Selasa, 21 April 2009

ODONG-ODONG STORY

Minggu malam, 28 Desember 2008, (waktu O2 lg laris-larisnya)

MENANTI O2

Entah kenapa kalau lihat odong-odong beroperasi, bawaan ku mau ketawa mulu, geli aja gitu. Kesan odong-odong itu jadul, sederhana tapi mewah, unik, kreatif, dan salah satu fasilitas mencari kesenangan untuk anak di tengah susahnya hidup.

Malam ini kami berencanag naik O2 sambil makan singkong gaul made in dewe. Aku, ibu, dan si kecil Azizah bersiap-siap menunggu dan menanti kedatangan O2 di depan rumah.

Tepat pukul 08.30, O2 trip pertama lewat tapi ternyata sudah penuh dengan penumpang urunglah niat untuk menaikinya. Kami pun tetap menunggu tapi posisi menunggu sudah tidak di depan rumah lagi, soalnya banyak nyamuk, gelap-gelapan lagi, jadinya kami pindah ke depan rumah nek Sirat yang lebih terang dan ada bangku buat nunggu.

Tak lama berselang setelah kami hijrah, O2 yang dinanti pun datang, O2 trip kedua pun lewat, tapi penonton harus menelan kekecewaan sekali lagi, karena kali ini pun O2 overload alias penuh jek!.

BTW, setiap kali O2 lewat, aku gak akan pernah lupa buat ketawa, hahaah. Eits...kembali ke Menanti O2. Apakah kami berhasil menaiki O2 dan berkahir happy ending everafter?. Ikuti terus kisahnya.

15 menit kemudian

Jam sudah menunjukkan pukul 09.00WIB, O2 yang ketiga datang dan kelihatan berhenti di ujung jalanrumah nek Sirat, sepertinya akan ada harapan soalnya dari kejauhan nampak ada peumpang yang turun.

Benarlah kata pepatah kebanyakan dari kegagalan dalam kehidupan adalah karena manusia tidak sadarbahwa manusia nyaris sukses sewaktu putus asa. Tapi apa yang terjadi sodara2, ketika o2 itu lewat tak ada sisa satu bangku kosong pun untuk kami penumpang yang malang ini. Capek Deeeeh….!

Seperti lagu Ridho Rhoma—Menunggu, kami pun tetap menunggu walaupun cuaca udah mulai mendung,hembusan angin malam yang dingin terus menerpa wajah ini.

Tiba-tiba suara yang tak mengenakkna itu kembali terdengar dari jarak radius 200 meter—degedegedeg. Ini adalah O2 yang keempat yang kami tunggu. Ternyata memang tak diizinkan Allah untuk kami berodong2 ria malam ini, soalnya yang keempat ini juga penuh bahkan sampe ada penumpang yang harus bergelantungan disisi tiang O2. Wah…gak iya neh, singkong gaul ku yang tadinya buat makan di atas O2, malah dah abis gara ku makan saat masa iddah alias masa menunggu tadi.

Akhirnya karena udah ngantuk plus dikerubungi nyamuk, angin-angin tanda mau hujan sudah mulai ngamuk.Yoda lah menanti O2 untuk hari ini cukup sampai disini dulu. Sampai jumpa diwaktu dan lain kesempatan dari studio satu Zee Zee FM, nurul pamit Assalamualaykuuuum.

To be continued..



Rabu sore, 11 Maret 2009
AKHIR DARI SEBUAH PENANTIAN

Akhirnya setelah sekian lama harapan untuk naik O2 terpendam, sore ini sepulang dari
kursus menjahit barulah terwujud.

Bercampur perasaan geli (mau ketawa aja bawaannya) dengan mantap aku panggil “Odong-Odooooooooong” dan berhentilah dia untuk mengangkut diriku sang penumpang yang istimewa ini. Dengan anggunnya naiklah diriku ke ata O2, dimulai dengan kaki kanan sambil baca bismillah dan mendarat muluslah pantatku dan terduduk mannislah di gerbong kedua O2, hanya aku penumpang yang ada di gerbong kedua bersama kenetnya.

Semua mata tertuju padamu, kurasa cocoklah slogan dari program Miss Indonesia disematkan pada diriku saat itu. Soalnya pas di atas O2 perasaanku mengatakan bahwa sepanjang jalan semua orang melihat aku, deuuu…jilbaber naik O2, deuu…cantik-cantik naik O2 begitulah kurang lebih kata orang2 yang melihatku naik O2 (woi…lebay woi!). Untung gila ku lagi gak kumat soalnya ku sempat berniat untuk melambaikan tangan ala Miss Universe kepada orang2 yang melihatku di sepanjang jalan, hahahha .

Momen yang kayak gini ni yang kutunggu-tunggu, ngobrol bareng sama kenet O2nya. Maklumlah naluri seorang penulis yang bawaannya pengen tahu dan pengen nanya tentang segala hal lagi berkibar-kibarnya kayak jilbabku yang berkibar-kibar disapa angin sore yang sepoi-sepoi.

Namanya Bang Rismar, sepertinya dia PUJAKESUMA alias PUtra JAwa KElahiran SUmatera, agak kurus, hitam manis, rambut cepak plus murah senyum. Bang Rismar salah satu kenet O2 yang kunaiki, dia bertugas di gerbong kedua (Yaelaa…bertugas? Digerbong kedua? bahasanya kayak menceritakan suasana di kereta api eksekutif gitu ya kan padahal kan nggak).

Sepanjang jalan ku berbincang-bincang renyah sama si Abang kenet. Aku menanyakan kenapa sepi penumpang di O2 yang kunaiki ini. Beliau bilang memang kalau sore agak sepi penumpang, ntar abis maghrib barulah penumpang agak ramai. Satu pertanyaan sensitive yang sempat ku tanyakan pada si Abang kenet yang tidak mau kupanggil Bang Mar ini yakni soalnya soal penghasilan perhari yang di dapat dari menarik O2 ini, dengan sumringah si Abang menjawab,” Ya…kalo lagi rezeki, Alhamdulillah pernah perhari dapat lima ratus ribu (what?, menjanjikan juga ya narik O2). Pertanyaanku berlanjut, “Lah…itu di bagi-bagi la ya bang?”. Si abang yang paginya berprofesi sebagai pengacara (pengangguran banyak acara) dan sore sampe malamnya jadi kenet O2 ini menjawab “iya, tapi setelah bayar setoran, beli solar, baru bisa dibagi tiga (kenetnya 2 orang, sopirnya 1 orang). Mendengar jawabannya aku pun ber O..O ria.

Acara talkshow dadakan yang disiarkan secara langsung di atas O2 ini sempat terhenti gara-gara dipertengahan jalan aku disapa sama anak muridku yang lagi main guli dipinggir jalan “Ummiiiiiii” teriaknya, dalam hatiku Cuma bisa ngedumel (duh, mati aku, ketahuan anak murid ni, kalo aku lagi naik O2 ). Tuh, kan satu kampong pada heboh aku naek O2. Susahnya jadi artis.

Bincang-bincang pun berlanjut, dari si Abang aku dapat informasi yang terakurat, tercepat, terdepan, bombastis, fantastis, dahsyat, bahwa O2 yang kunaiki in punya tempat pemberhentian si jalan Damar, tepatnya di rumah sang Juragan O2, sang juragan punya 2 unit O2. Trus di Medan ada sekitar 50 unit O2, tentunya dengan rute dan juragan yang berbeda-beda pula.

Tak terasa aku dah memasuki jalan bambu bentar lagi aku nyampe rumah.
Dasar akunya memang selebritis kali ya…ibu aku yang lagi santai kayak di pantai dan lagi duduk-duduk di depan konter hape adiknya, hysteria melihat aku di atas O2 (Whahaaahaaa…si Nurul naek Odong-odong). ?!!!

Tepat di depan warnet DeGaRa aku diturunkan. Dengan pe de nya aku turun (walaupun banyak pengunjung warnet yang lagi nonkrong2 di depan warnet melihatku turun dari O2). Namun aku cuek aja yang penting hasrat ingin naik O2 telah terpenuhi.
Hehey..berhasil…berhasil, Horrey!

THE END

Rabu, 01 April 2009

KALA SEPASANG ESMUD MERAJUT CINTA


Judul Buku : Menjemput Hidayah Cinta
Pengarang : Tunggul Tranggono
Penerbit : Salsabila Kautsar Utama
Tahun Terbit : 1, Januari 2009
Tebal : 484 halaman

“Setiap hamba selalu membutuhkan hidayah pada setiap waktu dan kesempatan, dalam setiap perkara yang hendak dikerjakan atau ditinggalkannya.” (Ibnul Qayyim al-Jauziyyah)

Selalu berpenampilan rapi, dari ujung rambut sampai ujung kuku, wangi, ganteng-ganteng, cantik-cantik, kerja di perusahaan bonafit dengan gaji sekian puluh juta, bergaya hidup serba wah--hedonis, kurang lebih seperti itulah penggambaran para eksekutif muda zaman sekarang.

Namun bagaimana dengan kehidupan percintaan mereka?. Apakah semulus kehidupan karir mereka yang terus meroket atau malah adem ayem saja karena keasyikan meniti karir hingga lupa cari jodoh. Atau malah sebaliknya, banyak mereka yang menghindar dari kita karena kita terlalu sulit untuk diraih. Kalaupun telah mendapatkan sang pujaan hati segalanya juga masih belum tentu pasti, belum tentu pasti jalannya akan mulus-mulus saja apalagi jika sudah ada niat untuk meneruskannya ke jenjang yang lebih serius.

Adalah Adhitomo digambarkan sebagai sosok laki-laki yang islami dan taat beribadah. Pembawaannya yang sopan, ramah, perhatian dan peduli membuat banyak orang menaruh banyak simpati. Tak ayal lagi dengan kesempurnaan yang dimilikinya: ganteng, fisik atletis, tajir, sang eksekutif muda mapan surga ini pun menjadi incaran kaum hawa.

Ternyata segala kemudahan yang dimiliki Adhitomo membuatnya tidak mudah untuk mendapatkan wanita idaman hatinya.

Hingga suatu ketika, Adhitomo yang bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta di mutasikan ke Medan.. Kota yang terkenal ‘keras’ ini ternyata mampu meluluhkan hati Adhitomo.

Corina Anastasia, gadis Medan yang berhasil meluluhlantakkan hati Adhitomo sang arjuna. Corina merupakan sosok yang sama dengan dirinya dalam hal kelebihan dan keunggulan fisik maupun kecantikan lahiriyah. Sayang seribu sayang, ada tembok tebal yang membatasi keduanya untuk bersatu. Perbedaan keyakinan antara mereka. Adhitomo sendiri pun menyadari bahwa tidak mungkin baginya meruntuhkan penghalang itu.

Sebuah novel yang menggugah dan menyentuh hati. Porosnya pada konflik batin sang tokoh utama wanita, Corina Anastasia. Corina memutuskan untuk meninggalkan keyakinan lamanya. Langkah yang ditempuh Corina juga harus berhadapan dengan resiko yang tidak kecil. Dia harus rela terbuang dari rumah, keluarga dan lingkungannya. Namun, Corina tidak menyerah. Corina yang memang cerdas mengatur pelarian dirinya mencari keyakinan barunya dengan sangat baik dan terencana. Berhasilkah mereka bersatu kembali dalam satu ikatan yang sakral dan bahagia untuk selamanya?.

Mengangkat tema kisah percintaan ala eksekutif muda cukup menarik, seringnya tema yang diangkat masalah percintaan remaja yang cenderung klise membuat pembaca bosan. Tunggul Tranggono sang penulis yang telah memasuki masa pensiunnya dari tempat ia bekerja dan masih aktif menulis diberbagai media ini mencoba mencari suasana yang berbeda.

Novel ini beliau tulis dengan maksud untuk memberikan suri tauladan bagi generasi muda khususnya agar segala pola pikir dan perilakunya senantiasa berdasarkan kepada akidah dan tatanan yang benar, khususnya saat berinteraksi dengan lawan jenis. Beliau merasakan semakin menipisnya karakter dan moral dikalangan generasi muda zaman ini.

Dari dialog para tokoh utamanya kita sedikit banyak dapat pelajaran tentang cara bergaul yang diatur dalam islam tak terkesan menggurui tapi cukup mudah dimengerti. Hanya saja Adhitomo yang paham agama saja masih suka melanggar ajaran agamanya sendiri, memang wajar manusiawi tapi, bagaimana dengan orang awam yang mengaggap itu adalah sebuah kewajaran.

Terlepas dari semua itu, novel ini mengajarkan kita untuk menjalani segala penderitaan cinta dengan ikhlas dan kejujuran hati untuk menemukan dan mendapatkan cinta sejati. Selamat membaca.

Kamis, 26 Maret 2009

HOARDING : SAKIT GILA NO.28




Sebelumnya saya mau tanya apakah pembaca telah melahap Novel Best Seller abad ini : Laskar Pelangi?


Mungkin ada yang belum (maksudnya belum dua kali bacanya ) ada yang sudah dan lain-lain.


Masih ingat dengan sepotong kisah dari novel itu yang menceritakan teori tentang panyakit gila yang dibuat ibu si Ikal?


Baiklah jika Anda tidak ingat, saya akan mencoba memanggil ingatan Anda itu.
Begini isi teori itu:
“Saat itulah aku mendengar untuk pertama kalinya teori canggih ibuku tentang penyakit gila. Gila itu ada 44 macam, semakin kecil nomornya semakimparah gilanya Gila yang menduduki urutan no.1 adalah orang-orang yang sudah tak berpakaian lagi dan lupa diri di jalan”.Yang akan saya bahas bukan ke 44 sakit gila tersebut satu persatu. Tapi saya akan membahas sakit gila no.28, Hoarding.

Sekilas Tentang Hoarding


Saya sadar saya bukan ahli psikologi, tapi saya mencoba menelusuri untuk Anda gejala psikologi ini walaupun tak sampai sedetil mungkin. Karena mau tak mau sakit gilaini akan atau sedang menyerang kita dan orang-orang sekitar kita hanya saja kita tidak menyadari hal itu.


Kata Hoarding menurut kamus Inggris-Indonesia karangan John M.Echol dan Hassan Shadily: menimbun, dari kata dasar Hoard yang artinya timbun.


Hoarding adalah sebuah gejala psikologis yang ditandai dengan hobi aneh mengumpulkan barang-barang rongsokan tak berguna tapi sayang dibuang. Pelaku Hoarding disebut Hoarder.
Ada-ada saja gejala psikologis aneh yang dialami manusia akhir zaman ini.


Memang tanpa disadari gejala ini telah mengidap di diri saya sendiri seperti suka mengumpulkan bangkai-bangkai pulpen yang tintanya sudah habis lalu mengumpulkan buku-buku pelajaran waktu saya klas 1 SD pun masih ada bertumpuk di rak di sudut kamar.Kalau nenek saya hobi mengumpulkan tempat bedak yang isinya sudah habis. Kalau Anda apakah punya pengalaman gila juga?


Pertanyaannya adalah kenapa tidak dibuang, dijual atau disumbangkan saja?. Itulah hebatnya Hoarding. Dan jawaban yang keluar dari si hoarder adalah “jangan dibuang suatu saat itu pasti akan berguna atau jangan! Itu masih di pake”. Kan gila gak tu namanya?, yang ada malah merusak pandangan dan menyempitkan ruangan.

Obat Penyakit Gila No.28


Di Amerika, para hoarder yang suka mengumpulkan hewan peliharaan sampai membentuk sebuah tim, tepatnya “Hoarding Prevention Team’, dengan adanya tim atau komunitas dapat membantu para hoarder pengumpul hewan ini untuk mencegah mereka mengumpulkan hewan pelliharaan lebih banyak lagi. Bukannya dilarang untuk memelihara hewan peliharaan dalam jumlah banyak sampai bisa buka kebun binatang mini, tapi masalahnya kebanyakan para hoarder ini tidak merawat hewan-hewan tersebut dengan baik dan susah bagi para hoarder untuk mengikhlaskan hewan peliharaan tersebut pergi.


Solusi dari saya, untuk saya dan semua pembaca dalam mengatasi penyakit gila ini dengan cara menyisihkan waktu luang kita untuk focus membersihkan barang rongsokan tersebut seperti mengumpulkan barang itu dalam satu kardus besar, lalu kalau memang bisa dijual ya dijual saja ke tukang botot.


Pada saat membersihkan usahakanlah si hoarder didampingi oleh seseorang yang waras yang dapat menyadarkan si hoarder itu bahwa barang-barang rongsokan itu memang sudah waktunya dibuang dantidak baik juga untuk kesehatan jiwa dan raga.


Dan tahukah Anda, ternyata bila kita berhasil menyingkirkan barang-barang bekas itu, rasanya lega luarbiasa. Kamar atau ruangan kita jadi lebih luas, segala yang menyakitkan mata sudah dienyahkan. Lakukanlah lalu perhatikanlah apa yang terjadi, begitu kata Pak Mario Teguh menutup acaranya.

ODONG-ODONG HAHAHA



Satu benda yang jika disebutkan berhasil menggelitik perutku, membuatku ingin tertawa, kadang tersenyum-senyum sendiri dalam setahun terakhir ini, yup kata itu adalah odong-odong hahaha, sekali lagi!, odong-odong hahaha, lagi!, odong-odong hahaha, lagi!, ah udah ah, kapan ceritanya dimulai nih.


Memang sejak beberapa tahun terakhir yang namanya odong-odong sedang naik daun, bisa diilang artis papan ataslah, saking terkenalnya dikalangan anak-anak. Entah siapa pencipta kata unik tersebut “odong-odong”, apakah dari bahasa Sansekerta tau dari bahasa mana. Ah entahlah perlu penelitian lebih lanjut sepertinya atau tanya saja pada rumput bergoyang.

Hiburan Anak Yang Murah Meriah


Praktis tak ada lagi pusat permainan anak yang murah meriah dan terletak di pusat kota , sejak Taman Ria Medan dirobohkan dan sudah berdiri megah pusat perbelanjaan terbesar di Medan, Plaza Medan Fair.


Dulu sewaktu saya masih kecil, asal ke Taman Ria saya paling suka naik odong-odong. Odong-odong yang berbentuk mobil-mobilan, kuda-kudaan atau tokoh karton. Untuk menaiki mainan tersebut kita harus memiliki koin khusus yang dijual pengelola. Saat naik odong-odong itu, saya tidak mau turun, yang penting tetap di atas odong-odong yang bergerak naik turun maju mundur dengan lembut sampai membuat saya terkantuk-kantuk dibuai odong-odong, kalau diangkat untuk digendong pasti saya menangis. Untung saya tidak ditinggal pulang orangtua saya, kalau itu terjadi saya sudah jadi anak pengelola odong-odong itu kali ya!:).


Walaupun Taman Ria sudah tidak ada kalaupun ada tapi jaraknya cukup jauh dari rumah serta mungkin saja harga satu permainan tidak seterjangakau seperti dulu. Kini, para bocah tidak perlu repot-repot ke mal ataupun ke Taman Ria untuk mencari hiburan. Mereka cukup nangkring di depan rumah mnunggu odong-odong lewat. Untuk menaiki odong-odong cukup membayar Rp.2000, sekali putaran.


Nama Kerennya Kiddi Ride


Ada berbagai macam odong-odong atau Kiddi Ride, mulai dari yang berbentuk kuda-kudaan atau komidi putar yang digerakkan dengan ontelan kaki sang operator, ada yang membutuhkan 1 koin atau 2 koin seperti yang ada di Taman Ria dulu atau sekarang masih ada di mal-mal, sampai kereta dua-tiga gerbong yang digerakkan dengan mesin bermotor. Untuk membuatnya lebih menarik perhatian, dipasanglah peranti pemutar musik dan pengeras suarau untuk melantukan lagu anak-anak.


Mainan ini memasarkan diri dengan cara jemput bola, mendatangi perumahan-perumahan. Mulanya mereka menjamur di perumahan-perumahan di Jakarta dan kota-kota di pinggirnya. Namun, kini sudah merebak di seluruh penjuru tanah air termasuk kota Medan.

Senin, 23 Februari 2009

YANG PUTUS YANG DIKEJAR




Pemandangan Unik


Ada pemandangan yang unik setiap sore di sepanjang jalan yang sering saya lewati sepulang mengajar mengaji yakni melihat sekelompok anak—mungkin sekitar tiga atau lima orang yang ramai-ramai berlari mengejar layang-layang putus. Satu hal unik dari yang terunik lainnya yang hanya terjadi di Indonesia tercinta ini selain istilah tarik tiga saat mengendarai sepeda motor, mudik ke kampung halaman saat lebaran, naik odong-odong dan lain sebagainya.

Kadang saya suka tak habis pikir. Apa asyiknya mengejar layang-layang putus?. Padahal harga layang-layang tak begitu mahalnya—istilahnya tak samapi jual tanah, untuk ukuran sekarang mungkin harganya sekitar lima ratus perak sampai seribu perak, tidak sebandingnya dengan capeknya berlari hingga kiloan meter, belum lagi buat beli plester untuk mengobati kaki yang lecet dan berdarah akibat terantuk batu.
Bahkan layang-layang putus yang tak seberapa itu dikejar mati-matian, berlari di jalan tanah dan aspal dengan suara kaki bergemuruh, masuk gang keluar gang, meloncat pariit, memanjati pagar rumah dan sekolah. Tak peduli kendaraan yang bersileweran di kiri dan kanan yang bisa saja membahayakan diri karena mata ini terus menatap ke langit memantau posisi jatuh layang-layang, tidak sempat untuk melihat apapun yang ada di depan. Yang menghalangi rute perngejaran, semua di terobos. Sehingga sudah kejadian di Jawa ada anak yang gara-gara mengejar layang-layang tewas tertabrak mobil.

Sang Pemburu Layang-layang


Saya hampir berhasil mewawancarai seorang anak yang sudah menggantung tiga layang-layang berwarna emas di punggungnya, saya pikir dialah jawaranya tapi setelah saya mendekat padanya. Eh, si adik keburu mengejar layang-layang lagi. Aduh, capek deh.

Rasa penasaran saya tak terbendung lagi akhirnya saya mencari jawaban rasa penasaran saya dengan membuka blog orang yang punya pengalaman pernah mengejar layang-layang pada jaman dulu.

Sebagian para blogger sekaligus mantan pemburu layang-layang itu menuliskan pada blognya bahwa alasan kenapa begitu senang ikut mengejar layang-layang waktu itu adalah karena ramainya para pemburu dan serunya itu bahkan para bapak-bapak pun tak mau kalah ikut juga berpartisipasi mengejar layang-layang sampai rela di omelin isteri.

Selain itu gara-gara mengejar layang-layang, tak jarang kita jadi punya banyak teman sesama pemburu layang-layang dan melatih bakat lari yang selama ini terpendam.

Istilah Dalam Bermain Layang-layang


Ternyata bukan dalam pelajaran ekonomi, biologi, dan mata pelajaran lainnya yang punya istilah-istilah rumit sesuai bidangnya.

Tapi dalam dunia perlayang-layangan pun juga tercipta istilah-istilah unik bahkan tidak tercetak pada kamus bahasa indonesia penerbit manapun.

Dalam blognya Bill Antoro menuliskan bahwa, “ Aku tak tahu apakah ini istilah umum, namun inilah istilah yang kudapat dari pergaulan dengan teman-temanku yang bersuku Betawi dulu”.

Gelasan, benang tajam untuk aduan. Lasnur, benang dari tali pancing yang dilumuri bahan pembuat gelasan sehingga tajam. Kenur, benang standar yang tidak tajam. Talikama, ungkapan untuk benang yang mengait pada dua bagian rangka bambu di atas dan bawah layang-layang. Manteng, posisi stabil layang-layang. Singit, layang-layang tidak stabil saat mengudara. Pongkol, menjatuhkan layang-layang ke benang dekat tangan lawan. Dol, ‘mencuri’ benang lawan yang kalah adu. Ngimpul, layang-layang putus terbang jauh tinggi. Ngentip, layang-layang terbang tinggi kadang sulit terlihat. Tarik-tarikan, kondisi di mana dua layang-layang bertemu dan gesekan benang di antara keduanya tak menyebabkan salah satunya putus.

Tradisi Yang Mulai Langka


Walaupun tradisi bermain dan mengejar layang-layang di perkotaan tak semeriah di pedesaan dan bahkan mulai langka, akibat terbatasnya ruang bermain anak-anak yang ada di perkotaan bahkan sudah dikalahkan dengan permainan yang berteknologi seperti Playstation, Game on Line, dan lain sebagainya.

Namun, satu pelajaran yang dapat kuambil dari kondisi anak-anak Indonesia bahwa ditengah gempuran zaman, kesulitan diberbagai bidang khususnya ekonomi, ‘Sungguh beruntung manusia yang dapat mengail kesenangan dalam kondisi apapun dari hal-hal kecil yang sederhana”.

Mudahan-mudahan saja tradisi ini tidak benar-benar hilang tergerus zaman, karena inilah yang akan kita rindukan dan akan menjadi bahan kenangan, bahan cerita untuk anak cucu kita kelak. Tidak hanya untuk permainan layang-layang dan mengejar layang-layang putus, tapi juga untuk permainan rakyat lainnya, semoga tetap eksis dan anak-anak Indonesia bangga memainkannya.

Senin, 16 Februari 2009

Berbagai Dilema Ketika KHS Dibagikan

Berbagai Dilema Ketika KHS Dibagikan

“Ketika kita diragukan kredibilitasnya, diremehkan apapun yang kita lakukan, maka tunjukkanlah akhlak mulia dan kecerdasan emosimu. Setiap orang memiliki hati nurani maka sentuhlah nuraninya dengan kelembutan akhlak dan kekuatan ayunan do’a”.

Hari Complain Se-IAIN SU

Welcome back to campus!!!, bagaimana perasaan kamu setelah sekian lama penantian bolak balik habiskan ongkos dari rumah ke kampus atau dari kampung halaman bela-belain ke kampus demi mengetahui hasil belajar kamu di semester lalu?. Beragam kali ya, ada kecewa, capek, marah, asem, asin, manis (lah kayak lemon tea aja).

Itulah hidup,anak muda, penuh perjuangan. Tappi, setelah KHS keluar rasa kecewa gara-gara menunggu dan menunggu lenyap seketika. Eits…tapi tunggu dulu, lagi-lagi perjuangan belum berkahir anakmuda. Setelah KHS sudah di tangan dan di depan mata tertulis di sana, mata kuliah “X”, 4 SKS, E, gubrak!, atau terdengar komentar kok dapat C? aku kan rajin, rajin nabung, rajin sholat, bla…bla…bla. Dan ekspresi lainnya yang beragam saat KHS dibagikan, semuanya kembali kepada masa lalu, mengingat-ingat dosa apa yang telah diperbuat pada semester lalu. Mungkin bisa dibilang hari itu adalah Hari Complain Se-IAIN SU.
Kayak pengalaman sobat saya yang buat hati ini sedih, miris, kecewa, marah, sakit hati. Diaman-mana tu ya dosen itu gak pernah salah (ingat Pasal 1 Dosen tak pernah salah, Pasal 2, Kalau dosen salah, kembali pada Pasal 1) yang ada malah mahasiswa yang dirugikan.

Jadi ceritanya begini, pada mata kuliah 4 SKS ini sobatku itu dapat nilai C, dia seorang yang mendapat C, jelas ini adalah tindakan ketidakadilan. Setelah di complain pada dosen ybs, ternyata ada nilai tugas yang kosong. Padahal waktu pengumpulan tugas akhir, sobatku iu ngumpulnya di depan mata kepala dosen itu, teman-teman sekelas saksinya. Lalu kami tanyakan lagi pada dosen itu,boleh kami lihat tugas akhir kami yang kami kupulkan berupa makalah itu, mungkin saja nama sobatku terselip. Dengan entengnya sang dosen menjawab,makalah itu sudah tidak ada lagi (dah di bototkan kali ya?). Kesal gak sih???. Kesalahan sebenarnya terletak pada siapa sih?. Dah gitu sodara-sodara, sang dosen yang merasa dia yang paling benar ini, betapa susahnya minta ampun untuk memintanya mengubah nilai sobat saya itu. Setidaknya jika sang dosen tersebut merasa bersalah dengan bijaksana dia mau mengubah nilai sobat saya, paling tidak dengan nilai B dan mengakui bahwa sobat saya itu mengumpulkan tugasnya. Tapi, ini lain ceritanya berkeras sang dosen tetap tidak mau mengubah nilai sobat saya. Masalahnya bukan terletak pada nilai C atau B tapi, lebih kepada jerih payah sobat saya saat membuat makalah tugas akhir tersebut, bagaimana saat sobat saya berjibaku mencari bahan di internet, ongkos mengetik dan menjilid makalah, ongkos internet yang pada akhirnya tidak diapresiasi dan dikosongkan nilainya, palaknya lagi makalah yang telah kami kumpulkan telah tidak ada lagi keberadaannya di tangan dosen itu.

Tapi, bagaimana pun hak si kawan ini harus diperjuangkan. Karena kata orang bijak, Kesabaran itu adalah sesuatu yang terpji kecuali,ketika agama dihina, harga diri dikoyak, dan HAK DIRAMPAS.

Tips-tips Complain
Satu hal yang harus dihindari oleh kedua belah pihak (mahasiswa dan dosen ybs) saat ber-complain ria adalah marah. Kalau semuanya marah siapa yang mau didengarkan dan mendengarkan.

Berikut adalah tips complain nilai, yang baik dan benar dari penulis berdasarkan pengalaman, guru kehidupan yang paling baik:
  1. Siapkan bukti atau pembelaan yang sebenranya dari mahasiswa ybs bahwa pada saat perkuliahan sang mahasiswa menjalani semua prosedur kegiatan belajar seperti jarang absen, selalu mengumpulkan tugas tepat waktu, dll. Be honest aja lah!.
  2. Pasang muka innocent, tetap tenang, dan gak pakai marah ingat sekali lagi tak pakai marah-marah. Jelaskan masalah yang sebenarnya.
  3. Lebih baik bertemu langsung dengan dosen ybs. Jangan complain via telepon. Kan kerugiannya banya pulsa kamu berkurang tak bertambah. Selain itu,dosen yang diajak bicara pun belum tentu fokus pada masalah kamu, karena mungkin saja mahasiswa yang complain bukan kamu seorang.
  4. Liat mood atau suasana sang dosen juga, kalau beliau lagi sakit atau lagi gak tepat waktunya diajak complain, mending gak usah complain dulu. Ditunda dulu bro!
  5. Complain secara massal ( tapi jangan anarkis ya sampe bawa peti mayat segala), maksudnya ajak kawan2 yang punya masalah yang sama dengan dirimu. Jadi kamu tidak merasa sendirian dalam mengahadapi masalah kamu.
  6. Jangan menyerah, perjuangkan hakmu sampai dapat, tapi kalau gak dapat juga janagn dipaksakan, gak baik buat kesehatan.Ambil hikmahnya,mungkin kamu harus lebih baik lagi di semester berikutnya, atau kamu kan bisa memperbaiki nilai mata kuliah tersebut dengan mengambil Semester Pendek misalnya atau perbaikan nilai ke semester bawah. Allah memang menimpa kita dengan kesulitaan tapi Dia juga menyiapkan jalan keluar dan kemudahan yang banyak pula.
  7. Hindari merayu,menggoda atau bahkan memberi hadiah/uang demi mendapatkan hak kita. Pegang teguh idealismemu sebagai mahasiswa yang berpikiran kritis dan intelektual bukan dengan cara yang menghinakan diri seperti itu. Jika ada gelagat dosen yang ada “maunya” laporkan ke akademik atau ke polisi aja sekalian.
  8. Setelah semua usaha telah ditempuh, usaha yang terakhir adalah bermohon dan berserah kepada Yang Maha Mendengarkan complain-mu itu dan Yang Maha Pembolak Balik Hati Manusia dan Meluluhkan Hati yang Keras Menjadi Selembut Salju.

-SeLaMaT MeNeMpUh SeMeSTeR BaRu!!!-

Semoga Bemanfaat.
Wallahu a’lam Bishowwaab.

Petualangan Seorang Pahlawan Devisa di Champs Elysées


Judul :Luka di Champs Elysées
Pengarang : Rosita Sihombing
Penerbit :Lingkar Pena Publishing House
Tahun terbit : I, Agustus 2008
Tebal : 198 halaman
Jenis Buku : Fiksi

Petualangan Seorang Pahlawan Devisa di Champs Elysées

Mungkin jika dikumpulkan akan ada ratusan atau bahkan ribuan cerita pengalaman dari para TKI yang mengadu nasib di luar negeri. Gelombang TKI ke manca negara sering kali menjadi berita panas, terutama terkait dengan isu-isu penangkapan, pemerkosaan, hukuman mati, penganiayaan dan deportasi. Namun disisi lain banyaknya TKI di luar negeri merupakan salah satu solusi sekaligus harapan baru.

Sebagai solusi berarti bahwa kepergian warga sebagai TKI untuk mengadu nasib di banyak negara tetangga berarti wujud kesadaran dan keberanian masyarakat Indonesia untuk maju dan tidak menyerah dengan kondisi saat ini yang tidak mendukung. Mereka berani berkorban untuk merubah nasib bahkan sampai rela kelurga negeri meninggalkan keluarga dan kampung halaman yang amat dicintai.

Terkisahlah Karimah, seorang muslimah Indonesia yang bekerja di Riyadh dan memutuskan untuk melarikan diri dari majikannya. Ia tak tahan dengan segala bentuk penindasan yang dilakukan oleh sang majikan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa majikan Arab dikenal memperkerjakan pembantu hampir 24 jam dan gaji mereka pun paling-paling tidak jauh dari angka 750 – 1200 real/bulan, atau setara dengan 1-1,5 juta. Karimah termasuk TKW yang tidak beruntung karena mendapat majikan yang semena-mena ddengannya. Kekerasan hingga pelecehan seksual kerap ia rasakan. Setiap hari, setiap detik ia selalu bersahabat dengan kecemasan, ketakutan dan ketidaknyamanan. Hingga pada suatu hari, sang majikan sekeluarga hendak berpelesiran ke Paris dan mengajak serta Karimah.

Betapa senangnya hati Karimah ketika diajak ke Negeri Napoleon itu, negeri sejuta mimp.Paris. Karena ini adalah kesempatannya untuk kabur dan di jalanan Champs Elysées-lah ternyata kesempatan itu ada.

Petualangan baru dalam hidupnya pun dimulai. Berhasilkah Karimah melarikan diri dan petualangan seperti apa yang dialami muslimah ini dan mampukah ia bertahan di negeri yang sama sekali tidak ia ketahui mulai dari bahasanya, orang-orangnya, kebudayaannya, benar-benar buta akan Paris?

Melalui tema yang sederhana ditambah mimpi yang sederhana dibalut kata-kata yang sederhana dari kisah perempuan sederhana dan pemikiran yang sederhana, sang penulis bernama lengkap Rosita Sihombing ini mencoba menyampaikan pesan pada pembaca bahwa inilah salah satu potret nasib para TKI khususnya TKW, tak ada hukum yang benar-benar melindungi hak mereka. Padahal sumbangan devisa yang diberikan para TKI kepada negara ini mencapai angka lebih dari Rp.100 Triliun, makanya sebutan Pahlawan Devisa melekat pada mereka karena jasa mereka itu.

Membaca novel ini membuat saya selaku pembaca terbuai dengan Paris versi penjabaran sang penulis yang bersuamikan orang Prancis ini. Dari pendeskripsian Paris dari tulisan saja sudah indah, bagaimana pula dengan Paris yang sesungguhnya tentunya akan lebih sangat indah lagi. Mungkin perasaan serasa di Paris akan lebih terasa jika ada peta mungil yang tercetak dalam buku ini.

Lebih daripada itu kisah dalam novel bercoverkan pink ini sangat memikat. Perpaduan antara kepiluan dan kesadaran atas sebuah adagium, bahwa betapa pun dalam penderitaan manusia. Ia pasti segera bangkit. Selamat Membaca!