Kamis, 03 Mei 2012

Pernikahan dan Angka Tiga Puluh


Judul               : 9 Weddings and A Wish
Penulis           : Ifa Avianty
Penerbit        : Lingkar Pena Publishing House
Cetak              : II, Agustus  2011
Tebal              : 336  Halaman


       
               
Me and This Romantic Novel
            Sebenarnya risiko tingkat tinggi baca novel beginian *hihihi, berasa megang aliran listrik yang tegangan tinggi ya kan?, iya soalnya tentang wedang wedang gitu, eh wedding maksudnya =D.
            Errornya lagi aku baca sekuel ini dari yg sekual ke dua nya, yg Friendloveshipnya belum ku baca, gimana gak nyambung nya coba? Hehehe tapi tenang mb Ifa ngertiin pembaca banget, dia nulis seolah-olah ni novel gak punya sekuel, jadi tetep nyantai bacanya, gak pake mengerut-kerutkan kening.
            Kisah dibuka dengan Tricia, salahsatu member of TRG. Nah, Dialog batin Tricia ini membawa pembaca serasa bermain layang-layang, tarik ulur gitu. Si Tricia, yang artis  ini mau nikah tapi macam gak mau nikah dia, kalau kata anak muda zaman sekarang, galau. Tricia bingung dengan keputusannya menerima lamaran seorang pria kaya raya seperti Rey. Ok, kita tinggalkan sejenak Non Tricia yang sedang galau, sekarang kita move on  ke  Fe, gadis mapan yang bekerja sebagai perawat yang ditempatkan di ruang tindakan untuk bersalin. Nah, Fe ini sekilas aku banget *jiaahhh…emut lolipop *.  Fe, adalah anak sulung, yang harus merelakan S2 nya dan menyerahkan kesempatan itu pada adiknya, berkali-kali pula ia membantu usaha MLM adiknya yang lain, belum lagi prahara cintanya dengan Bram, ayah Bram tidak setuju jika Bram menikah dengan Fe. Galau gak tuh? Bangeeettt…. =D
            Ada juga Anna, pokoknya dari dua belas sahabat ini, semua diceritakan dengan gaya penceritaan masing-masing dengan karakter khas mereka pula *saluuuttt sama penulisnya lah (sepuluh jempol dah)*. Anna, seorang guru TK  yang akan menikah dengan Kang Tino, mantan pacar sahabatnya sendiri, Tere *hahahaha, kacau kan?, ntu lah hidup*
            Lalu ada Daisy, seorang tomboy tapi jago dalam hal Wedding Organizer, suka merokok malah. Si Daisy punya cinta mati sejak zaman SMA dulu sampai sekarang,Kak Didi, anggota Rohis di sekolah. Alim banget. Nge jemplak lah jika disatukan dengan Daisy yang blak-blakan =D. Apakah mereka berjodoh?
Ada juga kisah Happy yang jatuh cintrong sama bosnya yang seusia dengan bapaknya Happy, beda 30 tahun boooo....
Baca sekuel TRG yang kedua ini tentang pertempuran batin para perempuan yang tak kunjung ketemu jodoh di usia kepala tiga, sekali ketemu, ya begitu makin parah dialog batinnya, namun tetep dalam tiap dialog batin pembaca seolah diseret-seret masuk ke dialog mereka yang penuh kontemplasi makna-makna spiritual di balik pencarian mr. right.



Remah-remah Quote

            Baca buku tanpa catat quote nya seperti makan tanpa minum, gersang hehehe.
           
            Selamat menikmati quote-quotenya yah

” Jangan terlalu keras pada diri sendiri, An. Tanyakan seperti apa perasaan kamu sekarang? Perasaan itu halus, jika keras, maka  kita tidak dapat merasakannya” (hal.35)

“An, kehidupan seorang manusia pasti akan memiliki arti bagi yang lainnya. Jika ia tidak pernah  dilahirkan atau dilahirkan dalam bentuk yang lain, dia akan meninggalkan lubang yang mengerikan bagi orang lain. Kamu yakin kan?... you have been through a wonderful life yourself…”

There are a lot of things money can buy, but happiness is one of million things money can’t.

Orang jatuh cinta memang gak bisa disembunyikan

Satu hal lagi (hal. 134) persahabatn abadi tak akan lekang oleh waktu dan status. Sahabat sejati akan selalu berdoa dan melakukan yang terbaik bagi sahabatnya, demi kebahagiaan sahabatnya. Kita tak akan pernah sepi dan sendiri, jika punya sahabat sejati.

Cinta bisa datang dan pergi, tapi sahabat sejati akan tetap abadi. For the good and the harsh times in your life ever.

I would rather share one lifetime with you than face all the ages of this world alone… If you wanna know (Lord of The Rings)

…Tapi dia benar. Selama ini tanpa sadar, saya membentuk diri dengan konsep bahagia adalah bisa membuat orang lain bahagia. Bukan dengan konsep bahwa  bahagia adalah sebuah kondisi dimana diri sendiri menginginkannya, memilihnya, seiring dengan keinginan membagikannya bagi orang lain… (Fe, hlm 45)



Mencandai UN

 
            ‘Met mlm cin..? ad ma qm knci jwbn B. Inggris klau ad krm ma q y?’, sms itu masuk ke inbox hp saya pada 16 April 2012, sekitar pukul sebelas malam. Awal dapat sms tersebut sempat kaget dan tertawa, namun segera sadar bahwa ini sms salah kirim. Lalu, apa respon saya? Saya tidak membalasnya apa-apa, mau dibalas asal-asal dengan memberikan jawaban seenaknya, itu bukan karakter saya, mau direspon jujur, nanti dia malu sendiri, walau sebenarnya saya memang tidak mengenal no hp si pengirim, dan jika saya jawab jujur pun sebenarnya sah-sah saja, jika dia malu pun tidak seberapa, secara saya tidak melihat wajahnya dan bahkan tidak tahu. Lebih baik tidak direspon.
            Bukan masalah respon atau tidak diresponnya sms salah kirim tersebut yang hendak saya bahas disini, tapi fenomena UN yang sedang melanda pada civitas dunia pendidikan di Indonesia. Mungkin saya orang yang kesekian juta yang membahas fenomena UN, nah dari sekian juta itu pulalah saya ingin menyampaikan isi hati, kegalauan saya terhadap UN.
            Ada apa dengan UN? Tenang, pertanyaan tersebut bukan sekuel film Ada Apa dengan Cinta, tapi sebuah pertanyaan retoris dari saya. Tiap tahunnya UN atau Ujian Nasional menjadi momok menakutkan para civitas dunia pendidikan yakni para guru, siswa, dan orangtua. Apapun dilakukan demi sebuah kelulusan, lulus dalam UN, seperti sholat istighosah berjama’ah, mengundang ulama untuk berdo’a bersama, rela pergi ke sekolah subuh-subuh berbarengan dengan para pelaku pasar yang baru sampai dari gunung dan mengantarkan sayur mayur ke pasar, atau sejadwal dengan para loper Koran yang menanti pembagian macam-macam Koran untuk dijajakan ke pembaca, bahkan sanggup mendatangi dukun demi mendapatkan sebuah kunci jawaban, jadi teringat kisah Ikal dan teman-temannya dalam Novel Laskar Pelangi yang minta petuah pada Tuk Bayan Tula, dukun tersakti se-Belitong. "Kalau Nak Pintar, Belajar! Kalau Nak Berhasil, Usaha!" Itulah mantra yang diberikan Tuk Bayan Tula kepada anak-anak Laskar Pelangi saat mau menghadapi ujian.Lalu ada juga saya baca di catatan teman saya, diberitakan di televisi bahwa terkait dengan menyambut UN, pihak sekolah sampai mendatangkan tokoh spiritual untuk minta ‘sesuatu’ yang bisa melancarkan ujian, lalu sang tokoh membagikan Air Mineral Dalam Kemasan (AMDK) dan pensil kepada seluruh siswa. Ada juga teman saya cerita bahwa ia menonton berita bahwa ada siswa yang kemasukan (jin) sesaat setelah selesai menjawab soal UN, diduga ia menggunakan ilmu lain selain 3 ilmu yang diujikan dalam UN untuk menjawab soal UN. Hebat benar UN ini saya pikir, ketenarannya mempu menyeret-nyeret generasi muda kelembah hitam kesyirikan yang nyata, wajar jika Tuhan sering murka belakangan ini, masih terasa beberapa waktu lalu gempa 8,5 SR mengguncang wilayah Barat Indonesia.
             Sampai disini, saya masih bertanya-tanya lagi, adakah yang lebih rasional menanggapi hal ini? Lucu saja kesannya. Okelah tidak berdukun atau memakai mantra sakti lainnya. SMS yang salah kirim ke saya saja contoh sederhana, KPK berkoar-koar, No Corruption, Katakan TIDAK pada Korupsi, tapi kenyataannya, sejak diumumkannya UN, pemerintah sebenarnya turut mengumumkan, Ayo Korupsi!. Para guru mati-matian menggadaikan idealismenya demi sebuah soal dan mengerjakannya demi keselamatan murid-muridnya, lalu membagikan kunci jawaban selain itu bekerjasama pula dengan para pengawas, pengawas dan guru sudah TST, Tahu Sama Tahu, termasuk siswa. Para wartawan bodrek pun turut pula mengaminkan dengan memberitakan hal-hal yang tampak baik. Mencontek, memberikan jawaban adalah rangkaian kata kerja yang mampu membentuk dan menanamkan budaya tidak jujur, budaya curang, budaya korupsi, budaya TIDAK PERCAYA DIRI. 
            Jadi, salahkah UN? Jika UN bisa bicara, mungkin ia akan ngomong seperti ini, ‘Jadi salah gue, salah emak gue, salah nenek gue, salah atok gue’, UN kenapa jadi anak alay begini?
            Adalah bukan hal yang salah berdoa bersama, bahkan dianjurkan artinya masih ada iman yang terpatri di jiwa,  tidak ada pertolongan selain pertolongan Tuhan, namun itu semua dilaksanakan setelah ikhtiar atau usaha yang maksimal, dan muaranya adalah menyerahkan semuanya pada Tuhan, bukan ditambah dengan memberikan ‘sesuatu’ yang bertujuan mensugesti anak. Ada sebuah penggalan episode dari serial Doraemon, suatu hari Nobita uring-uringan menghadapi ulangan umum yang diadakan esok hari, seperti biasa ia pun membujuk Doraemon, robot kucing dari abad 20 dengan kantong, untuk mengeluarkan alat yang bisa membantu Nobita mengerjakan soal ulangan. Awalnya Doraemon menolak keras, namun Nobita pun tidak menyerah ia mengeluarkan senjata air mata (air mata tapi seperti air terjun saking kencangnya ia menangis). Doraemon tak tega, ia keluarkan sebuah permen karet dari kantongnya. Permen karet itu jika dikunyah bisa langsung membuat orang mampu mengerjakan soal ujian. Keesokan harinya Nobita pergi sekolah dengan hati riang dan menjalani ulangan dengan senang hati. Saat pembagian hasil, Nobita dapat nilai bagus. Kemudian ia berterimakasih pada Doraemon, lalu Doraemon tertawa dan member tahu bahwa permen itu bukan permen karet ajaib tapi permen karet biasa. Jadi, sebenarnya yang buat Nobita berhasil bukan permen karetnya tapi usaha keras Nobita dalam belajar sebelum ulangan. Doremon dan dukun sedikit mirip ya?.
             Salahsatu sifat terpuji adalah menolong, namun menolong demi sebuah kecurangan, masih termasuk sifat terpujikah? Saya pikir, guru adalah jelmaan malaikat, ia dianggap tahu  beberapa bidang ilmu, tahu mana yang benar mana yang salah, sifat-sifatnya terpuji karena ia menjadi seorang yang digugu dan ditiru. Keputusan menjatuhkan wibawa guru setiap tahun dengan berlaku tidak jujur, cukuplah sampai disini tidak untuk to be continued.
            UN tidak perlu jadi sesuatu yang ditakutkan tapi sesuatu yang dihadapi dengan gagah perkasa. Sejak awal memutuskan anak bersekolah, persiapkan ia dengan les tambahan, tidak berpatok pada nilai namun tak paham dengan yang dipelajari, belajar itu untuk jadi tahu dan mengerti bukan untuk sebuah rangkaian nilai 9 di raport atau rangkaian huruf A tapi tidak tahu apa-apa, tanamkan kepercayaan diri yang besar bahwa ia mampu melewati masa-masa ujian, tidak perlu stress, besarkan hatinya, lalu kesiapan guru dalam mengajar dan mendidik siswanya lebih diperhatikan. Tidak perlu ada memberikan sesuatu, seperti Pensil ajaib, AMDK ajaib dan permen ajaib kepada siswa. Semua bersinergi mencerdaskan generasi bangsa. Selamat Menempuh Ujian bagi tingkatan sekolah yang belum ujian dan selamat menanti kelulusan bagi tingkatan siswa yang telah menempuh ujian. Bangkit Indonesiaku!
              ''Yun krm ma q knc jwbn B. inggrislh'' , SMS itu datang lagi pada subuh pukul 06.05 WIB. Aku harus jawab apa??? #teriak-teriak di depan HP yang tetap akan membisu hihihih

#UN >>> Hadapi sajalah, nggak perlu bergalau-galau ria, kalo dah mempersiapkan bekal dari jauh-jauh hari kan, tak ada lagi yang perlu ditakutkan, ibarat potongan lagu My Heart Will Go UN eh ON  maksudnya, You Here (Persiapan yang Matang), There's nothing I Fear *eaaaaaaaaaaaaa... ^_^
           
#Tulisan ini telah dimuat di Harian Mimbar Umum, 05/05/2012

Omsas: Dicari Penyair Wanita!


           
          Medan (18/04) Tidak hanya program televisi, majalah, koran, bahkan status-status di sosial media saja  yang terkena demam emansipasi wanita, terkait April hendak menuju ke hari 21, Hari Kartini, tapi juga tema Omong-omong sastra kali ini.
            Bertepat di Kampus VI UISU Jl. Puri No.118 Medan, Omong-omong Sastra tetap berlangsung meski mendung bergelayut di langit bahkan sampai rahmat Tuhan—hujan mengiringi walau hanya sebentar. Acara dibuka dengan kata sambutan dari tuan rumah yakni Dekan FKIP UISU, Nihar Harahap. Dalam kata sambutannya Ia menghimbau agar Kebangkitan Omong-omong Sastra menjadi kebangkitan sastra di Kota Medan. Selanjutnya acara diberikan kepada S. Ratman Suras yang didapuk pengurus OOS yakni Raudah Jambak sebagai pembicara. Tema yang dibahas adalah ‘Membaca Sekilas Jejak Peta Kepenyairan Wanita Sumatera Utara’.
            Diskusi pagi menjelang siang itu diawali oleh pemaparan S. Ratman Suras tentang kondisi penyair wanita Sumatera Utara, dalam makalah sederhananya, ia menuliskan bahwa ‘Dibanding dengan pria, wanita lebih sedikit yang terjun ke dunia sastra, apalagi puisi’. Opini S. Ratman Suras tentang miskinnya penyair wanita khususnya Sumatera Utara dilihat dari frekuensi penyair wanita itu sendiri pada buku antologi puisi tunggal yang dibukukan. ‘Dari hitungan tahun 1995 sampai kini ada beberapa antologi yang bisa dicatat’, tulis S. Ratman Suras dalam makalahnya. Selain itu, menurut S. Ratman Suras timbul tenggelamnya eksistensi penyair wanita disebabkan karena kesibukan rumah tangga atau telah menemukan dunia lain yang dianggap lebih menjanjikan. Tentu, nama-nama seperti Murni Aryanti Pakpahan, Laswiayati Pisca, Susi Aga Putra, Rosliani, Jerni Martina Erita Napitupulu, Rosmaeli Siregar, Aishah Basar, Nur Hilmi Daulay serta Sumiati, adalah deretan nama penyair wanita Sumatera Utara yang kemunculannya sangat dirindukan kembali oleh penikmat sastra serta diharapkan juga mampu menebar semangat kepada penyair wanita lainnya.
            Adapun Raudah Jambak, turut menjadi pembicara dalam hajatan bergengsi ini. Ia berbicara tentang kondisi penyair wanita dari sudut pandang berbeda. Raudah Jambak mulai memaparkan masalah-masalah yang menyebabkan redupnya pijar eksistensi penyair wanita. Ia pun memulai pemaparan masalah dengan pertanyaan retorik, ‘Orang banyak menulis cerpen dan puisi tapi mental generasi muda tetap down, ini kenapa?. Kemudian Raudah Jambak melanjutkan penyebab mandegnya penyair wanita adalah adanya rasa cepat puas terhadap karya yang dilahirkan. Karya akan buat seseorang terkenal. Rendah hati akan menjadikannya abadi dan kesombongan akan menghancurkannya secara perlahan. Kritik lalu down  pun kerap menjadi penyebabnya pula, padahal jelas Raudah Jambak, Pujian itu sebenarnya racun sedangkan kritik itulah obatnya. Raudah pun mengakhiri penyebab itu semua dengan kata ‘Belajar’, belajar agar mampu setia, kesetiaan berkarya yang terus menerus.
Adalah kurang rasanya jika diskusi tanpa tanya jawab dan tanggapan, begitupun Omong-omong Sastra bulan ini. Awalnya moderator sepi penanya dan audiens yang hendak member tanggapan, namun setelah beberapa saat, muncul tanggapan dari YS. Rat. Dalam curahan pendapatnya, YS. Rat beropini bahwa kurang pas jika hanya melacak jejak penyair wanita dari jumlah buku antologi yang dihasilkan, karena menurutnya lagi saat Ia masih jadi redaktur di Harian Medan Bisnis, justru yang paling banyak mengirimkan naskah puisi adalah wanita, sampai ada seorang penyair wanita yang berkali-kali ia kirim naskah puisinya, berkali-kali pula belum dimuat-muat oleh redaktur, tapi sang penyair tetap saja mengirim tanpa ada kata menyerah, jelas YS. Rat saat menceritakan pengalamannya menjadi redaktur dan para hadirin tertawa renyah. Sembari menanti hadirnya penanya dan penanggap, S. Ratman Suras menanggapi kembali pernyataan YS. Rat, ia mengaku memang kurang melacak jejak puisi wanita di media cetak dikarenakan kesibukan yang ada dan itu menjadi saran yang berarti baginya.
Perlahan tapi pasti penanya mulai bermunculan, M. Fadhli, dalam hal ini ia menyampaikan kegelisahannya bahwa, mengapa sebegitu pentingnya membahas keberadaan penyair wanita, lalu apa bedanya dengan penyair pria? Tanggapan dari S. Ratman Suras bahwa hendaknya menulis tentang perasaan perempuan, selama ini perasaan perempuan lebih banyak ditulis oleh penulis atau penyair laki-laki. Sedangkan Raudah Jambak melihat wacana ini dari sisi yang berbeda. Fenomena saat ini lanjut Raudah, Guru Bahasa Indonesia lebih banyak perempuan, dan Bab yang paling sering dilewati adalah Bab yang membahas tentang sastra. Raudah mengajak para hadirin untuk gelisah terhadap fenomena ini, karena hal tersebutlah salahsatu penyebab hanya segelintir saja penyair perempuan yang muncul ke permukaan.
            Saatnya bangkit wahai penyair wanita Indonesia!

           

Dunia Kita Beda, tapi Tetap Satu Jua


       Beberapa waktu lalu aku silaturahmi ke rumah sahabat karibku. Kami sudah lama tak bertemu, lama tak saling bertukar cerita. Terakhir kali bertemu saat ia aku menjenguknya pasca melahirkan anak pertamanya. Tujuh bulan kemudian, barulah aku bisa menemuinya kembali, telah menggumpal rindu itu disini hehehehe.
          Rasanyaaa gimana gitu jumpa sahabat lama, banyak cerita, banyak keadaan yang sudah jauh berbeda. Ia dah emak-emak, awak masih saja single fighter hehehe. Aku, jika sudah berjumpa dengannya, adalah paling banyak dengerin cerita dia. Dulu zaman masih sekolah, yang diceritakan adalah segala mantan-mantan pacar dan pacar yang waktu  itu jadi pacarnya, tiga bulan tak bertemu sahabat karibku itu, eh tau-tau udah ganti gandengan lagi =D. Sekarang, tiba ia telah menikah dan punya anak, hal dominan yang ia ceritakan ya seputar anaknya dan yang paling buat aku senyum-senyum adalah provokasinya saat ia menyuruhku untuk segera nikah, heheheh, dalam hatiku, ia bu, mohon doanya ^^.
          Rul, nanti ko rasakanlah, begitu katanya disela-sela obrolan kami sambil ia mengawasi anaknya bermain.
          Sesekali ia menceritakan perkembangan anaknya dari hari ke hari. Ia juga cerita gimana rasanya telah hidup berumah tangga. Wuaah…apa gak makin panas nih si single fighter hihihihi.
          Hal positif yang aku peroleh dari silahturahmi singkatku hari itu, karena di hari itu pula aku dapat kabar mendadak tralalal dari kampus bahwa esok harinya aku siding skripsi, terpaksa aku mengakhiri pertemuanku dengan sahabatku secepat kilat. Jadi, aku semakin sadar, halloooo rul, dirimu dirinya dah beda dunia, tapi memang banyak pengalaman hidup yang aku dapat dari cerita-cerita dia ^^, saluut lah ma dia yang berani ambil keputusan nikah muda, salut sama kedua duanya =D. Lalu, sahabatku itu memang pantas dikarunia Allah seorang anak, tiga bulan pasca nikah langsung divonis hamil, apa gak girang trilili =D. Dan memang, gak mudah jadi ibu muda, banyak ilmu yang harus dikuasai buat jadi emak-emak T_T, aku ja jadi The Nanny selama 10 hari aja, amboi, mau nangis aja, ternyata kek gini emak awak ngurus awak waktu kecil ya, ruaaarrrrrr biasa sabar, kalo gak sabar, mungkin aku gak bakal hidup sampe sekarang ^^.
          Jadi, kapan wisuda? (dah punya jawabannya), kapan nikah? #menatap langit ^_^


         Sob, mau gimana pun keadaan kita nanti, kita tetap sahabat yah, mau jadi nenek-nenek pun kita, tetep yah jadi sahabatku =D, aku kan siap menjadi telinga buat cerita-cerita seru mu ^_^

Jumat, 27 April 2012

Udah Sarjana Coy =)

            Memang hanya dibutuhkan selembar kemauan untuk mewujudkan mimpi kita. Maret-April tralalala ini sungguh luarbiasa. Masih teringat dengan tulisanku yang ini?mau sarjana coy hahaha lucu kalo aku baca lagi.  Siapa sangka beberapa minggu lalu, aku dan beberapa teman masih berjibaku dengan pejabat fakultas dan pejabat biro supaya mau membuka kembali rekening kampus agar bisa bayar SPP. Yah, FYI, daku telat bayar SPP, ah tak mau menyalahkan siapa-siapa dalam hal ini, segala sesuatu terjadi ya penyebab utamanya tu ya diri kita. That’s why sempat nangis-nangis bombai, after that  belajar mengikhlaskan semuanya =). 



Alhamdulillah berkat usaha lobi serta nego dengan pejabat kampus,  pihak kampus pun membuka kembali rekening dan kami pun bisa bayar SPP. Risikonya jika belum bayar SPP, kami terancam gagal sarjana bulan Mei ini.  Dispen 6 bulan, butuh sabar yang luar biasa. Allah T_T.
Bener deh, masa-masa menanti keputusan apakah kami bisa bayar SPP atau gak, adalah masa-masa yang serba salah, ada yang skripsinya dah kelar, namun belum bayar SPP, kebayang gimana galau nya, belum lagi udah gembar gembor ke tetangga sekampung, ‘Aku Wisuda bulan 5 loooo’, hadeeh, sedangkan aku yang PS 1 sedang di M’Sia menanti tanda tangan ACC, oh…suka duka skripsweet L, belum lagi aku yang kemaren di kontrak 2 minggu untuk jadi The Nanny, sampai bawa 2 krucil ke kampus hanya untuk ngurus surat pernyataan bahwa tidak akan telat bayar SPP lagi, *penting gak seh surat ini utk mahasiswa yg sdg skripsi?, birokreatif or birokrasi*. Alhamdulilah semua itu dilewati dengan air mata dan doa *jiaaahh dah kayak judul sinetron* =D
Setelah kerikil yang satu selesai, muncul kerikil lain, skripsiku belum ACC dengan PS 1, sebab menunggu beliau sampai ke Tanah Air. Sebaik tahu PS 1 ada di Medan, langsung uber-uber si bapak demi sebuah tanda tangan =D. Judulnya adalah ‘menunggu’. Dijanjikan sama PS 1 buat datang pagi ke kampus, eh sampai di kampus jam 9, namun orang yang ditunggu baru bisa ditemui jam 11.30. T_T. Membunuh waktu dengan baca novel =D *ada juga hikmahnya ya kan?*. Hari Rabu aku bertemu dengan PS 1, eh dia bilang skripsi bahwa skripsiku kudu dia periksa dulu *disatu sisi senang skripsiku di periksa, di sisi lain, aku kebelet mau  daftar siding*, akhirnya aku harus bersabar lagi, dan menunggu sampai hari senin. Sepanjang hari menjelang hari Senin, berdoa gak pernah putus, harapannya skrispiku bisa dinilai baik oleh PS dan langsung di ACC, finally walau kembali menunggu sama, nasibnya kayak hari Rabu, tapi tanda tangannya di kolom PS 1 itu seperti kelokan kelokan tinta yang bersinar, skripsi ku di ACC PS 1, ah bahagianya. *serasa melayang ke langit ke 7 terbang bersama paus biru hahaha*
Senin itu juga aku didesak pihak jurusan untuk segera kumpulkan berkas agar bisa daftar sidang. Akhirnya aku pulang ke rumah, potokopi skripsi rangkap 4, cairkan uang buat biaya pendaftaran, eh pas balik lagi ke kampus, miss yang ngurus berkah malah dah pulang. #pinsan. Besoknya gitu juga, menunggu. Finalnya, Rabu aku daftar sidang, itu pun didetik-detik terakhir, mana lagi mau terbang lagi ke pesantren buat ngajar, dan pesantrennya itu jauuuuuuuuuuuuuuuhhhh #ntahlah kek mana lagi bilang jauhnya* #lipat-lipat jalan
Oke, pasca daftar sidang di hari Rabu, aku kira hidupku tenang karena dapat kabar bahwa kami bakal sidang skripsi hari Selasa depan, sampai akhirnya hari Kamis saat aku sedang bertandang ke rumah sahabatku buat nengok anaknya, aku dikabarkan bahwa Jum’at kami sidang. Apa aku gak kebakaran alis dapat kabar seperti itu? Langsung aku ngacir ke kampus, dan ternyata kabar itu benar.
Malam Jum’at pun aku habiskan dengan ritual bakar sajen *loh kok? Emang mbah dokon??? Hahahha* ya aku habiskan buat belajarlah, membedah skripsku, menebak-nebak pertanyaan apa yang bakal dosen-dosen penguji bombardirkan ke arahku, dan baru bisa berangkat ke dreamland sekitar jam 11. Paginya bangun pukul setengah 5, tahajud, lalu subuh, mandi, dan pake baju kebesaran untuk sidang, jilbab putih, baju kurung putih dan rok songket pink. Cantik kali aku hari Jum’at itu hahahah. #plaakkk
Sampai di kampus, dan di ruang sidang, amboi…jantungku seperti sudah ada yang komandokan buat berdegup lebih kencang. Tak berapa lama, sidang pun berlangsung. Bap bip bup, bla bla bla.
Tibalah saatnya pengumuman…Nurul Fauziah 34072**** berhak menyandang gelar sarjana Pendidikan Islam dengan nilai sangat memuaskan. Huwaaa…hujan di hatiku deras sederasnya #terharu, teringat perjuangan yang berdarah-darah sewaktu kuliah dan mempersiapkan skripsi. Allah T_T
Barakallah yang melimpah kepada seluruh sahabat yang turut mengaminkan kesuksesanku, kamu dan kita samua. Loving you all as always.
Udah sarjana coy, hehehe.

           

           



Selasa, 17 April 2012

Madre: Adonan Cerpen Bertaburan Filosofi


Judul Buku          : Madre
Penulis                  : Dee/Dewi Lestari
Penerbit                : Bentang Pustaka
Cetakan                 : II, Agustus 2011
Halaman               : 162 Halaman

Madre: Adonan Cerpen Bertaburan Filosofi
Oleh: Nurul Fauziah*

            Andrea Hirata dalam novel fenomenalnya ‘Laskar Pelangi’ menuliskan tentang filosofi pencarian. Pencarian akan hal-hal yang paling kita inginkan dalam hidup ini dan pencarian akan diri kita sendiri. Karena jika kita berupaya sekuat tenaga menemukan sesuatu dan pada titik akhir upaya itu hasilnya masih nihil, maka sebenarnya kita telah menemukan apa yang kita cari dalam diri kita sendiri, yakni kenyataan, kenyataan yang harus dihadapi, sepahit apapun keadaannya.
            Dee atau yang lebih dikenal sebagai Dewi Lestari, mantan personil grup vocal RSD, Rida, Sita, Dewi, yang sekarang lebih fokus ke karir barunya sebagai penulis, novelis, dan cerpenis. Tak banyak selebriti yang mampu bertahan lama di dalam dunia tulis menulis, berbeda dengan Dee. Dee, selebritis multitalent, nyanyi Ok, menulis Jagonya, tapi belum saya lihat aksi Dee dalam dunia perfilman.
Kembali ke karya Dee, dalam kata pengantarnya Dee menuliskan sebagaimana lazimnya awal dari sebuah karya kreatif, Dee kerap memulai proses berkarya dengan bertanya. Tidak dipungkiri bertanya adalah mencari jawaban, kembali ke konsep filsafat pencarian tadi. Descrates pernah bilang bahwa seseorang tidak akan melakukan sesuatu yang lebih berguna lagi, kecuali mencari satu kali, dengan tekun, terus menerus. Inilah yang dilakukan seorang Dee dalam tiap karyanya.



Ide Sederhana, Dikemas Elegan
            Bukanlah hal mudah mengemas ide sederhana menjadi sebuah karya yang elegan, tapi disanalah letak tantangan menjadi seorang pengarang yang karyanya membuat pembacanya susah lupa, bahkan melekat di hati, memuaskan dahaga jiwa yang gersang kerontang akibat laju tuntutan hidup.
            Sejenak membaca Madre, kita akan memasuki bekas sebuah toko roti tua tanpa plang di daerah Jakarta tua. Dari sinilah bermula kisah seorang pria keturunan India bernama Tansen Roy Wuisan yang hidup bebas di Bali sebagai freelancer yang tiba-tiba mendapat warisan dari seorang pria tua berdarah Tionghoa bernama Tan Sin Gie. Cerita pun berlanjut membawa pembaca menelusuri jejak pencarian silsilah keluarga Tansen yang sebenarnya. Hingga Tansen dalam keterkejutannya, sebagai seorang blogger, menuliskan di blog-nya. “Apa rasanya sejarah hidup kita berubah dalam sehari? Darah saya mendadak seperempat Tionghoa, nenek saya ternyata tukang roti, dan dia bersama kakek yang tidak saya kenal, mewariskan anggota keluarga yang tidak pernah saya tahu: Madre”. (hlm. 18). Setelah membaca Madre, tukang roti yang lewat ingin segera memborong semua roti-rotinya.
Madre adalah buku yang menyajikan kumpulan cerpen, puisi, serta prosa pendek karya Dewi Lestari. Ini adalah buku ketujuhnya setelah trilogi Supernova, Filosofi Kopi, Recto Verso, dan Perahu kertas.           
Terdiri dari 13 karya fiksi dan prosa pendek. Ulenan adonan kisahnya menyajikan berbagai tema: perjuangan sebuah toko roti kuno pada judul Madre,  tentang seorang laki-laki yang mencari jawaban atas sebuah tanya yang ia tidak tahu pasti, tema ini terdapat pada cerpen Have You Ever, yang saya membacanya cukup mengkerutkan kening supaya mengerti, maksud Dee menulis cerpen ini apa, selain itu juga ada cerpen berjudul Semangkuk Acar untuk Cinta dan Tuhan, di cerpen ini lagi-lagi Dee piawai sekali dalam menarik sebuah perenungan dari semangkuk acar hingga pembaca dibawa menelusuri makna pencarian akan cinta dan Tuhan hanya dari semangkuk acar. Kok bisa? Bahkan Dee juga menyisipkan tema reinkarnasi dan kemerdekaan sejati. Silahkan menikmati cerpen dan prosa dari seorang Dee!

*Resensor adalah mahasiswa IAIN SU dan bergiat di FLP Sumut

#Tulisan ini telah dimuat di Harian Medan Bisnis 25 Maret 2012