Senin, 16 Februari 2015

Surat untuk Stiletto Book

Sebelumnya aku ucapkan selamat menempuh usia baru ya Stillo, usia 4 tahun bukan waktu yang singkat untuk terus berproses, dan semakin kesini Stillo semakin keren. Keberadaanmu gak hanya ditunjukkan dengan aktif menerbitkan buku buku kece, tapi juga dalam mengadakan give away keren untuk pembaca di seluruh Indonesia.

Ini kali kedua aku mengikuti event menulis surat untuk Stillo, awal kenalan kita, sudah kuceritakan disini. Sekarang aku mau bercerita panjang lebar tentang perkembangan Stillo versi Loyal Readers.

Sepanjang 2014 aku merasakan Stilo dekat banget dengan pembaca, khususnya aku hihi, karena aku termasuk pembaca kamu loh ^^. Kamu makin eksis, terbukti kamu sudah ada di instagram, kalau twitter dan facebook, sudah dari kemarin kemarin yak :-D .

Betapa senangnya aku ketika aku menang giveaway notebook. Huwaaa notebook nya lucu *_* . Dan notebook ini salahsatu produk Stiletto Book selain buku, Stiletto Book juga memproduksi merchandise, seperti tottebag, ish, aku mupeng, cakep tottebagnya, mewakili isi hati para predator buku hehehe, bisa nambah kepedean 120 % saat jalan jalan ke toko buku hehehe, oh ya baru baru ini juga Stilletto mengeluarkan bantal sofa yang ada bacaannya, masih juga tentang buku, dijamin bantal sofa ini mempercantik sudut ruang baca favorit di rumah kita. Makin betah deh membaca sambil meluk meluk bantal ^^.




Ya semoga dengan beberapa inovasi produk yang Stillo lakukan, Stillo tetap komitmen untuk terus menerbitkan buku buku perempuan yang inspiratif, agar perempuan Indonesia bisa tercerahkan dengan buku terbitan Stillo yang T.O.P B.G.T .

Memasuki tahun ke empat ini, selain dari diproduksinya beberapa merchandise yang pas banget bila kita bingung membeli kado untuk teman yang gila baca, aku perhatikan Stillo juga makin pintar dalam pemilihan cover buku, hanya saja, di buku non fiksi, ada beberapa cover buku yang kaku menurutku, seperti cover di buku Say Yes to Homemade MPASI, Handbook for New Mom, dan kenapa judulnya harus berbahasa Inggris, mungkin banyak yang jadi pertimbangan Stillo yak, untuk cover dan judul. Untuk buku yang lain cover-nya colourful loh, aku sukaaa.

Kemudian, belakangan kualitas buku yang diterbitkan Stillo pas banget dengan yang dibutuhkan wanita masa kini, contohnya aku yang sedang hamil muda, aku pikir sebagai calon ibu, aku perlu buku buku yang mendukungku agar kelak jadi ibu yang cerdas, dan betapa inginnya aku mengoleksi buku-buku yang ada di kategori Ibu dan Anak ( Mom Lit) seperti Say Yes to Homemade MPASI, Anakku Sehat Tanpa Dokter dan Handbook for New Mom serta Sukses Bekerja dari Rumah, dari judulnya aja aku yakin profesiku sebagai Ibu Rumah Tangga bisa lebih produktif lagi dengan membaca pemaparan dari buku ini. Tapi ntar deh, pas Aa gajian hehehe, biar sekalian mengaktifkan kartu SBC ku dengan melakukan pembelian buku Stilletto online, pertama kali.

Well, Stillo, gak berasa bentar lagi udah mau 600 kata, dan aku harus mengakhiri suratku ini. Stillo yang smart dan sexy, semoga di usia yang ke empat tahun, kamu makin berjaya dengan menerbitkan buku yang diperlukan perempuan perempuan Indonesia, diperhitungkan dalam dunia penerbitan di Indonesia, makin dekat dengan pembaca ( sumpah, admin-admin akun sosmed Stillo ramah ramah, bawaannya mau curhat aja #eh ^^ ) , kualitas editing juga makin oke, minimalisir typo, ramah mata pembaca, dan semoga aku bisa masuk jajaran penulis Stillo *pengen banget, someday naskahku berjodoh dengan Stillo, aamiin), Oh ya, makin sering ngadain give away , tentunya dengan hadiah hadiah yang selalu bikin ngiler, hihihi.

Dok.Pri
Sekali lagi semangat menempuh usia baru Stillo ^^

Nurul Fauziah
nufazee@gmail.com
IG : @nufaz3e

Tulisan ini diikutsertakan dalam Writing Contest 'Surat Untuk Stiletto Book, info lengkap cek disini yah http://www.stilettobook.com/index.php?page=artikel&id=119

Sabtu, 24 Januari 2015

Konsep Pesta Pernikahan Mendadak Trulalala ala Nufa

Sumber :baitijannati.wordpress.com


Kalau baca rincian dana diatas pengen nenggak saos sambal berbotol botol yak hihihi, tapi Alhamdulillah kemarin nikah gak mikir sampai sedetil itu yang penting hayuk aja. Aku menikah tanggal 26 Juni 2014, pernikahan yang gak disangka-sangka, cerita lengkapnya ada disini.

Dan apa yang kami rasakan setelah menikah, mirip banget dengan pasangan Bara dan Gina dalam Yummy Tummy Marriage. Aku sama sekali gak kenal siapa calon suamiku, pas sudah nikahlah aku tahu luar dalamnya dia, begitu juga dia #yaeyalah , si Bara yang kalau pagi pagi jadi sasaran omelan Gina gegara ngeletakkin handuk dan kain kotor sembarangan di kamar yang sudah dirapikan Gina :-p , lalu Bara yang super duper sibuk sampai bulan madu cuma dikasi libur 3 hari dan itu pun perginya ke Dufan hahaha, benar kata Goethe, filosof Yunani ribuan tahun lalu, Love is an ideal thing, marriage a real thing. Nah kalau mau tahu kehidupan yang sebenarnya, maka menikahlah dan bacalah buku Yummy Tummy Marriage :-D #sekilas info 

dok. pribadi

Jauh sebelum aku menikah, saat duduk dibangku Aliyah, aku sudah punya mindset ingin konsep pesta pernikahan seperti apa, bahkan sampai ke kriteria calon suami, dan aku yakin pasti efek dari bahan bacaanku pas Aliyah, Kuliah Kerja Nikah penerbit Pro U, lalu Gue Never Die, penerbit Pro U juga, lalu buku Catatan Hati Pengantin, waktu itu diterbitkan oleh Lingkar Pena Publishing House, sekarang diterbitkan Asma Nadia Publishing House. Tamat Aliyah menuju gerbang perkuliahan, makin dalam lagi bacaanku hahaha, seperti Kupinang Engkau Dengan Hamdalah dan Indahnya Pernikahan Dini karya Ustadz Fauzil Adhim. Maka terbitlah dibenak untuk menikah muda. 

Karena hobi menulis catatan harian dan mengikuti saran dari para penulis buku pra nikah yang sudah kusebutkan di atas, maka aku yakin saja, bahwa impian bila dituliskan saja itu sudah 1 % terwujud, dan 99 % lagi on progress  dan aku percaya itu. Akhirnya kutulislah kriteria detil calon suami, konsep pernikahan bahkan sampai ke gaya rumah tangga kami nantinya #eaaak.

Untuk detil calon suami, Alhamdulillah sudah terwujud *colek Aa’ :-p *, Dan apa yang pernah kutuliskan di buku harianku tentang calon suami, ya memang benar terwujud ^_^ luar biasa, kekuatan mimpi dan doa itu yak :-D

Konsep pesta pernikahan juga sudah terwujud, walau dengan sekuat tenaga lah memegang prinsip dan pada akhirnya harus mengalah demi suara terbanyak T..T .

Inti dari pesta pernikahan kami adalah sederhana dan mencari keberkahan Allah. Sederhana yang dimaksud, untuk pakaian pengantin, teratak, beberapa alat masak, bahkan bidan pengantin, Alhamdulillah dapat yang satu paket, karena bidan pengantinnya adalah sahabat nenek. Ketika berjumpa dengan bidan pengantin, aku rasa aku yang paling cerewet hahaha, bidan pengantinnya kawan nenek, dah pasti nenek nenek juga ya kan, aku tegaskan, make up ku gak mau menor, aku tunjukkan gambar pengantin yang gak menor *sebelumnya aku googllng sebagai contoh* , lalu aku gak mau cukur alis. Itu aja yang kuminta, dan Nek Maryam pun setuju. Pokoknya aku bertekak aja lah sama nenek ini dari awal,tapi si nenek gak marah, hahaha. Mahaphkan aku ya nek. 

Kemudian acara, tadinya mau pakai adat Minang, Randai, pas pulak Bapak mertua adalah anggota Randai, tapi batal karena anggota Randai yang lain pada sibuk, akhirnya tidak jadi. Dan konsep acara yang paling aku wanti wanti sekali, tidak mau pakai kibot dan biduanita, mending putar kaset / DVD lagu lagu islami, lebih hemat mat mat, dan dananya bisa dialokasikan kemakanan biar semua kebagian, tapi mamak tetiba tanpa sepengetahuan aku sudah memesan tim kibot -_-“ aaarrrrgghhh, rasanya pengen cakar cakar aspal, akhirnya buat kesepakatan sama Mamak, lagunya gak boleh dangdut, deal.

Selain itu,cetak undangan mengusung konsep go green *mau bilang menghemat biaya aja susah amat :-p  gak cetak banyak, undangan diberikan kepada rekan rekan Aa yang dosen di kampus dan pegawai admin lainnya, kemudian untuk teman-teman kedua orangtua kami, teman nenek, teman kerjaku, guru-guruku, selebihnya para teman sebaya, cukup undangan soft yang di-post  di fesbuk dan via SMS. Harga undangan juga gak mahal-mahal, sengaja dipilih yang harga cetak per eks nya itu Rp. 850 , karena pengalaman, kebanyakan kertas undangan yang mewah pun berakhirnya jadi alas untuk obat nyamuk bakar, untuk ganjelan pintu, untuk kipas, dan kadang berakhir di pembakaran sampah.

Oh ya, baju pengantin adat, kami sewa, sedangkan untuk acara bebas pas malam hari, aku minta dibuatkan gaun putih sederhana, yang bahan rendanya itu di hunt pas diskon akhir tahun, hahaha, kalau gak didiskon, dua meter bisa Rp.500.000 – an T,,T 

Kalau urusan makanan, gak pakai acara penghematan, dan dibagian ini yang paling boros uang T,,T secara apa apa mahal, belum lagi jumlah undangan disebar 300 eks, tentu yang datang diprediksi bakal dua kali lipat bahkan lebih. Menu makanan di pesta pernikahan kami kemarin juga yang biasa tapi enak, rendang daging dan ayam semur menu wajib deh hahaha, oh ya sup bening satu lagi, sama gado gado, lalu kerupuk, udah. Snack juga disiapkan, masih yang murah meriah juga, es timun, buah jeruk, dan kue semprong, aku ingat banget buat kue semprong ini seminggu sebelum hari H berturut turut, dan aku ngerjainnya seharian T,,T ngupas kulit bawang berkilo kilo. Membersihkan kulit jahe juga berkilo kilo T,,T.  Intinya sebelum jadi raja dan ratu sehari, aku berlatih membabu seminggu-an.  Hahaha. Kalau suami, sehari sebelum pesta pernikahan dia baru touchdown di Medan, karena dia menyelesaikan tesis di Padang, jadi aku membabu, dia berjuang menyelesaikan tesis. So sweet. :-p

:-D Dalam hati udah horror aja, sempat suami gak tiba di Medan tepat waktu, mungkin aku bakal sewa stuntman untuk pengantin pria hahaha. 

Souvenir di pesta pernikahan kami adalah sumbangan dari ibu, anak nenek yang baru nikah setahun lalu :-D , berupa jepitan rambut mini terbuat dari kain batik, untuk tambahannya aku beli souvenir lagi berupa * apa ya kok aku lupa* kayaknya gantungan kunci deh. Sekarang untuk souvenir udah gampang yak, kita bisa beli di Pajak Petisah, keperluan keranjang hantaran yang sudah berhias pun sekarang sudah ada dijual, praktis ^_^

Demi kekompakan keluarga besar E. Suherman, aku beli baju batik orange untuk ayah dan para adik lelakiku, baju emak dan Sarah, sudah ada, warna orange juga :-D dipakai pas pesta pernikahan sepupuku di Jakarta. 

Aku juga ada sewa fotografer, berhubung karena fotografernya adalah adik kelas waktu di organisasi mahasiswa, akhirnya bisa diskonan juga. Pokoknya ada aja penyambung tangan Allah yang bekerja di detik detik terakhir, bayangkan, aku mempersiapkan semuanya sendiri dan waktu yang ada hanya sebulan ( menikah Juni, Juli-Agustus puasa dan Lebaran serta menyiapkan pesta pernikahan, 21 September resepsi), ngantar undangan juga sendiri kadang ditemenin ibu, suamiku di Padang T,,T jadi kalau ada biaya yang kurang, nenek sang bendahara bakal ngejar ngejar akuh, tapi aku lari lah hahaha *becanda* yang ada aku berdoa semoga dicukupkan dan berkah. Kalau dihitung hitung, budget habis, sekitar 15 juta-an , ya karena segitu yang dikasi calon suamiku waktu akad 3 bulan lalu ^_^ dan keluarga kami menerimanya, bahkan niat kami hanya syukuran sederhana, makan-makan, tidak pakai pelaminan dan acara adat segala macam, karena aku dan suami memang gak suka keramaian, apalagi dipajang di pelaminan tapi eh tapi nenekku punya niat, ya sudahlah, akhirnya jadi juga.

Begitulah kira kira konsep pernikahan kami, adapun kami kebobolan ya karena si mamak sewa kibot itu, dan you know what pas hari H , dangdut pun terputarkan juga T,,T , aku yang sedang duduk di pelaminan di dalam rumah, ingin rasanya keluar tempat kibot diputar dan mencabut kabel utamanya -_-“ diam diam, tapi apalah daya, dalam hati aku menolak itu semua huwaaaa T_T, belum lagi di sore hari, keluargaku yang heboh, pada goyang oplosan, Oh My Goooddd, >_< kalau ibu ibu ku inilah memang. Kibot aku tegaskan gak boleh sampai malam, batas sampai jam 6 sore, diatas jam segitu acara pindah ke dalam rumah, bajuku sudah berganti gaun, wajah tak semenor tadi , suami juga begitu, hanya kemeja putih dan celana keper hitam, dia dah macam mahasiwa baru selesai ujian masuk tes apa begitu :-p. Tamu kami masih berdatangan sampai jam 11 malam, begitu juga kado, masih ada aja yang ngasih sampai November hehehe. Alhamdulillah. Semoga menginspirasi yaaaa…


Dok.Pri
Oh ya, tulisan ini kan diikutsertakan dalam Kompetisi Membuat Wedding Plan. bentangpustaka.com/kompetisi-blog-dreamweddinglit/

Senin, 22 Desember 2014

Mengenang Emak ala Daoed Joesoef

Judul : Emak, Penuntunku dari Kampung Darat sampai Sorbonne
Penulis : Daoed Joesoef
Penerbit : Kompas
Cetakan : III, April 2010
Halaman : 304 halaman


Hanya para ibu yang bisa berpikir tentang masa depan, sebab merekalah yang melahirkan masa depan, dalam diri anak-anak mereka (Maxim Gorky)

Adapun suksesnya seseorang sebagian besar dipengaruhi peran ibu tercinta yang luarbiasa. Thomas Alva Edison sang penemu jenius misalnya, bersyukur memiliki Nancy Edison sebagai ibunya yang telah menyelamatkan ia dari sekolah yang selalu meremehkan kemampuan Thomas dalam belajar.

Akhirnya Nancy memilih untuk mengeluarkan Thomas dari sekolah dan mendidik dan mengajar anaknya sendiri sambil terus memotivasi ,”Ibu tahu, Nak. Kemampuan kamu memang buruk hari ini, tetapi kamu akan menjadi orang hebat suatu hari nanti’. Mungkin bila Tuhan tidak mengirimkan ibu sehebat Nancy untuk Thomas, sekarang kita tidak dapat menikmati sekitar 1.093 hasil temuannya seperti, bola lampu listrik, gramofon dan kamera film.

Lain pula kisah Meng Zi. Meng Zi adalah seorang filsuf besar asal negeri Cina. Ia memiliki ibu yang superduper galau dimasa sulit ketika sang suami meninggal dunia. Kesedihan yang mendalam, membuat Ibu Meng Zi memilih meratap sesuka hati. Kebiasaan meratapnya justru diitiru oleh Meng Zi kecil. Melihat aksi anaknya, maka ibu Meng Zi berpikir bahwa apa yang ia lakukan justru berpengaruh pada perkembangan anaknya. Akhirnya Ibu Meng Zi sadar, dan memilih pindah ke kota.

Di kota, banyak pedagang, dalam menjajakan dagangannya, mereka mabuk dulu sebelum berdagang. Meng Zi yang beranjak remaja, turut mengikuti jejak para pedagang, Ibu Meng Zi resah. Ia pun kembali pindah. Kali ini yang berdekatan dengan sekolah. Alhasil, Meng Zi menjadi seorang yang dikagumi karena kepintaran dan kecintaannya pada ilmu, bahkan ia pun dikenal sebagai filsuf besar di Cina.

Sekilas tampaknya menjadi ibu atau orangtua itu gampang, tapi bila dijalani ternyata tidak segampang yang dikira. Ada saat ketika menjadi orangtua itu seperti menyuapi mulut yang akan menggigiti kita, begitu kata Peter Devries dalam buku A Chicken Soup For The Soul-Rumahku Istanaku .

Luar biasa ya menjadi orangtua itu, tapi meskipun begitu tidak perlu takut pula menjadi orangtua, akan ada banyak bonus dan benefitnya. Justru dengan dapatnya amanah mendidik dan merawat anak, malah bisa menjadi sebuah investasi mahal bila disadari.

Adalah Daoed Joeseof, sosok yang juga berhasil berkat kasih sayang seorang Ibu. Daoed Joesoef adalah mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nasional Republik Indonesia ke 16 di pemerintahan Presiden Soeharto (1978-1983), ia lahir di Medan, 87 tahun lalu, tepatnya 8 Agustus 1926. Tahun 1959 ia meraih gelar Sarjana Ekonomi-nya di Fakultas Ekonomi UI, kemudian melanjutkan studi ke Sorbonne, Prancis. Disana dua gelar doktor dari Ilmu Keuangan Internasional dan Hubungan Internasional disematkan padanya tahun 1967 dan gelar Ilmu Ekonomi pada tahun 1973. Sekarang, pria berusia sepuh ini mengisi hari-harinya ia dengan melukis dan berkumpul bersama keluarga tercinta.

Emak-Pusat Gravitasi Hidup Daoed Joesoef

Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya Allah merahmati orangtua yang membantu anaknya berbakti kepadanya’, ketika itu, orang-orang disekeliling Rasulullah bertanya, ‘Bagaimana cara orangtua membantu anaknya ya Rasulullah? Nabi SAW menjawab, ‘Dia menerima yang sedikit darinya, memaafkan yang menyulitkannya, tidak membebaninya, dan tidak pula memakinya’.

Sungguh terahmatilah, Ibu Siti Jasiah selaku Emak dari Daoed Joesoef *Al-Faatihah*, petuah-petuahnya begitu menginspirasi Daoed untuk mengenangnya dalam sebuah buku setebal 304 halaman dan sudah direncanatuliskan pada 1970-an. Bagaimana sosok Emak Siti Jasiah? Selengkapnya…

Sesederhana sosok Emak, maka buku ini juga sangat sederhana sekali penyusunannya, tapi bila dibaca dan ditelaah, begitu kaya akan kebijaksanaan hidup. Diawali dari cover berwarna cream dengan ilustrasi yang digambar sendiri oleh Daoed Joesoef, tampak gambar seorang ibu sedang mengajarkan anaknya mengaji atau membaca Al Qur’an, dari gambar tersebut pembaca sudah disodorkan berjuta makna, bahwa sejatinya hidup itu hakikatnya adalah dari wahyu pertama yang diperoleh Muhammad SAW, iqra’. Dan mewakili sekali Bab 7, dengan judul ‘Emak dan Membaca’.

Memasuki daftar isi, maka pembaca disajikan, 23 Bab yang keseluruhan judul bab, diawali dengan kata ‘Emak dan … ‘ . Sampai disini tak perlu tergesa menuju Bab 1, nikmati setiap Kata Pengantar dari anak Emak. Disana dijelaskan bahwa meski perencanaan tulis dimulai sejak 1970-an, namun wujud fisik dalam bentuk buku terealisasi dalam cetakan pertama pada tahun 2003, lalu terus mengalami cetak ulang kedua, April 2005, berlanjut cetakan ketiga, April 2010, dan sampai buku ini saya resensi di tahun 2014, belum saya cek lagi status cetakannya sudah yang keberapa.

Beralih ke Prolog, pembaca disambut alur maju dengan narasi dan deskripsi Daoed tentang keberhasilannya meraih gelar doktor,
…Betapa tidak! Aku merupakan orang Indonesia pertama yang mempelajari ilmu ekonomi di Lembaga Pendidikan Tinggi Perancis. Kini aku tercatat pula sebagai orang Indonesia pertama yang oleh Sorbonne dianugerahi gelar doktor tertinggi dari jenisnya, yaitu Doctoral d’Etat atau doktor-negara, cum laude lagi… (Hal.1)

Dari pemaparan keberhasilannya inilah, Daoed mulai flashback hidupnya, mengingat barisan orang yang berjasa mengantarnya ke puncak sukses, adapun barisan orang tersebut, berujung pada satu sosok, Emak.

Prolog ditutup dengan kalimat, … Setiap orang di satu waktu tentu akan merujuk pada perilaku dan ucapan-ucapan ibunya. Kini tiba saatnya bagiku untuk melakukan hal tersebut… (Hal. 2)

Emak, Bapak dan Kami, itulah judul Bab 1, yang mengajak pembaca untuk mengenal siapa sosok Emak sebenarnya, suami Emak dan anak-anaknya.

Emak adalah seorang yang ramah, murah senyum, lemah lembut, cekatan, menyeni dan berkemauan keras, berani melawan arus. Dia berparas elok, berbadan tinggi semampai, berambut ikal dan panjang, berkulit bersih (hal.9 paragrap 2) Sempurna! Hehe

Mengenai perjalanan hidup sehingga berjodoh dengan Bapak Muhammad Jusuf, tidak ada yang tahu persis, makanya di Bab manapun tidak akan ditemui judul Emak dan Jodoh, ^_^
Di Bab ini penjelasan tentang Bapak juga ada, deskriptif sekali, sehingga kita bisa membayangkan orang-orang penting dan berjasa dalam kehidupan Daoed Joesoef lekat-lekat hanya dari penjelasannya yang detil namun sederhana dan enak sekali dibaca.

Menuju Bab berikutnya, mmm…sebenarnya terlalu panjang juga bila dibedah per Bab nya, karena ya itu tadi hampir semua Bab, pengalaman yang dirasakan penulis ber-Emak-an Siti Jasiah ini tak ada yang tak bisa diambil pelajaran hidup, segala pemikiran, tindak tanduk dan keahlian emak, semuanya bernilai, semuanya bermuara pada kebijaksanaan dan kearifan hidup.

Jadi, oleh saya sang peresensi, dari 22 Bab, minus Bab 1 yang wajib dibaca karena merupakan pengenalan awal sebagai modal pengetahuan biar nyambung saat membaca Bab-bab berikutnya, maka ada beberapa Bab yang saya sangat sukai walau hampir semua Bab saya sukaaa T_T

Bab 2 Emak dan Paman, diceritakan bahwa Paman Soelaiman adalah Sepupu Emak yang rajin bertandang ke rumah. Kita sebagai pembaca bisa menyimak diskusi-diskusi yang terjadi dari uraian dialog yang masih terekam oleh Daoed Joesoef, terutama anjuran paman untuk mulai dan melatih membiasakan menulis (hal.23)

Bab 3 Emak dan Hutan. Medan yang metropolitan kini, tak terbayang bila dahulunya adalah sebuah daerah yang berupa hutan lebat. Daoed kecil atau saat umur 5 tahun, sering diajak masuk dan keluar hutan oleh kedua orangtuanya, nah dari perjalanan keluar masuk hutan pun banyak mengalir petuah-petuah dari sang Emak. Petuah untuk menjaga hutan, kemudian ada juga filosofi batang air, Kau harus berlaku seperti batang air ini. Walaupun ia tetap terus mengalir mencapai tujuannya, semakin lama semakin menjauhi sumber aslinya, ia tidak pernah memutuskan diri barang sedetik dari sumbernya itu, ia tetap setia padanya. Lalu ada filosofi buku yang diuraikan Daoed, seperti apa? Baca sendiri ya ^_^

Bab 4 Emak dan Penataan Halaman. Emak selain ahli filosof juga ahli gardening dan parenting juga. Dalam Bab ini, emak menyarankan bila punya rumah, pastikan halamannya depan dan belakang itu luas. Selain itu, Emak juga memberi kesempatan anak-anaknya untuk belajar berkebun dengan masing-masing memiliki 1 kavling tanah, terserah mau ditanami apa, yang penting menghasilkan. Seru banget dah! Emak keren kali lah pokoknya. Ide ini cocok diterapkan oleh para orangtua zaman sekarang, biar gak televisi atau gadget aja, bahan pengalihan perhatian anak, yang terkadang banyak kerugiannya.

Bab 8 Emak dan Pendidikan, saya uraikan jadi satu saja, Emak dan Bapak adalah keduanya tidak bisa membaca dan menulis huruf latin, keadaan waktu itu tidak memungkinkan mereka untuk sekolah. Meskipun demikian, Emak dan Bapak satu visi dan misi untuk mendidik anak mereka agar tidak turut seperti mereka, justru jauh melampaui dari mereka.


Bab 22 Emak dan Subang Berlian, Bab inilah yang membuat saya terharu, tentang Emak yang jago menata perasaannya kepada anak-anaknya.

Membaca Kota Medan Masa Lalu

Meski bertabur nasihat, kebijaksanaan dan kearifan hidup. Dalam buku Emak ini, juga tak lepas dari kekurangan, diantaranya, pencantuman Bahasa Belanda yang tidak ada terjemahan Bahasa Indonesianya. Padahal di bab-bab sebelumnya, penulis rajin mencantumkan footnote sebagai penjelasan tambahan tentang satu kata asing.

Kemudian, memang diawal-awal Bab begitu menikmati sekali betapa serunya perjalanan hidup Daoed dengan Emaknya yang keren, tiba di pertengahan bab yang sudah puluhan, pembahasan mulai serius, kalau yang membaca Emak-emak, atau saya saja ukurannya, membaca bab tersebut bisa mengerutkan kening dan butuh dua kali membaca baru mengerti hehe.

Sampailah ke Epilog yang membuat saya turut bersedih pula, ya saat kabar meninggalnya Emak sampai ke Sorbonne. …Emak, dia yang tak pernah mengecewakan aku apalagi menyakiti hatiku. Satu-satunya duka yang disebabkannya adalah ketika ia harus pergi meninggalkan aku untuk selama-lamanya. T_T (hal.288)

Kemudian tentang Medan tahun 1930-an, buku ini layak di baca siapa saja termasuk anak muda, kayak saya :D, dan terlebih lagi anak Medan, banyak anak Medan yang melupakan sejarah kotanya, terlepas dari penyebab-penyebabnya, tapi saya pikir, adalah baik juga bila disertakan peta kota Medan atau gambaran kota Medan masa lalu, sehingga beberapa tempat yang jadi setting dalam buku ini dapat diikuti dan telusuri. Jujur saja, buku ini lebih dari sekadar memoar Daoed tentang Emak tapi juga mendeskripsikan Medan masa lalu.

Selain itu ada juga menyelipkan bahasa Medan yang beberapa diserap dari bahasa Belanda dan bahasa asing lainnya karena tidak bisa dipungkiri dari dulu hingga kini Medan dihuni oleh penduduk yang multietnis, sehingga mempengaruhi bahasa sehari-hari yang digunakan, seperti: ponten (Bahasa Belanda: Punten, sebuah angka yang lazim diberikan guru sebagai penghargaan atas prestasi muridnya) hal. 180. Ada juga kata ecek-ecek (Hal.130), Raun-raun (dari Bahasa Inggris: Round Round yang artinya berjalan-jalan atau berkeliling-keliling), Banyak cincong (banyak bicara), Pulut atau ketan. Dan masih banyak lagi.

Dan buat calon pembaca yang berekspektasi tinggi dengan judul, Emak: Penuntunku dai Kampung Darat sampai SORBONNE, kata Sorbonne nya di capslock hehe. Iya, jadi dalam buku ini tidak ada tips dan trik praktikal tentang bagaimana mendapatkan beasiswa kuliah ke Sorbonne, tapi saya pikir, perjalanan hidup dengan meletakkan nasihat orangtua khususnya Emak di alam bawah sadar serta berpegang teguh keyakinan kepada Allah itu tips dan trik praktikal yang membuat dunia bertekuk lutut di hadapan Daoed Joeseof alias semua impiannya terkabul, belum lagi rapalan doa-doa Emak yang senantiasa mengiringi anak-anaknya terlebih Daoed.

Keseluruhannya,Buku ini sangat saya rekomendasikan buat siapa saja, pendidik, orangtua, remaja, dewasa. Tak perlu menjadi rumit dengan pendidikan tinggi dan gelar yang berderet rapi di belakang nama kita. Buku yang ditulis Daoed Joesoef ini membuktikan itu semua. Gaya narasi dan deksripsi yang sederhana dan mengalir berhasil menghipnotis saya untuk membaca dan mengenal Emak Siti Jasiah lebih dekat.

 Selamat Membaca.



Kamis, 18 Desember 2014

Berhentilah Menjadi Supermom

Judul : Bahagia Ketika Ikhlas
Penulis : Rena Puspa
Penerbit : PT. Elex Media Komputindo
Cetakan : I, 2014
Halaman :184 Halaman

“Bukan zamannya lagi membandingkan siapa yang paling baik, working mom, full time mom, dan working at home mom, semua pilihan punya konsekuensi, dan punya peluang bahagia di dalamnya, asal kita berani jujur pada nurani dan juga konsisten dengan pilihan kita itu.”
(Bahagia Ketika Ikhlas-Rena Puspa, hal. 6)

renapuspa.blogspot.com
Belakangan di sosial media muncul lagi perdebatan tentang which one better? Menjadi Full Time Mom (FTM), Working Mom (WM) dan Working at Home Mom (WHM), dan responnya juga bermacam-macam, salahsatunya dari akun Facebook, Fahd Pahdepie, ia menuliskan bahwa menjadi FTM atau WM adalah sama-sama gak baik, bila masing-masing tidak ada EMPATI. Jleb!

Sekarang memang bukan saatnya lagi membandingkan siapa yang paling baik, karena hidup ini pilihan, right? Dulu, semasa masih belum menikah, mungkin efek buku yang saya baca juga dan pengalaman berteman dengan yang sudah berumah tangga, rasanya pilihan menjadi Ibu Rumah Tangga adalah pilihan ideal buat saya, walaupun sempat berpikir bisa gak ya? Soalnya sebelum nikah aja saya banyak beraktivitas diluar dan ujug-ujug menikah, stuck di rumah, makanya saya sampaikan kepada suami, ada dua hal yang membuat saya betah di rumah, buku dan wi-fi :-D

Dan setelah menjalani kehidupan berumah tangga meski baru seumur jagung, ternyata saya lebih bahagia menjadi seorang working at home mom dan makin bahagia lagi setelah membaca buku Bahagia Ketika Ikhlas yang ditulis Mbak Rena Puspa, ternyata bahagia aja gak cukup, tanpa ikhlas di hati

Sudahkah Kita Menjadi Ibu yang Ikhlas?

Kesannya ribet banget yah jadi Ibu di zaman sekarang, sampai ada Sindrom Baby Blues yang sudah dialami Ibu Anik Koriah asal Bandung, tahun 2006 membunuh ketiga anaknya karena ia khawatir akan masa depan anaknya. Kalau ditelaah, seolah gak habis pikir yah, Ibu yang terpelajar ini kemudian dari segi pakaian amat sangat rapi dan sopan, tapi bisa punya pemikiran seperti itu.

Kayaknya zaman dulu gak ada para Ibu yang terlalu gimana-gimana, bahkan pada zaman sebelum Rasul datang, yang cemas adalah dari pihak orang jahiliyah, bahwa setiap lahir bayi perempuan mesti dikubur, bersebab aib dan alasan lain yang menghinakan perempuan, tapi kini…

Kini para Ibu dihadapkan pada banyak tantangan, dunia yang deras arus informasi, bila tak pandai memilah dan mencerna, maka akan muncul kekhawatiran-kekhawatiran yang belum tentu terjadi, kemudian tantangan akan pemenuhan tuntutan hidup, Ada quote yang menyatakan bahwa, cobaan lelaki itu adalah ketika di masa jayanya, sedangkan cobaan wanita adalah ketika di masa susahnya sang lelaki. Kalau sudah begini, masihkah bisa bahagia, masihkan bisa ikhlas?

Nah berawal dari banyaknya artikel yang membahas tentang menjadi ibu bahagia, Rena Puspa yang memang full time mother tergerak untuk menuliskan bagaimana menjalani profesi seorang Ibu dengan bahagia dan ikhlas?

Berdasarkan pengalaman penulis juga, alasan ia menulis buku ini, seorang FTM rentan sekali dilanda stress, nampaknya saja seorang FTM bahagia dengan profesinya, tapi atmosfer stress tebal sekali mengelilingi FTM. Dan melalui buku ini Rena mencoba membagi pemikiran dan pengalamannya.

Buku dengan design cover yang unyuu banget, pink lembuuutt, terdiri dari 6 Bab, Bab pertama berupa pendahuluan, mengapa kata bahagia mesti disandingkan dengan kata ikhlas? Ternyata menjadi ibu bahagia saja gak cukup, tapi juga mengupayakan agar mencapai ikhlas, karena bila sudah ikhlas, maka bahagia mudah diraih. Di Bab ini juga disampaikan bahwa puncak kebutuhan dasar manusia berdasarkan Teori Maslow adalah aktualisasi diri.

As we know, beberapa tahun belakangan, pamor profesi FTM atau Ibu Rumah Tangga, dianggap profesi sebelah mata, dibandingkan dengan WM atau WHM. Saking gerahnya, Mbak Qonita Musa menuliskan hal tersebut di note facebook-nya 

Di Bab Pendahuluan, semua dijelaskan Mbak Rena dengan bijak, pembaca diajak kontemplasi, diajak untuk jujur, apa Ibu beneran nyaman dengan keputusan menjadi FTM sementara keinginan untuk menjadi WM itu besaaar sekali, nah loh? Jangan lewatkan Bab awal ini yah, dijamin kegalauan akan tuntas, ^0^

Berada di Bab 2 dan 3, pembaca akan disajikan apa saja penyebab ibu rumah tangga rentan diserang stress, jawabannya ada 2 faktor, hormonal dan eksternal. Dari sisi hormonal, seorang ibu harus melewati dengan cara yang cantik tahap-tahap mengandung, melahirkan , menyusui dan merawat tubuh pasca hamil, tentu tidak mudah ya, tapi buku ini solutif banget. Begitu juga dengan faktor eksternal, wuidih, ini pemicunya banyak banget, bersebab yang dihadapi selain benda hidup, juga benda yang gak hidup, hmm…tentu ilmu untuk menyelesaikan itu semua gak sedikit yah, namun buku ini cukup membantu. Sekali lagi berumah tangga gak sesederhana yang kita kira, kalau sederhana ya rumah makan padang :-D #Joke

Memasuki Bab 4, kita mulai cooling down lagi, setelah agak hectic di Bab 2 dan 3, Ayolah, jadi Ibu yang apa adanya saja, berhenti menjadi Supermom, bab ini para ibu diajak untuk menciptakan bahagia.

Menurut Profesor Daniel Gilbert, kebahagiaan, ada dua, pertama, alami dan kedua sintesis. Sesuatu yang spontanitas kita rasakan ketika apa yang kita inginkan tercapai, disebut kebahagiaan alami, berhasil memasak Soto Medan, tentu senang dong, nah sedangkan kebahagiaan sintetis kebalikannya, gak spontan, justru kita yang ciptakan, apalagi disaat mengalami kegagalan.

Dan gak terasa tibalah kita di dua bab terakhir,Bab 5 Meraih Bahagia dan Bab 6 Meraih Sukses dengan Hati Bahagia. Pada bab 5, tentang bagaimana menciptakan bahagia dibahas tuntas disini, tentu gak mudah ya membuang sampah masalah di hati, kalau saya tipsnya menulis, kami memiliki buku harian, jadi bila saya kesal (dan saya yang paling banyak dan sering kesal biasanya hahaha) saya ceritakan semuanya di buku harian kami, hehehe, sedangkan di buku ini tipsnya lebih variatif lagi, bahkan kita bisa menyalakan tombol ikhlas kita.

Di Bab 6, Mbak Rena menuliskan penutup yang cantik, redefenisi sukses, seperti apa? Cek langsung ya di Bab ini.

Hanya dengan membaca buku berhalaman 184, saya kok lega ya, lega karena buku ini ditulis dengan penjelasan yang sederhana namun sarat makna dan menyentuh ke hati.
Pun dengan kelebihan yang ada dalam buku ini, gak lepas dari kekurangan, pada halaman 89 kata rubah seharusnya ditulis ubah, 133, ending, seharusnya ditulis miring.

Terlepas dari segala kekurangan dan kelebihan, Buku Bahagia Ketika Ikhlas, saya rekomendasikan banget untuk dibaca oleh para gadis, ibu-ibu apalagi dan gak menutup kemungkinan para bapak, biar makin paham dengan istrinya, yah ^0^

Sekali lagi, satu quote yang paling saya suka, 
pintu ikhlas itu dapat kita dobrak awalannya yaitu saat kita dapat melakukan apa yang paling kita sanggup lakukan dengan penuh ketulusan.

Selamat Membaca!

Kamis, 11 Desember 2014

Kumpulan Emak Blogger Tandingan

Kumpulan Emak Blogger (KEB), buat yang pertama kali dengar atau baca nama komunitas ini pasti responnya beda-beda, ada yang ngekeh sambil bilang ‘ada ya?’ , ada juga yang komentar, mau buat kumpulan emak blogger tandingan dengan kumpulan bapak blogger, dan respon-respon itu aku alami sendiri. Hihihi

Respon pertama aku alami, pas komen-komen an postingan link teman di sebuah grup blogger khusus anak Medan. Ini aku screenshot hasil komen kami :-D


Dalam hatiku, mereka komen begitu, karena belum tahu, sepak terjang KEB, kalau tahu mungkin gak komen seperti itu, ya kalau memang terwujud adanya komunitas tandingan KEB, gak apa-apa juga, Kumpulan Bapak-Bapak Blogger, malah aku mendukung banget. Akhirnya aku gak respon, mending responnya dengan aksi nyata aja #benerin bulu mata.

Respon kedua, pas menghadiri undangan untuk blogger dari sebuah restoran di Medan, jadi pas sesi tanya jawab, aku memperkenalkan diri dari dua komunitas, pertama dari komunitas blogger di Medan yang aku ikuti dan Kumpulan Emak Blogger, mau tahu respon audiens lain?, ya mereka ada yang tersenyum dan ngekeh, mungkin baru dengar, dan agak asing bagi mereka, tapi aku pede aja. Terakhir, aku jadi dikenal sama mereka, ‘Mbak yang dari Emak Blogger yah’, bahkan ada yang minta link blog aku, huwaa mendadak berasa artis.Hahaha

Pertama kali kenal KEB dari Kak Haya Aliya Zaki, ia penulis asal Medan, tapi menetap di Jakarta, aku pun minta dimasukkan ke grup facebook KEB, awalnya agak minder, soalnya kan aku belum menikah waktu itu, khawatir syarat bergabung di KEB adalah sudah menikah, ternyata Kak Haya bilang, untuk menjadi anggota KEB gak mesti sudah menikah, yang penting perempuan, hehehe.

Kak Haya menyuruhku inbox Mak Sary Melati, dan Mak Sary membalas inbox, memberitahu cara gabung di KEB, akhirnya, resmilah per Januari 2014 aku jadi anggota KEB, dan gak berasa sekarang sudah mau Januari lagi, udah hampir setahun, tapi sejak gabung, aku baru aktif di KEB 5 bulan terakhir, selebihnya jadi silent reader terus, ternyata setelah gabung, coba promosi link blog setiap kali posting new entry, eh emak-emaknya banyak yang respon, yang selama ini blogku jarang ada yang komen, kali ini jadi banyak yang baca dan komen, kemudian, aku juga sudah merasakan manfaat gabung di KEB, September lalu menghadiri press conference Aku Anak Sehat, 2014 dari Tupperware di Medan dan infonya itu dari KEB. Dari press conference itu, aku bertemu dengan Mak KEB lain yang stay di Medan, ternyata ada Mak Windi Teguh dan Mak Annisa Fitri Rangkuti, huwaaa, senangnyaaa.

Sebenarnya untuk di Medan sendiri, member KEB gak banyak, selain dua mak yang aku temui tersebut. Mungkin karena itu juga KEB di Medan, antara eksis dengan tidak, jadi wajar juga yak banyak yang asing dengan KEB hehehe, tapi gak apa, yang penting tetap nge blog, setujuuu?

Sekali lagi, aku senang bisa menjadi bagian dari keluarga besar KEB, karena nyaman, feels like home, sesuai dengan welcome statement di halaman website resmi KEB ‘Selamat Datang di RUMAH EMAK-Sebuah Rumah (grup) untuk menjalin persahabatan dan memfasilitasi semua perempuan yang suka nulis, ngeblog atau sekadar curhat online social media , untuk saling memberikan inspirasi, berbagi karya dan ide-ide positif sehingga bisa menjadikan tulisannya sebuah karya yang bermanfaat.


Lagi pula, aku merasakan sekali rasanya jadi Istri Rumah Tangga yang memutuskan untuk full time house wife, praktis menghabiskan waktu hampir di rumah, dan aku pikir dengan menulis, nge-blog, bisa mengurangi rasa jenuh, bahkan membaca postingan blog dari Emak lain, aku merasa dunia gak sekecil my production room hahaha *gayaa*, membaca pengalaman jalan-jalan, cerita hikmah, resep masakan, informasi kece, tips tips oke, give away give away kereen, semua dah bisa jadi bahan nge blog.

Saluuut buat para emak yang sesibuk apapun tapi komitmen buat nge-blog, bahkan ada yang sehari atau dua hari habis lahiran udah nge blog, hihihi, lagian apa susahnya ya sekarang, serba mudah, nge blog pun sudah bisa di layar smartphone 5 inci .

Berkah berlimpah dari Allah untuk Mak Mira Sahid *aamiin*, founder KEB , yang pada tanggal 18 Januari 2012 (bentar lagi ulang tahun nih yeee) , pertama kali membuat laman group facebook Kumpulan Emak Blogger, dan dalam 1 hari, member grup mencapai 100 orang, dan kini sudah terdata 1.732 member. Semoga keberadaan KEB semakin berkah dan bermanfaat untuk perempuan Indonesia.



Info lengkap KEB bisa cek di websitenya, disana juga ada bagaimana cara bergabung di KEB.

Mom, girl, happy blogging, yeaaa ^0^

Senin, 08 Desember 2014

Perjalanan Menemukan Mr dan Mrs Right

Judul : Finally You
Penulis : Dian Mariani
Penerbit : Stiletto Book
Cetakan : I, Juni 2014
Halaman :277 Halaman


Sebelum ke inti review, saya mau cerita pengalaman saat membeli novel Finally You. Berhubung waktu itu ke Gramedia Gajah Mada pas maghrib, soalnya mau sholat maghrib lagi, jadi kayak berlomba dengan waktu, masuk ke dalam Gramedia, kami langsung nyebar, ada tiga buku yang mau saya beli, sebelum nyebar, kami sempat berbagi tugas, saya nyari ‘ini’, Aa’ nyari yang ‘ini’.

Awalnya saya yang nyari buku Finally You, tapi gak nemu-nemu -_-“ , malah Aa’ yang pusing lihat saya, mondar mandir mengitari rak, gak jelas gitu hahaha, akhirnya dia yang nyari Finally You.

Nah saat saya lagi dibagian buku-buku ekonomi dan bisnis, eh Aa’ nongol dengan wajah sumringah sambil nunjukin novel yang ia temukan dan bilang ‘Finally You’ . Huwaaa…saya merasa tersanjung *blushing* gak peduli lagi dengan novelnya hahaha, yang penting menikmati ekspresi Aa’ saat menemukan saya diantara rak buku dan teriak ‘Finally You’

#BaladaPengantinBaru
#Baru5bulan
Hihihi, Oke Fokus

Gak ada yang lebih rumit dari hubungan yang diciptakan orang dewasa? Benar gak? Dan itu terjadi pada Luisa dan Raka. Mereka berdua memiliki kisah cinta yang berujung luka. Luisa, seorang karyawan dari sebuah perusahaan consumer goods, muda, cantik imut dan smart baru saja diputuskan sang pacar, Hans via Email, 3 bulan lalu. Dengan alasan yang amat sangat klise, sudah tidak cocok lagi, dan lebih memilih Gina, sahabat Luisa. Apa gak pengen nyanyi ‘Sakitnya Tuh Disini’ bareng Cita Citata? Banget 〒_〒

Sedangkan Raka, karirnya sebagai Manufacture General Manager di perusahaan farmasi nomor tiga terbesar di Indonesia (hal.40) yang ia pimpin, tidak sebagus, kisah cintanya dengan Saskia, Raka menjalani cinta yang digantung Saskia tapi gak pakai tali (ikatan apapun). Apa gak dilemma tingkat internasional tu?

Nah, Raka dan Luisa ini satu kantor, lagi sama-sama galau pula, keakraban antara mereka berdua muncul ketika Raka salah menekan nomor extention, eh yang tertekan malah nomor extention Luisa, dari hanya seputar urusan kantor, berujung deh kepada urusan perasaan, #eaaak

Sejak Raka menolong Luisa dari pertemuan mendadaknya dengan Hans yang menggandeng Gina, Raka mendadak menjadi malaikat penyelamat Luisa bahkan lebih dari itu, Raka menjadi teman makan malamnya, mereka mulai sering jalan bareng untuk mencoba kuliner kaki lima, terkadang dari ruangannya Raka sering diam diam memperhatinkan Luisa, dan seiring berjalannya waktu mereka mulai merasa nyaman satu sama lain, tetapi ternyata masih ada yang mengganjal, masih ada yang belum selesai, di masa lalu mereka.

Bagaimana perjalanan hubungan Raka dan Luisa? Bagaimana mereka berdua menyelesaikan seseorang yang ada di masa lalu? Apakah mereka yang di masa lalu akan menjadi pilihan Raka dan Luisa untuk mengisi masa depan mereka?

Hati-Hati dengan Masa Lalu

Ngobrolin tentang masa lalu, ada quote keren dari Mario Teguh yang saya simpan,

Anda tidak akan mungkin berhasil melupakan kepedihan masa lalu, karena untuk melupakannya, Anda harus mengingatnya lagi. Setelah Anda melakukan semua hal untuk lupa, Anda akan semakin ingat apa yang ingin Anda lupakan. Sudahlah... Hiduplah dalam kenyataan hari ini, syukurilah pelajaran yang disediakan oleh kepedihan itu, dan masukilah masa depan Anda dengan ceria, dalam tuntunan kasih sayang Illahi.

Wuidih, dalem yak, begitulah kenangan, ibarat tangan, kalau gak kuat melepaskannya, kita bakal ditariknya lagi ke masa itu, dan bahkan bisa hidup di dalamnya. Sereem banget kan?

Finally You, selamat buat Mbak Dian Mariani atas terbit novel pertamanya yaah, doakan agar saya menyusul, hehehe

Novel yang mengisahkan cerita cinta ala ala eksekutif muda ini saya lahap hanya dalam satu hari, meski klise banget di awal dan tahu ending nya bakal gimana, tapi saya teteup ingin menyelesaikan adegan adegan yang diracik pengarang dalam karyanya.

Terdiri dari 25 Bab, yang halaman tiap bab, beda-beda, ada yang hanya 2 halaman, tapi sekali banyak bisa 10 halaman :-D, pernah lagi baca, saya wanna pee, pas pula di Bab yang lagi banyak halamannya hahaha -_- gak sabar ingin menyelesaikan bab biar bisa ke toilet *maksa yah*

Well, dari segi pemaparan dan dialog para tokohnya Finally You , gak terlalu banyak narasi, lebih ke dialog, dan gaya penulisan ini saya temukan juga novel Ratna Dks , Benci Tapi Cinta, tap tap tap, bacanya ^_^ overall keren euy.

Apalagi dari novel ini saya dapat inspirasi joke baru:

‘Perut saya nggak bisa jaga image (hal.50)
‘Buat gantin air mata yang barusan keluar’ (hal.55)

Lumayanlah buat nambah bahan buat obrolan dalam pergaulan *halaaah hahahah* #plak

Selain itu saya suka dengan tweet-tweet galau Luisa, hihihi , jadi Luisa mengajarkan kepada pembaca sebenarnya, bahwa galau, gak mesti lari ke hal-hal yang buruk, nge-tweet kata seperti puisi lebih keren deh, apalagi kalau dikirim ke Koran hahaha, *mayan dapat honor bila diterbitkan*

Kita hanya 2 orang kawan yang bertemu kebetulan. Dipersimpangan jalan. Ingin kembali ke masa lalu yang nyaman atau sama-sama menatap ke masa depan. (hal.91)

Dan yang paling cetar membahana adalah dua Bab terakhir, ada dialog Luisa dan Mama, banyak nasihat tentang pernikahan yang mengalir dari Mama Luisa, cheessssss, adeem banget, ada di halaman 236 dan 238, yang paling jos banget nasihatnya adalah,

Menikahlah karena ingin dan yakin

Gimana? Penasarankan?

Meskipun begitu, novel ini tak terlepas dari beberapa kesalahan teknis:

Ukuran font yang tidak sama ‘Sent. Tak sampai semenit, email-nya dibalas’ ukuran font lebih kecil (hal.46)

Bentuk dan Ukuran font berbeda dengan font lain “Yup, makanan tanah air…”

Terlepas dari kesalahan teknis yang ada, novel ini pas banget dibaca buat kamu yang sedang ragu dengan pasangan kamu padahal waktu pernikahan sudah dekat, nah buat yang baru putus, novel yang diterbitkan Stiletto Book ini juga cocok, apalagi ada kisah Luisa dan Raka yang bisa jadi bahan pelajaran.

Well, kita gak akan pernah menemukan pasangan yang sempurna atau tepat, ntar bakal jadi begini,



Tapi kita hanya perlu menemukan orang yang mau sama kita *yaiyalah hahaha* dan kita nyaman bersamanya. Itu ajaah


luckty.wordpress.com/2014/11/17/finally-you-book-review-contest/

Tulisan ini diikutsertakan dalam Book Review Contest Finally You



Sekarang, Menikmati Udon Gak Perlu ke Jepang Lagi

Dari judulnya seolah olah sudah pernah ke Jepang yah *pede bangeet* hahaha gak apa-apa, jadi doa :-D .

Segala tentang Negeri Matahari Terbit ini selalu punya daya tarik tersendiri yah, apalagi kulinernya, saya aja sampai sekarang masih penasaran dengan dorayaki, kalau nonton Doraemon, itu Doraemon kok enak banget nelen dorayaki -_-“. Well, Kita tinggalkan Doraemon dengan dorayakinya. Soalnya kita mau ngobrolin, Udon.

Awalnya pas dapat undangan Community dan Blogger Meet Up dari Marugame Udon dan Tempura via Bang Aswi-Blogger Bandung, aku masih gak ngeh, apaan sih Udon, kok baru dengar, yang sering didengar justru Mie Ramen hahaha.

Undangan sudah kudapat via email sejak dua minggu lalu, gak sabar rasanya untuk hadir, si Fitri aja sampai ngira acaranya itu Hari Senin, tanggal 1 Desember :-P, untung aku ingetin, kalau gak dia bakal datang juga kali ya saking excited nya.


Finally, Hari Senin, tanggal 8 Desember datang juga, berhubung Kyo, Ririn, dan Fitri pada datang telat, baiklah, aku udah biasa jalan sendiri, sense of adventure lebih terasah. #etdaah

Terakhir kali datang pagi-pagi sekali ke Sun Plaza 3 tahun lalu, demi nonton gratisan di Bioskop 21 :-D . Sekarang buat makan gratisan #eaaak . 

Tiba di Sun Plaza 10.20 WIB telat 30 menit dari jadwal X_X . 10 menit waktu buat tersesat hahaha, mengelilingi Sun Plaza mungkin masuk akal, tapi gak dulu ya, bersebab di undangan, TKP di L2A, dan ternyata di LG 6-8 ^0^ , Ups, tampak yang udah datang adalah rekan-rekan dari media, dari blogger, baru aku.

Selagi menunggu dan belum ramai, terlintas AHA dalam pikiranku untuk foto di depan restoran :-D , akhirnya aku minta tolong sama salahsatu pegawainya, yeaay, berhasil narsis, tujuannya adalah buat ganti DP BB *hahaha , respon yang aku suka dari kawan-kawan BBM, adalah dari Kina, ‘Kakak lagi di Jepang ya?’ Tuh kan efek banget, padahal baru foto di depan restorannya doang, tapi atmosfer Jepang-nya dimana-mana.

Pertama kali masuk kita sudah disodorkan dengan pemandangan khas restoran jepang, meja kayu, tempat duduk nyaman yang gak pakai sandaran (kalau memerlukan sandaran hidup ya jangan di tempat duduk yah :-D ) lalu display dinding yang bertuliskan aksara Jepang, aku gak tau bacannya tapi aku yakin bacaanya Marugame Udon, ada juga hiasan dinding berupa lukisan, dan display mangkuk sup dan sumpitnya, warna dindingnya krem lembut, adeem masuk restoran ini. Simpel, elegan, klasik dan nyaman.


Narsis dilukisan 😁
Sekitar jam 11.30 dan setelah sebagian besar sudah berhadir, acara pun dimulai, dan dibuka dengan kata sambutan dari Mr. Hajime Kondoh, GM PT. Sriboga Marugame Indonesia, dalam pidato singkatnya, ia yakin bahwa Restoran Marugame Udon &aTempura akan cocok dengan lidah orang Medan.


Hmm, makin penasarankan dengan Marugame Udon? Ingatnya jangan salah sebut, Marugame Udon, bukan Marugame Udin, oke, langsung aja yah, cekidot…

Marugame Udon, kenapa namanya Marugame ? sebenarnya aku lupa nanya yang ini pas tanya jawab, jadi mumpung ada pegawainya di concact list BBM-ku, mahasiswa Aa' juga di Potensi Utama, Awal Adlyansyah, aku tanya aja :-D dan googling juga, Marugame adalah nama sebuah kota di kawasan Kagawa, Jepang, sedangkan Udon adalah jenis mie yang terbuat dari tepung gandum dan berukuran tebal khas Jepang, seringnya disajikan dengan kuah sup hangat.
Aku dan Udon yang gemuk gemuk hihihi
Nah, udah gak penasaran lagi kan dengan nama Marugame Udon?, kalau istilah tempura tau dong, jangan bilang kalau tempura adalah bagian dari kelapa ya -_-“, yaelah itu tempurung, baiklah, tempura adalah hidangan Jepang, biasanya berupa seafood atau sayuran, dibalur tepung, dan digoreng dengan minyak panas yang banyak, hasilnya, tempura yang kriuk kriuk, hmm nyummy.

Lebih lanjut tentang Marugame Udon dan Tempura, merupakan nama restoran Jepang, di bawah naungan PT. Sriboga Marugame Indonesia, anak perusahaan PT. Sriboga Raturaya. Restoran ini khas Jepang pake banget, bahasa kerennya authentic Jepang, dan merupakan restoran franchise dari restoran Marugame Seimen yang berada di bawah naungan Toridoll Corporation, sebuah perusahaan yang berdiri sejak 19 Juni 1990 bergerak di bidang bisnis restoran, pusatnya di Kobe, Jepang. Hmm, jadi restoran ini gak sembarangan ya kan? Bayangin aja, sampe ada perusahaan yang khusus mengurusi restoran, cool .

Untuk di Indonesia sendiri, Marugame Udon dan Tempura pertama hadir pada 14 Februari 2013, sudah hampir mau 2 tahun ya, *kok aku baru taunya sekarang, kemana ajaaa hahaha* dan sampai sekarang sudah tersebar 9 outlet di Jakarta, 3 outlet diluar Jakarta, ditambah di Medan 1 outlet, total 13 outlet, dan rencananya akan dibuka 4 atau 5 outlet lagi di Medan. Balikpapan dan Surabaya, menyusul.

Sedangkan total outlet Marugame di negara asalnya, Jepang, berjumlah 760 WOW, di seluruh dunia (Rusia, Taiwan, Australia, dan lain lain) ada 60 outlet, nah total semuanya, adalah hitung sendiri yah :-D , pokoknya banyak lah.

Lalu, bagaimana soal rasa? Jangan khawatir, restoran Marugame Udon dan Tempura sudah menyesuaikan menunya dengan lidah orang Indonesia, melalui forum food test dan FGD ( Forum Group Discussion ) , tentunya sebelum restoran dibuka.


Mengenai bahan-bahan makanannya, Pak Iwan Liono selaku Manager Operational untuk Restoran Marugame Udon, Sun Plaza LG 6-8, Medan dalam sambutannya di Community & Blogger Meet Up, mengatakan hanya 20% bahan yang diimpor dari Jepang, seperti bahan dasar soup (kake dashi soup), saus tempura dan teh ocha, selebihnya, bahan lain diusahakan menggunakan bahan lokal karena tidak berat diongkos. Oh ya, yang paling penting, nih bahan-bahan Marugame Udon & Tempura 100% halal, no vetsin juga dan Januari 2015, Marugame Udon sudah akan memiliki sertifikat halal. Jadi lega kalau begini yah.

Soal nama dan asal, udah, bahan-bahan juga udah, nah sekarang kita obrolin soal konsep dan ritual makan di Marugame Udon & Tempura hehehe. Dan konsep ini yang bikin beda dari restoran Jepang lainnya. Restoran Marugame Udon & Tempura menawarkan tiga konsep, pertama, open kitchen, konsumen dengan leluasa bisa melihat proses memasak udon dan tempura langsung dari hape kamu #eh langsung dari dapurnya ( huwaaa, aku nyesel gak jadi masuk dapur, padahal udah ditawarin Pak Iwan T_T , aku mikirin kawan-kawan, ntar kalau aku aja yang masuk dapur, tentu yang lain juga pengen kan, akhirnya gak jadi, huwaaa *lilit leher pake Udon* ) .

Penampakan dapur, mau masuk kesini selain ucapin salam 😁 tapi juga harus steril, pakai topi, lepas aksesoris seperti jam. Kata Pak Iwan, dapur adalah tempat sakral, 👍
Konsep kedua, freshly cooked, Udon dan tempura dibuat langsung begitu consume memesan, kereeen kaan, dan tahu gak? Udon dan tempura yang didisplay tidak lebih dari 20 menit, lebih dari itu langsung ditarik dan diganti baru, trus pertanyaanku yang lupa kutanya adalah, apakah beneran dibuang? Manajemen pembuangannya gimana ya? Kan mubazir T_T masih banyak orang diluar sana yang makan aja susah.

Dan konsep ketiga, self service, ini nih ritual yang mau aku ceritakan, untuk mendapatkan Udon pesanan kamu, kamu mesti mengantri di SPBU eh di Udon Station yang disediakan hehehe, disini kamu bisa lihat bagaimana Udon pesanan kamu dibuat, dan jangan coba-coba ngelirik chef yang cakep dibalik kaca bening itu, dijamin gak akan dilirik balik, karena mereka serius ngerjain Udon terbaik buat kamu *segitunya kan :-D , buat Udon aja serius, apalagi nanti buat hidup bersama kamu, halaaah ini gagal fokus namanya hahaha * , setelah pesanan Udon kamu selesai, selanjutnya kamu akan menuju ke Amplas Station, eh ini mah mau kemana ini, balik lagi balik, yang benar, kita ke Tempura Station, disini kamu akan terdiam mematung, hahaha bingung - bingung dah sono, karena kamu akan menghadapi 10 tempura yang menggoda, huahahaha *evil laugh* , eh buruan pilih, antrian mengular tuh, hihihi cukup ya bingungnya, :-P

di Udon Station kita akan disambut dengan display Udon, dipilih dipilih 😄
Inilah suasana dibalik kaca saat Udon pesanan kamu diproses
mengantri pesanan Udon 
Di Tempura Station 

Setelah dua proses terlewati, selanjutnya kamu akan melewati proses yang amat sangat mengharukan, kasir, ya kamu harus bayar dong, :-D akhirnya sampai juga kita pada ritual terakhir yaitu, memesan minuman, jangan harap ya ada aneka Ice Juice *dibaca dengan logat Sunda yah* yang ada cuma Ocha, teh khas Jepang, ada pilihan dingin dan panas, bisa juga Ocha meriang ( dingin campur panas hihihi ) Ocha ini kalau habis, boleh refill loh, tapi dilarang refill pakai tabung galon yah, terus dibawa pulang, gak boleh ya.

Btw, kamu mesti hati-hati bawa pesanan kamu yah, berat soalnya, dan memang resto ini gak tanggung-tanggung, mangkuk tempat sup nya, piringan tanah liat asli, wadah Ocha, apalagi, kalau kamu dari awal ingin Ocha panas, maka wadahnya agak tebal, wadahnya cakep deh, kayak mug terbuat dari tanah liat, ah klasik banget.


Terakhir, kamu akan bertemu meja kondimen, meja khusus pelengkap makanan tambahan seperti irisan cabe rawit, irisan daun bawang, wijen, dan tenkatsu (remah remah tempura yang kriuk kriuk), di meja ini juga diletakkan sendok sup, sumpit dan sedotan. Hanya saja, aku baru ingat, tempat cuci tangannya dimana yak ? #mikir


Gimana? Udah makin jelas penampakan Restoran Marugame Udon & Tempura? Ya, sebenarnya belum jelas maksimal yah, tentang menu dan harga belum kita bahas. Cekidot lagi.

Untuk pilihan Udon, kamu akan dihadapkan pada 9 jenis Udon, 3 menu Udon andalan yang aku rekomendasikan buat awal kamu coba biar lidah kamu gak terkejut banget, adalah Niku Udon, Udon dengan lembaran daging sukiyaki dan kake dashi soup, segeerr, kuahnya beniing dan gurih banget, aku coba yang ini kemarin, dipilihan menu, dia ada di nomor 6. Kemudian menu andalan berikutnya Tori Baitang Udon, Udon dengan sup kaldu putih dilengkapi baso ayam, dan terakhir Beef Curry Udon, Udon dengan lembaran daging sukiyaki disiram dengan kuah kari yang kuental tal tal. 6 menu lainnya juga oke kok, ada Kamage Udon, udon special disajikan dengan bukake dashi soup. Udon ini bisa dipesan ukuran family, yang dimakan 4-6 orang. Kake Udon, Udon dengan kake dashi soup. Mentai Kamatama Udon, Udon dengan saus special telur ikan mentaiko dan telur omega ½ matang. Zaru Udon, udon dingin disajikan dengan bukake dashi soup yang dingin juga, disantap pas cuaca panas. On Tama Udon, Udon dengan bukake dashi soup dan telur omega ½ matang, bisa disajikan hangat atau dingin. Dan special buat Restoran Marugame Udon & Tempura Medan dan Bali, menu baru, Kitsune Udon, udon dengan sup yang terbuat dari sayuran dan kulit Inari.

Gak hanya Udon, nasi juga ada looh, Tendon Seafood Rice, nasi jepang dengan toping tempura saur, ikan kisu dan ebi. Tendon Tori Rice, nasi jepang dengan toping tempura sayur, telur dan ayam. Sukiyaki Beef Bowl, nasi jepang dengan lembaran daging sukiyaki. Beef Curry Rice, nasi jepang dengan lembaran daging sukiyaki disiram kuah kari kental.

Dan ini dia ni, yang kita jumpai di tempura station, 10 jenis tempura disajikan buat memanjakan lidah kamu diantaranya, Kakiage ( Tempura sayur yang segede jeruk bali ) , Egg Tempura, Chicken Chili Tempura, Skewered Tofu Roll ( Udang Kulit Tahu ) Kisu Tempura ( Tempura Ikan Kisu ) Sweet Potato Tempura  ( Tempura Ubi) , Tori Tempura ( Tempura Ayam ), Beef Croquette dan Ebi Tempura.

Soal harga standard dan sesuai dengan kualitas yang kita dapatkan, untuk Udon dan nasi harga mulai dari Rp. 33.000 – Rp. 50.000 , untuk Kamage Udon paket family Rp. 85.000, sedangkan untuk tempura, Rp. 8.000- 15.000 / pcs.

Dan, kami pun makan, Ittadakimaass, aku kira porsinya dikit, ternyata Udon yang gemuk, menjadikan cepat kenyang hahaha, aku hampir tak sanggup menghabiskan tiga tempura, tapi aku makan pelan-pelan, dan tarraaa, habis juga :-D

Aku hampir hampir gak nampak -_-#
Setelah food test, untung kami gak buru-buru pulang, soalnya dibagiin kaos cakep, dan dua voucher makan di Restoran Marugame Udon & Tempura, yeay, lumayan buat nge-date sama Aa’ hahaha, libur tahun baru, udah tau bakal mau kemana :-P

So, buat kamu, happy meal yah di Restoran Marugame Udon & Tempura ^0^

Yang mau dapat Pouch, pas makan disini jangan lupa foto foto yak, trus mensyen deh 😄

Arrigatouu Marugame Udon dan Tempura, sukses terus yaaah 😊