Sabtu, 11 September 2010

Kolor Kolor Nakal (KKN)


Senin pagi itu cerah ceria, daku gunakan waktu tuk bersih2 dan ritual terakhir dari acara bersih2 ku pagi itu adalah menggosok baju.

Setiap pagi adalah pagi yang berbeda buatku, khususnya pagi itu, saat sedang asyik2nya menggosok ditemani keheningan pagi setengah delapan waktu bagian kuala tanjung, tiba2 terdengar lengkingan suara yang merenggut kebahagian pagi milikku. Yup, benar itu suara Uay yang memanggil2 Aisyah yang sedang menyapu di halaman…Aisyah…Aisyah…Aisyah, begitu bunyi panggilannya, dalam hati ngapain si Uay ni pagi2 sudah treak treak. Tak berapa lama Uay masuk ke dalam sambil ketawa ketiwi, makin aneh aja ku pikir tingkah anak2 KKN di rumah ini, bentar treak2 bentar ketwa, rupanya Uay membawa informasi yg sangat berguna bagi nusa dan bangsa, Uay mengabarkan langsung dari TKP bahwa Aisyh nyapu di halaman dengan ditemani kolor yg nangkring dengan damainya di atas kepala si Aisyh, langsung saja ketawa kami membahana seantero rumah.

Kronologisnya begini, sewaktu Aisyah hendak keluar dari pintu samping, ruang kosong yg ada di dekat pintu samping itu sejak pertama kali kami sampe ke rumah ini langsung dinobatkan menjadi jemuran special for underwear dan kawan2nnya, nah karena Aisyah gadis yang tinggi dan ramping, terpaksalah untuk melewati rintangan yang ada di depan pintu samping itu dengan merunduk ria, karena klo tidak kain2 yg ada pada jatuh, dan naasnya pagi itu, mungkin Aisy gak terlalu merunduk sehingga nyangkutlah kolor itu tepat di kepala Aisyah dan beliau gak sadar sehingga acara nyapu menyapu di halaman pun menjadi meriah *soalnya Aisyah selain nyapu, juga seolah2 menjadi model yang memamerkan jilbab model keluaran terbaru yang diatasnya ada kolor yg keberadaannya amat sangat tidak diinginkan*. Saat itu juga berselang 10 menit setelah kejadian, Uay sang saksi mata pas pulak menyaksikan kejadian yg cukup memalukan dunia perakhwatan *Allah masih sayang sama Aisyah dan izzah akhwat diseluruh dunia, soalnya sempat sedetik saja Uay terlambat melihat kejadian itu, sudahlah runtuh seketika tembok kemuliaan para akhwat yg ada di rumah ini, wuih, malunya minta ampun, terutama sekali mental Aisyah yang mungkin saja bisa terguncang*. Parahnya lagi Aisyah menyapu di depan rumah yg posisi rumah kami tu pas kali dipinggir jalan dan di simpang tiga, yang masyarakat cukupr ramai melewati itu utk beraktivitas pagi, apalagi pagi itu pagi senin, hari pertama mengawali segala kegiatan, dapat dipastikan ada byk org yg lalu lalang dan gak menutup kemungkinan turut melihat keadaan Aisyah, Aisyah yg jilbabnya bertahtakan kolor. Gubrak!. Aisyah…aisyah, butuh waktu 3 hari bagi kami utk menertawakan kejadian yg lucu banget ini.

Sebelumnya Zee, daku dah pernah memprediksi kejadian ini, bagaimana jadinya ya jika daku melewati para jemuran ini, trus nyangkut di kepala, aih, dan kejadian itu pun terjadi pada Aisyah, pesan saya kepada anak muda sekalian, setelah melewati rintangan jemuran yang berbagai macam jenisnya itu, harap periksa kembali kepala Anda sebelum melanjutkan perjalanan untuk menyapu halaman. :p

Gara Gara SMS


Zee, kurasa awal agustus tahun ini adalah awal agustus yg memalukan bagi ku, bayangkan saja kejadiannya begini, hari minggu itu kami segenap anak2 ADK dan masyarakat mngadakan pawai longmarch untuk menyambut ramadhan, nah pas nyampe dititik kumpul, daku selonjorkan kaki dan menyenderkan diri di salah satu pilar masjid yang tampaknya di cat dengan cat murahan soalnya, catnya gak bagus gitu, berbekas di baju setelah menyenderkan diri dipilarnya, lah kenapa jadi ngomongin cat ya?,

Nah gak berapa lama, daku rehat sjenak sambil melepas dahaga dengan meminum air mineral kemasan, eh, tiba2 perutku mengulah, rasa2nya mau ee’ gitu, seketika itu juga langsung merinding bulu kudukku sangking kebeletnya, tp mau dimana dibuang pikirku, sepertinya daku btuh teman ni, langsung deh ada ide buat meng-sms Uay, lagian aku juga yg bodoh bin paok, si Uay tuh ada di samping aku, yang memisahkan kami Cuma sebiji anak yg sedang asyik menikmati jajanannya, apasalahnya daku katakan padanya langsung tnpa harus sms, tp itulah aku yg tangannya guatal bukan main dan lagi belagak kaya soalnya byk pulsa, ku sms lah Uay, padahal dalam hati sudah ngebayangin gimana jadinya jika sms ini salah kirim, ah gak mungkin pikirku dg gaya sombongnya. Nah, saat itu langsung lah kuketik huruf demi huruf, yg bunyinya seperti ini “Way…sak bokerlah..”, lalu klik send, ku cari nama KKN_Uay dan itu kupastikan sekali lg bhwa nope yg akan kutuju adalah nope Si Uay bukan nope yg lain, bisa bahaya cing dan ku klik OK, laporan pun terkirim. Tak lama kulihat ke samping, si Uay kenapa tidak bereaksi dengan getaran yg bakal ditimbulkan hpnya jika ada sms masuk?, ah gak iya nih. Lalu tak sengaja mata ku bersirobok dg mata Yudi yg tiba2 datang lalu membawa hp Uay, “Whaaaaaatttttt, Oh Nooooooo”.

Ternyata HP Uay sejak tadi sedang berada di tangan Yudi, Yudi pinjam HP Uay buat menghubungi anak2 yg telah ditunjuk untuk mengikuti perlombaan, soalnya perlombaan sudah mau mulai tp anak2 yg terdaftar blm juga datang, dan aku tak tahu bahwa HP Uay sedang berpindah tangan, langsung sja, mukaku memerah, aku langsung mengambil langkah seribu, lg pula aku sudah kebelet luarbiasa, kedua kaki ku pun langsung melangkah seribu ke rumah Ummi, salah satu rumah guru yang mengajar agama di sekolah yang aku tumpangi utk PPL, untuk sejenak kulupakan kejadian memalukan itu, skrg masalahnya bagaimana aku bisa menunaikan panggilan alam yg tak bisa ditunda2 lagi.
Pasca bertapa di kamar mandi, kejadian itupun terekam lagi, ibarat dipilem2, kejadiannya terputar lagi di atas kepalaku, dan aku pun senyam senyum sendiri, ketawa2 sendiri, tp gak sampe gila ya…wuih, rasanya seharian itu, ingin rasanya jika ada kekuatan bulan utk membuat si Yudi melupakan kejadian itu, pasti akan ku gunakan kekuatan itu, tp salahnya aku tak berdaya, jadilah seharian aku mencoba pura2 tidak ada kejadian dan berusaha utk tidak menatap si Yudi, karena bisa jadi jika mata kami bertemu, dia akan mentertwakanku. Alamaakk…dasar si nurul. Tidaaaakkk.

Minggu, 09 Mei 2010

INDEFFERENCE

Oleh: Nurul Fauziah
17 Maret 2007
Di angkot bernomor trayek 46 jurusan B.Setia-Setia Budi menuju kantorku

Tidak seperti biasanya Emak cuma mengantarkanku sampai di Jalan Serdang dekat Pajak Sentral. Setelah mendapat jatah ongkos dari Emak sebesar Rp.20.000 (maklumlah saat itu daku masih dalam masa-masa krisis ekonomi ^_^), aku pun menyetop angkot bernomor trayek 46.

Agak penuh memang, tapi syukur Alhmdulillah, aku masih dapat tempat duduk pas di depan pintu angkot. Duduklah aku yang hari ini memakai jilbab hitam dan blus warna ungu tua serta stelan rok hitam sebagai bawahan. Tidak berapa lama aku duduk—sekitar sepuluh menitan gitu suasana dalam angkot berubah jadi crowded , ramai bin bising. Soalnya di bangku paling pojok sejajar dengan pintu keluar, ada seorang bapak yang memangku bayinya yang mungkin masih berumur kurang lebih sepuluh bulan. Bayinya menangis terus-menerus tidak mau diam. Di bangku paling pojok itu, cahaya matahari menyinari wilayah itu, sehingga hawa panas membuat si bayi gerah dan berakibat reaksi yang menyebabkan si bayi rewel sebagai sinyal menyuruh bapaknya supaya pindah posisi. Lalu karena tidak tega melihat si bayi menderita, ibu si bayi pun berinisiatif untuk meminta pak sopir berhenti sebentar dan menyuruh si bapak bayi untuk pindah posisi duduk di depan tepatnya duduk di samping pak sopir yang areanya cukup adem tidak disinari cahaya matahari.

Dan angkot pun berhenti, si bapak keluar untuk merealisasikan ide sang istri. Namun sedari tadi telah ada yang duduk rapi plus manis jali di samping pak sopir, dia adalah…eng, ing eng…tunggu setelah pesan-pesan berikut ini (loh?). Di tempat duduk itu ada seorang cewek, mungkin umurnya sekitar duapuluh lima tahunan gitu deh, tapi tau gak sodare-sodare tuh cewek bawaannya jutek banget, mukanya gak ada manis-manisnya, asem dah. Jadi ceritanya cewek ini terserang sindrom cuek stadium sejuta, gak peduli berat lah sama sekitarnya, mau si bayi menangis sampai jenggotan juga mungkin dia tetap gak peduli dan gak mau pindah posisi. Akhirnya mau tak mau dia turun dan pindah duduk ke belakang, ternyata dia mikir juga “daripada aku di demo orang satu angkot, terpaksa dengan berat hati ku relakan posisi uenak ku untuk si bayi rewel ini, begh”. Masih dengan kejutekannya, dia masuk ke angkot dengan menghentakkan kaki kirinya tanda tidak senang, wajahnya dipasang sejutek mungkin, kayak habis face-off gitu deh mengalahkan wajah monster hulk saat berubah jadi ijo. Pokoknya sepanjang jalan kenangan eh sepanjang perjalanan angkot, mukanya asem banget, manyun semanyun manyunnya, hingga akhirnya password itu pun keluar dari bibirnya yang manyun “Pinggir, Bang”. Dia memilih turun di Petisah dan tak lupa masih dengan tampang yang gak ada enaknya dipandang dah. Dengan sombongnya dia turun dari angkot, terus bayar ongkos ke Pak Supir. Tak lama setelah si Miss Jutek itu turun, para ibu yang berada di angkot dan yang memang dilahirkan untuk mengomentari apa yang dilihat, dirasa, dan didengar segera menimbulkan suasana bising seperti lebah yang keluar setelah sarangnya mendapat gangguan dari pihak luar, buzz….buzzzz, berikut rekaman komentar mereka dengan gubahan seperlunya (emang apaan?):

Ibu 1: “Gak ada cantik-cantiknya pun, sombongnya minta ampun.”
Ibu 2 :”Gak ada rasa toleransinya.”
Ibu 3: “Kalo dia punya otak, seharusnya dia ngerti lah, anak bayi pula yang gak tahan panas, gerah lagi”.
Ibu 4: “ Dia kayak gitu karena dia belum punya anak. Gak dikasih Tuhan, anak, baru tahu rasa dia”.
Ibu 5: “Hahaha, saya kira tadi dia istrinya pak supir, soalnya disuruh turun gak mau turun”.

Pak Supir pun dengan secepat kilat menangkis jawaban dari pertanyaan yang sangat menohok jantungnya seketika, dengan jawaban yang singkat, padat, actual, bombastis, fantastis, prikitiw, cikicick (lebay woi!). Ini dia jawaban indah dari Si Supir “Bukan Ah, jelek aja pun, gak ada cantiknya” (emangnya kalo dia cantik Pak Supir ada rencana memperistri dia? :P).
Apa itu Indifference ?

Serpihan kejadian di angkot yang saya rekam di atas, berawal dari kegelisahan dan keserahan di hati saya tentang sikap orang modern zaman sekarang yang semakin lama semakin cuek dengan keadaan sekitarnya.
“Love me, or just hate me, but spare me with your indifference”

Pernah baca sepotong kalimat di atas?, Ya, kalimat di atas saya kutip dari novel Sang Pemimpi, kalimat di atas menggambarkan betapa semangatnya Arai mengejar cinta Zakiah Nurmala. Arai yang tidak pernah putus asa, walaupun cinta itu tidak tahu apakah akan berbalas atau tidak sama sekali, karena melihat kondisi Zakiah yang cuek luarbiasa terhadap Arai mau bagaimanapun usaha Arai untuk meruntuhkan pertahanan Zakiah, Zakiah tetap tidak bergeming sedikitpun. Arai hanya tahu bahwa ia begitu mencintai gadis pujaannya itu. Cintai aku, atau benci aku sekalian, tapi sungguh jangan sekali-kali kau acuhkan aku, begitulah kurang lebih makna dari kalimat itu. Dalem bangetkan?

Indifference adalah istilah dalam bahasa inggris, berdasarkan kamus Webster, indifference is not showing or feeling interest, without interest or concern; not caring; apathetic: his indifferent attitude toward the suffering of others sedangkan dalam bahasa Indonesia Indifference lebih diartikan kepada sikap cuek, tidak peduli dengan keadaan sekitar dan cenderung membuat orang lain menderita hanya karena sikap ketidakpeduliannya. Contohnya seperti yang saya kisahkan di awal esai ini.

Emang Enak Jadi Orang Cuek?

Kemarin saya ke mall, tempat hiruk pikuk manusia dari berbagai kalangan tumplek blek jadi satu. Biasanya saya ke mall kalau ingin nonton atau diajak sama orang tua saya. Yang bikin saya tertarik saat di mall, di sana ada berbagai macam orang. Kalau duduk di foodcourtnya, saya paling suka mengamati orang-orang yang lalu lalang atau duduk-duduk disana. Nggak ada yang sama kan dari mereka. Setiap orang punya cirinya masing-masing . Ada yang rambutnya warna-warni, ada yang pake rok mini, ada yang teriak-teriak di tengah hall, ada juga dua orang cowok dan cewek yang duduk dalam diam. Nggak tahu apakah grogi atau malah lagi berantem.
Dari semua orang itu, yang baru-baru ini menarik hati saya adalah orang-orang yang lagi jalan, melenggang sendirian, pake earphone di telinga. Kadang-kadang mereka nabrakin orang, jalan tanpa lihat kanan kiri. Nggak seperti kebanyakan orang yang jalan pelan-pelan sambil lihat etalase toko. Yang melintas di pikiran saya adalah, “Apa yang ada di pikiran mereka ketika berjalan ya?”

Tulisan curhat di atas saya kutip dari sebuah blog (shasays.wordpress.com) dengan gubahan seperlunya, saya dan Anda pasti pernah mengalami hal serupa ketika sedang duduk-duduk di suatu tempat lalu tanpa sengaja memfokuskan perhatian kepada orang-orang yang lalu lalang. Lalu kita pun siap menikmati segala keunikan mereka yang lalu lalang. Ada banyak cerita di sana dan ada banyak ekspresi yang tercipta.
Aristoteles pernah bilang manusia adalah makhluk social dan orang yang hidup di luar masyarakat itu adalah seorang malaikat atau seorang yang bukan orang (lah kok?). Sekilas orang seperti itu seperti anak autis. Asyik di dunianya sendiri. Padahal, kita hidup bermasyarakat.

Taburlah kebiasaan, tuailah karakter, taburlah karakter, tuailah nasib, kata Om Stephen R. Covey dalam bukunya yang fenomenal The 7th Habits of Highly Effective People. Mungkin kebiasaan cuek itu memang sudah tidak aneh lagi di zaman sekarang, tapi jika kita menganggap sesuatu itu tidak aneh, maka sesuatu itu akan menjadi suatu hal yang biasa meskipun sebenarnya tidak bagus juga untuk dijadikan kebiasaan. Mungkin juga karena zaman sudah berubah, semua dituntut serba cepat dan bersaing dengan ketat untuk mendapatkan apa yang diinginkan, sehingga kita terpaksa untuk tidak mempedulikan satu dengan yang lainnya karena sibuk dengan diri sendiri. Masih banyak lagi kemungkinan-kemungkinan lain yang membenarkan bahwa sikap cuek itu perlu dikembangkan, benarkah?

Cuek dan Cara Mengatasinya.

Tanpa bermaksud menghina diri, saya termasuk orang yang terkadang cuek dengan keadaan sekitar karena saya pikir hal itu diluar kendali saya, namun hati kecil ini sering memberontak bahwa sikap cuek itu tidak bagus untuk dipelihara dan terkadang suara hati itu kerap saya abaikan.

Jelasnya, Indifferent ini sikap yang tidak boleh dipelihara. Saat saya masih menyimpan sikap jelek bin haram ini, banyak orang yang kesal dan kecewa sama saya . Terutama orang-orang yang tidak kenal sama sekali sama saya. Katanya saya seperti orang yang suka cari musuh. Setelah itu, baru saya sadar bahwa sikap saya itu merugikan diri sendiri. Acuh pada keadaan sekitar selain membuat kita jadi kuper, juga bisa membuat orang lain tidak simpatik dengan kita. Bahkan bisa jadi karena sikap kita yang superduper cuek, malah membuat orang lain menderita. Biar pun tidak semua hal harus difokuskan, tapi paling tidak, berikanlah perhatian kepada mereka yang ada di dekat-dekat kita dulu. Orangtua kita mungkin yang selama enam hari dalam seminggu sering dicuekin, nah, gunakan momen hari libur untuk bercengkerama dengan mereka, sahabat kita mungkin, yang sudah nemenin kita selama ini dengan sabarnya atau tugas-tugas kuliah kita, yang semakin lama kok semakin menggunung. Hal-hal kecil seperti itu bisa dipakai sebagai permulaan untuk belajar meminimalis sikap cuek .

Ayo. . . tingkatkan kesadaran akan dunia dan cobalah untuk lebih memahami orang lain dengan begitu kita pun akan dipahami juga oleh orang lain. !

Minggu, 18 April 2010

PECAHAN BINTANG


“Praank…”, kaca jendela kamar Zee tiba-tiba pecah berkeping-keping. Zee terkejut bukan main. Saat itu Zee sedang terlelap di alam mimpi, memimpikan Angga yang menjadi penghuni tetap di hatinya beberapa hari ini.

Zee beranjak dari tempat tidurnya dan mencari tahu siapa pelaku yang mengusik malamnya yang indah. Zee yang pemberani, tomboy bin macho pun menyibakkan tirai kamar warna pink lembut buatan mamanya untuk memastikan keadaan di luar yang sudah mulai tidak kondusif pasca perang dunia, kenapa kayak pelajaran Sejarah ya?.
“Hei!” teriak Zee terhadap sosok yang mencoba untuk tidak menampakkan wujudnya. Namun sosok itu seketika lenyap ditelan gelap.

“Entah siapa pun, mungkin dari penggemar sejati kali ya yang mencoba meluluhkan hatiku di tengah malam bolong begini, gak laku lah yaw. Ah, sudahlah aku tidur saja lagi, hoaaa…”. Zee yang cuek beibeh sama sekali tidak peduli dengan apa yang barusan terjadi apalagi dengan serpihan kaca yang bertebaran dilantai kamarnya.

Sementara itu, Zee tidak menyadari ada benda aneh yang singgah di bawah kolong ranjangnya. Benda apakah itu?.

###
Ia terduduk lesu di atas bangku empuk berbahan dasar awan sembari memandang bumi dari kejauhan. Sejenak ia mengingat kejadian yang membuatnya seperti ini. Pertengkaran itu tidak bisa dihindarkan lagi, Ratu Bintang marah besar gara-gara Fauzanstar tidak sengaja melemparkan starkuali ke Bumi. Kontan saja Ratu marah pasalnya itu starkuali pemberian Raja Bintang agar Ratu selalu masak yang enak dengan alat itu. Tapi pagi ini Fauzanstar melemparkannya begitu saja pada saat latihan memasak Nasigorengstar. Berhubung libur sekolah Ratu berencana mengajarkan Fauzanstar cara memasak agar jika terjadi perang bintang Fauzanstar bisa dicampakkan dimana saja dan tidak kelaparan. Niat Ratu memang tulus dan suci hanya saja hal itu bertolak belakang dengan apa yang Fauzanstar sukai, Fauzanstar lebih baik mengerjakan sejuta soal matematikastar daripada harus belajar masak seperti ini tapi demi Ratu senang, semua itu dilakukan dengan setengah hati dan beginilah jadinya pada saat menumis bawangstar. Fauzanstar menyalakan tombol ke go to the earth sehingga secara otomatis starkuali terbang tidak terkendali ke arah bumi. Di Negeri Bintang segala benda yang ada di negeri ini difasilitasi dengan tombol go to the earth, ya alasannya itu tadi jika terjadi perang bintang segala benda yang ada di negeri bintang secara otomatis bisa berpindah ke bumi dengan begitu mereka bisa hidup berdampingan dengan penduduk bumi. Kembali ke Fauzanstar dengan starkuali yang bisa terbang.

“Pokoknya Ratu nggak mau tahu, kamu harus temukan benda itu, jika tidak Ratu tidak akan mau menemui kamu dan memaafkanmu”, Ratu memarahi Fauzanstar yang mukanya ditekuk sedalam-dalamnya saat dimarahi Ratu.

“Bunda Ratu, segitu amat sih marahnya, iya Fauzanstar janji bakalan nemuin benda kecintaan Bunda Ratu itu”.

“Ya itu baru anak Ratu, oya satu lagi syaratnya, kamu boleh kembali ke Negeri Bintang jika kamu pandai membuat satu hal apa saja yang bisa dimasak dan harus mengandung coklat, coklat di Bumi terkenal dengan coklatnya yang enak dan lezat, paham Fauzanstar?, waktu kamu Cuma dua hari, pada hari Rabustar pukul 12 malam waktu negeri bintang kamu harus sudah kembali lagi dengan membawakan apa yang Ratu pesankan padamu, Ok? Bunda Ratu percaya kamu bisa, nah sekarang jangan buang-buang waktu lagi, waktu kamu dimulai dari sekarang, Bunda mau pergi arisan dulu ya, dadah, mmuaah”. Bunda pun pergi sesaat setelah mendaratkan ciuman cinta ke jidat Fauzanstar yang nelangsa dan terbengong dengan tugas yang diembankan Bunda padanya, seperti misi Sun Go Kong mencari kitab suci ke Barat saja, tapi ini bebannya lebih berat dari itu.

Tanpa buang-buang waktu lagi, Fauzanstar langsung mencari dimana starkuali berada. Setelah mendeteksi dengan alat pelacak. Fauzanstar pun terbang ke Bumi.
###
Zee terbangun setelah mendengar suara ribut untuk kedua kalinya, setelah ia mengerjapkan matanya yang penuh dengan belek ia melihat sesosok makhluk yang sekarang duduk manis di depan meja belajarnya.

“Aarrghhhh…” Zee berteriak panic. Fauzanstar yang sedang serius mengerjakan soal matematika terloncat dari bangku sangking kagetnya mendengar jeritan maut di pagi hari .

“Siapa kamu, berani-beraninya masuk ke kamar cewek, belum tau siapa kepala preman di kota ini, hah?.

“Emang siapa?”, tanya Fauzanstar.

“Iya…ya, siapa ya? Aku pun nggak tahu?, ah sudahlah lupakan, kamu belum jawab pertanyaanku, kamu siapa?”, tanya Zee sambil pasang gaya kuda-kuda sebagai awal siaga satu jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Oya, mampus aku, PR matematikaku belum kelar, aduh, gimana ini?, mana mau dikumpul lagi ntar siang”.

“Sudah tenang aja, PR mu sudah ku kerjakan”

“Hah, masak sih?, kamu makhluk dari mana sih, pake tato bintang segala lagi di sudut mata kanan, sok keren, beuh”.

“Ini juga mau dijelasin tapi kamunya yang dari tadi heboh sendiri gak jelas arahnya kemana, yoda sekarang kamu duduk dengan tenang dan dengarkan aku”. Zee pun duduk mendengarkan makhluk asing bin aneh yang ada dihadapannya sekarang dengan gaya seperti film yang slidenya diputar dengan cepat, Fauzanstar menceritakan asal muasal kenapa dia bisa sampai di kamar Zee di pagi buta ini dan merekapun saling berkenalan.

“Begitu ceritanya, Zee”, dengan helaan nafas berat Fauzanstar menceritakan beban penderitaannya.

“Aku sudah menolong kamu mengerjakan PR matematika itu, sekarang kamu harus bantu aku untuk mengajari aku memasak, tadi aku sudah menemukan starkuali di bawah ranjangmu, sebagai informasi starkuali berbentuk seperti kuali yang berbentuk seperti bintang jadi bentuk starkuali pada tengahnya berbentuk menjorok ke dalam mirip kuali, starkuali memang mengecil otomatis jika tiba ke Bumi, bentuknya tidak lebih besar dari tempat bedak padat punya mama Zee”.

“Oke, begini sepulang sekolah, aku akan mengajarimu membuat makanan dari resep andalanku”, mata Zee berkilat-kilat dan senyum tipis khas peran antagonis di sinetron Indonesia menghiasi wajahnya , entah resep dan rencana apa yang sudah ia persiapkan untuk membantu teman barunya itu.

Belum tahu dia, seorang Zee gitu loh, walaupun tomboy namun jago masak dan telah memenangkan beberapa even lomba masak.
###
Suatu siang di dapur rumahnya Zee.

“Tarraaa…!”, Zee mengangkat kue buatannya seperti gaya chef Farah Quinn yang selalu tampil dalam acara masak-masak di TV.

“Kamu masih ingatkan dengan resep yang barusan aku praktekkan?, Judulnya Bola-bola Kesepian, aku selalu buat kue ini jika aku kesepian karena aku selalu ditinggal pergi berhari-hari oleh mama papaku dan aku hanya ditinggal dengan Mbok Darmi. Ini ya kuberi tahu lagi resepnya apa-apa aja, pertama siapkan sebungkus biscuit lalu hancurkan, kemudian campurkan dengan mentega agar biscuitnya menyatu lalu bentuk bulat-bulat, setelah itu gulingkan bulatan biscuit ke dalam bubuk coklat dan jangan lupa sesendok bubuk cinta. Tau nggak Zan?”

“Apwahh?”

“Ya elah, kamu lapar ya?, sebenarnya kue ini belum selesai, kue ini masih harus dimasukkan lagi ke dalam kulkas, supaya bubuk coklatnya lebih meresap dan pastinya makin enak”.

“Buenner Zee, kue buatan Zee, maknyuss”, Fauzanstar masih mengunyah,”waktu ku nggak banyak, sebentar lagi aku harus balik lagi ke Negeri Bintang. Terimakasih ya Zee sudah bantu aku. Nah, aku harus bersiap-siap untuk kembali.”

“Ah, sudahlah, aku juga senang kedatangan tamu dari luar angkasa seperti kamu, aku jadi pengin ke sana, oya, sampaikan salamku pada Ibundamu, sepertinya seru ni jika aku duet masak bareng ibumu”.

Fauzanstar pun kembali ke Negeri Bintang dengan membawa Bola-Bola Kesepian. Ibunda Fauzanstar senang sekali atas ketemunya starkuali dan ia sangat menikmati Bola-bola kesepian dan Fauzanstar dibebastugaskan dari pelajaran masak-memasak, soalnya Ibunda masih menikmati kue buatan Zee dan Fauzanstar.

Senin, 15 Februari 2010

Kursus Bahasa Mandarin Membawa Jodoh


Kursus Bahasa Mandarin Membawa Jodoh
oleh Zee


Judul buku : Wo Ai Ni : Jangan Ekspor Cintaku
Penulis : Achi TM
Penerbit : Bukune
Cetakan : I, Juli 2009
Tebal : 376 hal

Judulnya unik dan mengundang rasa ingin tahu. Gambar sampulnya menggambarkan sepasang kaki yang memakai sepatu boots coklat dibelakangnya ada tas besar berwarna biru, biasanya filosofi tas dan sepatu mengisyaratkan seseorang yang ingin pargi jauh untuk beberapa lama. Mencoba menebak isi bukusepertinya saya akan di bawa ke negeri yang disebut Muhammad SAW dalam haditsnya “tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”. Ternyata setelah membaca deskripsi di sampul belakang, dugaan saya benar adanya bahwa saya benar keliru ^_^, novel ini berlatar suasana pelatihan kursus bahasa Mandarin. Kisah dari dunia pelatihan kursus bahasa mandarin—bahasa yang katanya sudah menjadi bahasa internasional kedua setelah bahasa inggris.

Saya pun ingin tahu lebih dalam, suka duka mengikuti diklat ini selama tiga bulan, karena novel ini tidak tanggung-tanggung ditulis oleh pelakunya yang masih hidup dan saya ingin menemukan kiat-kiat mendapatkan jodoh di pelatihan kursus bahasa mandarin (lah?).

Pengalaman Achi
Di bulan Ramadhan yang sumringah ini Achi seorang gadis asal Banten tiba-tiba ditengah kegalauannya menjadi seorang pengangguran dan jomblo sejati, mendapat telepon dari temannya untuk belajar bahasa Mandarin GRATIS di Jakarta. Sepertinya gadis ini hidup hanya untuk mendengar kata gratis dan langsung mengiyakan. Bersama rombongan kontingen dari Banten, Achi pun berangkat ke lembaga kursus tersebut.

Usut punya usut Achi dan teman-temannya mau dijadikan TKI dan TKW setelah tamat dari lembaga tersebut. Benarkah? mangap: mode on.

MLC itulah nama lembaga kursus tersebut dan disanalah semuanya bermula.

Cerita pun berlanjut mengenai pengalaman Achi dan teman-temannya yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Selama mengikuti pelatihan di dalam lingkungan asrama banyak kejadian dan peristiwa yang penuh dengan kejadian seru, konyol, dan lucu, seperti guru atau yang dipanggil laoshi yang dikira murid, episode Achi yang kabur dari apel malam sampai mengejar bajaj untuk mengambil dompet yang tertinggal, juga di bab Congek in Love (hal.157) benar-benar membuat saya tertawa ditengah malam saking lucunya tapi juga sedih, membayangkan Achi yang kesakitan saat congeknya tidak mau dipisahkan dari Achi, hohoho. Di balik kejadian suka duka itu semua, ternyata cinta Achi bersemi di kelas D, the king of sleep itu telah memporakporandakan hati Achi seperti habis diserang tsunami. Berhasilkah Achi menaklukkan hati sang Tao Ming Tse yang terkesan cuek? Akankah perjuangan Achi direstui Gusti Allah agar cintanya tidak jadi diekspor ke Taiwan?.

Novel Pelit yang Lucu tapi Tidak Pelit Hikmah

Bukune, salah satu penerbit yang terbilang masih baru dijagad dunia penerbitan di Indonesia dan digawangi oleh sekelompok anak muda yang kreatif, walaupun masih baru tapi penerbit yang mempunyai Raditya Dika sebagai pemred, bisa dibilang cukup mumpuni dan diperhitungkan, lihat saja genre nonfikis yang diberi label halal eh maksudnya pelit (personal literature) mulai bertaburan di toko-toko buku besar di Indonesia. Ini menandakan buku-buku terbitan Bukune memang laris di pasaran. Hanya saja jujur, awalnya saya sangat anti membaca buku nonfiksi yang hanya sekedar menawarkan kelucuan semata, mengumbar-umbar aib dan dibumbui dengan kata-kata vulgar, karena bagi saya pembaca yang selektif ini, saya tidak mau mengeluarkan uang hanya untuk membeli buku yang tidak memberikan efek apa-apa pada saya setelah membacanya selain cuma kelucuan yang dilebih-lebihkan.

Pada novel yang ditulis sendiri berdasarkan pengalaman nyata penulisnya, mbak Achi TM, menawarkan sesuatu yang beda. Tak hanya lucu dan menghibur tetapi juga menyelipkan pelajaran hidup sederhana yang bermakna seperti makna kebersamaan, persahabatan (saat Teh Nur mengalami kecengklak kakinya di bab Kecengklak, Oh Dunia!) , kerja keras (saat Achi kehabisan subsidi uang dari orangtuanya dan punya ide untuk membuka jasa laundy di asramanya, tapi tidak berlangsung lama, juga hobi menulis Achi yang bisa menghasilkan uang), dan juga renungan-renungan—Achi suka sekali mengambil hikmah dari setiap kejadian yang menimpanya, seperti yang diceritakan di bab Congek in Love, tadinya Achi begitu merasa orang terkaya di dunia gara-gara uangnya lagi banyak, dan Allah memberi cobaan dengan menimpakan penyakit pada Achi sampai harus mengeluarkan enam ratus ribu hanya untuk mengobati si congek). Oya saya suka karakter Achi itu bahwa dia cewek yang rasa percaya dirinya tinggi, dimana-mana cowok yang nembak cewek, ini malah Achi yang nembak si cowokgantengmisteriuspakepecitapijutek (hosh-hosh..., ngos-ngosan saya menulis namanya), yang pada akhirnya dengan perjuangan yang sangat, the king of sleep itu dengan si Achi yang grasakgrusuk berikrar dengan disaksikan Candi Borobudur untuk sehidup semati, lalu mereka pun menikah, hoaaaa...MAU? (*mupeng: mode on*). Saya pun berkesimpulan tak lama setelah mengkhatamkan novel yang keren ini bahwa cinta itu harus diperjuangkan jauh-jauh hari sebelum kita tahu kepastian berangkat ke Taiwan walaupun rencana bersejarah itu pada akhirnya dibatalkan juga. Uhuk...uhuk bijaksana sekali kau anak muda ^_^.

Rasa buku terbitan Bukune tidak jauh-jauh dari polesan tulisan gaya Raditya Dika—siapa yang tidak kenal dengan pemuda tukang banyol dan gokil ini. Kambing Jantan salah satu masterpiecenya yang telah dibukukan dan bahkan sudah difilmkan. Ada beberapa polesan cerita yang sepertinya Radith banget di novel ini, yang menurut saya cerita itu sudah bagus tanpa harus dilebih-lebihkan, kesannya jadi tidak lucu malahan jadi garing—cerita saat Lusi tidak sengaja membuka pintu kamar mandi asrama cowok.

Ada satu bab yang membuat saya harus membongkar laci ingatan saya, seingat saya pada Bab Memori Piring, entahlah seingat saya, saya pernah menontonnya di salahsatu FTV atau malah pernah membacanya entah di novel apa gitu, yang jelas saya tidak tahu persisnya dimana, tapi saya ingat sekali jalan ceritanya itu persis banget seperti yang ditulis dalam bab Memori Piring, kenapa itu bisa terjadi ya?.


Belajar Bahasa Mandarin lewat Novel

Ada beberapa judul bab favorit saya, tapi saya suka kesulitan menemukannya gara-gara tidak ada daftar isinya, selain itu ada juga beberapa kesalahan pengetikan dibeberapa tempat yang sedikit mengganggu kenyamanan saat membacanya.

Terlepas dari segala kekurangan yang ada, novel yang ditulis oleh ibu satu anak ini layak dibaca oleh siapa saja. Buat Anda yang kurang semangat dalam belajar bahasa Mandarin, novel ini juga bisa dijadikan pemicu agar semangatnya kembali lagi, dan buat yang menganggap bahasa mandarin itu tidak penting, baca juga novel ini agar merubah perspektif Anda yang super salah itu.

Dengan dialog-dialog yang sesekali diselipi bahasa mandarin serta tak lupa pula dengan bumbu-bumbu humornya yang menggelitik dijamin bisa menambah kamus Anda dalam bergaul.
Selamat membaca ^_^.

Senin, 14 Desember 2009

Aura “Bintang” dalam Musywil FLP SUMUT


oleh: Zee
Minggu pagi (29 November 2009) disambut dengan guyuran hujan yang sederhana seolah mengingatkan kami para pengurus FLP Sumut periode 2007-2009 yang akan ber-LPJ ria hari ini bahwa hadapi dulu guyuran hujan baru kau akan melihat betapa indahnya pelangi. Ya, hari ini FLP Sumut akan mengadakan Musyawarah Wilayah atau Musywil (yang keberapa ya, duh daku lupa?), seperti apa jalannya Musywil kali ini, ikuti perjalanan saya (kayak acara reality show yg di tipi-tipi ya? Hehe).

“Wadaw mana ni orangnya?, yang baru nongol di rumcay cuma para pengurus FLP sama beberapa para anggota, namun para sesepuh FLP dan pembina FLP serta para undangan juga belum ada yang hadir”, dalam hatiku membatin, padahal diundangan acara mulai jam sembilan dan sekarang jam sudah melangkah ke pukul sepuluh (kayak tinggal di Indonesia aja, serba ngaret :p).

Tepat pukul setengah sebelas pun mau tak mau acara pembukaan dimulai. Walaupun dalam keadaan jumlah peserta yang cuma 17 orang dari beberapa puluh orang yang sudah mendaftar menjadi anggota FLP hehey. Tapi jumlah peserta pada musywil kali ini cukup menorh prestasi yang bagus dibanding jumlah peserta musywil dua tahun lalu.

Inti dari pembukaan musywil kali ini ada pada kata sambutan ketua FLP Sumut periode 2007-2009, beliau disana agak sedikit curhat, bahkan sempat mengeluarkan statement “hiks...hiks”, dalam pidato pembukaannya yang hanya berlangsung lebih kurang tujuh menit itu beliau menceritakan pengalaman saat berada di singgasana ketua FLP Sumut yang penuh suka dan duka. Pengalama suka yang beliau rasakan selama memimpin adalah suatu kemudahan yang diberikan Allah bahwa FLP Sumut sudah punya sekretariat yang tetap sehingga tidak perlu ber-nomaden ria lagi. Sedangkan dukanya adalah ditinggal pergi para anggota selama beliau memimpin (Bayangkan!!!, dalam setahun lebih kurang ada tiga anggota yang menikah dan harus ikut suami yang stay nya gak di Medan, weleh..weleh), belum lagi dengan kondisi anggota yang memang terdiri dari orang-orang hebat yang super duper sibuk, rata-rata jam terbang mereka tinggi,(ngalah-ngalahin jam terbang Gatot Kaca, di sana gunung di sini gunung di tengah-tengah pulau jawa...), sedihnya lagi sang ketua ditinggal pergi sama sekretarisnya sendiri, jadilah ketua kami ni single parent, overlapping tugas pun tak terhindarkan lagi, ketum merangkap sekum, ck...ck...ck. Eits...tunggu dulu Kisah Sedih di Hari Minggu-nya sang ketua harus ditukar dengan kisah happy ending dengan kedatangan Sekretaris Umum FLP Pusat mb Lia Octavia, beliau sedang berlibur lebaran haji ke Medan dan momen yang tepat untuk menculiknya dan membawanya ke Rumah Cahaya FLP Sumut hehe. Itula ya kan, orang yang diundang dari jauh-jauh hari malah tak datang, tapi orang yang tak direncanakan datang, malah datang, bahkan langsung didatangkan langsung dari Jakarta, Pusatnya FLP geto loh. Benar-benar hebat musywil kali ini, siapalah ketua panitianya? (yang pasti bukan hamba ^_^), berilah long standing aplause kepada Mb Selvi Rani (prok...prok...prok).

Mb Lia bilang dalam kunjungan dadakannya bahwa beliau bangga terhadap teman-teman FLP yang di cabang dan wialayah, mereka begitu militan (Alhamdulillah). Semoga dengan adanya filososi FLP yang berkarya, berbakti dan berarti dapat memacu semangat teman-teman untuk terus menulis dan berdakwah via tulisan.

Sebenarnya banyak yang mau ditanyakan ke Mb Lia, semisal Mb mana kartu anggota kami, mana SK kami...(lah, terakhir kenapa jadi Mb Lia yang kayaknay mau di LPJ ya wkwkwkw) tapi ya sudahlah, kedatangannya sebentar tapi berkesan di hati kami semua dan ditunggu kedatangan para penulis FLP dari luar pulau Sumatera :).

Tentang LPJ

Menurut jadwal yang telah disepakati dan telah diketok palu oleh pimpinan sidang semnetara yaitu Sdr. Anugrah Roby Syahputra, bahwa pembacaan dan pembahasan LPJ dimulai pukul 12.45. Inilah inti acara yang sebenarnya. Waktunya untuk pengadilan terbuka.
Berbicara tentang LPJ FLP, jika dirunut-runut dari FLP Pusat, wilayah sampai cabang tidak ada aturan baku tentang pembuatan LPJ. Malah sidang PJ FLP Pusat pada Munas Agustus lalu di Solo hanya empat lembar kuarto LPJ yang ditulis oleh Kangirfan dan berbentuk semacam esai. Yah, memang kita ketahui bahwa Kangirfan bukan seorang yang organisatoris tapi cenderung akademisi.
Akhirnya LP FLP Sumut yang terdiri dari 35 halaman ditambah beberapa lampiran yang cukup membuat tebal LPJ tersebut. Sebenarnya pun LPJ ini diadospi dari beberapa contoh LPJ FLP dari wialyah lain semacam FLP Riau. Itupun Kami sebagai pengurus merasa LPJ ini masih dirasa kurang lengkap, seperti tidak terlampirnya rekap karya anggota yang sudah terbit dibeberapa media selama beberapa kurun tahun terakhir. Barangkali jika hal itu direkap mungkin LPJ ini bisa mengalahkan ketebalan KUHP—Kitab Undang-Undang Hukum Pidana negara ini. Heheh.
Begitulah fenomena per-LPJ-an di FLP, ceritanya tiada akhir...
Dan LPJ kami pun disidangkan. Kali ini pimpinan sidang diketuai oleh Sitha Muriani dan sekretaris Selvi Rani. Diskusi yang terjadi cukup alot serta didukung oleh spesial efek dari sinar matahari siang menjelang sore yang juga turut memanaskan suasana. Umumnya dalam LPJ organisasi sering diwarnai dengan perang urat leher dan lempar-lemparan kursi, tapi lain halnya dalam LPJ kami ini, jangan harap ada kursi melayang, meja yang bolong-bolong karena digebrak sana-sini, urat leher yang membesar, tak kan ada hal itu semua, yang ada malah Musywil yang berlangsung aman, tentram dan damai serta teteuup tidak mengurangi kesakralan Musywil itu sendiri. Sesekali diselingi gelak tawa membahana seantero rumah cahaya, soalnya panitia Musywil kali ini turut mengundang Sule dan Aziz (percaya?, kalo percaya rukun iman para pembaca esaiku dikhawatirkan akan bertambah wkwkwkw).
Setelah gedebag,gedebug,olala,bla...bla...zzz...zzz, diputuskan bahwa LPJ FLP Sumut periode 2007-2009 DITERIMA (Alhamdulillah), TAPI...(inilah satu kata yang tidak ada penyedap rasanya, hambar) dengan syarat kekurangan LPJ ini dari yang sudah dibahas harap dilengkapi dalam jangka waktu dua minggu, tepatnya tanggal 13 Desember 2009. Alhamdulillah, usai sudah (belum usai, euy, perbaiki dulu LPJ-nya anak muda!)

Hawa Bintang
Memasuki puncak acara yakni pemilihan ketua umum FLP Sumut yang baru, suasana rumah cahaya semakin menggeliat, matahari senja turut mendramatisir suasana yang ada, syukurlah ada menu penutup yang disiapkan oleh panitia yang telah teruji konsep SIAGA-nya (siap antar jaga :)), yupz, panitia menyediakan potongan semangka yang cukup mencairkan suasana hati setiap peserta, karena ku tahu suasana hati mereka sedang gonjang ganjing menanti siapakan gerangan yang akan memegang tampuk kekuasaan berikutnya?. Semuanya penuh tanda tanya.
Keluarlah tiga nama kandidat yang cukup kuat, kredibilitasnya tidak diragukan lagi di dunia persilatan antara pena dan kertas, jam terbang mereka yang cukup tinggi hingga mengalahakan Gatot Koco. Here They are Sukma, Fadhli, dan seorang wanita yang sempat dinobatkan sebagai Ratu EYD (versi majalah Auzora—yang hampir jadi) dia adalah Winarti RG.
Mekanisme pemilihan diputuskan tidak dengan sistem voting tapi dengan sistem negosiasi antar ketiga anak mudanya. Sistem negosiasi berlangsung tertutup selama tujuh hari eh kebanyakan maksudnya selama tujuh menit.
Hari semakin twilight, negosiasi pun selesai, ketiga anak muda pun meuju ruang sidang dengan wajah petak-petak menandakan akan ada yang berbeda kali ini. Dan benarlah bahwa terpilihlah Winarti RG sebagai ketua umum FLP Sumut yang baru.
Dalam pidato perdananya sebagai ketua umum FLP Sumut yang baru beliau mneyatakan bahwa selama masa kepemimpinannya pertama sekali yang ingin beliau lakukan adalah membuat FLP Sumut yang berprestasi dan wadah yang menyenangkan serta merangkul teman-teman anggota untuk saling memahami satu sama lain dan juga menanamkan sense of belonging (rasa memiliki) terhadap FLP tercinta ke dalam diri para anggota. Penulis yang sedang merampungkan novel Bintang jilid II ini juga mengatakan bahwa “terimalah daku apa adanya, jangan ada apa-apanya”. Amiin...Amiin InsyaAllah FLP Sumut ke depan menjadi lebih...lebih...lebih...lebih baik lagi dan bisa lebih baik dalam berkarya, berbakti dan berarti.

FLP: Forum Lingkar Perempuan, hah?
Sepertinya FLP tahun ini dirajai oleh wanita-wanita super. Setelah Mb I-Je yang diamanahkan menjadi ketua umum FLP Pusat Agustus 2009 lalu, kali ini di Musywil FLP Sumut, Mb Win diamanahkan menjadi ketua umum FLP Sumut. Semoga dengan ini FLP tidak dianggap sebagai Forum Lingkar Perempuan , namun diharapkan dapat menghasilkan penulis perempuan, penyair perempuan yang tak kalah hebatnya dengan penulis pria.
Ternyata hawa Mb Win yang membungkus rumah cahaya pada MUSYWIL ini sudah terasa sejak dari perjalanan Indrapura menuju Rumah Cahaya pada Minggu, pada jejak-jejak irisan gerimis pagi itu. Empiwit..empiwit.
Bravo FLP ^_^.

Jumat, 13 November 2009

Mengenang Luka Aceh dalam Kumpulan Cerpen



Judul : Rumah Matahari
Penulis : FLP Aceh
Cetakan : Pertama, Mei 2009
Tebal : 134 halaman

Teks sastra tulis Tjahjono Widijanto seorang penyair dan esais asli Ngawi dalam artikelnya yang berjudul Luka Dalam Sastra Indonesia dan Korea, bukan saja merupakan dokumen keindahan bahasa semata, melainkan juga dokumen sejarah yang didalamnya penuh luka sebuah bangsa. Dalam soal luka ini, tulis Tjahjono lagi bahwa peristiwa dalam sejarah “resmi”, oleh sastra tak dianggap sebagai “realitas tunggal” yang benar dan valid, sastra mengolahnya sebagai satu hal yang harus dipertanyakan lagi.
Begitupun dengan kumpulan cerpen dalam antologi ini, seolah-olah dengan menceritakan kembali slide demi slide, sketsa demi sketsa segala jejak sejarah yang pernah terekam khususnya jejak sejarah yang di negeri penuh percikan darah, Nangroe Aceh Darussalam ini akan menimbulkan dua keadaan, jika sejarah yang diukir itu indah tentu saja menimbulkan kenangan indah saat membacanya kembali, namun jika yang terekam adalah sejarah yang menyakitkan, saat membacanya sama seperti membuka luka lama yang ntah sembuh ntah jua tak kan pernah sembuh.
Antologi yang terangkum dalam 14 cerpen yang ditulis oleh anak-anak mudanya Aceh yang tergabung dalam sebuah komunitas kepenulisan bernama Forum Lingkar Pena Aceh, mencoba menyuguhkan sejarah ke dalam hidangan cerpen yang rasanya komplit saat membacanya.
Seperti cerpen yang satu ini, peristiwa tsunami yang sempat memporak porandakan Aceh beberapa tahun silam, di tangan seorang Alfi Rahman, tsunami yang terekam dalam cerpennya dipesonifikasikan sebagai pembunuh, hal ini tertulis dalam cerpennya berjudul “Pembunuh Berinisial T”. Dengan gaya suspensifnya Alfi menguatkan bahwa peristiwa tersebut begitu dahsyatnya menimpa bumi Serambi Mekkah dan meninggalkan jejak kenangan yang sulit sekali dihapus dengan penghapus ingatan apapun.
Cerdasnya lagi, dalam cerpennya Alfi mempu mengaitkan inisial “T” dengan berbagai hal yang berbau trauma. Tak tertebak oleh saya sama sekali bahwa “T” yang dimaksud bukannya hanya Tsunami, tapi juga menghubungkannya dengan peristiwa sejarah lainnya.
“Tidak!” Aku berteriak, mencoba memberi keyakinan dalam angan dan rasio terhadap sabda yang berulang-ulang menitip pesan.Mungkinkah “T” adalah keangkuhan pemilik kebersahajaan sang “Teuku”? Atau “T” adalah lengkah-langkah gagah yang menghentak bumi pemilik sepatu laras yang bernama “Tentara” Atau “T”adalah wujud ketidakberdayaan geraham hokum negeri berjuta luka dalam rangkuman yang “Tak Dikenal”. (hal.16)
Safrida Askariyah begitulah judul cerpen yang ditulis oleh Alimuddin penulis muda yang cukup malam melintang di dunia kepenulisan , ini cerpen yang paling saya suka dalam antologi ini, cerpen ini berhasil mengaduk-aduk emosi saya sebagai seorang wanita, pasalnnya peristiwa yang menimpa tokoh dalam cerpennya begitu miris. Ada sisi lain dari trauma pasca konflik di suatu daerah yang tidak selesai seketika di atas selembar perjanjian perdamaian, tidak sesederhana itu. Wajar jika kemudian Alimuddin membuat tokoh Safrida, mantan pasukan Inong Balee yang pernah terenggut paksa kehormatannya, bahkan tak percaya pada retorika perdamaian itu. Apa dengan perjanjian damai itu kehormatannya kembali? Inilah potret sejarah yang diawetkan dalam bingkai cerpen, tergambar kula derita di sekujur tubuh di sepanjang hayat.
Pada cerpen “Peluru Bertuliskan Nama Azzam”, saya sudah membaca cerpen ini sebelumnya di majalah Annida, membaca cerpen ini untuk kedua kalinya tetap berkesan. Arif Hening Surya mencoba menghadirkan “peluru” sebagai tokoh utama. Dialog antar peluru yang sama-sama bertuliskan nama Azzam tersebut menyentak hakikat kemanusiaan para pelaku kekerasan yang tidak memiliki nurani. Belajarlahh dari peluru-peluru yang hidup dalam cerpen ini, setelah itu bandingkan mana yang lebih punya nurani, peluru atau manusia?. Sama seperti Arif yang bernama pena Adi Zam Zam seorang Rinal gaya cerpennya juga bermain-main dengan memanusiakan benda mati sebagai tokoh utamanya hanya saja Rinal labih berani dan ekspresif dalam mengeksplorasi idenya. Cerpen yang berjudul “Seulanga yang Tercabik” menceritakan unsur-unsur pembangun peradaban bangsa Aceh sebagai tokoh-tokoh utamanya, tersebutlah Aceh yang ditokohkan sebagai Mak yang sudah tua renta dan bijaksana dalam memahami apa yang terjadi pada dirinya sebagai sejarah. Dia risau pada masa depan kemanusiaan anak-anaknya yang kian tercabik yakni Tanoh, Reusam, dan Hukom.
Namun, uapaya Mak Aceh menyelamatkan anak-anaknya dihalangi oleh seorang tokoh antagonis bernama Maheut yang berbati hawa nafsu. Benar-benar apik sekali mengemas dan menuliskan luka serta menghangatkan kembali ingatan kita akan polemic yang terjadi di negeri rencong ini. Setali tiga uang dengan cerpen Seulanga yang Tercabik, dalam cerpen “Dosa Yang Tak Terlihat”, Ade Oktaviyani nama lengkap penulisnya dengan cukup piawai mendeskripsikan Hasyim dengan dilemma rasa bersalahnya seumur hidup karena menyaksikan dalam diam pembantaian teman karibnya, Ramli, hingga tak sanggup menanggung beban dan akhirnya membuat Hasyim menjadi buta karena menyimpan fakat itu seorang diri. Berapa banyak tokoh Hasyim dikehidupan nyata yang mungkin jjuga turut menjadi saksi bisu atas pembantaian orang-orang terkasih oleh penjahat perang.
Luka sejarah bangsa yang seperti apa lagi yang coba diungkapkan oleh para anak-anak muda Aceh tentang tanah kelahirannya?, berikut Ferhat dalam cerpennya “Lakon Mak dan Ayah dan Nuril Annisa dengan “Nyak Loet”-nya, yang berkisah dalam cerpen mereka menggunakan sudut pandang kepolosan anak-anak. Mengambil ide cerita dengan tokoh utamanya adalah anak-anak dalam kedua cerpen ini cukup mengekspresikan bahwa setiap daerah konflik, tak sedikit anak-anak yang menjadi korban secara fisik dan batin, dan lagi-lagi luka sedang tercipta di sini.
Aceh sebagai Serambi Mekahnya Indonesia sangat kental dengan atmosfer relijius keislamannya. Arafat Nur—sastrawan dan jurnalis asal Lhokseumawe—dalam cerpen “Gampong” yang berarti kampung, dia menggambarkan kehidupan gampong yang tidak lagi elijius. Agama hanya sekedar symbol, bukan substansi. Demikian pula yang diungkapkan Yani dalam “Wali Nikah” tentang desakralisasi lembaga pernikahan dan maraknya praktek perzinahan yang ditutup-tutupi.
Beranjak pada cerpen lainnya, kita diajak untuk berpetualang pada ranah sejarah dan budaya Aceh yang penuh intrik dan polemic. Masih ada Meulod (Ubaidillah), Rumah Matahari ( Himmah Tirmikoara), Cahaya Hijau (Abdul Razak MH. Pulo), Blas! (F.Hacky Irawani), serta Negeri Ganjil ( Riza Rahmi).
Semuanya menyajikan suguhan yang bukan sekedar hiburan, tapi juga bertabur hikmah. Dan masih melanjutkan apa yang ditulis Tjahjono dalm artikelnya bahwa dalam konteks ini, teks sastra hadir sebagai uapay manusia (atau sebuah bangsa) kembali pada nilai dasar dan universal kemanusiaanya. Sastrawan hadir, tentu bukan sebagai sejarawan, ia memiliki cara dan kemampuan tersendiri dalam menampilkan sejarah “mental” sebuah bangsa. Dari situ mungkin, pelajaran terpenting dari sejarah bias kita dapatkan.
Oleh karenanya, tak ada salahnya buku ini menjadi koleksi antologi cerpen Anda berikutnya untuk meyegarkan ingatak dan wawasan histories tetnang Aceh dan menjadi orang pertama yang tahu apa yang selama ini belum tersingkap setelah membaca cerpen berbalut sejarah dalam antologi ini.