Jumat, 04 Mei 2012

DIALOG INTERAKTIF : THE POWER OF PUBLIC SPEAKING


            Selesai urusan yang satu, maka beralih lah pada urusan yang lain. Aku yang masih muda dan aku forever young ini #ngaca dulu ^_^ berusaha bagaimana caranya mengejar ilmu sampai ke manapun meski itu gratis #yaelah siapa juga yang bisa nolak ada majelis ilmu yang bisa dihadiri secara gratis =D.
            Jum’at siang (27/4) aku yang selesai siding skripsi dan kawan-kawan dari FLP SU menghadiri Dialog Interaktif ‘The Power of Public Speaking’ di Pelataran Rumah Berdikari. Pembicara yang dihadirkan nggak tanggung-tanggung, Najwa Shihab—Presenter Mata Najwa di Metro TV dan Jeremy Tetty—Pembawa acara Liputan 6 SCTV. Peserta yang hadir terdiri dari kalangan mahasiswa, pers kampus, insan pers, dan masyarakat umum.


            Acara dimulai pukul 15.00 WIB oleh Mae selaku pembawa acara dan mempersilahkan ketua panitia menyampaikan kata sambutannya. Diketahui bahwa terselenggaranya acara ini berangkat dari tangan-tangan dingin sejumlah anak muda yang tergabung dalam LSM Mutumanikam Nusantara Center. LSM ini baru berdiri di Medan dan digawangi oleh Meutya Hafid. Mufid—begitu panggilan akrabnya, membantu anak-anak muda yang tergabung dalam LSM MNC dengan mendirikan sebuah rumah yang diberi nama rumah berdikari, rumah berdiri di kaki sendiri. Rumah ini kata Mufid disela-sela pidato pembukaannya siang menjelang sore, diharapkan bisa menjadi rumah, tempat berdiskusi tentang masalah kepemudaan, tempat share ilmu, dan hal postif lainnya. Rumah Berdikari terletak di Jl. D.I Panjaitan No. 161 Medan.
            Selanjutnya adalah acara inti yang telah dinanti-nanti para hadirin. Acara tersebut dimoderatori oleh Boy Henry—GM Delta FM Medan. Siang hari yang gerah tidak menyurutkan semangat para hadirin untuk makin merapatkan tempat duduk, semakin lama semakin ramai. Tibalah pembicara pertama yakni Najwa Shihab. Najwa yang  tampak manis dalam balutan kemeja kotak-kotak warna coklat lembut mengaku dulunya ia adalah anak yang pemalu, namun orangtua khususnya ummi-lah yang mendorongnya menjadi anak yang PD dengan cara mengikutkan Najwa pada lomba-lomba seperti lomba busana muslim, MTQ dan lain-lain, Najwa juga menambahkan pengalamannya dalam mengikuti beberapa organisasi saat di kampus dulu cukup membantunya untuk ‘vokal’ di depan umum. Selain itu Najwa juga mengungkapkan penelitian bahwa Hal yang paling ditakuti orang adalah takut berbicara di depan umum, sedangkan takut mati ada diurutan ke 7 dari daftar hal yang paling ditakutkan manusia. Aneh ya? #garuk-garuk idung. =D
            Sebelum closing Najwa memaparkan beberapa tips buat kita semua yang ada disini #hihihi macam mau konser yah ^_^.
1.      Know your room. Sebelum kita berbicara di depan umum, pastikan kita mengetahui tempat yang bakal kita isi acara mereka, dengan begitu kita mengakrabkan diri terlebih dahulu dengan suasananya dengan begitu bisa mengurangi rasa gugup
2.      Know your audience. Kenali audiens kita siapa, apakah dewasa, remaja atau manula?, jadi kita bisa sesuaikan gaya ngomong kita sehingga bisa masuk ke dunia mereka, gak mungkinkan yang hadir para remaja dan anak muda, tapi pembicaranya ngomong layaknya berhadapan dengan manula, bisa kabur para hadirinnya hehehe.
3.      Know what you say, yaeyalah, kalau kita gak tau apa yang mau kita omongin, gimana orang bisa percaya dengan apa yang kita omongin, bisa-bisa ntar kita dibilang ular berbisa kayak yang dinyanyikan Hello Band =D
4.      Atur Cara Bernafas, sebelum bicara kita sering dilanda sesak napas mendadak akibat rasa grogi yang tidak dimenejemen *deuuu bahasanya hihihih. Caranya sebelum ngomong n tindakan ini diduga bisa mengurangi rasa grogi menjadi beberapa persen *ambil kalkulator, hitung persenannya, (ini mau ngasih tips apa mau jualan sih?) =D*. Caranya: tarik napas perlahan, tahan, hitungan tiga lepaskan lewat mulut, ulang-ulang sebanyak tiga kali yah, jangan kebanyakan ntar gak jadi ngomong di depan eh malah keterusan jadi pelatih yoga *hihihih*
5.      Set of Mind, jangan pikir, poin ini sama seperti men-set kipas angin, mau kencang tinggal puter ke angka 3 hehehe, tapi setting pikiran kita, urutkan apa saja yang hendak disampaikan, poin besarnya apa, jika telah menguasai poin besarnya, selanjutnya kita bisa kembangkan dan improvisasi sesuai kadar ilmu kita dan kadar yang bisa ditangkap sama audiens. Gimana? Cucok? #bungkoossss. Yang penting ada opening, isi materi, closing (kesimpulannya). Gampangkan?  =D
6.      Jangan Ngaku Klo Gugup. Kita sering bicara di depan sebelum mulai ke inti pembicaraan seperti ini ‘Duh, mahaph ya, saya agak ribet ngomong, karena saya grogi menghadapi cowok-cowok ganteng yang ada disini’, gak penting banget dibilang begitu, orang gak bakal tau kita grogi kalo gak kita bilang, so¸santai ja, grogi ntu cuma diawal aja, ntar dimenit-menit berikutnya malah kita lebih enjoy =D

Pembicara yang dinanti-nanti berikutnya adalah Jeremy Tetty, JT khas dengan alunan suaranya yang aduhai tralala sewaktu membawa program Liputan 6 SCTV yang jam 12 malam, Salam SCTV ( kata Salam diucapkan biasa saja, namun pada kata SCTV terjadi gemulai nada di detik-detik mulai menyebut huruf V *ribet amat yah, penjelasannya, dah mending saksikan langsung dah ke TKP*

            Menurut JT, Grogi itu perlu, karena jika Allah tidak menganugerahkan rasa grogi di hati kemungkinan besar kita tidak akan mempersiapkan penampilan kita sebelumnya dengan baik, jika itu terjadi maka kita hanya akan mempermalukan diri kita sendiri di depan umum.  Tips How to be a good publis speaker dari seorang JT cukup sederhana namun penting. Menurutnya ada 4 hal:
1.      Penampilan, jangan sampai salah kostum
2.      Perhatikan cara duduk, duduklah dengan pinggang tegak
3.      Cara berdiri, temukan blocking yang tepat di atas panggung (jika menggunakan panggung) agar penonton bisa sepenuhnya focus ke kita selaku pembicara.
The last¸prepare makes perfect, rumusnya adalah 1:30. 1 jam berbicara di depan umum namun latihannya 30 kali. Begitu idealnya jika ingin memberikan hasil maksimal sebagai public speaker professional, gimana? Wanna try?
Yup, itulah catatan perjalanan yang bisa daku bagi ke zeereaderssekalian, semoga bermanfaat yah, yang jelas JT dan NS membuat simulasi kecil-kecilan dengan cara meminta peserta untuk berani tampil sebagai public speaker di panggung, ada 9 peserta yang berani tampil namun hanya 3 peserta yang dinila JT dan NS sebagai the best speaker of that day. Congratulation yeaahh. ^_^
Senangnyaaaa bisa menyerap ilmu langsung dari sang ahli. =D

 

Kamis, 03 Mei 2012

Pernikahan dan Angka Tiga Puluh


Judul               : 9 Weddings and A Wish
Penulis           : Ifa Avianty
Penerbit        : Lingkar Pena Publishing House
Cetak              : II, Agustus  2011
Tebal              : 336  Halaman


       
               
Me and This Romantic Novel
            Sebenarnya risiko tingkat tinggi baca novel beginian *hihihi, berasa megang aliran listrik yang tegangan tinggi ya kan?, iya soalnya tentang wedang wedang gitu, eh wedding maksudnya =D.
            Errornya lagi aku baca sekuel ini dari yg sekual ke dua nya, yg Friendloveshipnya belum ku baca, gimana gak nyambung nya coba? Hehehe tapi tenang mb Ifa ngertiin pembaca banget, dia nulis seolah-olah ni novel gak punya sekuel, jadi tetep nyantai bacanya, gak pake mengerut-kerutkan kening.
            Kisah dibuka dengan Tricia, salahsatu member of TRG. Nah, Dialog batin Tricia ini membawa pembaca serasa bermain layang-layang, tarik ulur gitu. Si Tricia, yang artis  ini mau nikah tapi macam gak mau nikah dia, kalau kata anak muda zaman sekarang, galau. Tricia bingung dengan keputusannya menerima lamaran seorang pria kaya raya seperti Rey. Ok, kita tinggalkan sejenak Non Tricia yang sedang galau, sekarang kita move on  ke  Fe, gadis mapan yang bekerja sebagai perawat yang ditempatkan di ruang tindakan untuk bersalin. Nah, Fe ini sekilas aku banget *jiaahhh…emut lolipop *.  Fe, adalah anak sulung, yang harus merelakan S2 nya dan menyerahkan kesempatan itu pada adiknya, berkali-kali pula ia membantu usaha MLM adiknya yang lain, belum lagi prahara cintanya dengan Bram, ayah Bram tidak setuju jika Bram menikah dengan Fe. Galau gak tuh? Bangeeettt…. =D
            Ada juga Anna, pokoknya dari dua belas sahabat ini, semua diceritakan dengan gaya penceritaan masing-masing dengan karakter khas mereka pula *saluuuttt sama penulisnya lah (sepuluh jempol dah)*. Anna, seorang guru TK  yang akan menikah dengan Kang Tino, mantan pacar sahabatnya sendiri, Tere *hahahaha, kacau kan?, ntu lah hidup*
            Lalu ada Daisy, seorang tomboy tapi jago dalam hal Wedding Organizer, suka merokok malah. Si Daisy punya cinta mati sejak zaman SMA dulu sampai sekarang,Kak Didi, anggota Rohis di sekolah. Alim banget. Nge jemplak lah jika disatukan dengan Daisy yang blak-blakan =D. Apakah mereka berjodoh?
Ada juga kisah Happy yang jatuh cintrong sama bosnya yang seusia dengan bapaknya Happy, beda 30 tahun boooo....
Baca sekuel TRG yang kedua ini tentang pertempuran batin para perempuan yang tak kunjung ketemu jodoh di usia kepala tiga, sekali ketemu, ya begitu makin parah dialog batinnya, namun tetep dalam tiap dialog batin pembaca seolah diseret-seret masuk ke dialog mereka yang penuh kontemplasi makna-makna spiritual di balik pencarian mr. right.



Remah-remah Quote

            Baca buku tanpa catat quote nya seperti makan tanpa minum, gersang hehehe.
           
            Selamat menikmati quote-quotenya yah

” Jangan terlalu keras pada diri sendiri, An. Tanyakan seperti apa perasaan kamu sekarang? Perasaan itu halus, jika keras, maka  kita tidak dapat merasakannya” (hal.35)

“An, kehidupan seorang manusia pasti akan memiliki arti bagi yang lainnya. Jika ia tidak pernah  dilahirkan atau dilahirkan dalam bentuk yang lain, dia akan meninggalkan lubang yang mengerikan bagi orang lain. Kamu yakin kan?... you have been through a wonderful life yourself…”

There are a lot of things money can buy, but happiness is one of million things money can’t.

Orang jatuh cinta memang gak bisa disembunyikan

Satu hal lagi (hal. 134) persahabatn abadi tak akan lekang oleh waktu dan status. Sahabat sejati akan selalu berdoa dan melakukan yang terbaik bagi sahabatnya, demi kebahagiaan sahabatnya. Kita tak akan pernah sepi dan sendiri, jika punya sahabat sejati.

Cinta bisa datang dan pergi, tapi sahabat sejati akan tetap abadi. For the good and the harsh times in your life ever.

I would rather share one lifetime with you than face all the ages of this world alone… If you wanna know (Lord of The Rings)

…Tapi dia benar. Selama ini tanpa sadar, saya membentuk diri dengan konsep bahagia adalah bisa membuat orang lain bahagia. Bukan dengan konsep bahwa  bahagia adalah sebuah kondisi dimana diri sendiri menginginkannya, memilihnya, seiring dengan keinginan membagikannya bagi orang lain… (Fe, hlm 45)



Mencandai UN

 
            ‘Met mlm cin..? ad ma qm knci jwbn B. Inggris klau ad krm ma q y?’, sms itu masuk ke inbox hp saya pada 16 April 2012, sekitar pukul sebelas malam. Awal dapat sms tersebut sempat kaget dan tertawa, namun segera sadar bahwa ini sms salah kirim. Lalu, apa respon saya? Saya tidak membalasnya apa-apa, mau dibalas asal-asal dengan memberikan jawaban seenaknya, itu bukan karakter saya, mau direspon jujur, nanti dia malu sendiri, walau sebenarnya saya memang tidak mengenal no hp si pengirim, dan jika saya jawab jujur pun sebenarnya sah-sah saja, jika dia malu pun tidak seberapa, secara saya tidak melihat wajahnya dan bahkan tidak tahu. Lebih baik tidak direspon.
            Bukan masalah respon atau tidak diresponnya sms salah kirim tersebut yang hendak saya bahas disini, tapi fenomena UN yang sedang melanda pada civitas dunia pendidikan di Indonesia. Mungkin saya orang yang kesekian juta yang membahas fenomena UN, nah dari sekian juta itu pulalah saya ingin menyampaikan isi hati, kegalauan saya terhadap UN.
            Ada apa dengan UN? Tenang, pertanyaan tersebut bukan sekuel film Ada Apa dengan Cinta, tapi sebuah pertanyaan retoris dari saya. Tiap tahunnya UN atau Ujian Nasional menjadi momok menakutkan para civitas dunia pendidikan yakni para guru, siswa, dan orangtua. Apapun dilakukan demi sebuah kelulusan, lulus dalam UN, seperti sholat istighosah berjama’ah, mengundang ulama untuk berdo’a bersama, rela pergi ke sekolah subuh-subuh berbarengan dengan para pelaku pasar yang baru sampai dari gunung dan mengantarkan sayur mayur ke pasar, atau sejadwal dengan para loper Koran yang menanti pembagian macam-macam Koran untuk dijajakan ke pembaca, bahkan sanggup mendatangi dukun demi mendapatkan sebuah kunci jawaban, jadi teringat kisah Ikal dan teman-temannya dalam Novel Laskar Pelangi yang minta petuah pada Tuk Bayan Tula, dukun tersakti se-Belitong. "Kalau Nak Pintar, Belajar! Kalau Nak Berhasil, Usaha!" Itulah mantra yang diberikan Tuk Bayan Tula kepada anak-anak Laskar Pelangi saat mau menghadapi ujian.Lalu ada juga saya baca di catatan teman saya, diberitakan di televisi bahwa terkait dengan menyambut UN, pihak sekolah sampai mendatangkan tokoh spiritual untuk minta ‘sesuatu’ yang bisa melancarkan ujian, lalu sang tokoh membagikan Air Mineral Dalam Kemasan (AMDK) dan pensil kepada seluruh siswa. Ada juga teman saya cerita bahwa ia menonton berita bahwa ada siswa yang kemasukan (jin) sesaat setelah selesai menjawab soal UN, diduga ia menggunakan ilmu lain selain 3 ilmu yang diujikan dalam UN untuk menjawab soal UN. Hebat benar UN ini saya pikir, ketenarannya mempu menyeret-nyeret generasi muda kelembah hitam kesyirikan yang nyata, wajar jika Tuhan sering murka belakangan ini, masih terasa beberapa waktu lalu gempa 8,5 SR mengguncang wilayah Barat Indonesia.
             Sampai disini, saya masih bertanya-tanya lagi, adakah yang lebih rasional menanggapi hal ini? Lucu saja kesannya. Okelah tidak berdukun atau memakai mantra sakti lainnya. SMS yang salah kirim ke saya saja contoh sederhana, KPK berkoar-koar, No Corruption, Katakan TIDAK pada Korupsi, tapi kenyataannya, sejak diumumkannya UN, pemerintah sebenarnya turut mengumumkan, Ayo Korupsi!. Para guru mati-matian menggadaikan idealismenya demi sebuah soal dan mengerjakannya demi keselamatan murid-muridnya, lalu membagikan kunci jawaban selain itu bekerjasama pula dengan para pengawas, pengawas dan guru sudah TST, Tahu Sama Tahu, termasuk siswa. Para wartawan bodrek pun turut pula mengaminkan dengan memberitakan hal-hal yang tampak baik. Mencontek, memberikan jawaban adalah rangkaian kata kerja yang mampu membentuk dan menanamkan budaya tidak jujur, budaya curang, budaya korupsi, budaya TIDAK PERCAYA DIRI. 
            Jadi, salahkah UN? Jika UN bisa bicara, mungkin ia akan ngomong seperti ini, ‘Jadi salah gue, salah emak gue, salah nenek gue, salah atok gue’, UN kenapa jadi anak alay begini?
            Adalah bukan hal yang salah berdoa bersama, bahkan dianjurkan artinya masih ada iman yang terpatri di jiwa,  tidak ada pertolongan selain pertolongan Tuhan, namun itu semua dilaksanakan setelah ikhtiar atau usaha yang maksimal, dan muaranya adalah menyerahkan semuanya pada Tuhan, bukan ditambah dengan memberikan ‘sesuatu’ yang bertujuan mensugesti anak. Ada sebuah penggalan episode dari serial Doraemon, suatu hari Nobita uring-uringan menghadapi ulangan umum yang diadakan esok hari, seperti biasa ia pun membujuk Doraemon, robot kucing dari abad 20 dengan kantong, untuk mengeluarkan alat yang bisa membantu Nobita mengerjakan soal ulangan. Awalnya Doraemon menolak keras, namun Nobita pun tidak menyerah ia mengeluarkan senjata air mata (air mata tapi seperti air terjun saking kencangnya ia menangis). Doraemon tak tega, ia keluarkan sebuah permen karet dari kantongnya. Permen karet itu jika dikunyah bisa langsung membuat orang mampu mengerjakan soal ujian. Keesokan harinya Nobita pergi sekolah dengan hati riang dan menjalani ulangan dengan senang hati. Saat pembagian hasil, Nobita dapat nilai bagus. Kemudian ia berterimakasih pada Doraemon, lalu Doraemon tertawa dan member tahu bahwa permen itu bukan permen karet ajaib tapi permen karet biasa. Jadi, sebenarnya yang buat Nobita berhasil bukan permen karetnya tapi usaha keras Nobita dalam belajar sebelum ulangan. Doremon dan dukun sedikit mirip ya?.
             Salahsatu sifat terpuji adalah menolong, namun menolong demi sebuah kecurangan, masih termasuk sifat terpujikah? Saya pikir, guru adalah jelmaan malaikat, ia dianggap tahu  beberapa bidang ilmu, tahu mana yang benar mana yang salah, sifat-sifatnya terpuji karena ia menjadi seorang yang digugu dan ditiru. Keputusan menjatuhkan wibawa guru setiap tahun dengan berlaku tidak jujur, cukuplah sampai disini tidak untuk to be continued.
            UN tidak perlu jadi sesuatu yang ditakutkan tapi sesuatu yang dihadapi dengan gagah perkasa. Sejak awal memutuskan anak bersekolah, persiapkan ia dengan les tambahan, tidak berpatok pada nilai namun tak paham dengan yang dipelajari, belajar itu untuk jadi tahu dan mengerti bukan untuk sebuah rangkaian nilai 9 di raport atau rangkaian huruf A tapi tidak tahu apa-apa, tanamkan kepercayaan diri yang besar bahwa ia mampu melewati masa-masa ujian, tidak perlu stress, besarkan hatinya, lalu kesiapan guru dalam mengajar dan mendidik siswanya lebih diperhatikan. Tidak perlu ada memberikan sesuatu, seperti Pensil ajaib, AMDK ajaib dan permen ajaib kepada siswa. Semua bersinergi mencerdaskan generasi bangsa. Selamat Menempuh Ujian bagi tingkatan sekolah yang belum ujian dan selamat menanti kelulusan bagi tingkatan siswa yang telah menempuh ujian. Bangkit Indonesiaku!
              ''Yun krm ma q knc jwbn B. inggrislh'' , SMS itu datang lagi pada subuh pukul 06.05 WIB. Aku harus jawab apa??? #teriak-teriak di depan HP yang tetap akan membisu hihihih

#UN >>> Hadapi sajalah, nggak perlu bergalau-galau ria, kalo dah mempersiapkan bekal dari jauh-jauh hari kan, tak ada lagi yang perlu ditakutkan, ibarat potongan lagu My Heart Will Go UN eh ON  maksudnya, You Here (Persiapan yang Matang), There's nothing I Fear *eaaaaaaaaaaaaa... ^_^
           
#Tulisan ini telah dimuat di Harian Mimbar Umum, 05/05/2012

Omsas: Dicari Penyair Wanita!


           
          Medan (18/04) Tidak hanya program televisi, majalah, koran, bahkan status-status di sosial media saja  yang terkena demam emansipasi wanita, terkait April hendak menuju ke hari 21, Hari Kartini, tapi juga tema Omong-omong sastra kali ini.
            Bertepat di Kampus VI UISU Jl. Puri No.118 Medan, Omong-omong Sastra tetap berlangsung meski mendung bergelayut di langit bahkan sampai rahmat Tuhan—hujan mengiringi walau hanya sebentar. Acara dibuka dengan kata sambutan dari tuan rumah yakni Dekan FKIP UISU, Nihar Harahap. Dalam kata sambutannya Ia menghimbau agar Kebangkitan Omong-omong Sastra menjadi kebangkitan sastra di Kota Medan. Selanjutnya acara diberikan kepada S. Ratman Suras yang didapuk pengurus OOS yakni Raudah Jambak sebagai pembicara. Tema yang dibahas adalah ‘Membaca Sekilas Jejak Peta Kepenyairan Wanita Sumatera Utara’.
            Diskusi pagi menjelang siang itu diawali oleh pemaparan S. Ratman Suras tentang kondisi penyair wanita Sumatera Utara, dalam makalah sederhananya, ia menuliskan bahwa ‘Dibanding dengan pria, wanita lebih sedikit yang terjun ke dunia sastra, apalagi puisi’. Opini S. Ratman Suras tentang miskinnya penyair wanita khususnya Sumatera Utara dilihat dari frekuensi penyair wanita itu sendiri pada buku antologi puisi tunggal yang dibukukan. ‘Dari hitungan tahun 1995 sampai kini ada beberapa antologi yang bisa dicatat’, tulis S. Ratman Suras dalam makalahnya. Selain itu, menurut S. Ratman Suras timbul tenggelamnya eksistensi penyair wanita disebabkan karena kesibukan rumah tangga atau telah menemukan dunia lain yang dianggap lebih menjanjikan. Tentu, nama-nama seperti Murni Aryanti Pakpahan, Laswiayati Pisca, Susi Aga Putra, Rosliani, Jerni Martina Erita Napitupulu, Rosmaeli Siregar, Aishah Basar, Nur Hilmi Daulay serta Sumiati, adalah deretan nama penyair wanita Sumatera Utara yang kemunculannya sangat dirindukan kembali oleh penikmat sastra serta diharapkan juga mampu menebar semangat kepada penyair wanita lainnya.
            Adapun Raudah Jambak, turut menjadi pembicara dalam hajatan bergengsi ini. Ia berbicara tentang kondisi penyair wanita dari sudut pandang berbeda. Raudah Jambak mulai memaparkan masalah-masalah yang menyebabkan redupnya pijar eksistensi penyair wanita. Ia pun memulai pemaparan masalah dengan pertanyaan retorik, ‘Orang banyak menulis cerpen dan puisi tapi mental generasi muda tetap down, ini kenapa?. Kemudian Raudah Jambak melanjutkan penyebab mandegnya penyair wanita adalah adanya rasa cepat puas terhadap karya yang dilahirkan. Karya akan buat seseorang terkenal. Rendah hati akan menjadikannya abadi dan kesombongan akan menghancurkannya secara perlahan. Kritik lalu down  pun kerap menjadi penyebabnya pula, padahal jelas Raudah Jambak, Pujian itu sebenarnya racun sedangkan kritik itulah obatnya. Raudah pun mengakhiri penyebab itu semua dengan kata ‘Belajar’, belajar agar mampu setia, kesetiaan berkarya yang terus menerus.
Adalah kurang rasanya jika diskusi tanpa tanya jawab dan tanggapan, begitupun Omong-omong Sastra bulan ini. Awalnya moderator sepi penanya dan audiens yang hendak member tanggapan, namun setelah beberapa saat, muncul tanggapan dari YS. Rat. Dalam curahan pendapatnya, YS. Rat beropini bahwa kurang pas jika hanya melacak jejak penyair wanita dari jumlah buku antologi yang dihasilkan, karena menurutnya lagi saat Ia masih jadi redaktur di Harian Medan Bisnis, justru yang paling banyak mengirimkan naskah puisi adalah wanita, sampai ada seorang penyair wanita yang berkali-kali ia kirim naskah puisinya, berkali-kali pula belum dimuat-muat oleh redaktur, tapi sang penyair tetap saja mengirim tanpa ada kata menyerah, jelas YS. Rat saat menceritakan pengalamannya menjadi redaktur dan para hadirin tertawa renyah. Sembari menanti hadirnya penanya dan penanggap, S. Ratman Suras menanggapi kembali pernyataan YS. Rat, ia mengaku memang kurang melacak jejak puisi wanita di media cetak dikarenakan kesibukan yang ada dan itu menjadi saran yang berarti baginya.
Perlahan tapi pasti penanya mulai bermunculan, M. Fadhli, dalam hal ini ia menyampaikan kegelisahannya bahwa, mengapa sebegitu pentingnya membahas keberadaan penyair wanita, lalu apa bedanya dengan penyair pria? Tanggapan dari S. Ratman Suras bahwa hendaknya menulis tentang perasaan perempuan, selama ini perasaan perempuan lebih banyak ditulis oleh penulis atau penyair laki-laki. Sedangkan Raudah Jambak melihat wacana ini dari sisi yang berbeda. Fenomena saat ini lanjut Raudah, Guru Bahasa Indonesia lebih banyak perempuan, dan Bab yang paling sering dilewati adalah Bab yang membahas tentang sastra. Raudah mengajak para hadirin untuk gelisah terhadap fenomena ini, karena hal tersebutlah salahsatu penyebab hanya segelintir saja penyair perempuan yang muncul ke permukaan.
            Saatnya bangkit wahai penyair wanita Indonesia!

           

Dunia Kita Beda, tapi Tetap Satu Jua


       Beberapa waktu lalu aku silaturahmi ke rumah sahabat karibku. Kami sudah lama tak bertemu, lama tak saling bertukar cerita. Terakhir kali bertemu saat ia aku menjenguknya pasca melahirkan anak pertamanya. Tujuh bulan kemudian, barulah aku bisa menemuinya kembali, telah menggumpal rindu itu disini hehehehe.
          Rasanyaaa gimana gitu jumpa sahabat lama, banyak cerita, banyak keadaan yang sudah jauh berbeda. Ia dah emak-emak, awak masih saja single fighter hehehe. Aku, jika sudah berjumpa dengannya, adalah paling banyak dengerin cerita dia. Dulu zaman masih sekolah, yang diceritakan adalah segala mantan-mantan pacar dan pacar yang waktu  itu jadi pacarnya, tiga bulan tak bertemu sahabat karibku itu, eh tau-tau udah ganti gandengan lagi =D. Sekarang, tiba ia telah menikah dan punya anak, hal dominan yang ia ceritakan ya seputar anaknya dan yang paling buat aku senyum-senyum adalah provokasinya saat ia menyuruhku untuk segera nikah, heheheh, dalam hatiku, ia bu, mohon doanya ^^.
          Rul, nanti ko rasakanlah, begitu katanya disela-sela obrolan kami sambil ia mengawasi anaknya bermain.
          Sesekali ia menceritakan perkembangan anaknya dari hari ke hari. Ia juga cerita gimana rasanya telah hidup berumah tangga. Wuaah…apa gak makin panas nih si single fighter hihihihi.
          Hal positif yang aku peroleh dari silahturahmi singkatku hari itu, karena di hari itu pula aku dapat kabar mendadak tralalal dari kampus bahwa esok harinya aku siding skripsi, terpaksa aku mengakhiri pertemuanku dengan sahabatku secepat kilat. Jadi, aku semakin sadar, halloooo rul, dirimu dirinya dah beda dunia, tapi memang banyak pengalaman hidup yang aku dapat dari cerita-cerita dia ^^, saluut lah ma dia yang berani ambil keputusan nikah muda, salut sama kedua duanya =D. Lalu, sahabatku itu memang pantas dikarunia Allah seorang anak, tiga bulan pasca nikah langsung divonis hamil, apa gak girang trilili =D. Dan memang, gak mudah jadi ibu muda, banyak ilmu yang harus dikuasai buat jadi emak-emak T_T, aku ja jadi The Nanny selama 10 hari aja, amboi, mau nangis aja, ternyata kek gini emak awak ngurus awak waktu kecil ya, ruaaarrrrrr biasa sabar, kalo gak sabar, mungkin aku gak bakal hidup sampe sekarang ^^.
          Jadi, kapan wisuda? (dah punya jawabannya), kapan nikah? #menatap langit ^_^


         Sob, mau gimana pun keadaan kita nanti, kita tetap sahabat yah, mau jadi nenek-nenek pun kita, tetep yah jadi sahabatku =D, aku kan siap menjadi telinga buat cerita-cerita seru mu ^_^