perampokan yang dilakukan dua remaja terhadap pria berperawakan kecil yang terjadi pinggiran kota New York. Lalu kisah berlanjut dengan perkenalan anak kecil tersebut dengan pria korban perampokan. Pembaca bahkan diajak menelusuri cerita seperti menarik ulur mesin waktu, sebentar di masa sekarang, sebentar diajak masuk ke pusaran waktu menuju masa lalu. Begitulah Iwan meramu kisahnya serupa semi autobiografi dirinya sendiri.
‘Saya hanya tidak ingin menjadi supir angkot, seperti Bapak saya’, dalam sebuah seminar pendidikan berkarakter (02/11), Iwan mengaku kepada peserta, itulah salahsatu alasan kenapa ia mampu membawa perahu layarnya hingga ke New York dan menjadi Director, Internal Client Management di Nielsen Consumer Research, New York. Iwan sekali lagi meyakini bahwa satu-satunya cara keluar dari keterbatasan ekonomi adalah bersekolah serajin-rajinnya.
Menjadi anak laki-laki satu-satunya dari 5 bersaudara jadi beban tersendiri bagi Iwan, belum lagi ketakutan yang amat sangat jika hidupnya kelak berakhir sama seperti Bapaknya yang sopir angkot. Mengingat lingkaran kemiskinan sudah seperti lingkaran setan, jika Bapak seorang sopir angkot mungkin anaknya juga akan menjadi sopir angkot, dalam hal ini pepatah buah jatuh dari pohonnya menguatkan ketakutan Iwan kecil sehingga mati-matian ia belajar dan menuntaskan pendidikan meski sesekali tertatih. Sederhana. Sesungguhnya ia tidak berjuang sendiri, dalam kesulitan apapun, semiskin apapun, tetap kekuatan dan kehangatan cinta mampu menguatkan setiap anggota keluarga dalam membangun masa depan bersama yang lebih baik.
Novel ini diceritakan berdasarkan kisah nyata penulisnya, ditulis dengan alur maju mundur, dinarasikan dengan gaya melankolis, membawa pembaca hanyut ke dalam kisahnya, siap-siap terkejut pada halaman terakhir dimana Iwan mengungkapkan satu point yang telah ia lewati, dan di titik itulah ia menjadi unstoppable man menuju bagian teratas dari hidupnya. Lalu siapakah bocah kecil yang selalu menemani Iwan dalam novel ini?
Seperti pendahulunya yang sudah-sudah setiap novel yang kaya akan pelajaran dan pengalaman hidup pasti bertabur endorsement dari para penulis terkenal, praktisi pendidikan, hingga politikus sekaliber Anas Urbaningrum, Menggugah. Satu kata untuk novel ini. Iwan, lanjut Anas dalam endorsmenent-nya, berhasil membahasakan dengan ringan dan renyah bahwa pendidikan dan determinasi hidup adalah sahabat sejati perbaikan nasib manusia.
Selain itu Iwan dalam penulisan novelnya ramai akan petikan dialog berbahasa Inggris, mungkin buat pembaca yang menekuni atau suka dengan bahasa Inggris, membaca novel ini bisa sekalian melatih dan mengkoleksi perbendaharaan bahasa Inggris Anda. A must read novel, pas banget dibaca saat musim liburan seperti ini. Selamat menggali kekayaan jiwa dalam tiap lembaran kisahnya. Selamat Membaca!
#Tulisan bisa di klik di Harian Medan Bisnis

Sabtu, 10 September 2011

BINTANG YANG BERWARNA WARNI

Judul : Bintang
Pengarang : Win R.Gs
Penerbit : Wal Ashri Publishing Medan
Cetakan : 1, Juni 2008
Halaman : 184 halaman

Anak-anak bukanlah buku mewarnai. Kau (orang tua) tidak bisa begitu saja mengisi mereka denagn warna-warna kesukaanmu (orang tua).
(Rahim Khan, salah satu tokoh dalam The Kite Runner)

Kalimat bijaksana di atas dikutip dari sebuah novel yang bestseller di Amerika Serikat berjudul “The Kite Runner” yang menceritakan salah satunya tentang sebuah hubungan yang rapuh antara ayah dengan anak laki-lakinya, sedangkan dalan novel berjudul “Bintang” ini berkisah tentang sebuah hubungan yang rapuh antara ayah dan anak perempuannya.

Terkadang orang tua terkhususnya Ayah, mempunyai karakter yang keras, tegas, setiap perintahnya pantang untuk dibantah, dingin, kejam, ringan tangan dan karakter antagonis lainnya, yang kesemuanya itu membuat suatu hubungan menjadi rapuh antara anak-anak dan ayahnya. Ayah menjadi sosok yang ditakuti dalam keluarga. Padahal maksud orangtua melakukan atau bersikap seperti itu pada anak-anaknya adalah wujud cinta dan kasih sayangnya pada anak, tapi bagi si anak—sang buku mewarnai menganggap bahwa orangtua membencinya dan membuat efek trauma jangka panjang bahkan seumur hidupnya yang akan dia kenang seperti sosok Bintang dalam novel ini.

Novel perdana yang ditulis oleh seorang Win R.G alumnus UMSU yang berprestasi ini menceritakan kisah hidup seorang anak perempuan bernama Bintang. Tokoh Bintang di masa kecil dalam novel yang banyak mengambil setting di Indrapura, Batu Bara ini merupakan sosok anak manusia yang tumbuh dan berkembang layaknya anak-anak manusia lainnya, berlari, bermain, memanjat pohon, membantu orang tua, punya rasa ingin tahu yang besar dan ingin belajar banyak hal.

Bintang kecil sudah memancarkan cahaya atau kemilau dalam pribadinya. Memiliki kecerdasan, linguistic, matematis, logis, yang ditandai kemampuan dalam membaca, berbicara, berhitung, menulis puisi dan karangan. Walaupun ia tumbuh dan berkembang diantara anak-anak desa lainnya, namun cita-citanya tidak sama dengan anak desa lainnya.

Cita-citanya patut diacungkan jempol, walaupun untuk menggapai cita-cita itu ia harus rela berpisah sekian lama dengan keluarganya di kampung, hal ini selain karena semangat tinggi yang dimiliki Bintang untuk bersekolah setinggi-tingginya juga karena ultimatum bapaknya bahwa ‘jangan pulang sebelum jadi orang’, wah,wah…bisa dibayangkan perasaan seorang anak perempuan dibiarkan merantau ke luar desa dengan membawa beban ultimatum Bapaknya untuk tidak pulang sebelum berhasil.

Seperti remaja pada umumnya dan dalam novel tentunya tidak lengkap kalau tidak dibumbui cerita cinta, Bintang remaja juga pernah jatuh cinta pada seorang pemuda yang pada akhirnya seiring Bintang beranjak dewasa, ia menyesali cintanya.

Penulis bernama lengkap Winarti ini sungguh pandai menggelitik pembaca dengan menampilkan berbagai karakter teman-teman Bintang semasa di SD hingga SMA, karakte bapaknya yang keras, karakter ibunya yang lembut, karakter saudara-saudaranya dan karakter guru-gurunya.

Semua itu mengandung rasa rindu pembaca untuk bernostalgia ke masa-masa ketika masih berada di kampung—masa-masa kecil, remaja dan masa-masa SMA, dan merantau ke negeri orang untuk melanjutkan sekolah dengan segala warna-warni hidup yang memang harus dijalani untuk menuju manusia dewasa seutuhnya.

Novel bergenre seperti ini yang menceritakan tentang masa lalu seseorang berbasis kisah nyata yang dikisahkan dalam bentuk novel lagi tren di pasaran. Dan mengutip sebuah kalimat bijak dengan membaca novel seperti ini bahwa “Kadang-kadang kita harus belajar dari masa lalu atau kesalahan orang lain. Kita tidak sempat untuk hidup lama hanya untuk melakukan kesalahan atau masa lalu itu”.

Terlepas dari semua hal itu, novel ini dapat memotivasi pembaca belia untuk mulai berkreasi hingga dapat menuju sukses sebagaimana sukses Bintang yang diceritakan. Oleh karena itu novel ini sangat baik untuk dikonsumsi oleh kalangan remaja, dewasa bahkan orangtua. Selamat Memiliki!

Senin, 22 November 2010

'GUE GAK CUPU !'


Penulis : Nurul Fauziah

Anugrah Roby Syahputra

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan 1 : 2010

Buku yang mendidik namun ringan untuk dibaca. Cocok untuk kondisi anak muda sekarang yang mulai mengklasifikasi pergaulan. Dimana mereka mulai memilah teman yang kelihatan gaul untuk ditemenin dan menjauhi anak yang kelihatan cupu.

Dalam buku ini coba ditafsir istilah gaul dan cupu. Bagaimana ‘gaul” yang sekarang lebih bermakna negative ketimbang positif. Dan bagaimana si cupu yang kelihatan negative ternyata punya sisi positif dibalik kecupuannya

Isi buku ini coba meluruskan bagaimana ‘gaul’ yang semestinya, yang bukan ditunjukkan melalui atribut melainkan kualitas diri. Dan bagaimana si cupu harus membawa dirinya agar tak merasa terasing dari lingkungan pergaulannya.

Tips nd trik bagi si cupu untuk memperbaiki kualitas dirinya juga dibagikan disini agar para anak muda yang ngerasa dirinya ‘salah satu dari cupu-cupu yang ada’ bisa meraih sukses.

Intinya buku ini bagus untuk di koleksi siapapun yang selama ini enggan bergaul di dunia nyata dan lebih memilih tenggelam dalam buku atau jejaring social yang tak membutuhkan penampakan.

Resensor: Ratna Dw (Penulis bergiat di FLP Sumatera Utara)

Senin, 15 Februari 2010

Kursus Bahasa Mandarin Membawa Jodoh


Kursus Bahasa Mandarin Membawa Jodoh
oleh Zee


Judul buku : Wo Ai Ni : Jangan Ekspor Cintaku
Penulis : Achi TM
Penerbit : Bukune
Cetakan : I, Juli 2009
Tebal : 376 hal

Judulnya unik dan mengundang rasa ingin tahu. Gambar sampulnya menggambarkan sepasang kaki yang memakai sepatu boots coklat dibelakangnya ada tas besar berwarna biru, biasanya filosofi tas dan sepatu mengisyaratkan seseorang yang ingin pargi jauh untuk beberapa lama. Mencoba menebak isi bukusepertinya saya akan di bawa ke negeri yang disebut Muhammad SAW dalam haditsnya “tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”. Ternyata setelah membaca deskripsi di sampul belakang, dugaan saya benar adanya bahwa saya benar keliru ^_^, novel ini berlatar suasana pelatihan kursus bahasa Mandarin. Kisah dari dunia pelatihan kursus bahasa mandarin—bahasa yang katanya sudah menjadi bahasa internasional kedua setelah bahasa inggris.

Saya pun ingin tahu lebih dalam, suka duka mengikuti diklat ini selama tiga bulan, karena novel ini tidak tanggung-tanggung ditulis oleh pelakunya yang masih hidup dan saya ingin menemukan kiat-kiat mendapatkan jodoh di pelatihan kursus bahasa mandarin (lah?).

Pengalaman Achi
Di bulan Ramadhan yang sumringah ini Achi seorang gadis asal Banten tiba-tiba ditengah kegalauannya menjadi seorang pengangguran dan jomblo sejati, mendapat telepon dari temannya untuk belajar bahasa Mandarin GRATIS di Jakarta. Sepertinya gadis ini hidup hanya untuk mendengar kata gratis dan langsung mengiyakan. Bersama rombongan kontingen dari Banten, Achi pun berangkat ke lembaga kursus tersebut.

Usut punya usut Achi dan teman-temannya mau dijadikan TKI dan TKW setelah tamat dari lembaga tersebut. Benarkah? mangap: mode on.

MLC itulah nama lembaga kursus tersebut dan disanalah semuanya bermula.

Cerita pun berlanjut mengenai pengalaman Achi dan teman-temannya yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Selama mengikuti pelatihan di dalam lingkungan asrama banyak kejadian dan peristiwa yang penuh dengan kejadian seru, konyol, dan lucu, seperti guru atau yang dipanggil laoshi yang dikira murid, episode Achi yang kabur dari apel malam sampai mengejar bajaj untuk mengambil dompet yang tertinggal, juga di bab Congek in Love (hal.157) benar-benar membuat saya tertawa ditengah malam saking lucunya tapi juga sedih, membayangkan Achi yang kesakitan saat congeknya tidak mau dipisahkan dari Achi, hohoho. Di balik kejadian suka duka itu semua, ternyata cinta Achi bersemi di kelas D, the king of sleep itu telah memporakporandakan hati Achi seperti habis diserang tsunami. Berhasilkah Achi menaklukkan hati sang Tao Ming Tse yang terkesan cuek? Akankah perjuangan Achi direstui Gusti Allah agar cintanya tidak jadi diekspor ke Taiwan?.

Novel Pelit yang Lucu tapi Tidak Pelit Hikmah

Bukune, salah satu penerbit yang terbilang masih baru dijagad dunia penerbitan di Indonesia dan digawangi oleh sekelompok anak muda yang kreatif, walaupun masih baru tapi penerbit yang mempunyai Raditya Dika sebagai pemred, bisa dibilang cukup mumpuni dan diperhitungkan, lihat saja genre nonfikis yang diberi label halal eh maksudnya pelit (personal literature) mulai bertaburan di toko-toko buku besar di Indonesia. Ini menandakan buku-buku terbitan Bukune memang laris di pasaran. Hanya saja jujur, awalnya saya sangat anti membaca buku nonfiksi yang hanya sekedar menawarkan kelucuan semata, mengumbar-umbar aib dan dibumbui dengan kata-kata vulgar, karena bagi saya pembaca yang selektif ini, saya tidak mau mengeluarkan uang hanya untuk membeli buku yang tidak memberikan efek apa-apa pada saya setelah membacanya selain cuma kelucuan yang dilebih-lebihkan.

Pada novel yang ditulis sendiri berdasarkan pengalaman nyata penulisnya, mbak Achi TM, menawarkan sesuatu yang beda. Tak hanya lucu dan menghibur tetapi juga menyelipkan pelajaran hidup sederhana yang bermakna seperti makna kebersamaan, persahabatan (saat Teh Nur mengalami kecengklak kakinya di bab Kecengklak, Oh Dunia!) , kerja keras (saat Achi kehabisan subsidi uang dari orangtuanya dan punya ide untuk membuka jasa laundy di asramanya, tapi tidak berlangsung lama, juga hobi menulis Achi yang bisa menghasilkan uang), dan juga renungan-renungan—Achi suka sekali mengambil hikmah dari setiap kejadian yang menimpanya, seperti yang diceritakan di bab Congek in Love, tadinya Achi begitu merasa orang terkaya di dunia gara-gara uangnya lagi banyak, dan Allah memberi cobaan dengan menimpakan penyakit pada Achi sampai harus mengeluarkan enam ratus ribu hanya untuk mengobati si congek). Oya saya suka karakter Achi itu bahwa dia cewek yang rasa percaya dirinya tinggi, dimana-mana cowok yang nembak cewek, ini malah Achi yang nembak si cowokgantengmisteriuspakepecitapijutek (hosh-hosh..., ngos-ngosan saya menulis namanya), yang pada akhirnya dengan perjuangan yang sangat, the king of sleep itu dengan si Achi yang grasakgrusuk berikrar dengan disaksikan Candi Borobudur untuk sehidup semati, lalu mereka pun menikah, hoaaaa...MAU? (*mupeng: mode on*). Saya pun berkesimpulan tak lama setelah mengkhatamkan novel yang keren ini bahwa cinta itu harus diperjuangkan jauh-jauh hari sebelum kita tahu kepastian berangkat ke Taiwan walaupun rencana bersejarah itu pada akhirnya dibatalkan juga. Uhuk...uhuk bijaksana sekali kau anak muda ^_^.

Rasa buku terbitan Bukune tidak jauh-jauh dari polesan tulisan gaya Raditya Dika—siapa yang tidak kenal dengan pemuda tukang banyol dan gokil ini. Kambing Jantan salah satu masterpiecenya yang telah dibukukan dan bahkan sudah difilmkan. Ada beberapa polesan cerita yang sepertinya Radith banget di novel ini, yang menurut saya cerita itu sudah bagus tanpa harus dilebih-lebihkan, kesannya jadi tidak lucu malahan jadi garing—cerita saat Lusi tidak sengaja membuka pintu kamar mandi asrama cowok.

Ada satu bab yang membuat saya harus membongkar laci ingatan saya, seingat saya pada Bab Memori Piring, entahlah seingat saya, saya pernah menontonnya di salahsatu FTV atau malah pernah membacanya entah di novel apa gitu, yang jelas saya tidak tahu persisnya dimana, tapi saya ingat sekali jalan ceritanya itu persis banget seperti yang ditulis dalam bab Memori Piring, kenapa itu bisa terjadi ya?.


Belajar Bahasa Mandarin lewat Novel

Ada beberapa judul bab favorit saya, tapi saya suka kesulitan menemukannya gara-gara tidak ada daftar isinya, selain itu ada juga beberapa kesalahan pengetikan dibeberapa tempat yang sedikit mengganggu kenyamanan saat membacanya.

Terlepas dari segala kekurangan yang ada, novel yang ditulis oleh ibu satu anak ini layak dibaca oleh siapa saja. Buat Anda yang kurang semangat dalam belajar bahasa Mandarin, novel ini juga bisa dijadikan pemicu agar semangatnya kembali lagi, dan buat yang menganggap bahasa mandarin itu tidak penting, baca juga novel ini agar merubah perspektif Anda yang super salah itu.

Dengan dialog-dialog yang sesekali diselipi bahasa mandarin serta tak lupa pula dengan bumbu-bumbu humornya yang menggelitik dijamin bisa menambah kamus Anda dalam bergaul.
Selamat membaca ^_^.

Jumat, 13 November 2009

Mengenang Luka Aceh dalam Kumpulan Cerpen



Judul : Rumah Matahari
Penulis : FLP Aceh
Cetakan : Pertama, Mei 2009
Tebal : 134 halaman

Teks sastra tulis Tjahjono Widijanto seorang penyair dan esais asli Ngawi dalam artikelnya yang berjudul Luka Dalam Sastra Indonesia dan Korea, bukan saja merupakan dokumen keindahan bahasa semata, melainkan juga dokumen sejarah yang didalamnya penuh luka sebuah bangsa. Dalam soal luka ini, tulis Tjahjono lagi bahwa peristiwa dalam sejarah “resmi”, oleh sastra tak dianggap sebagai “realitas tunggal” yang benar dan valid, sastra mengolahnya sebagai satu hal yang harus dipertanyakan lagi.
Begitupun dengan kumpulan cerpen dalam antologi ini, seolah-olah dengan menceritakan kembali slide demi slide, sketsa demi sketsa segala jejak sejarah yang pernah terekam khususnya jejak sejarah yang di negeri penuh percikan darah, Nangroe Aceh Darussalam ini akan menimbulkan dua keadaan, jika sejarah yang diukir itu indah tentu saja menimbulkan kenangan indah saat membacanya kembali, namun jika yang terekam adalah sejarah yang menyakitkan, saat membacanya sama seperti membuka luka lama yang ntah sembuh ntah jua tak kan pernah sembuh.
Antologi yang terangkum dalam 14 cerpen yang ditulis oleh anak-anak mudanya Aceh yang tergabung dalam sebuah komunitas kepenulisan bernama Forum Lingkar Pena Aceh, mencoba menyuguhkan sejarah ke dalam hidangan cerpen yang rasanya komplit saat membacanya.
Seperti cerpen yang satu ini, peristiwa tsunami yang sempat memporak porandakan Aceh beberapa tahun silam, di tangan seorang Alfi Rahman, tsunami yang terekam dalam cerpennya dipesonifikasikan sebagai pembunuh, hal ini tertulis dalam cerpennya berjudul “Pembunuh Berinisial T”. Dengan gaya suspensifnya Alfi menguatkan bahwa peristiwa tersebut begitu dahsyatnya menimpa bumi Serambi Mekkah dan meninggalkan jejak kenangan yang sulit sekali dihapus dengan penghapus ingatan apapun.
Cerdasnya lagi, dalam cerpennya Alfi mempu mengaitkan inisial “T” dengan berbagai hal yang berbau trauma. Tak tertebak oleh saya sama sekali bahwa “T” yang dimaksud bukannya hanya Tsunami, tapi juga menghubungkannya dengan peristiwa sejarah lainnya.
“Tidak!” Aku berteriak, mencoba memberi keyakinan dalam angan dan rasio terhadap sabda yang berulang-ulang menitip pesan.Mungkinkah “T” adalah keangkuhan pemilik kebersahajaan sang “Teuku”? Atau “T” adalah lengkah-langkah gagah yang menghentak bumi pemilik sepatu laras yang bernama “Tentara” Atau “T”adalah wujud ketidakberdayaan geraham hokum negeri berjuta luka dalam rangkuman yang “Tak Dikenal”. (hal.16)
Safrida Askariyah begitulah judul cerpen yang ditulis oleh Alimuddin penulis muda yang cukup malam melintang di dunia kepenulisan , ini cerpen yang paling saya suka dalam antologi ini, cerpen ini berhasil mengaduk-aduk emosi saya sebagai seorang wanita, pasalnnya peristiwa yang menimpa tokoh dalam cerpennya begitu miris. Ada sisi lain dari trauma pasca konflik di suatu daerah yang tidak selesai seketika di atas selembar perjanjian perdamaian, tidak sesederhana itu. Wajar jika kemudian Alimuddin membuat tokoh Safrida, mantan pasukan Inong Balee yang pernah terenggut paksa kehormatannya, bahkan tak percaya pada retorika perdamaian itu. Apa dengan perjanjian damai itu kehormatannya kembali? Inilah potret sejarah yang diawetkan dalam bingkai cerpen, tergambar kula derita di sekujur tubuh di sepanjang hayat.
Pada cerpen “Peluru Bertuliskan Nama Azzam”, saya sudah membaca cerpen ini sebelumnya di majalah Annida, membaca cerpen ini untuk kedua kalinya tetap berkesan. Arif Hening Surya mencoba menghadirkan “peluru” sebagai tokoh utama. Dialog antar peluru yang sama-sama bertuliskan nama Azzam tersebut menyentak hakikat kemanusiaan para pelaku kekerasan yang tidak memiliki nurani. Belajarlahh dari peluru-peluru yang hidup dalam cerpen ini, setelah itu bandingkan mana yang lebih punya nurani, peluru atau manusia?. Sama seperti Arif yang bernama pena Adi Zam Zam seorang Rinal gaya cerpennya juga bermain-main dengan memanusiakan benda mati sebagai tokoh utamanya hanya saja Rinal labih berani dan ekspresif dalam mengeksplorasi idenya. Cerpen yang berjudul “Seulanga yang Tercabik” menceritakan unsur-unsur pembangun peradaban bangsa Aceh sebagai tokoh-tokoh utamanya, tersebutlah Aceh yang ditokohkan sebagai Mak yang sudah tua renta dan bijaksana dalam memahami apa yang terjadi pada dirinya sebagai sejarah. Dia risau pada masa depan kemanusiaan anak-anaknya yang kian tercabik yakni Tanoh, Reusam, dan Hukom.
Namun, uapaya Mak Aceh menyelamatkan anak-anaknya dihalangi oleh seorang tokoh antagonis bernama Maheut yang berbati hawa nafsu. Benar-benar apik sekali mengemas dan menuliskan luka serta menghangatkan kembali ingatan kita akan polemic yang terjadi di negeri rencong ini. Setali tiga uang dengan cerpen Seulanga yang Tercabik, dalam cerpen “Dosa Yang Tak Terlihat”, Ade Oktaviyani nama lengkap penulisnya dengan cukup piawai mendeskripsikan Hasyim dengan dilemma rasa bersalahnya seumur hidup karena menyaksikan dalam diam pembantaian teman karibnya, Ramli, hingga tak sanggup menanggung beban dan akhirnya membuat Hasyim menjadi buta karena menyimpan fakat itu seorang diri. Berapa banyak tokoh Hasyim dikehidupan nyata yang mungkin jjuga turut menjadi saksi bisu atas pembantaian orang-orang terkasih oleh penjahat perang.
Luka sejarah bangsa yang seperti apa lagi yang coba diungkapkan oleh para anak-anak muda Aceh tentang tanah kelahirannya?, berikut Ferhat dalam cerpennya “Lakon Mak dan Ayah dan Nuril Annisa dengan “Nyak Loet”-nya, yang berkisah dalam cerpen mereka menggunakan sudut pandang kepolosan anak-anak. Mengambil ide cerita dengan tokoh utamanya adalah anak-anak dalam kedua cerpen ini cukup mengekspresikan bahwa setiap daerah konflik, tak sedikit anak-anak yang menjadi korban secara fisik dan batin, dan lagi-lagi luka sedang tercipta di sini.
Aceh sebagai Serambi Mekahnya Indonesia sangat kental dengan atmosfer relijius keislamannya. Arafat Nur—sastrawan dan jurnalis asal Lhokseumawe—dalam cerpen “Gampong” yang berarti kampung, dia menggambarkan kehidupan gampong yang tidak lagi elijius. Agama hanya sekedar symbol, bukan substansi. Demikian pula yang diungkapkan Yani dalam “Wali Nikah” tentang desakralisasi lembaga pernikahan dan maraknya praktek perzinahan yang ditutup-tutupi.
Beranjak pada cerpen lainnya, kita diajak untuk berpetualang pada ranah sejarah dan budaya Aceh yang penuh intrik dan polemic. Masih ada Meulod (Ubaidillah), Rumah Matahari ( Himmah Tirmikoara), Cahaya Hijau (Abdul Razak MH. Pulo), Blas! (F.Hacky Irawani), serta Negeri Ganjil ( Riza Rahmi).
Semuanya menyajikan suguhan yang bukan sekedar hiburan, tapi juga bertabur hikmah. Dan masih melanjutkan apa yang ditulis Tjahjono dalm artikelnya bahwa dalam konteks ini, teks sastra hadir sebagai uapay manusia (atau sebuah bangsa) kembali pada nilai dasar dan universal kemanusiaanya. Sastrawan hadir, tentu bukan sebagai sejarawan, ia memiliki cara dan kemampuan tersendiri dalam menampilkan sejarah “mental” sebuah bangsa. Dari situ mungkin, pelajaran terpenting dari sejarah bias kita dapatkan.
Oleh karenanya, tak ada salahnya buku ini menjadi koleksi antologi cerpen Anda berikutnya untuk meyegarkan ingatak dan wawasan histories tetnang Aceh dan menjadi orang pertama yang tahu apa yang selama ini belum tersingkap setelah membaca cerpen berbalut sejarah dalam antologi ini.