Minggu, 11 September 2011

Libur Lebaran Menggebrak Barus: Negeri 44 Aulia #2

Masih di Hari 1

Perjalanan berikutnya
Makam Mahligai


Perlu diketahui Kecamatan Barus ini dikelilingi oleh 44 makam aulia (ulama). Sehingga liburan ke Barus seperti liburan atau wisata religi, banyak menziarahi makam. Makam berikutnya yang kami ziarahi adalah Makam Mahligai, 10 menit dari lokasi makam papan tinggi jika ditempuh dengan sepeda motor atau mobil.


Di lokasi ini terdapat lima makam syeikh yang terkenal Syekh Nuruddin dari Aceh, Syekh Mu’azam  Syah dari Arab, Syekh Khatib dari Arab, Syekh Hamzah Al-Fansur  dari Aceh. Murid Syekh Nuruddin wafat Abad ke 7 M, termasuk juga para tabi’in juga berada di lokasi pemakaman yang sama. 

Oh ya, ada beberapa makam  yang situsnya sudah dibawa ke museum yang ada di Medan, yakni makam Syekh Hamzah Al-Fansur.

Tidak seperti makam di papan tinggi, Makam Mahligai , kondisi makamnya adanya batu-batu seperti nisan yang menancap ke tanah. Kokoh, anggun, tua, bersejarah, lumayan beraroma mistis juga ditambah dengan tumbuhnya ilalang disekitar makam, ilalang yang tumbuh tidak begitu lebat namun cukup menyiratkan kesan kurang terawat. Hanya ada satu orang tenaga honorer dari pihak dinas kebudayaan yang ditugaskan merawat makam ini, itupun upahnya belum dibayar selama satu setengah tahun (kok bisa?). Oh ya, infonya lagi ternyata situs bersejarah yang ada di Barus di tanggungjawabi oleh Dinas Kebudayaan Banda Aceh. 

Huokelah, kita tinggalkan 220-an makam aulia dan murid-muridnya yang ada di lokasi Makam Mahligai ini. Semoga terus Berjaya dan terawat.
Sekali kali jangan pernah melupakan Sejarah begitu kata Bung Karno bersama Jas Merahnya ^_^.

Tips lagi nih:
Efektif banget belajar sejarah dengan datang langsung ke lokasi bersejarahnya, learning by doingnya berasa banget. Anak-anak pasti seneng banget, namun sebelumnya kudu ada pengetahuan dasar dulu sebelum mengunjungi tempat bersejarah itu. Jadi, bisa lebih menjiwai…seeehhhh…^_^
-Up Next- Karang Island =)

Libur Lebaran Menggebrak Barus: Negeri 44 Aulia #1

-->
Malam Keberangkatan
Libur lebaran tahun ini adalah libur lebaran yang termahal yang pernah aku habiskan ^_^. Yah, aku sengaja mempersiapkan budget dan segala halnya demi perjalanan ini. Oke langsung saja.
Kamis, pukul 21.30 WIB, tim ekspedisi Barus, ada Kk Fad, Molen, Cipta dan Ririn, berangkat menuju Barus. Alhamdulillah perjalanan berlangsung lancar, aman plus menegangkan. Pasalnya jalan yang kami lalui saat 2 jam lagi menuju Barus, turut menguji adrenalis, yah perjalanan kelok-kelok, belum lagi melewati sisi yang berbukit polos, lebar jalan yang kecil hanya cukup untuk satu mobil dan di sisi lain jurang menganga.  Menegangkan bukan?
Tapi Alhamdulillah terlewati juga, pukul 08.10 kami sampai di Barus. Hmm…aroma pantai menyeruak ke hidungku. Barus I’m coming ^_^
Rumah kak Lia, sederhana, namun hangat =).  Rumah papan, panggung, sama seperti kebanyakan gaya rumah di daerah pesisir. Oh ya, jendelanya banyak, karena rumah panggung, dan jendela yang terbuka lebar, dari rumah bisa leluasa lihat anak-anak pesisir bermain masak-masakan dari dalam rumah atau anak pesisir yang main patok lele. Asyiikk banget. Jauh dari kesan kota, ih…I really miss this situation ^_^.
 Hokeh, tuan rumah begitu bahagia melihat kedatangan kami, langsung saja kami disajikan makan siang dan merencanakan perjalanan sore nanti.
Ke Makam Papan Tinggi lalu ke Makam Mahligai and the last destination mandi di Sungai yuhuuu…
Petualangan Hari 1:
Menaklukkan Papan Tinggi
What? 700 anak tangga? Yang bener aja J. Wuokelah, percuma bidadari diturunkan ke bumi kalau tidak bisa menaklukakkan 700 anak tangga.
Selesai makan siang dan solat Jum’at serta solat Zuhur, dan mandi *soalnya dari semalam belum mandi hihihih. Kami pun pergi ke TKP.
Dengan mengendarai sepeda motor teman-temanya kk lia, kami berangkat ke Makam Papan Tinggi. Dari daerah rumah kk lia, mungkin sekitar 15 menit ke tempat bersejarah itu.
Untuk menuju ke papan tinggi, kita disambut oleh tugu papan tinggi  di sebelah kiri jalan. Selain itu kita harus berjalan sejauh ½ km untuk menuju anak tangga. Dan saudara2, petualangan menggemporkan kaki pun di mulai.

tugu makam papan tinggi
Hosh..hosh..!, tips menaiki anak tangga adalah kalau sekiranya sudah letih jangan dipaksakan, istirahat 3 menit baru mulai jalan lagi. Oh ya, jangan lupa bawa bekal minum dari rumah yah, emang sih disetiap ujung tangga ada yang jual minum tapi mahal bo..Aqua sedang aja di jual Rp. 10.000, coba di darat mah Cuma Rp.3000. Harga Aqua di langit dan di bumi beda yah hahahah.

sebelum naik, poto2 dulu ah ^_^

Makam ini banyak didatangi oleh masyarakat setempat bahkan masyarakat di luar Barus seperti warga dari Aceh Singkil, Sibolga, bahkan dari luar pulau Sumatera. Ckckcckc. Bahkan saudara-saudara, anak-anak juga ada loh yang semangat banget naik tangga, belum lagi ibu hamil, 9 bulan bo’ usia kandungannya, namun semangatnya luarbiasa, malah daku yang panik, bagaimana jika anaknya brojol disini. Gak kebayang deh @_@.

700 anak tangga *soalnya dihitung =)

Yup inilah dia makam Syaikh Mahmud Al-Yamani yang berada di 200m dpl daerah Barus Pananggahan.  Menurut berita yang beredar, Syaikh Mahmud al Yamani adalah sahabat nabi yang menyebarkan islam melalui perdagangan di daerah Barus.
 
Sesampainya di makam, pengunjung diharuskan melepas alas kaki.
Biasanya pengunjung makam melakukan doa yang dihadiahkan untuk syaikh dan murid-muridnya, ada juga pengunjung yang berfoto menikmati keindahan alam Barus dari ketinggian. 
Hah ini lah pemandangan Barus dari ketinggian, terlihat ulat bumi di ujung sana? itu namanya Pulo Karang, ikutin catatan ini yah, kita juga bakal menaklukkan Pulo Karang yg kata warga Barus, pulo yang eksotis  gak pake erotis ^_^

Wedew..kalau sudah bercerita sejarah pasti passwordnya gak jauh-jauh dari konon katanya:
1.    Ukuran makam syaikh mahmud selalu tidak konsisten, kalau diukur dari kepala-kaki  7 m, tapi kalau diulang dari kaki-kepala bisa 6 m. Nah loh? Bawa meteren yah kalo mau ke makam ini hehehe
2.   Ada sebuah sumur di dekat makam, konon sumur kecil ini tidak pernah berhenti mengalirkan air, namun seiring perkembangan zaman nan edan ini, sumur kecil itu kering.

sumur kecil

3.   Makam ini dijadikan peziarah sebagai tempat melabuhkan keinginan. Keinginan yang hendak dicapai ditulis lalu dibungkus dalam sapu tangan dan digantungkan di pohon yang tumbuh disekitar makam. Jika keinginan tercapai, maka wajib dating ke makam lagi dan melepaskan saputangan itu dari pohon. Wew…believe it or not dah ^_^
4.   Makam ini selalu terlihat bersih dan rapi, padahal tidak ada orang khusus yang bertugas merawat makam.
Seeppphhh apapun mitosnya, yang jelas, ketika kamu pulang dari manapun pastikan gak meninggalkan sampah kalau bisa pun kutip sampah yah. Jiwa go green-nya di munculkan dong. Kalau bukan kita siapa lagi?.

poto2 dulu sebelum turun tangga =)


 Ikuti perjalanan Zee terus yah... =)

Up Next -Makam Al-Mahligai-

Sabtu, 10 September 2011

BINTANG YANG BERWARNA WARNI

Judul : Bintang
Pengarang : Win R.Gs
Penerbit : Wal Ashri Publishing Medan
Cetakan : 1, Juni 2008
Halaman : 184 halaman

Anak-anak bukanlah buku mewarnai. Kau (orang tua) tidak bisa begitu saja mengisi mereka denagn warna-warna kesukaanmu (orang tua).
(Rahim Khan, salah satu tokoh dalam The Kite Runner)

Kalimat bijaksana di atas dikutip dari sebuah novel yang bestseller di Amerika Serikat berjudul “The Kite Runner” yang menceritakan salah satunya tentang sebuah hubungan yang rapuh antara ayah dengan anak laki-lakinya, sedangkan dalan novel berjudul “Bintang” ini berkisah tentang sebuah hubungan yang rapuh antara ayah dan anak perempuannya.

Terkadang orang tua terkhususnya Ayah, mempunyai karakter yang keras, tegas, setiap perintahnya pantang untuk dibantah, dingin, kejam, ringan tangan dan karakter antagonis lainnya, yang kesemuanya itu membuat suatu hubungan menjadi rapuh antara anak-anak dan ayahnya. Ayah menjadi sosok yang ditakuti dalam keluarga. Padahal maksud orangtua melakukan atau bersikap seperti itu pada anak-anaknya adalah wujud cinta dan kasih sayangnya pada anak, tapi bagi si anak—sang buku mewarnai menganggap bahwa orangtua membencinya dan membuat efek trauma jangka panjang bahkan seumur hidupnya yang akan dia kenang seperti sosok Bintang dalam novel ini.

Novel perdana yang ditulis oleh seorang Win R.G alumnus UMSU yang berprestasi ini menceritakan kisah hidup seorang anak perempuan bernama Bintang. Tokoh Bintang di masa kecil dalam novel yang banyak mengambil setting di Indrapura, Batu Bara ini merupakan sosok anak manusia yang tumbuh dan berkembang layaknya anak-anak manusia lainnya, berlari, bermain, memanjat pohon, membantu orang tua, punya rasa ingin tahu yang besar dan ingin belajar banyak hal.

Bintang kecil sudah memancarkan cahaya atau kemilau dalam pribadinya. Memiliki kecerdasan, linguistic, matematis, logis, yang ditandai kemampuan dalam membaca, berbicara, berhitung, menulis puisi dan karangan. Walaupun ia tumbuh dan berkembang diantara anak-anak desa lainnya, namun cita-citanya tidak sama dengan anak desa lainnya.

Cita-citanya patut diacungkan jempol, walaupun untuk menggapai cita-cita itu ia harus rela berpisah sekian lama dengan keluarganya di kampung, hal ini selain karena semangat tinggi yang dimiliki Bintang untuk bersekolah setinggi-tingginya juga karena ultimatum bapaknya bahwa ‘jangan pulang sebelum jadi orang’, wah,wah…bisa dibayangkan perasaan seorang anak perempuan dibiarkan merantau ke luar desa dengan membawa beban ultimatum Bapaknya untuk tidak pulang sebelum berhasil.

Seperti remaja pada umumnya dan dalam novel tentunya tidak lengkap kalau tidak dibumbui cerita cinta, Bintang remaja juga pernah jatuh cinta pada seorang pemuda yang pada akhirnya seiring Bintang beranjak dewasa, ia menyesali cintanya.

Penulis bernama lengkap Winarti ini sungguh pandai menggelitik pembaca dengan menampilkan berbagai karakter teman-teman Bintang semasa di SD hingga SMA, karakte bapaknya yang keras, karakter ibunya yang lembut, karakter saudara-saudaranya dan karakter guru-gurunya.

Semua itu mengandung rasa rindu pembaca untuk bernostalgia ke masa-masa ketika masih berada di kampung—masa-masa kecil, remaja dan masa-masa SMA, dan merantau ke negeri orang untuk melanjutkan sekolah dengan segala warna-warni hidup yang memang harus dijalani untuk menuju manusia dewasa seutuhnya.

Novel bergenre seperti ini yang menceritakan tentang masa lalu seseorang berbasis kisah nyata yang dikisahkan dalam bentuk novel lagi tren di pasaran. Dan mengutip sebuah kalimat bijak dengan membaca novel seperti ini bahwa “Kadang-kadang kita harus belajar dari masa lalu atau kesalahan orang lain. Kita tidak sempat untuk hidup lama hanya untuk melakukan kesalahan atau masa lalu itu”.

Terlepas dari semua hal itu, novel ini dapat memotivasi pembaca belia untuk mulai berkreasi hingga dapat menuju sukses sebagaimana sukses Bintang yang diceritakan. Oleh karena itu novel ini sangat baik untuk dikonsumsi oleh kalangan remaja, dewasa bahkan orangtua. Selamat Memiliki!

ODONG-ODONG STORY

Minggu malam, 28 Desember 2008, (waktu O2 lg laris-larisnya)

MENANTI O2

Entah kenapa kalau lihat odong-odong beroperasi, bawaan ku mau ketawa mulu, geli aja gitu. Kesan odong-odong itu jadul, sederhana tapi mewah, unik, kreatif, dan salah satu fasilitas mencari kesenangan untuk anak di tengah susahnya hidup.


Malam ini kami berencanag naik O2 sambil makan singkong gaul made in dewe. Aku, ibu, dan si kecil Azizah bersiap-siap menunggu dan menanti kedatangan O2 di depan rumah.


Tepat pukul 08.30, O2 trip pertama lewat tapi ternyata sudah penuh dengan penumpang urunglah niat untuk menaikinya. Kami pun tetap menunggu tapi posisi menunggu sudah tidak di depan rumah lagi, soalnya banyak nyamuk, gelap-gelapan lagi, jadinya kami pindah ke depan rumah nek Sirat yang lebih terang dan ada bangku buat nunggu.


Tak lama berselang setelah kami hijrah, O2 yang dinanti pun datang, O2 trip kedua pun lewat, tapi penonton harus menelan kekecewaan sekali lagi, karena kali ini pun O2 overload alias penuh jek!.


BTW, setiap kali O2 lewat, aku gak akan pernah lupa buat ketawa, hahaah. Eits...kembali ke Menanti O2. Apakah kami berhasil menaiki O2 dan berkahir happy ending everafter?. Ikuti terus kisahnya.

15 menit kemudian


Jam sudah menunjukkan pukul 09.00WIB, O2 yang ketiga datang dan kelihatan berhenti di ujung jalanrumah nek Sirat, sepertinya akan ada harapan soalnya dari kejauhan nampak ada peumpang yang turun.


Benarlah kata pepatah kebanyakan dari kegagalan dalam kehidupan adalah karena manusia tidak sadarbahwa manusia nyaris sukses sewaktu putus asa. Tapi apa yang terjadi sodara2, ketika o2 itu lewat tak ada sisa satu bangku kosong pun untuk kami penumpang yang malang ini. Capek Deeeeh….!


Seperti lagu Ridho Rhoma—Menunggu, kami pun tetap menunggu walaupun cuaca udah mulai mendung,hembusan angin malam yang dingin terus menerpa wajah ini.


Tiba-tiba suara yang tak mengenakkna itu kembali terdengar dari jarak radius 200 meter—degedegedeg. Ini adalah O2 yang keempat yang kami tunggu. Ternyata memang tak diizinkan Allah untuk kami berodong2 ria malam ini, soalnya yang keempat ini juga penuh bahkan sampe ada penumpang yang harus bergelantungan disisi tiang O2. Wah…gak iya neh, singkong gaul ku yang tadinya buat makan di atas O2, malah dah abis gara ku makan saat masa iddah alias masa menunggu tadi.


Akhirnya karena udah ngantuk plus dikerubungi nyamuk, angin-angin tanda mau hujan sudah mulai ngamuk.Yoda lah menanti O2 untuk hari ini cukup sampai disini dulu. Sampai jumpa diwaktu dan lain kesempatan dari studio satu Zee Zee FM, nurul pamit Assalamualaykuuuum.


To be continued..

Rabu sore, 11 Maret 2009
AKHIR DARI SEBUAH PENANTIAN

Akhirnya setelah sekian lama harapan untuk naik O2 terpendam, sore ini sepulang dari kursus menjahit barulah terwujud.

Bercampur perasaan geli (mau ketawa aja bawaannya) dengan mantap aku panggil “Odong-Odooooooooong” dan berhentilah dia untuk mengangkut diriku sang penumpang yang istimewa ini. Dengan anggunnya naiklah diriku ke ata O2, dimulai dengan kaki kanan sambil baca bismillah dan mendarat muluslah pantatku dan terduduk mannislah di gerbong kedua O2, hanya aku penumpang yang ada di gerbong kedua bersama kenetnya.

Semua mata tertuju padamu, kurasa cocoklah slogan dari program Miss Indonesia disematkan pada diriku saat itu. Soalnya pas di atas O2 perasaanku mengatakan bahwa sepanjang jalan semua orang melihat aku, deuuu…jilbaber naik O2, deuu…cantik-cantik naik O2 begitulah kurang lebih kata orang2 yang melihatku naik O2 (woi…lebay woi!). Untung gila ku lagi gak kumat soalnya ku sempat berniat untuk melambaikan tangan ala Miss Universe kepada orang2 yang melihatku di sepanjang jalan, hahahha

Momen yang kayak gini ni yang kutunggu-tunggu, ngobrol bareng sama kenet O2nya. Maklumlah naluri seorang penulis yang bawaannya pengen tahu dan pengen nanya tentang segala hal lagi berkibar-kibarnya kayak jilbabku yang berkibar-kibar disapa angin sore yang sepoi-sepoi.

Namanya Bang Rismar, sepertinya dia PUJAKESUMA alias PUtra JAwa KElahiran SUmatera, agak kurus, hitam manis, rambut cepak plus murah senyum. Bang Rismar salah satu kenet O2 yang kunaiki, dia bertugas di gerbong kedua (Yaelaa…bertugas? Digerbong kedua? bahasanya kayak menceritakan suasana di kereta api eksekutif gitu ya kan padahal kan nggak).

Sepanjang jalan ku berbincang-bincang renyah sama si Abang kenet. Aku menanyakan kenapa sepi penumpang di O2 yang kunaiki ini. Beliau bilang memang kalau sore agak sepi penumpang, ntar abis maghrib barulah penumpang agak ramai. Satu pertanyaan sensitive yang sempat ku tanyakan pada si Abang kenet yang tidak mau kupanggil Bang Mar ini yakni soalnya soal penghasilan perhari yang di dapat dari menarik O2 ini, dengan sumringah si Abang menjawab,” Ya…kalo lagi rezeki, Alhamdulillah pernah perhari dapat lima ratus ribu (what?, menjanjikan juga ya narik O2). Pertanyaanku berlanjut, “Lah…itu di bagi-bagi la ya bang?”. Si abang yang paginya berprofesi sebagai pengacara (pengangguran banyak acara) dan sore sampe malamnya jadi kenet O2 ini menjawab “iya, tapi setelah bayar setoran, beli solar, baru bisa dibagi tiga (kenetnya 2 orang, sopirnya 1 orang). Mendengar jawabannya aku pun ber O..O ria.

Acara talkshow dadakan yang disiarkan secara langsung di atas O2 ini sempat terhenti gara-gara dipertengahan jalan aku disapa sama anak muridku yang lagi main guli dipinggir jalan “Ummiiiiiii” teriaknya, dalam hatiku Cuma bisa ngedumel (duh, mati aku, ketahuan anak murid ni, kalo aku lagi naik O2 ). Tuh, kan satu kampong pada heboh aku naek O2. Susahnya jadi artis.

Bincang-bincang pun berlanjut, dari si Abang aku dapat informasi yang terakurat, tercepat, terdepan, bombastis, fantastis, dahsyat, bahwa O2 yang kunaiki in punya tempat pemberhentian si jalan Damar, tepatnya di rumah sang Juragan O2, sang juragan punya 2 unit O2. Trus di Medan ada sekitar 50 unit O2, tentunya dengan rute dan juragan yang berbeda-beda pula.

Tak terasa aku dah memasuki jalan bambu bentar lagi aku nyampe rumah.
Dasar akunya memang selebritis kali ya…ibu aku yang lagi santai kayak di pantai dan lagi duduk-duduk di depan konter hape adiknya, hysteria melihat aku di atas O2 (Whahaaahaaa…si Nurul naek Odong-odong). ?!!!

Tepat di depan warnet DeGaRa aku diturunkan. Dengan pe de nya aku turun (walaupun banyak pengunjung warnet yang lagi nonkrong2 di depan warnet melihatku turun dari O2). Namun aku cuek aja yang penting hasrat ingin naik O2 telah terpenuhi.

Hehey..berhasil…berhasil, Horrey!

THE END


Jumat, 09 September 2011

MARAH, RAMAH, HARAM

sumber: google.com

Dear Zee…
Marah, Ramah, Haram,..udah dibalik2 pun hurufnya kata terakhirnya juga gak enak hahahaha. Ada kalimat bijak pernah terbit di dunia ini, kurang lebih bunyinya seperti ini, jangan pernah membuat/membiarkan org yang kamu sayangi pergi dalam keadaan marah.
Kalimat bijak itu ada benarnya, daku pernah marahan sama adikku paling kecil, dan aku membiarkannya pergi ke sekolah dalam keadaan marah. Hadeh, perasaanku bener-bener nggak enak @_@.
Belum lagi ditambah dengan nonton film yang memuat adegan seperti itu, ada dua tokoh bertengkar, lalu si tokoh yang dimarahi itu pergi trus sutradara membuat tokoh yang pergi itu kecelakaan. Heuheuheuheu.
Makanya, klo perasaanku gak enak sama orang, mau orang itu ngerasa ato tidak, aku Cuma bisa minta maaf dan minta senyumnya itu aja sudah cukup buat hatiku utuh halaahhh.
Curhat di sabtu pagi tralalalal ^_^
Jangan marah lagi ya say =)

Sabtu, 16 Juli 2011

[THE HARDEST DAY] PENGANTIN SEHIDUP SEMATI

Aku pikir aku tidak punya kakak, ternyata aku punya kakak. Dia datang mencari ayah ketika ia hendak menikah dan membutuhkan ayah untuk menjadi wali nikahnya. Awalnya aku shock, namun perlahan aku mulai membuka hati dan menerimanya mengisi ruang-ruang di hatiku.

Berbulan-bulan semenjak kedatangannya, ayah mendapat kabar bahwa pernikahannya gagal, sang calon membohongi kakak. Sang calon ternyata sudah bertunangan di kampung.

Tak banyak yang aku ketahui tentang kakakku ini, mendesak ayah untuk menceritakan apa yang terjadi, ayah selalu menghindar. Baiklah mungkin belum saatnya, aku pikir.

Setelah itu di tahun yang sama pula, kakakku yang hanya berbeda dua tahun dariku, kembali menjumpai ayah di Medan. Ia meminta ayah datang pada hari pernikahannya di Batubara, kali ini pria yang datang adalah jodoh dari syurga yang di datangkan Allah.



Hari pernikahan itu tiba, aku, Emak, Adik perempuanku dan aku, pergi menghadiri pernikahannya ke Batubara. Kakak sengaja menyewa mobil agar kami bisa berangkat ramai-ramai kesana tanpa harus bersempit-sempit dan berpanas-panasan di angkutan umum.

Ini adalah kali pertamaku bertemu kakak kandungku, setelah dua puluh tahun lebih berpisah. Cantik. Ia begitu dekat dengan ayah. Senangnya. Di hari yang paling membahagiakannya itu ayah hadir untuk menjadi wali nikahnya. Alhamdulillah hari 22 di bulan Mei tahun 2011 menjadi hari paling membahagiakannya. Aku turut berbahagia. Aku tak banyak berbicara. Aku masih speechless. Dan suatu hari aku tahu bahwa aku menyesal tidak mengenalnya lebih dekat pada dimana hidupnya masih ada.

11 Juli 2011, pukul 22.30. Kabar mengejutkan itu datang dari sebuah pesan singkat dari adikku. Innalillahi wa innailahi raji’un telah kakak dan abang, kak ade dan suaminya meninggal di tabrak tronton pada sore tadi, mohon doakan arwahnya. Sesaat aku terdiam, berkelebatan perjumpaan dengannya dua bulan lalu pada akad nikahnya. Allah. Kata itu yang bisa aku ucapkan. Kepalaku mendadak sakit. Aku pun memilih tidur berharap ini semua hanya mimpi dan esok pagi terbangun aku pastikan SMS duka itu tidak pernah ada.

Pagi masih sama, ini bukan mimpi. Aku pastikan lagi dengan mengirim pesan singkat ke adikku, apakah SMS tadi malam benar adanya. Ya, benar.

Sepanjang hari Emak mencari kabar tentang keberadaan jenazah dengan menelepon keluarga Kak Ade di Batubara. Jenazah di mandikan di Batubara dan akan dibawa ke Medan tepatnya di tempat tinggal keluarga suami kakak, dan direncanakan keduanya dikuburkan di Medan juga.

Ayah? Ya Ayah begitu terpukul mendengar berita ini. Aku sedih melihat ayah.
Siang itu kami bersegera menuju rumah keluarga suami kakak, karena dikabarkan kedua jenazah tiba di rumah duka sekitar waktu zuhur.

Tiba di rumah duka. Entah bagaimana, aku masih dalam kondisi percaya tidak percaya. Sejenak percayaku bulat saat memandang papan bunga itu Elida Susanti dan Susilo Sudarman. Kesedihan itu menyeruak kembali. Sepanjang jalan, Ayah begitu erat menggandeng tanganku, hingga sampai di mulut gang rumah duka pegangan ayah makin erat, langkah ayah makin cepat, di depan tampak kumpulan orang membulat mengelilingi kedua jenazah, sepertinya sedang ada khutbah kematian. Ayah menyeruak kerumunan. Ya, kedua jenazah itu adalah kakakku dan suaminya. Pegangan Ayah dilenganku seketika merenggang dan ayah terkulai pingsan di depan jenazah kakak. Bersyukur ada seorang bapak yang menggotong ayah ke dalam rumah duka. Aku tak tahu harus melakukan apa. Aku sedih melihat ayah sedih, aku sedih melihat kenyataan di depan mata. Aku?. Aku berusaha menguatkan ayah. Emak juga. Aku menyesal, secepat ini kah kak?.

Dalam sholat jenazah untuk kakak dan abangku, aku luruh, aku haru, aku rapuh, aku punya kakak. Selamat jalan kak, bang?.

Mendengar cerita dari ibu kandung kakak. Sore itu kakak baru pulang dari kampus selesai siding meja hijau untuk pendidikan strata satunya dan pulang dibonceng abang yang baru pulang kerja. Entah apa yang dikejar, sehingga harus mendahului truk tronton namun dari arah berlawanan ada juga kendaraan yang melaju, tak mampu mendahului tronton, kecelakaan itu pun terjadi. Kakak tercampak sekian meter tak jauh dari abang yang juga jatuh dan terluka parah, namun sempat menggendong kakak yang katanya sedang hamil tiga minggu ke tepi jalan, setelah itu abang menghembuskan nafas terakhirnya di tempat kejadian sedang kakak masih bertahan. Namun, dalam perjalanan ke rumah sakit, kakak pun menyusul abang.

Terakhir kalinya di pemakaman sebelum ia berkalang tanah, Ayah dan aku melihat wajahnya yang tenang. Allah terlalu sayang pada kedua pengantin baru itu. Allah, terima ya Amal kebaikan kakak dan abangku itu, Aamiin.

Sekarang aku tak punya alasan lagi untuk mempertanyakan ayah tentangnya. Dia memang kakakku semalam, hari ini, besok, dan selamanya. Sayang kakak.



220511-110711

Jumat, 08 Juli 2011

Refleksi Revolusi Jilbab

Saat itu bulan Juli 2009 masih ranum-ranumnya, namun suasana tersebut tidak cukup mewakili apa yang terjadi di ruang pengadilan kota Dresden, Jerman. Marwa Al-Sharbini, muslimah asal Mesir akan memberikan kesaksian atas tindakan rasial yang dilakukan Alex Wiens, pemuda Jerman pengidap Islamofobia keturunan Rusia, terhadap Marwa karena Alex berulangkali menyerang Marwa hanya karena Marwa mengenakan jilbab. Atas tuduhan itu, Alex ditahan dan 1 Juli 2009 adalah sidang pertamanya. Lalu kejadian mengenaskan itu pun terjadi. Di ruang pengadilan, belum sempat Marwa memberikan kesaksiannya, Alex menyerang Marwa dan menusuk ibu satu anak itu sebanyak 16 kali hingga Marwa yang saat kejadian sedang hamil tiga bulan, meninggal dunia. Sedang Suami Marwa, Elwi Ali berusaha melindungi istrinya tapi justru ditembak oleh polisi yang menjaga sidang tersebut.



Apa yang dialami Marwa yang rela syahid demi hijabnya tentu menjadi bahan refleksi buat kita semua para muslimah. Lalu bagaimana keadaan muslimah hari ini dengan jilbabnya?.

Sedikit flashback sebelum pemakaian jilbab bisa semarak hari ini, pada era 80-an terjadi peristiwa Revolusi Jilbab di Indonesia. Revolusi besar-besaran yang mengubah sisi kehidupan masyarakat Indonesia secara drastis. Setiap revolusi terjadi karena beberapa faktor, dari internal sendiri secara singkat penulis paparkan bahwa revolusi menyeruak sebab diberlakukannya SK 052/6/KEP/D/8 oleh pemerintah orde baru pada 17 Maret 1982 melalui departmen pendidikan, yang mengatur bentuk dan penggunaan seragam sekolah di sekolah-sekolah negeri. SK tersebut tidak mengakomodir penggunaan seragam sekolah lain khususnya busana muslimah. Berdasarkan SK itu mulailah merebak para siswi berjilbab di sekolah-sekolah negeri, SK itu seolah pemicu yang memotori dan membulatkan tekad para siswi untuk menunjukkan identitas muslimahnya. Peristiwa demi peristiwa terus bergulir, semangat keberislaman di kalangan pelajar dan mahasiswa mulai menampakkan geliat yang berarti. Namun, semangat keberislaman tidak luput dari tantangan demi tantangan, malah kasus pelarangan jilbab makin gencar. Saking gencarnya, demi sebuah idealisme beberapa siswi yang bersekolah di salahsatu sekolah negeri di Jakarta pusat terpaksa drop-out sekolah daripada harus melepas jilbab. Aksi drop out ini malah makin menambah siswi jilbaber dan kasus pelarangan jilbab merembet ke beberapa provinsi di Indonesia pada tahun ajaran 1987/1988. Hingga akhirnya MUI dan beberapa organisasi Islam saat itu ikut campur tangan dan sampailah masalah ini ke meja hijau, dengan berbagai pertimbangan, beberapa sekolah seperti SMAN 1 Bogor dan SMAN 68 Jakarta Pusat yang melaporkan para sisiwi berjilbab ke pengadilan, akhirnya meminta maaf kepada siswi mereka dan mengizinkan mereka bersekolah kembali tanpa harus melepas jilbab.

Apakah perjuangan berhenti sampai disitu saja? Ternyata tidak, seperti efek domino, seolah semua masyarakat saat itu sepakat untuk mendukung isu pelarangan jilbab, mulai dari penyebaran black campaign jilbab beracun yang bertujuan menjatuhkan mental muslimah yang baru berjilbab secara kaffah, lalu ada peristiwa penelanjangan muslimah berjilbab karena dituduh mencuri permen dari sebuah toserba sampai peristiwa pengeroyokan massal terhadap muslimah hingga nyaris meninggal karena dituduh sebagai penebar racun. Masyarakat yang termakan berbagai isu hingga akhirnya beralih menjadi simpati karena semua tuduhan mereka tidak benar dan pembelaan terhadap muslimah berjilbab terus mengalir.

Sekarang zaman berganti, perjuangan memakai jilbab tidak seekstrim pada tahun 80-an khususnya di Indonesia, namun bukan berarti eksistensi jilbab tidak akan mendapat tantangan apapun. Terbukti dari peristiwa yang dialami Marwa, islamofobia masih bersarang dibeberapa masyarakat. Disinilah perjuangan kita, wahai para muslimah. Tantangan berbeda tentu bentuk perjuangannya pun berbeda.

Jilbab: Samurai-nya Muslimah
Betapa sayangnya Allah, ketika perintah berjilbab langsung dariNya. Dia berfirman:
يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min:”Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 33:59).

Tidak lain tidak bukan, Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hambanya. Allah turunkan perintah berjilbab karena Allah sudah berjanji dengan berjilbab seorang muslimah beriman lebih mudah dikenal (identitasnya) dan tidak diganggu.
Dengan berjilbab, seorang muslimah merasa bebas. Jilbab adalah simbol kebebasan bagi seorang muslimah. Bebas dari pendangan orang yang kebanyakan hanya memandang secara fisik, berat badan, dan apa yang kelihatan dari diri kita. Dengan berjilbab, orang hanya berfokus pada isi otak/pengetahuan kita, kepribadian kita. Seorang muslimah juga bebas dari lelaki yang bernafsu padanya serta bebas memilih siapa yang akan bisa dan tidak bisa melihat auratnya.

Seorang penyair bernama Soni Farid Maulana sampai berkomentar tentang manfaat luarbiasa dari muslimah berjilbab, seperti pedang bagi samurai, begitulah jilbab sebagai jalan hidup bagi muslimah.

Pencerdasan dalam Berjilbab

Jilbab membuat muslimah mendapatkan berpaket-paket kebebasan, namun akankan kebebasan yang didapat sejalan dengan gaya berjilbab kita yang bebas juga?.

Ada banyak ragam desain jilbab yang bermunculan saat ini, setiap pengusaha busana muslim berlomba-lomba menciptakan produk jilbab unggulan mereka, lalu bagaimana standar jilbab yang syar’i, agar muslimah tidak salah kaprah dalam memakai jilbab?.

Jilbab tidak sama dengan kerudung. Jilbab adalah pakaian keseluruhan yang kita pakai untuk menutup aurat (QS. Al-Ahzab:59), sedangkan kerudung (khimar) adalah apa-apa yang dapat menutup kepala (QS. An-Nur:33).

Perintah Allah diatas ditegaskan lagi oleh Nabi Muhammad S.A.W. dalam hadist beliau yang artinya : "Wahai Asma! Sesungguhnya seorang perempuan apabila sudah cukup umur, tidak boleh dilihat seluruh anggota tubuhnya, kecuali ini dan ini, sambil Rasulullah SAW menunjuk muka dan kedua tapak tangannya".

Jika hari ini kerudung masih menggantung dan melilit di leher akan lebih indah lagi jika diulurkan hingga ke dada, jika hari ini jilbab kita masih nge-press sana sini, jangan sampai kita seperti seonggok daging berjalan daripada kelihatan seperti manusia seutuhnya. Dan menjadi ladang dosa bagi sesiapa yang tergoda gara-gara melihat jilbab kita yang kurang sempurna. Niat hati ingin berjilbab, namun tidak sempurna, sayang bangetkan?. Kalau ada yang sempurna kenapa harus setengah-setengah?.

Islam datang untuk membebaskan muslimah dari perbudakan, dari status penduduk kelas dua. Namun, dalam Islam laki-laki dan perempuan itu sama di mata Allah hanya tingkat ketakwaannya saja yang membedakan. Belum lagi, penghargaan Islam kepada muslimah hingga Rasululullah bersabda bahwa ada surga di bawah telapak kaki ibu, ini menunjukkan betapa muslimah begitu diistimewakan dalam Islam. Lain hal dengan kaum feminis yang hanya melihat Islam dari jauh, bahwa muslimah itu bakal terpenjara dalam balutan pakaian takwanya. Kenyataannya tidak, muslimah justru makin leluasa dalam mengembangkan potensi positifnya untuk diri, keluarga dan ummat.

Dulu saat para muslimah susah payah mendapatkan haknya menutup aurat, perjuangan yang begitu panjang, perlawanan yang tidak ada habis-habisnya dari berbagai penjuru, sampai diusir, dikucilkan, dibotak, dan lain-lain. Sampai akhirnya berujung indah. Beberapa sekolah sudah ada peraturan mewajibkan siswinya memakai jilbab dan efek positif lainnya. Diharapkan kita yang dilahirkan pasca revolusi jilbab dalam lebih memaknai arti eksistensi jilbab itu sendiri bagi muslimah sejati. Jangan sampai apa yang diperjuangkan muslimah sebelumnya di masa revolusi jilbab menjadi sia-sia hanya karena pengaruh westernisasi yang mengusung pemikiran feminis yang membuat kerudung makin lama makin pendek, jilbab makin ketat, moral makin tidak pada tempatnya dan harga diri muslimah makin tak ada. Naudzubillah summa naudzubillahi min dzalik.

Selamat Hari Hijab Sedunia, 1 Juli 2009-1 Juli 2011. Mengenang Marwa El-Sharbini ‘Sang Martir Jilbab’.

*Tulisan ini dimuat diharian Analisa pada 8 Juli 2011. Tulisan ini terpotong dibeberapa bagian dan ini versi lengkapnya. Semoga bermanfaat dan jadi bahan selfreminder juga buat diri penulis scra pribadi :). Dan untuk Teh Marwa mudah2n syahid dan dilapangkan kuburnya Aaamiin!