Setiap kali ditanya, “mintalah PIN BB nya?”, aku selalu jawab se-cool mungkin dengan jawaban, “boleh, tapi BB ku masih di showroom =)”. Si kawan pun merespon dengan senyuman. Oke aku pun melanjutkan hidup dan menikmatinya.
Tapi semakin lama semakin gerah dengan pertanyaannya yang sama meski tetap menjawabnya dengan jawaban yang sama dan se-cool mungkin, namun responnya, malah daku yang dituduh sombong dan bohong. Kali ini ndak bisa dibiarkan.
Apa yang salah ketika BBku masih di showroom? Mengapa aku harus memaksakan diri dengan permintaan semua orang terhadap PIN BB dengan begitu detik itu juga aku ke dealer HP dan beli BB? So what?!
Astaghfirullah, haruskah dengan BB kita baru bisa jalin silaturahim? Gak kan? Sosial media ada, hp dengan fasilitas SMS ada. Lalu? Dengan seenaknya kita menuduh orang lain bohong dan sombong kalau memang kenyataanny belum ada?
Oh, C’mon, friend, jalinan komunikasi kita gak bergantung pada rangkaian nomor dan huruf pin BB agar kita sama-sama connected.
http://maipura.wordpress.com/tag/blackberry/V
Hahaha, sorry memang agak sensitif, tapi memang agak gak suka dengan yang terlalu cepat menilai orang lain, gak punya pin BB langsung di cap bohong dan sombong, mungkin sebagian nanggepin santai saja tapi bisa jadi sebagian lain jadi gak respect kan =(
Bukan, bukan ini bukan tagline sebuah asuransi :D the power of we , tapi ini tentang kita, kawan =)
Ini tentang obsesi yang terarah, tidak mengeruhkan tapi malah membeningkan hati dan jiwa seorang pemuda berusia 23 tahun. Satu-satunya yang dia tahu adalah hanya orang yang paling bertaqwa yang berhak mendapatkannya.Dan hanya sebaik-baik pasukan yang layak mendampinginya dalam penyerbuan bersejarah itu.
Maka, menjelang penyerbuan bersejarah itu, tepat di sepertiga malam terakhir, pemuda tersebut berdiri dan meminta semua pasukannya juga ikut berdiri.
“Saudara-saudaraku di jalan Allah” serunya, “Amanah yang dipikulkan ke pundak kita menuntut hanya yang terbaik yang berhak mendapatkannya, Tujuh ratus tahun lamanya Rasulullah menginginkan kota ini untuk ditaklukkan, namun Allah belum mengizinkan, dan sekarang Aku katakan pada kalian, yang pernah meninggalkan shalat fardhu sejak baligh, silahkan duduk!”
Sunyi, tak seorang pun bergerak
“Yang pernah meninggalkan Puasa Ramadhan, silahkan duduk!”
Lagi-lagi hening, bahkan keringat jatuh sekalipun bisa terdengar saking heningnya
“Yang pernah mengkhatamkan Al Qur’an melebihi sebulan, silahkan duduk!”
Dan kali ini segelintir orang perlahan menekuk kakinya, berlutut berurai air mata
“Yang pernah kehilangan hafalan Al Qur’annya, silahkan duduk!”
Kali ini semakin banyak calon pasukan yang menangis, khawatir bila tak ikut jadi ujung tombak pasukan. Mereka pun duduk
“Yang pernah meninggalkan sholat malam sejak baligh, silahkan duduk!”
Hanya beberapa yang masih berdiri, dengan wajah tegang, detak jantung bergemuruh, dan tubuh menggeletar.
“Yang pernah meninggalkan puasa Ayyamul Bidh, silahkan duduk!”
Akhirnya semua terduduk lemas, namun hanya satu orang yang masih berdiri gagah, Ialah sang pemimpin pasukan alias sang sultan, Muhammad Al Fatih. Kota yang menjadi obsesinya untuk ditaklukkan dan juga maklumat Rasulullah tujuh abad lalu adalah Konstantinopel.
Pertanyaannya sekarang, apa yang membuat Al Fatih sebegitu terobesinya, hingga rela mempersiapkan usia mudanya untuk berhak jadi pemimpin pasukan menaklukkan Konstantinopel?
Ternyata jawabnya adalah dari hadis Rasulullah yang sering dibacakan pembimbing sang sultan waktu kecil, Syaikh Aaq Syamsuddin, Mufti di istana Sultan Murad.
Isi hadis itu: Rasulullah pernah ditanya oleh salah seorang sahabatnya, “Mana yang lebih dahulu yang dibebaskan, Konstantinopel ataukah Roma?, lalu Rasulullah menjawab ‘Kota Heraclius (Konstantinopel) lebih dahulu. Yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pasukan. Dan pemimpinnya adalah sebaik-baik panglima”
Sebab isi hadis itulah, Al Fatih kecil mulai membeningkan dirinya, menjauhi kehidupan mewah istana, berguru kepada para ulama, ibadah dengan khusyu’ dan berdoa setiap hari ‘Ya Allah, jadikan aku sebaik-sebaik pemimpin atau sebaik-baik prajurit!’
Visi, kita butuh visi kawan yang membuat kita kuat, disaat kita lemah kita baca lagi visi kita, kita ingat lagi visi kita, begitupun di organisasi yang kita geluti. Kebeningan visi akan mengokohkan jiwa dan menumbuhsuburkan cinta.
Bening. Sesuatu yang mudah dibayangkan. Mudah dihayati. Mudah dirasakan. Menggerakkan, terbit inisiatif!
Tahu mengapa surga digambarkan begitu bening oleh Allah? …Dan naungan pohon-pohon surge itu dekat di atas mereka dan buahnya digampangkan memetiknya dengan semudah-mudahnya. …Mereka dikelilingi pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kau lihat mereka kamu akan mengira mereka mutiara yang bertaburan…” (QS. Al Insaan:11-21). Karena fitrah manusia adalah diberikan sesuatu yang jelas, terdeskripsi, nyata.
Nah sekarang, kawan, jika visi dan tujuan kita dalam organisasi itu jelas, semua alam semesta yang bertasbih memuji Allah itu pasti membantu kita. Tapi jika tujuan kita kabur, maka kawan-kawan dalam organisasi itu yang ingin membantu malah jadi bingung gak tahu mau bantu apa gak tahu mau melakukan apa, kapan harus membantu, dan bagaimana caranya membantu. =( sehingga insiatif itu kurang, kreativitas meredup,
Contoh sederhanya begini, kita tekad ‘besok saya mau bangun pagi-pagi’, nah loh, jam 10, juga masih pagi =D. Coba umumkan ke seluruh penghuni rumah besok kita mau bangun jam 03.30 WIB, nah ini jelas toh? :D, next, kita juga pasang usaha, dengan mengatur jam weker atau alarm hp, dan ucapkan beberapa kali sebelum tidur ‘saya akan bangun jam 03.30’, maka alam bawah sadar kita pun akan bekerja jika semuanya spesifik dan jelas.
Jadi, kawan, yoklah kita beningkan lagi visi dan tujuan kita di organisasi ini. Mau kayak mana pun kebaikan akan cepat menyebar kalau kita menyatu, the power of us. dalam naungan visi dan tujuan yang bening tadi. Yang hendak, merapat, yang belum hendak mendoakan dari jauh pun jadi, pintu terbuka bagi siapa saja yang mau mencapai tujuan.
6 Syawal 1434 H
#digubah seperlunya dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, penulis Salim A. Fillah
…ketika kita jujur pada Allah atas target-target kita, Dia akan menggenapkannya untuk kita. Pasti (Salim A.Fillah)
Kata bijak diatas aku jadikan status di akun Facebookku, dan tak berapa lama muncul notif dari sebut saja namanya Danu *emang namanya Danu-_-* Danu ini memanggilku ‘cil’ sedangkan aku memanggil dia ‘tem’ sejarah panggilan cil dan tem itu bolehlah nanti kita adakan press conf nya yah bila ingin mengetahui keterangan lebih lanjut *kayaknya gak penting banget deh :D*
Balik lagi ke pembahasan :D, nah ada yang mau tahu dimana aku dapatkan kalimat bijak di atas? Yah apalagi kalau bukan dari buku yang sedang aku baca, tulisan Ustadz Salim A.Fillah.
Awalnya sama kayak Si Tem, aku gak ngeh dengan kalimat tersebut, tapi mari sini aku sederhanakan kalimat bijak di atas yah dengan sebuah pertanyaan paling popular sejak zaman dahulu kala, cita-cita kamu apa?
Semua orang sudah tidak asing lagi dengan pertanyaan itu kan?, apalagi sejak kecil sudah disuntikkan pertanyaan itu setiap kali jumpa dengan sanak saudara atau paling gak saat perkenalan di sekolah. Nah, kira-kira jawaban kamu apa? Beragam ya kan? Dokter, Polisi, Pengacara pokoknya gak jauh-jauh dari profesi, yah walaupun sebenarnya makna cita-cita gak sesempit itu setelah aku mengenal namanya hidup dan kehidupan *tsaahhh :D mendadak jadi sufi begini? Alias suka film – apaan sih?*
Cita-cita erat kaitannya dengan impian, keinginan, dan satu hal manusia adalah makhluk yang paling tidak pernah puas, betul? Untuk itu kita punya tombol untuk terus menyalakan “ingin”, what next ? what next? Dan what next dalam hidup. Kalau gak ada impian mah gak beda sama robot, hidup tapi gak ada nyawanya, gak ada nafsu, gak ada harapan. Justru dengan rajin menyalakan sinyal harapan dalam hidup, hidup kita makin lebih hidup.
Cumaaa, hanya sajaa, ternyata cita-cita kita tadi, tidak bisa jadi sekadar, sekadar cita-cita, sekadar ingin. Bila kita sekadar ingin, berarti kita belum benar-benar menginginkannya dan bisa jadi juga sebab itulah Allah menunda untuk menjadikan itu terwujud untuk kita. Nah Loh? :O
Dan, udah mau dekat ini kita dengan inti pembahasan, jadi sebenarnya impian, cita-cita, harapan dan kawan-kawannya itu harus kita detailkan, kita rincikan, kita buat proposalnya, kita buat kalender kerjanya, bah udah kayak organisasi aja. Emang, kita ini adalah organisasi, bener gak? Tersusun dari berbagai organ tubuh kan? :D ada hal yang sebelum kita bisa mengurus orang lain, memimpin sebuah kelompok, tentu kita harus bisa dan telah mengurus diri sendiri, mengorganisasi diri sendiri, kenal dengan diri sendiri, dengan begitu jadi lebih mudah deh menghadapi diri sendiri dan mengontrol diri sendiri. Masih ingatkan kata bijak yang ini, musuh paling nyata sebenarnya itu adalah diri sendiri. Kalau bukan kita yang menaklukkannya siapa lagi?
Termasuk urusan cita-cita, mau jadi Penulis, cukupkah dilisan saja, aku mau jadi penulis! Lalu? *krik krik*
Nah, rancang deh, mau jadi penulis itu … kalau perlu buat mind map, semacam peta dia. Bila susah mengawalinya, bisa diawali dengan pertanyaan 5W+1H dan pertanyaan tersebut ditanyakan ke diri sendiri yah, teori itu sungguh sangat membantu. Apa itu Penulis? Kenapa ingin jadi Penulis? Kapan kita bisa disebut jadi Penulis, buat rincian waktunya, kalender kerja yang aku bilang tadi di awal? Dimana nanti ruang kita bekerja? Bagaimana atau langkah apa yang membuat kita jadi penulis?
Hati-hati dalam menjawab pertanyaan untuk diri sendiri itu, sekilas gampang, tapi agak sulit, karena memang harus JUJUR, JUJUR pada ALLAH, artinya keinginan tersebutlah yang begitu amat sangat kita inginkan dan yang kita tulis dan yang kita bawa dalam tiap doa dalam sholat kita. Kalau sudah begini, apatah lagi, tunggu saja Allah akan menggenapkan cita-cita kita untuk jadi Penulis.
Penjelasan aku tersebut hanya contoh sederhana saja, masih banyak contoh yang lain, dan sudah aku praktekkan, hasilnya WOW, walau gak persis sedetil yang kita tuliskan tapi Allah mewujudkannya jauh lebih baik daripada apa yang kita detilkan. Gak percaya?
Contoh nyatanya saja, aku adalah orang yang hobi travelling ala ransel gitu deh, maklum masih ya oma ya oma :D, tapi aku gak peduli, sebaik aku punya keinginan untuk jalan-jalan, maka keinginan itu langsung aku tulis di kertas HVS bekas dengan menggunakan krayon, keinginan itu aku tulis sekitar awal tahun 2011, bunyinya kurang lebih seperti ini:
Aku ingin jalan-jalan ke Barus, Padang, Sumedang, Bangka Belitung
Udah empat destinasi itu saja di tahun 2011, eh siapa sangka di akhir 2011, ada rejeki bisa ke Barus dan tahun 2012 ada rejeki lagi ke Padang.
Sayangnya impianku itu gak aku detilkan, harusnya aku detilkan, misal: mau ke Barus, nah pake resep wawancara diri lagi pake rumus 5W+1H tadi, begitu seterusnya.
Aturan mainnya versi diriku adalah IMPIAN >TULISKAN >>> DETILKAN >>> TEMPEL DI TEMPAT YANG GAMPANG DILIHAT >>> USAHA>>> DOA >>> lalu perhatikan apa yang terjadi.
SEMANGAT! Karena hidup adalah misteri, SUBHANALLAH! Kalau gak hidup itu misteri, mungkin aku gak akan segila ini berlelah lelah demi surga di kehidupan yang lebih abadi. Akhirat! Semoga bermanfaat, teman =)