Kamis, 08 November 2012

Antara Kesepian Sekuler dan Kebersamaan Islam

Dec 21, '10 4:28 AM
untuk semuanya

assalaamu’alaikum wr. wb.

Dalam sebuah majalah yang khusus membahas masalah-masalah sastra, penyair kawakan Taufik Ismail pernah menjelaskan standar yang digunakannya untuk menilai suatu karya sastra itu mengandung unsur-unsur porno atau tidak.  Cara sederhana yang diajukannya adalah dengan mengganti nama-nama tokoh perempuan dalam karya tersebut (karena biasanya yang porno-porno selalu berkaitan dengan tokoh perempuan) dengan nama ibu kita, kakak/adik perempuan kita, bibi kita, istri kita, atau anak perempuan kita.  Jika kita merasa risih atau jijik dengan cerita yang dihasilkan, berarti karya itu memang porno.

Taufik Ismail bukan sekedar penyair yang gemar bermain kata-kata.  Sebagai seorang Muslim, kepenyairannya tak pernah bisa dipisahkan dari identitasnya sebagai seorang Muslim.  Karena cara berpikirnya telah terwarnai (ter-shibghah) dengan ajaran Islam, maka responnya terhadap masalah pun sejalan dengan pandangan Islam.

Apa yang dikatakan oleh Taufik Ismail nyaris sama persis dengan pendekatan masalah yang digunakan oleh Rasulullah saw. ketika seseorang datang menghampirinya untuk meminta izin berzina.  Permohonan izin itu disampaikannya terang-terangan, sehingga orang-orang di sekitarnya pun mendengar.  Mereka yang mendengar berusaha mencegahnya mendekati Rasulullah saw., namun beliau justru menyuruhnya untuk mendekat.  Setelah itu, Rasulullah saw. membimbingnya untuk memikirkan keinginannya sekali lagi.  Bagaimana jika ada orang lain yang berzina dengan ibunya?  Bagaimana jika ada orang yang berzina dengan bibinya?  Bagaimana jika putrinya diajak berzina oleh orang lain?  Jika kita tak suka ada orang yang berzina dengan ibu, bibi atau putri kita, maka kita pun tak boleh berzina, sebab yang kita ajak berzina pastilah ibu, bibi atau putri orang lain.  Argumen ini begitu sederhana, begitu mudah dicerna akal.

Seringkali perbuatan keji dianggap biasa hanya karena kita melihatnya dari kaca mata ‘pelaku’.  Sebagai pelaku, kita hanya merasakan kenikmatan sesaat dari perbuatan keji yang kita lakukan.  Adapun konsekuensi jangka panjangnya, apalagi dosa yang baru ketahuan akibatnya di akhirat nanti, biasanya akan dianggap remeh.

Masalahnya akan lain jika kita menggunakan kaca mata ‘pengamat’, apalagi kaca mata ‘korban’.  Mengakses situs-situs porno mungkin terasa menyenangkan, namun jika kita melihat para pelajar dan mahasiswa mengaksesnya di warnet-warnet, akan terasa betul betapa keji dan menjijikkannya perbuatan tersebut.  Banyak orang senang melihat supermodel yang membuka auratnya lebar-lebar, tapi kita tidak tahu persis bagaimana reaksinya jika putrinya sendiri menjadi supermodel yang berbuat demikian.  Ada perempuan yang jadi istri simpanan, dan akhirnya bisa menyingkirkan istri tua dari suaminya, lalu kemudian ia pun disingkirkan oleh perempuan yang lain lagi.  Apa anehnya?  Lelaki yang mengkhianatinya kini adalah lelaki yang sama yang pernah mengkhianati perempuan lain.  Hanya saja, ia lalai mengganti ‘kacamatanya’ sebelum bertindak jauh, sehingga pada akhirnya ia terpaksa merasakan perspektif ‘korban’ secara nyata.

Inilah sisi sekuler yang jarang dipikirkan orang.  Sekularisme menghendaki dipisahkannya agama dari kehidupan sosial manusia.  Akibatnya, tidak ada aturan yang mengikat interaksi sosial kita.  Karena awalnya tidak ada aturan, maka aturan pun diada-adakan dengan melakukan penyesuaian dari masa ke masa, karena ia adalah sebuah produk dari akal manusia yang kapasitasnya terbatas.  Hasilnya adalah relativitas nilai.  Apa yang dianggap hina dulu bisa dianggap heroik di jaman sekarang, demikian juga hal-hal yang dianggap mulia sekarang mungkin akan dianggap sebagai sebuah kecelakaan sejarah di masa mendatang.

Manusia sekuler hidup dengan memisahkan dirinya dari yang lainnya, baik manusia lain yang hidup di sekitarnya maupun manusia lain yang pernah hidup dalam sejarah.  Mereka memandang segala sesuatunya secara parsial.  Sebaliknya, Islam selalu menggunakan cara berpikir yang komprehensif, menggunakan segala sudut pandang yang mungkin digunakan.  Itulah sebabnya, menurut ajaran Islam, manusia dibedakan derajatnya berdasarkan tingkat ketaqwaannya, sedangkan ketaqwaan itu diwujudkan dalam ketelitian dan kehati-hatian dalam segala sesuatunya.  Orang yang bertaqwa bukan yang tidak pernah salah atau khilaf (bahkan tak ada seorang pun manusia yang seperti itu), namun ia pastilah orang yang sangat memperhatikan detil dari segala tindak-tanduknya.  Teliti dan komprehensif dalam segala tindakan ini berasal dari sikap ihsan, yaitu senantiasa merasa berada di bawah pengawasan Allah Yang Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha Adil.

Sekularisme adalah ideologi kesepian, di mana setiap manusia hidup untuk dirinya sendiri dan tak bisa mengharapkan pertolongan dari orang lain.  Seorang ibu tak bisa melindungi anak-anaknya dari pornografi lantaran pemerintahnya memutuskan untuk menjadi sekuler.  Mereka tahu bahaya minuman keras dan prostitusi, tapi sekularisme mengharuskan mereka untuk hidup ‘rukun’ bersamanya.

Adapun Islam, ia adalah ajaran yang selalu mementingkan kebersamaan.  Apa yang kita lakukan akan berdampak pada orang lain, demikian juga apa yang orang lain lakukan pastilah berdampak pada kita.  Islam tidak hanya melarang zina, tapi juga melarang mendekati zina, bahkan juga melarang orang untuk berdiam diri ketika menyaksikan perzinaan terjadi di lingkungannya.  Mencegah perzinaan dan menghukum orang yang berzina bukanlah kepentingan pribadi per individu, karena yang dirugikan adalah seluruh elemen masyarakat.  Segala bentuk kemaksiatan senantiasa bersifat menular dan tumbuh perlahan bagaikan virus.  Islam menyuruh manusia untuk membasmi virus-virus maksiat, sedangkan sekularisme hanya memberi perhatian pada mereka yang sudah hampir sekarat akibat virus-virus tersebut; itu pun hanya memberi perhatian, bukan menyembuhkannya!

Begitu seorang bayi lahir ke dunia, Islam mengakuinya lebih cepat daripada orang tuanya sendiri.  Sementara akta kelahiran – yang menunjukkan kewarganegaraan yang sah dari bayi tersebut – belum lagi dibuat, Islam sudah mengakuinya sebagai bagian dari umat yang satu.  Setiap Muslim adalah saudara dari Muslim lainnya.  Setiap Muslim adalah ayah, saudara laki-laki, dan anak lelakinya, sedangkan setiap Muslimah adalah ibu, saudara perempuan, dan anak perempuannya.  Jika ada nenek renta yang ditinggal sendiri di rumahnya, masyarakat Muslim tak melempar tanggung jawab untuk merawatnya.  Janganlah heran, dahulu pernah terjadi pengepungan terhadap warga Yahudi Madinah demi kehormatan seorang Muslimah.  Ketika itu, sekelompok pemuda Yahudi menyingkap pakaian sang Muslimah sehingga terlihat auratnya.  Seorang pemuda Muslim yang ada di sekitar situ langsung membunuh pemuda Yahudi yang melakukan pelecehan tersebut, dan kemudian ia pun dikeroyok hingga terbunuh juga.  Keadaan darurat segera dikumandangkan, dan kabilah Yahudi tersebut dikepung.  Pelecehan terhadap Muslimah yang tidak dikenal sebelumnya sama dengan pelecehan terhadap saudara kandung kita sendiri.

Islam tidak mengijinkan setiap orang berpikir sekuler; mereka tak boleh memisahkan dirinya dari yang lain.  Mereka harus menyadari bahwa hidupnya hanya untuk Allah, dan Allah menghendaki hamba-hamba-Nya untuk saling mengenal, saling memahami dan saling menanggung beban satu sama lainnya.  Itulah sebabnya keimanan seseorang tak bisa disebut sempurna jika ia belum mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.  Tidak perlu heran jika ada mujahid yang sedang sekarat justru ingin mengoper minumannya kepada saudaranya yang juga sedang sekarat.  Saudaranya pun ingin mengoper lagi minumannya, hingga ketiga mujahid itu akhirnya menghembuskan napas terakhir sebelum sempat meneguk air.

Sekularisme menghendaki jiwa yang kerdil, kehidupan yang sempit dan kesepian yang tak ada ujungnya, sedangkan Islam mengajarkan manusia untuk berjiwa besar, memiliki kehidupan yang luas dan kebersamaan yang hanya dibatasi oleh umurnya di dunia.  Maka berhentilah berpikir sekuler dan tinggalkanlah cara berpikir yang parsial dan individual, agar Anda tidak kesepian di dunia, dan lebih kesepian lagi di akhirat.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

copas dari Blog Malami Bookstore


Sabtu, 03 November 2012

Everyone Knows Something, …

Mencoba hal baru yang positif tentunya adalah hobiku. Termasuk bergabung menjadi di Tim Pelatihan TIK bagi para Guru se-Labuhan Batu. Tim ini dikelola oleh AT TIK ( Armada Trainer Teknologi Informasi dan Komputer ) dan dibawah pengawasan sebuah lembaga social bernama Djalaluddin Pane Foundation.

Kegiatan pelatihan berlangsung selama  3 hari, dari tanggal 1- 3 November 2012 di SMK Swasta Siti Banun, Sigambal, Labuhan Batu. Pelatihan pun ditujukan pada para guru se-Labat.


Tantangan hal baru yang sedang kucoba beserta kawan-kawan adalah membantu para guru dalam mengoptimalkan penggunaan computer dan  internet sebagai salahsatu media pembelajaran.


Mungkin menghadapi para guru dan berbagi ilmu bukan kali pertama bagiku. Ramadhan lalu baru saja membantu para Bapak/Ibu pegawai sebuah bank untuk membuat opini, dan awal November cakep ini diberi kesempatan untuk berbagi ilmu dengan para guru se-Labat.


Hari pertama, masih membaca kemampuan para guru, sudah sejauh mana bekal pengetahuan computer dan internet yang mereka miliki. Dari empat belas guru, ada beberapa yang buta sama sekali dengan computer, bahkan pegang mouse saja kaku, ngetik pun satu jari, tap tup tap tup.


Ah rasanya seperti membimbing mamak dan bapak awak sendiri belajar computer. Terbesit di hati, inilah hikmah belajar di waktu masih muda, melihat bapak ibu guru yang usianya ada yang sebaya adik mamakku, sebaya mamakku dan ayahku serta belum tahu sama sekali tentang computer, kalau pun tahu hanya sekadar tahu, rasanya ilmu yang kumiliki mahaaaaaaaaaaaaaal sekali. 

Ada salahsatu peserta bernama Sole, body  bapak guru ini big size, nama keren bapak ini Pak Sogun (Sole Gendut), ia bilang begini, ‘itulah kenapa kita disuruh belajar di waktu muda, ibarat mengukir di atas batu, ingat terus, tapi kalau belajar di waktu tua ni, hari ini dipelajari, besok dah lupa, yang kami punya saat ini cuma SEMANGAT  belajarlah’, wow tiba-tiba haru menyeruak begitu saja T_T.


Bapak dan ibu guru di pelatihan tersebut luarbiasa semangat, apalagi di hari pertama, daku menyampaikan materi tentang search engine Google. Guru yang jarang atau bahkan tak pernah sentuh komputer pun, eh di pelatihan ini langsung diajarkan internet, hehehe. Bahkan di hari ke dua diajarkan penggunaan power point, dan hari ketiga kompetisi sederhana membuat bahan ajar menggunakan media microsoft power point serta mempresentasikannya ke depan peserta lainnya dan trainer.

Beberapa remah yang kukutip dari perjalanan kali ini:
1.       Tidak ada kata terlambat buat belajar
2.       Apa alasan kita yang muda ini malas belajar? Duh, kalau kamu tua, kamu bakal ngerasain ruginya menyiakan waktu muda tanpa ada belajar ilmu apapun, pastinya ilmu yang positif ya
3.      Everyone knows something, no one knows everything, so … belajar itu kegiatan seumur hidup, kawan :D

Nah, biar ilmu kita berkah dan tak lupa, sebarkanlah dan ajarkan, insyallah ilmu kita bakal bertambah. SELAMAT BELAJAR!

# KA. Sribilah Malam, Kursi 13C, 05.00 WIB

Sabtu, 13 Oktober 2012

Ada Apa dengan Lagu I Won’t Give Up?

-->
Di dunia ini ada banyak karya yang terlahir termasuk dibidang seni musik. Temanya beragam mulai dari tema cinta, persahabatan, patah hati, semangat dan sebagainya.
Lagu yang bertema cinta gak usah ditanya, berserak dimana-mana hahaha, begitu juga dengan tema semangat, D’Massiv dengan hit andalannya ‘Jangan Menyerah’, Sheila on 7 dengan Aku Pasti Bisa-nya dan Bondan Feat Fade2Black dengan Ya Sudahlah. Kita sedikit keluar negeri, lagu yang bertemakan semangat juga banyak, ada Mariah Carey dengan Hero, lagu ini laris saat pelatihan peserta MLM :D, Raise Me Up- nya James Blunt, lalu ada The Corrs dengan ‘Would you be happier’-nya dan masih banyak lagi.
Kali ini, aku mau berbagi tentang lagu kesukaanku belakangan ini, I won’t give up-nya Jason Mraz. 
google.com
Ah, lagu ini jelmaan puisi namun dihiasi dengan irama sehingga makin afdol lah dia.
Sekilas Tentang I Won’t Give Up
Sebelum masuk lebih dalam ke pembahasan lirik, kita bedah dulu asal muasal lagunya :D.
Jadi, seperti yang sudah daku bocorkan di awal, IWGU lagu yang dinyanyikan Jason Mraz, penyanyi asal Amrik. Lagu ini adalah single andalannya di album Jason yang ketujuh bertajuk Love is a four letter word pada 3 Januari 2012, *jiaaahhh…kemana aja dakuuu…lagu keren ini terlewat begitu saja :D*
IWGU sejak diluncurkan mendapat sambutan meriah. Bill Lamb dari About.com memberikan 4.5 bintang dari 5 bintang terhadap lagu IWGU. Lamb mengatakan kalau lagu ini bukan untuk pengantin saja tapi juga untuk segala momen ketika para pasangan menyadari semua usaha yang dilakukan selama ini gak sia-sia dan bersama  menemukan untuk kebahagiaan masa depan yang membentang. Dan baik vocal dan lirik lagu dalam hal ini Jason sebelas dua belas bagusnya dengan kemampuan Adele membawakan lagu Someone Like You, emosi penikmat lagu dimainkan sebegitu wownya dengan dentingan piano sederhana yang mengiringi lagu dan susunan vocal yang ciamik.
Maria Skullova dari Chemical Magazine *wuidihh…ada ya majalah kimia? Keren* mengomentari lagu ini, ‘Lagu ini adalah jenis lagu yang akan membuat kamu membuka perasaan kamu ketika kamu dalam fase buruk di sebuah hubungan’ *ow…ow…*
IWGU dibawa Jason dengan elegan, dengan petikan gitar akustiknya dan warna suara Jason yang rada-rada nge-rock juga, jadi genre lagu ini pop rock gitu, dah gitu Jason melantunkannya dengan sepenuh jiwa….pas dilirik pertamanya ‘When I look into your eyes, it’s like watching the night sky or a beautiful sunrise–there’s just so much they hold” *hadeeehh…apa gak meleleh cewek-cewek dinyanyikan lagu begitu* #keju kale meleleh hihihih
Lirik Lagu I Won’t Give Up’
Eaakk…karena ingin praktis terjemahan lirik lagunya daku copas dari situs :D, pada akhirnya daku juga belajar menterjemahkan lagu barat ke bahasa Indonesia yang asiikkk. 
coverlaydown.com

When I look into your eyes,
Saat kutatap matamu
It's like watching the night sky
Seolah sedang kupandangi langit malam
or a beautiful sunrise,
Atau indahnya mentari terbit
There's so much they hold
Banyak arti dari dua hal itu
And just like them old stars,
Begitu pula bintang-bintang di atas sana
I see that you've come so far,
Kulihat tlah kau tempuh perjalanan panjang
to be right where you are,
Tuk sampai di tempatmu kini berada
How old is your soul?
Berapakah umur jiwamu?

Paling suka dibagian chorus , inti dari lagunya :D
CHORUS:
I won't give up on us,
Takkan kuberhenti berusaha
even if the skies get rough
Meskipun langit mulai menghitam
I'm giving you all my love
Kuberi kau seluruh cintaku
I'm still looking up
Aku masih tetap melangkah

And when you're needing your space
Dan saat kau ingin sendiri
to do some navigating
Untuk bertualang
I'll be here, patiently waiting,
Aku kan di sini, sabar menunggu
to see what you find.
Tuk melihat yang kau temukan

'Cause even the stars they burn,
Karena meskipun bintang terbakar
some even fall to the earth.
Bahkan ada yang jatuh ke bumi
We got a lot to learn.
Banyak yang kita pelajari
God knows we're worth it
Tuhan tahu kita layak menerimanya
No, I won't give up
Aku takkan menyerah

I don't want to be someone
Aku tak ingin menjadi seseorang
who walks away so easily
Yang pergi dengan mudahnya
I'm here to stay
Aku akan tinggal
and make the difference that I can make
Dan membuat perbedaan
Our differences, they do a lot to teach us,
Perbedaan kita, banyak yang mereka ajarkan pada kita
how to use the tools and gifts we got,
Cara manfaatkan alat dan anugerah yang kita punya
yeah, we got a lot at stake
Yeah, banyak yang kita pertaruhkan
and in the end you're still my friend.
Dan pada akhirnya kau kan tetap jadi temanku
At least we did intend for us to work.
Setidaknya kita berniat pertahankan hubungan kita
We didn't break, we didn't burn.
Kita tak patah arang, kita tak terbakar
We had to learn how to bend,
Kita harus belajar menunduk,
without the world, caving in.
Tanpa dunia ikut runtuh
I had to learn, what I've got
Aku harus belajar, apa yang kupunya
And what I'm not and who I am.
Dan yang tak kumiliki dan siapa diriku

CHORUS

I'm still looking up.
Aku tetap melangkah

Well,
I won't give up on us.
Aku takkan berhenti berusaha
(No, I'm not giving up.)
(Aku takkan menyerah)
God knows I'm tough, he knows.
Tuhan tahu aku kuat, Dia tahu.
(
I am tough, I am love.)
(Aku kuat, aku adalah cinta.)
We got a lot to learn.
Banyak yang kita pelajari
(We're life, we are love.)
(Kita adalah hidup, kita adalah cinta)
God knows we're worth it.
Tuhan tahu kita layak menerimanya
(And we're worth it.)
(Dan kita layak menerimanya)
Gimana? Dalemkan liriknya? *pake pelampung biar gak tenggelam :D*, Silahkan arti sendiri makna dari tiap liriknya yah, yang jelas lagu ini asyik dan penuh optimistic, gak cengeng, gak galau, keren lah. Cocok didengarkan siapa saja apalagi buat pasangan yang sudah menikah, mmm so sweet, buat yang masih single fighter ya ambil hikmahnya aja yah *nelen speaker* dan lagu ini bisa buat ortu kamu, sahabat untuk cita-cita yang belum kesampaian dan sebagainya.
Happy singing!




Jumat, 12 Oktober 2012

Jason Mraz Makes Me Cry

I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up

Pertama kali dengar lagu ini di angkot 20 jurusan Kp. Lalang, angkotnya sering ngetem di simpang empat pintu 1 Unimed. Kita flashback dulu ya, kenapa tiba-tiba aku ada di angkot itu…

Hari itu hari Senin, hari mengejar dosen langka yang hanya dua bulan sekali ada di kampus selebihnya dia ngajar di Malaysia. Sesampainya di kampus, sms sang dosen baru masuk dan dia mengabarkan bahwa aku harus menemuinya di kampus Pascasarjana yang letaknya diujung langit :D, pukul 1.

Mendadak lemas bin panik, aku butuh tandatangannya hari ini juga agar aku bisa urus ijazah, mau tak mau aku harus kesana tapi gimana caranya sedangkan jam 2 aku ngajar. Dilema.

Aku terduduk di taman fakultas, selagi menunggu skripsiku ditandatangani sama Dekan dan distempel. Aku ngobrol dengan adik kelas waktu di MAN dulu dan kami sama-sama tamat kuliah :D, gak lama ngobrol datang temanku ngabarkan bahwa aku belum dinyatakan lulus dalam seleksi program pembibitan dosen. 

maksa banget ya kan? :D

Deg!

Huwaa..bercampur rasa, bingung, dilemma, ditambah lagi berita yg tadi. Sebenarnya utk keputusan apapun, aku sudah mempersiapkan diri. Dari awal berdoa begini, ‘Ya Allah jika memang ada rezeki dalam program pembibitan dosen ini, lancarkan, mudahkan, namun bila tidak berilah pengganti yg lebih baik, dan jangan buat aku terlalu kecewa ya Allah, aamiin’

Gak terlalu kecewa memang, tapi mendadak berkelebat segala rencana-rencana yg ada di kepala. Jika aku lulus maka akan begini rencana hidup yg kurancang, jika belum lulus, aku akan banting setir dengan menjadi job hunter :D

Sedihnya lagi, aku jadi teringat nenek, pertama kali dia dengar aku dapat tawaran beasiswa ini, nenek senang gilak, dia sampai memelukku dan menangis. *wuaahh..tisu? mana tisu?* Makanya yang pertama kali terbayang sejak dapat kabar dari temanku itu adalah wajah nenek, dan  sampai sekarang belum aku sampaikan pada nenek bahwa aku gak lulus. Setelah itu wajah orangtua, dan semua yang tersayang. Hiks…!

Selagi minta pertolongan ke sahabat yang bisa ditebengin buat ke kampus Pasca, Alhamdulillah ada dan kami janjian ketemu di kantornya.
Maka untuk menuju ke kantornya, aku langsung jalan terburu, mencoba mengabaikan rasa ‘kecewa’, dan naik angkot 20 yg sedang ngetem.

Disinilah aku, …

Menunggu penumpang, ramai dulu penumpang baru jalan. Syukurnya gak terlalu bengong-bengong amat, supirnya pasang muter radio, jadi bisa denger music, namun asli membuatku teringat apa yang dikabarkan temanku itu tadi ditambah lagi alunan musik I won’t give up, ya ampuunnn…aku meleleh T_T, ku tahan air mataku, soalnya selain aku ada dua perempuan cewek di depanku, malu dong kalau aku nangis. :D

Huwaaa…sedih banget, duh gara-gara lagu itu aku cengeng gila, sampai kucatat, lirik reff nya, dan bertekad aku harus temukan lagu itu.

Setengah jam berlalu, dalam perasaan kacau balau, lengkap sudah kegelisahanku, 15 menit lalu aku sudah tanyakan ke supir kapan akan berangkat, katanya tunggu 3 orang lagi. Ok fine!

10 menit penumpang udah berjumlah lima, tapi kok belum jalan juga, gak iya nih. Aku turun, naik angkot 62 and thensampai di aksara nyambung 65. Finally, 1 jam waktuku terbuang begitu saja, dan akhirnya sampai juga di kantor sahabatku itu.

Hari Senin, kulalui dengan rasa campur baur. Dan jadi teringat dengan apa yang ditulis Ippho ‘Right’ Sentosa dalam bukunya 10 Jurus terlarang.
gramediaonline.com
…Kalaulah kita mengucurkan air mata karena kehilangan, kegagalan, atau kebuntuan, maka itu adalah sinyal kelemahan. Kelemahan karena tangisan itu menunjukkan betapa posesifnya kita, betapa egonya kita, betapa tidak rasionalnya kita…Tangisan jenis ini yang merupakan tanda kerapuhan diri…Menangislah bila harus menangis kata Dewa 19. Sekali lagi, bukan sembarang meneteskan air mata! Sejenak dan sesekali, menangislah demi impian-impian, nilai-nilai, orang terkasih, dan penyesalan-penyesalan. Percayalah kita tidak akan pernah menjadi lemah karenanya, justru kita akan peroleh pencerahan, kelegaan dan kekuatan!

Dikuatkan lagi dengan pesan singkat seorang sahabat, dia bilang begini ‘Sudah gak apa, Allah pasti sudah mempersiapkan rencana yang lebih baik, lebih indah, dari ini, tenang aja’, :)

Hari Rabunya, aku ke Gramedia, setelah dari acara diskusi dengan Esmeralda, dan pas bergerilya di bagian stationary, eh lagu ini diputar lagi, ah gak iya nih, lagunya begitu sesuatu. Saatnya menuju download lagu gratis :D.

Sampai disini…aku belum tau siapa penyanyi lagu I won’t give up :D

-to be continued… Ada apa dengan ‘I Won’t Give Up?