Senin, 15 Februari 2010

Kursus Bahasa Mandarin Membawa Jodoh


Kursus Bahasa Mandarin Membawa Jodoh
oleh Zee


Judul buku : Wo Ai Ni : Jangan Ekspor Cintaku
Penulis : Achi TM
Penerbit : Bukune
Cetakan : I, Juli 2009
Tebal : 376 hal

Judulnya unik dan mengundang rasa ingin tahu. Gambar sampulnya menggambarkan sepasang kaki yang memakai sepatu boots coklat dibelakangnya ada tas besar berwarna biru, biasanya filosofi tas dan sepatu mengisyaratkan seseorang yang ingin pargi jauh untuk beberapa lama. Mencoba menebak isi bukusepertinya saya akan di bawa ke negeri yang disebut Muhammad SAW dalam haditsnya “tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”. Ternyata setelah membaca deskripsi di sampul belakang, dugaan saya benar adanya bahwa saya benar keliru ^_^, novel ini berlatar suasana pelatihan kursus bahasa Mandarin. Kisah dari dunia pelatihan kursus bahasa mandarin—bahasa yang katanya sudah menjadi bahasa internasional kedua setelah bahasa inggris.

Saya pun ingin tahu lebih dalam, suka duka mengikuti diklat ini selama tiga bulan, karena novel ini tidak tanggung-tanggung ditulis oleh pelakunya yang masih hidup dan saya ingin menemukan kiat-kiat mendapatkan jodoh di pelatihan kursus bahasa mandarin (lah?).

Pengalaman Achi
Di bulan Ramadhan yang sumringah ini Achi seorang gadis asal Banten tiba-tiba ditengah kegalauannya menjadi seorang pengangguran dan jomblo sejati, mendapat telepon dari temannya untuk belajar bahasa Mandarin GRATIS di Jakarta. Sepertinya gadis ini hidup hanya untuk mendengar kata gratis dan langsung mengiyakan. Bersama rombongan kontingen dari Banten, Achi pun berangkat ke lembaga kursus tersebut.

Usut punya usut Achi dan teman-temannya mau dijadikan TKI dan TKW setelah tamat dari lembaga tersebut. Benarkah? mangap: mode on.

MLC itulah nama lembaga kursus tersebut dan disanalah semuanya bermula.

Cerita pun berlanjut mengenai pengalaman Achi dan teman-temannya yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Selama mengikuti pelatihan di dalam lingkungan asrama banyak kejadian dan peristiwa yang penuh dengan kejadian seru, konyol, dan lucu, seperti guru atau yang dipanggil laoshi yang dikira murid, episode Achi yang kabur dari apel malam sampai mengejar bajaj untuk mengambil dompet yang tertinggal, juga di bab Congek in Love (hal.157) benar-benar membuat saya tertawa ditengah malam saking lucunya tapi juga sedih, membayangkan Achi yang kesakitan saat congeknya tidak mau dipisahkan dari Achi, hohoho. Di balik kejadian suka duka itu semua, ternyata cinta Achi bersemi di kelas D, the king of sleep itu telah memporakporandakan hati Achi seperti habis diserang tsunami. Berhasilkah Achi menaklukkan hati sang Tao Ming Tse yang terkesan cuek? Akankah perjuangan Achi direstui Gusti Allah agar cintanya tidak jadi diekspor ke Taiwan?.

Novel Pelit yang Lucu tapi Tidak Pelit Hikmah

Bukune, salah satu penerbit yang terbilang masih baru dijagad dunia penerbitan di Indonesia dan digawangi oleh sekelompok anak muda yang kreatif, walaupun masih baru tapi penerbit yang mempunyai Raditya Dika sebagai pemred, bisa dibilang cukup mumpuni dan diperhitungkan, lihat saja genre nonfikis yang diberi label halal eh maksudnya pelit (personal literature) mulai bertaburan di toko-toko buku besar di Indonesia. Ini menandakan buku-buku terbitan Bukune memang laris di pasaran. Hanya saja jujur, awalnya saya sangat anti membaca buku nonfiksi yang hanya sekedar menawarkan kelucuan semata, mengumbar-umbar aib dan dibumbui dengan kata-kata vulgar, karena bagi saya pembaca yang selektif ini, saya tidak mau mengeluarkan uang hanya untuk membeli buku yang tidak memberikan efek apa-apa pada saya setelah membacanya selain cuma kelucuan yang dilebih-lebihkan.

Pada novel yang ditulis sendiri berdasarkan pengalaman nyata penulisnya, mbak Achi TM, menawarkan sesuatu yang beda. Tak hanya lucu dan menghibur tetapi juga menyelipkan pelajaran hidup sederhana yang bermakna seperti makna kebersamaan, persahabatan (saat Teh Nur mengalami kecengklak kakinya di bab Kecengklak, Oh Dunia!) , kerja keras (saat Achi kehabisan subsidi uang dari orangtuanya dan punya ide untuk membuka jasa laundy di asramanya, tapi tidak berlangsung lama, juga hobi menulis Achi yang bisa menghasilkan uang), dan juga renungan-renungan—Achi suka sekali mengambil hikmah dari setiap kejadian yang menimpanya, seperti yang diceritakan di bab Congek in Love, tadinya Achi begitu merasa orang terkaya di dunia gara-gara uangnya lagi banyak, dan Allah memberi cobaan dengan menimpakan penyakit pada Achi sampai harus mengeluarkan enam ratus ribu hanya untuk mengobati si congek). Oya saya suka karakter Achi itu bahwa dia cewek yang rasa percaya dirinya tinggi, dimana-mana cowok yang nembak cewek, ini malah Achi yang nembak si cowokgantengmisteriuspakepecitapijutek (hosh-hosh..., ngos-ngosan saya menulis namanya), yang pada akhirnya dengan perjuangan yang sangat, the king of sleep itu dengan si Achi yang grasakgrusuk berikrar dengan disaksikan Candi Borobudur untuk sehidup semati, lalu mereka pun menikah, hoaaaa...MAU? (*mupeng: mode on*). Saya pun berkesimpulan tak lama setelah mengkhatamkan novel yang keren ini bahwa cinta itu harus diperjuangkan jauh-jauh hari sebelum kita tahu kepastian berangkat ke Taiwan walaupun rencana bersejarah itu pada akhirnya dibatalkan juga. Uhuk...uhuk bijaksana sekali kau anak muda ^_^.

Rasa buku terbitan Bukune tidak jauh-jauh dari polesan tulisan gaya Raditya Dika—siapa yang tidak kenal dengan pemuda tukang banyol dan gokil ini. Kambing Jantan salah satu masterpiecenya yang telah dibukukan dan bahkan sudah difilmkan. Ada beberapa polesan cerita yang sepertinya Radith banget di novel ini, yang menurut saya cerita itu sudah bagus tanpa harus dilebih-lebihkan, kesannya jadi tidak lucu malahan jadi garing—cerita saat Lusi tidak sengaja membuka pintu kamar mandi asrama cowok.

Ada satu bab yang membuat saya harus membongkar laci ingatan saya, seingat saya pada Bab Memori Piring, entahlah seingat saya, saya pernah menontonnya di salahsatu FTV atau malah pernah membacanya entah di novel apa gitu, yang jelas saya tidak tahu persisnya dimana, tapi saya ingat sekali jalan ceritanya itu persis banget seperti yang ditulis dalam bab Memori Piring, kenapa itu bisa terjadi ya?.


Belajar Bahasa Mandarin lewat Novel

Ada beberapa judul bab favorit saya, tapi saya suka kesulitan menemukannya gara-gara tidak ada daftar isinya, selain itu ada juga beberapa kesalahan pengetikan dibeberapa tempat yang sedikit mengganggu kenyamanan saat membacanya.

Terlepas dari segala kekurangan yang ada, novel yang ditulis oleh ibu satu anak ini layak dibaca oleh siapa saja. Buat Anda yang kurang semangat dalam belajar bahasa Mandarin, novel ini juga bisa dijadikan pemicu agar semangatnya kembali lagi, dan buat yang menganggap bahasa mandarin itu tidak penting, baca juga novel ini agar merubah perspektif Anda yang super salah itu.

Dengan dialog-dialog yang sesekali diselipi bahasa mandarin serta tak lupa pula dengan bumbu-bumbu humornya yang menggelitik dijamin bisa menambah kamus Anda dalam bergaul.
Selamat membaca ^_^.

Senin, 14 Desember 2009

Aura “Bintang” dalam Musywil FLP SUMUT


oleh: Zee
Minggu pagi (29 November 2009) disambut dengan guyuran hujan yang sederhana seolah mengingatkan kami para pengurus FLP Sumut periode 2007-2009 yang akan ber-LPJ ria hari ini bahwa hadapi dulu guyuran hujan baru kau akan melihat betapa indahnya pelangi. Ya, hari ini FLP Sumut akan mengadakan Musyawarah Wilayah atau Musywil (yang keberapa ya, duh daku lupa?), seperti apa jalannya Musywil kali ini, ikuti perjalanan saya (kayak acara reality show yg di tipi-tipi ya? Hehe).

“Wadaw mana ni orangnya?, yang baru nongol di rumcay cuma para pengurus FLP sama beberapa para anggota, namun para sesepuh FLP dan pembina FLP serta para undangan juga belum ada yang hadir”, dalam hatiku membatin, padahal diundangan acara mulai jam sembilan dan sekarang jam sudah melangkah ke pukul sepuluh (kayak tinggal di Indonesia aja, serba ngaret :p).

Tepat pukul setengah sebelas pun mau tak mau acara pembukaan dimulai. Walaupun dalam keadaan jumlah peserta yang cuma 17 orang dari beberapa puluh orang yang sudah mendaftar menjadi anggota FLP hehey. Tapi jumlah peserta pada musywil kali ini cukup menorh prestasi yang bagus dibanding jumlah peserta musywil dua tahun lalu.

Inti dari pembukaan musywil kali ini ada pada kata sambutan ketua FLP Sumut periode 2007-2009, beliau disana agak sedikit curhat, bahkan sempat mengeluarkan statement “hiks...hiks”, dalam pidato pembukaannya yang hanya berlangsung lebih kurang tujuh menit itu beliau menceritakan pengalaman saat berada di singgasana ketua FLP Sumut yang penuh suka dan duka. Pengalama suka yang beliau rasakan selama memimpin adalah suatu kemudahan yang diberikan Allah bahwa FLP Sumut sudah punya sekretariat yang tetap sehingga tidak perlu ber-nomaden ria lagi. Sedangkan dukanya adalah ditinggal pergi para anggota selama beliau memimpin (Bayangkan!!!, dalam setahun lebih kurang ada tiga anggota yang menikah dan harus ikut suami yang stay nya gak di Medan, weleh..weleh), belum lagi dengan kondisi anggota yang memang terdiri dari orang-orang hebat yang super duper sibuk, rata-rata jam terbang mereka tinggi,(ngalah-ngalahin jam terbang Gatot Kaca, di sana gunung di sini gunung di tengah-tengah pulau jawa...), sedihnya lagi sang ketua ditinggal pergi sama sekretarisnya sendiri, jadilah ketua kami ni single parent, overlapping tugas pun tak terhindarkan lagi, ketum merangkap sekum, ck...ck...ck. Eits...tunggu dulu Kisah Sedih di Hari Minggu-nya sang ketua harus ditukar dengan kisah happy ending dengan kedatangan Sekretaris Umum FLP Pusat mb Lia Octavia, beliau sedang berlibur lebaran haji ke Medan dan momen yang tepat untuk menculiknya dan membawanya ke Rumah Cahaya FLP Sumut hehe. Itula ya kan, orang yang diundang dari jauh-jauh hari malah tak datang, tapi orang yang tak direncanakan datang, malah datang, bahkan langsung didatangkan langsung dari Jakarta, Pusatnya FLP geto loh. Benar-benar hebat musywil kali ini, siapalah ketua panitianya? (yang pasti bukan hamba ^_^), berilah long standing aplause kepada Mb Selvi Rani (prok...prok...prok).

Mb Lia bilang dalam kunjungan dadakannya bahwa beliau bangga terhadap teman-teman FLP yang di cabang dan wialayah, mereka begitu militan (Alhamdulillah). Semoga dengan adanya filososi FLP yang berkarya, berbakti dan berarti dapat memacu semangat teman-teman untuk terus menulis dan berdakwah via tulisan.

Sebenarnya banyak yang mau ditanyakan ke Mb Lia, semisal Mb mana kartu anggota kami, mana SK kami...(lah, terakhir kenapa jadi Mb Lia yang kayaknay mau di LPJ ya wkwkwkw) tapi ya sudahlah, kedatangannya sebentar tapi berkesan di hati kami semua dan ditunggu kedatangan para penulis FLP dari luar pulau Sumatera :).

Tentang LPJ

Menurut jadwal yang telah disepakati dan telah diketok palu oleh pimpinan sidang semnetara yaitu Sdr. Anugrah Roby Syahputra, bahwa pembacaan dan pembahasan LPJ dimulai pukul 12.45. Inilah inti acara yang sebenarnya. Waktunya untuk pengadilan terbuka.
Berbicara tentang LPJ FLP, jika dirunut-runut dari FLP Pusat, wilayah sampai cabang tidak ada aturan baku tentang pembuatan LPJ. Malah sidang PJ FLP Pusat pada Munas Agustus lalu di Solo hanya empat lembar kuarto LPJ yang ditulis oleh Kangirfan dan berbentuk semacam esai. Yah, memang kita ketahui bahwa Kangirfan bukan seorang yang organisatoris tapi cenderung akademisi.
Akhirnya LP FLP Sumut yang terdiri dari 35 halaman ditambah beberapa lampiran yang cukup membuat tebal LPJ tersebut. Sebenarnya pun LPJ ini diadospi dari beberapa contoh LPJ FLP dari wialyah lain semacam FLP Riau. Itupun Kami sebagai pengurus merasa LPJ ini masih dirasa kurang lengkap, seperti tidak terlampirnya rekap karya anggota yang sudah terbit dibeberapa media selama beberapa kurun tahun terakhir. Barangkali jika hal itu direkap mungkin LPJ ini bisa mengalahkan ketebalan KUHP—Kitab Undang-Undang Hukum Pidana negara ini. Heheh.
Begitulah fenomena per-LPJ-an di FLP, ceritanya tiada akhir...
Dan LPJ kami pun disidangkan. Kali ini pimpinan sidang diketuai oleh Sitha Muriani dan sekretaris Selvi Rani. Diskusi yang terjadi cukup alot serta didukung oleh spesial efek dari sinar matahari siang menjelang sore yang juga turut memanaskan suasana. Umumnya dalam LPJ organisasi sering diwarnai dengan perang urat leher dan lempar-lemparan kursi, tapi lain halnya dalam LPJ kami ini, jangan harap ada kursi melayang, meja yang bolong-bolong karena digebrak sana-sini, urat leher yang membesar, tak kan ada hal itu semua, yang ada malah Musywil yang berlangsung aman, tentram dan damai serta teteuup tidak mengurangi kesakralan Musywil itu sendiri. Sesekali diselingi gelak tawa membahana seantero rumah cahaya, soalnya panitia Musywil kali ini turut mengundang Sule dan Aziz (percaya?, kalo percaya rukun iman para pembaca esaiku dikhawatirkan akan bertambah wkwkwkw).
Setelah gedebag,gedebug,olala,bla...bla...zzz...zzz, diputuskan bahwa LPJ FLP Sumut periode 2007-2009 DITERIMA (Alhamdulillah), TAPI...(inilah satu kata yang tidak ada penyedap rasanya, hambar) dengan syarat kekurangan LPJ ini dari yang sudah dibahas harap dilengkapi dalam jangka waktu dua minggu, tepatnya tanggal 13 Desember 2009. Alhamdulillah, usai sudah (belum usai, euy, perbaiki dulu LPJ-nya anak muda!)

Hawa Bintang
Memasuki puncak acara yakni pemilihan ketua umum FLP Sumut yang baru, suasana rumah cahaya semakin menggeliat, matahari senja turut mendramatisir suasana yang ada, syukurlah ada menu penutup yang disiapkan oleh panitia yang telah teruji konsep SIAGA-nya (siap antar jaga :)), yupz, panitia menyediakan potongan semangka yang cukup mencairkan suasana hati setiap peserta, karena ku tahu suasana hati mereka sedang gonjang ganjing menanti siapakan gerangan yang akan memegang tampuk kekuasaan berikutnya?. Semuanya penuh tanda tanya.
Keluarlah tiga nama kandidat yang cukup kuat, kredibilitasnya tidak diragukan lagi di dunia persilatan antara pena dan kertas, jam terbang mereka yang cukup tinggi hingga mengalahakan Gatot Koco. Here They are Sukma, Fadhli, dan seorang wanita yang sempat dinobatkan sebagai Ratu EYD (versi majalah Auzora—yang hampir jadi) dia adalah Winarti RG.
Mekanisme pemilihan diputuskan tidak dengan sistem voting tapi dengan sistem negosiasi antar ketiga anak mudanya. Sistem negosiasi berlangsung tertutup selama tujuh hari eh kebanyakan maksudnya selama tujuh menit.
Hari semakin twilight, negosiasi pun selesai, ketiga anak muda pun meuju ruang sidang dengan wajah petak-petak menandakan akan ada yang berbeda kali ini. Dan benarlah bahwa terpilihlah Winarti RG sebagai ketua umum FLP Sumut yang baru.
Dalam pidato perdananya sebagai ketua umum FLP Sumut yang baru beliau mneyatakan bahwa selama masa kepemimpinannya pertama sekali yang ingin beliau lakukan adalah membuat FLP Sumut yang berprestasi dan wadah yang menyenangkan serta merangkul teman-teman anggota untuk saling memahami satu sama lain dan juga menanamkan sense of belonging (rasa memiliki) terhadap FLP tercinta ke dalam diri para anggota. Penulis yang sedang merampungkan novel Bintang jilid II ini juga mengatakan bahwa “terimalah daku apa adanya, jangan ada apa-apanya”. Amiin...Amiin InsyaAllah FLP Sumut ke depan menjadi lebih...lebih...lebih...lebih baik lagi dan bisa lebih baik dalam berkarya, berbakti dan berarti.

FLP: Forum Lingkar Perempuan, hah?
Sepertinya FLP tahun ini dirajai oleh wanita-wanita super. Setelah Mb I-Je yang diamanahkan menjadi ketua umum FLP Pusat Agustus 2009 lalu, kali ini di Musywil FLP Sumut, Mb Win diamanahkan menjadi ketua umum FLP Sumut. Semoga dengan ini FLP tidak dianggap sebagai Forum Lingkar Perempuan , namun diharapkan dapat menghasilkan penulis perempuan, penyair perempuan yang tak kalah hebatnya dengan penulis pria.
Ternyata hawa Mb Win yang membungkus rumah cahaya pada MUSYWIL ini sudah terasa sejak dari perjalanan Indrapura menuju Rumah Cahaya pada Minggu, pada jejak-jejak irisan gerimis pagi itu. Empiwit..empiwit.
Bravo FLP ^_^.

Jumat, 13 November 2009

Mengenang Luka Aceh dalam Kumpulan Cerpen



Judul : Rumah Matahari
Penulis : FLP Aceh
Cetakan : Pertama, Mei 2009
Tebal : 134 halaman

Teks sastra tulis Tjahjono Widijanto seorang penyair dan esais asli Ngawi dalam artikelnya yang berjudul Luka Dalam Sastra Indonesia dan Korea, bukan saja merupakan dokumen keindahan bahasa semata, melainkan juga dokumen sejarah yang didalamnya penuh luka sebuah bangsa. Dalam soal luka ini, tulis Tjahjono lagi bahwa peristiwa dalam sejarah “resmi”, oleh sastra tak dianggap sebagai “realitas tunggal” yang benar dan valid, sastra mengolahnya sebagai satu hal yang harus dipertanyakan lagi.
Begitupun dengan kumpulan cerpen dalam antologi ini, seolah-olah dengan menceritakan kembali slide demi slide, sketsa demi sketsa segala jejak sejarah yang pernah terekam khususnya jejak sejarah yang di negeri penuh percikan darah, Nangroe Aceh Darussalam ini akan menimbulkan dua keadaan, jika sejarah yang diukir itu indah tentu saja menimbulkan kenangan indah saat membacanya kembali, namun jika yang terekam adalah sejarah yang menyakitkan, saat membacanya sama seperti membuka luka lama yang ntah sembuh ntah jua tak kan pernah sembuh.
Antologi yang terangkum dalam 14 cerpen yang ditulis oleh anak-anak mudanya Aceh yang tergabung dalam sebuah komunitas kepenulisan bernama Forum Lingkar Pena Aceh, mencoba menyuguhkan sejarah ke dalam hidangan cerpen yang rasanya komplit saat membacanya.
Seperti cerpen yang satu ini, peristiwa tsunami yang sempat memporak porandakan Aceh beberapa tahun silam, di tangan seorang Alfi Rahman, tsunami yang terekam dalam cerpennya dipesonifikasikan sebagai pembunuh, hal ini tertulis dalam cerpennya berjudul “Pembunuh Berinisial T”. Dengan gaya suspensifnya Alfi menguatkan bahwa peristiwa tersebut begitu dahsyatnya menimpa bumi Serambi Mekkah dan meninggalkan jejak kenangan yang sulit sekali dihapus dengan penghapus ingatan apapun.
Cerdasnya lagi, dalam cerpennya Alfi mempu mengaitkan inisial “T” dengan berbagai hal yang berbau trauma. Tak tertebak oleh saya sama sekali bahwa “T” yang dimaksud bukannya hanya Tsunami, tapi juga menghubungkannya dengan peristiwa sejarah lainnya.
“Tidak!” Aku berteriak, mencoba memberi keyakinan dalam angan dan rasio terhadap sabda yang berulang-ulang menitip pesan.Mungkinkah “T” adalah keangkuhan pemilik kebersahajaan sang “Teuku”? Atau “T” adalah lengkah-langkah gagah yang menghentak bumi pemilik sepatu laras yang bernama “Tentara” Atau “T”adalah wujud ketidakberdayaan geraham hokum negeri berjuta luka dalam rangkuman yang “Tak Dikenal”. (hal.16)
Safrida Askariyah begitulah judul cerpen yang ditulis oleh Alimuddin penulis muda yang cukup malam melintang di dunia kepenulisan , ini cerpen yang paling saya suka dalam antologi ini, cerpen ini berhasil mengaduk-aduk emosi saya sebagai seorang wanita, pasalnnya peristiwa yang menimpa tokoh dalam cerpennya begitu miris. Ada sisi lain dari trauma pasca konflik di suatu daerah yang tidak selesai seketika di atas selembar perjanjian perdamaian, tidak sesederhana itu. Wajar jika kemudian Alimuddin membuat tokoh Safrida, mantan pasukan Inong Balee yang pernah terenggut paksa kehormatannya, bahkan tak percaya pada retorika perdamaian itu. Apa dengan perjanjian damai itu kehormatannya kembali? Inilah potret sejarah yang diawetkan dalam bingkai cerpen, tergambar kula derita di sekujur tubuh di sepanjang hayat.
Pada cerpen “Peluru Bertuliskan Nama Azzam”, saya sudah membaca cerpen ini sebelumnya di majalah Annida, membaca cerpen ini untuk kedua kalinya tetap berkesan. Arif Hening Surya mencoba menghadirkan “peluru” sebagai tokoh utama. Dialog antar peluru yang sama-sama bertuliskan nama Azzam tersebut menyentak hakikat kemanusiaan para pelaku kekerasan yang tidak memiliki nurani. Belajarlahh dari peluru-peluru yang hidup dalam cerpen ini, setelah itu bandingkan mana yang lebih punya nurani, peluru atau manusia?. Sama seperti Arif yang bernama pena Adi Zam Zam seorang Rinal gaya cerpennya juga bermain-main dengan memanusiakan benda mati sebagai tokoh utamanya hanya saja Rinal labih berani dan ekspresif dalam mengeksplorasi idenya. Cerpen yang berjudul “Seulanga yang Tercabik” menceritakan unsur-unsur pembangun peradaban bangsa Aceh sebagai tokoh-tokoh utamanya, tersebutlah Aceh yang ditokohkan sebagai Mak yang sudah tua renta dan bijaksana dalam memahami apa yang terjadi pada dirinya sebagai sejarah. Dia risau pada masa depan kemanusiaan anak-anaknya yang kian tercabik yakni Tanoh, Reusam, dan Hukom.
Namun, uapaya Mak Aceh menyelamatkan anak-anaknya dihalangi oleh seorang tokoh antagonis bernama Maheut yang berbati hawa nafsu. Benar-benar apik sekali mengemas dan menuliskan luka serta menghangatkan kembali ingatan kita akan polemic yang terjadi di negeri rencong ini. Setali tiga uang dengan cerpen Seulanga yang Tercabik, dalam cerpen “Dosa Yang Tak Terlihat”, Ade Oktaviyani nama lengkap penulisnya dengan cukup piawai mendeskripsikan Hasyim dengan dilemma rasa bersalahnya seumur hidup karena menyaksikan dalam diam pembantaian teman karibnya, Ramli, hingga tak sanggup menanggung beban dan akhirnya membuat Hasyim menjadi buta karena menyimpan fakat itu seorang diri. Berapa banyak tokoh Hasyim dikehidupan nyata yang mungkin jjuga turut menjadi saksi bisu atas pembantaian orang-orang terkasih oleh penjahat perang.
Luka sejarah bangsa yang seperti apa lagi yang coba diungkapkan oleh para anak-anak muda Aceh tentang tanah kelahirannya?, berikut Ferhat dalam cerpennya “Lakon Mak dan Ayah dan Nuril Annisa dengan “Nyak Loet”-nya, yang berkisah dalam cerpen mereka menggunakan sudut pandang kepolosan anak-anak. Mengambil ide cerita dengan tokoh utamanya adalah anak-anak dalam kedua cerpen ini cukup mengekspresikan bahwa setiap daerah konflik, tak sedikit anak-anak yang menjadi korban secara fisik dan batin, dan lagi-lagi luka sedang tercipta di sini.
Aceh sebagai Serambi Mekahnya Indonesia sangat kental dengan atmosfer relijius keislamannya. Arafat Nur—sastrawan dan jurnalis asal Lhokseumawe—dalam cerpen “Gampong” yang berarti kampung, dia menggambarkan kehidupan gampong yang tidak lagi elijius. Agama hanya sekedar symbol, bukan substansi. Demikian pula yang diungkapkan Yani dalam “Wali Nikah” tentang desakralisasi lembaga pernikahan dan maraknya praktek perzinahan yang ditutup-tutupi.
Beranjak pada cerpen lainnya, kita diajak untuk berpetualang pada ranah sejarah dan budaya Aceh yang penuh intrik dan polemic. Masih ada Meulod (Ubaidillah), Rumah Matahari ( Himmah Tirmikoara), Cahaya Hijau (Abdul Razak MH. Pulo), Blas! (F.Hacky Irawani), serta Negeri Ganjil ( Riza Rahmi).
Semuanya menyajikan suguhan yang bukan sekedar hiburan, tapi juga bertabur hikmah. Dan masih melanjutkan apa yang ditulis Tjahjono dalm artikelnya bahwa dalam konteks ini, teks sastra hadir sebagai uapay manusia (atau sebuah bangsa) kembali pada nilai dasar dan universal kemanusiaanya. Sastrawan hadir, tentu bukan sebagai sejarawan, ia memiliki cara dan kemampuan tersendiri dalam menampilkan sejarah “mental” sebuah bangsa. Dari situ mungkin, pelajaran terpenting dari sejarah bias kita dapatkan.
Oleh karenanya, tak ada salahnya buku ini menjadi koleksi antologi cerpen Anda berikutnya untuk meyegarkan ingatak dan wawasan histories tetnang Aceh dan menjadi orang pertama yang tahu apa yang selama ini belum tersingkap setelah membaca cerpen berbalut sejarah dalam antologi ini.

Minggu, 11 Oktober 2009

Melihat Kehidupan Kota Paris dari Sudut Pandang Seorang Muslimah



Judul : Paris Lumière de l’Amour
Catatan Cinta dari Negeri Eiffel
Penulis : Rosita Sihombing
Penerbit : Lingkar Pena Publishing House
Cetakan : Mei, 2009
Halaman: 186 Halaman

Peresensi: Nurul Fauziah

“Kadang-kadang kita harus belajar dari pengalaman orang lain, Kita tidak sempat hidup lama hanya untuk melakukan semua pengalaman itu”. –Anonim-

Apa yang terlintas pertama kali jika mendengar atau membaca kata PARIS?, tentunya kita memiliki segudang jawaban yang diungkapkan sambil merem-merem mata membayangkan seolah-olah sudah berada di Paris. Banyak yang bilang Paris itu kota yang paling indah dan romantis di dunia, kota yang bermandikan cahaya, terkenal sebagai kota mode, tempat yang banyak melahirkan seniman-seniman kelas dunia, juga terkenal sebagai kota yang masih mempertahankan gedung-gedung tua nan bersejarah juga megah. Akh..butuh berlembar-lembar kertas untuk menuliskan pesona yang tercipta di Kota Paris.

Adalah seorang penulis bernama lengkap Rosita Sihombing seorang WNI yang menikah dengan pria perancis ini mencoba menyajikan Paris dari pengalamannya menetap selama 5 tahun berada di Negeri Napoleon Bonaparte tersebut.

Dahulu seperti yang ia ungkapkan dalam pendahuluan buku ini, bahwa tak pernah terlintas dibenak dan pikirannya kalau kelak ia akan berjodoh dengan lelaki keturunan perancis dan menetap pula di tanah airnya. Mimpi saja ia tak berani.

Namun sekarang ceritanya sudah berbeda ia telah ditakdirkan berjodoh dengan pria dari negeri seberang nan jauh di mato. Menetap di Paris selama 5 tahun sudah cukup banyak memberi kesan pengalaman pahit, getir, manis, yang dirasa sehingga menimbulkan berbagai pengalaman dan pandangan hidup yang menari-nari di kepala wanita berdarah batak ini untuk segera dituangkan dalam bentuk buku, agar terpuaskan dahaga mereka yang ingin tahu banyak tentang kehidupan di kota Paris, seperti keadaan sosialnya, budaya, ekonomi, politik, agama, serta aspek lainnya.

Dalam menuturkan curahan hati dan pengamatan pribadinya dalam buku yang ber-cover-kan ikon kota Paris yakni menara Eiffel ini mengalir, enak dibaca, serasa penulisnya sendiri yang menceritakan pengalaman demi pengalaman selama tinggal di sana.

Terangkum dalam lima bab yang setiap bab berisi judul yang berbeda serta kisah-kisah yang berbeda pula.
Voila, Paris! Merupakan judul bab pertama, berisi tentang pengalaman penulis saat harus ke KBRI jika diserang malarindu yang luarbiasa akan kampong halaman, dikisahkan pula pengalaman pertama bersalin di salah satu rumah sakit yang ada di sana, dan penulis juga mengungkapkan bahwa ternyata eh ternyata di kota se-modern Paris juga ada yang namanya gelandangan atau istilah kerennya tunawisma.

Masalah hak perut sering jadi dilemma jika harus bepergian ke Negara yang minoritas muslim. Nah, pada bab Bon Appetit yang artinya dalam bahasa Indonesia yaitu Selamat Makan juga dibahas bagaimana pengalaman penulis harus rela mengasah bakat memasak demi menghindari makanan yang tidak halal sehingga terciptalah resep Gado-gado Paris, bagaimana resepnya temukan jawabannya dalam buku ini?

Pada novel pertamanya yang berjudul Luka di Champs Elysees, judul novelnya terinspirasi dari nama jalanan yang paling indah di Paris “Champs Elysees” dan memang setiap 14 Juli semua warga Paris tumpah ruah di jalanan ini untuk menyaksikan perayaan hari kemerdekaan Perancis (hlm.61) begitu yang diungkapkan Ibunda Ilhan ini pada bab 3 Aktivitas-aktivitas seru. Bab ini bisa dijadikan panduan objek-objek wisata apa saja yang wajib dikunjungi jika ada kesempatan menyinggahi kota ini. Tidak jauh berbeda pada bab 4 Istri Patrick ini menceritakan pula kesehariannya selama menetap di Paris mulai dari mencoba menulis novel yang berlatar suasana Paris khususnya jalanan Champs Elysees sampai problematika yang terjadi selama tinggal di apartemen, seperti harus merasakan mahalnya harga kunci apartemen yang harganya bisa mencapai rekor MURI –seharga tiket pesawat Paris-Jakarta.Ck..ck.

Saat Muslim Bukan Mayoritas pada Bab 5, berisi suka duka dan berbagai cerita tentang pengalaman penulis sebagai muslim yang harus berinteraksi dengan komunitas non-muslim. Penuh tantangan. Negeri Perancis terkenal dengan sebutan negeri Laík yang artinya kurang lebih adalah negara yang pemerintahannya tidak berdasarkan system keagamaan. Jadi, sebagai kaum minoritas mau tak mau terkadang dihadapkan pada ketidaknyamanan dan memang harus kuat-kuat iman jika tidak ingin kebablasan. Seperti kata Seorang Dwi Setyowati salah satu penulis endorsement dibalik sampul buku ini mengatakan bahwa membaca buku ini seperti menyusun puzzle tentang mampukah kita sebagai muslim bertahan di Kota Cahaya sekaligus Negeri Seribu Katedral ini tanpa menjadi ikan yang iut asin walau berenang di lautan.
Selamat Membaca.

Jumat, 24 Juli 2009

Haruskah Berubah Demi Si Mr.Right?



Judul : Bodyguard Bawel
Penulis : Triani Retno A.
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : April, 2009
Halaman: 184 Halaman
Sepintas dari Judul novel yang ditulis mbak Triani ini --Bodyguard Bawel, terlintas dalam pikiran tentang sosok seorang bodyguard berbadan kekar, bertampang seram, selalu berbusana hitam-hitam, berkacamata hitam, kumis lebat yang hitam, yang tugasnya mengawal sang majikan kemana-mana, kalau bisa nyamuk pun tak boleh menyentuh majikannya. Bodyguard juga identik dengan tukang pukul, buktinya pengawal cawapres Boediono lagi tersangkut masalah gara-gara memukul wartawan saat ingin meliput kegiatan kampanye sang cawapres. Dan masih banyak lagi cerita yang berkaitan dengan bodyguard bahkan ada filmnya yang sangat terkenal—The Bodyguard.

Ternyata dalam novel ini bodyguard yang dimaksud dalam cerpen ini jauh dari kesan boyguard pada umumnya. Bayangkan jika ada bodyguard berjenis kelamin cewek terus kalau bicara memiliki kadar bawelnya sudah tingkat tinggi, akan seperti apa jadinya?

Alkisah ada cewek bernama lengkap Alea Nandhika atau yang sering dipanggil Lea atau juga bisa dipangggil Lele. Lea adalah siswi kelas XI SMA Pelita Ilmu Jakarta. Meskipun cewek, Lea lebih banyak berteman dengan cowok. Alasannya, bukan karena ia tomboy atau sok jago karena memegang sabuk hitam karate, tetapi lebih karena alasan praktis. Bergaul dengan sesama cewek terlalu banyak ngerumpi, gossip, dan iri-irian. Tetapi walaupun begitu Lea tidak segan menolong ketika Yola, sahabatnya, kebingungan mencari Adit.

Yugi, sahabat Lea, berniat menjodohkan Lea dengan Adit. Namun bagi Lea, Adit hanyalah cowok aneh yang akan membuat hidup jadi lebih susah. Menurut Yugi, Lea awet jomblo karena terlalu cerewet, bawel, galak dan hobi ngejar copet –benar-benar cewek ganas, cocok jadi bodyguard, hobinya bukan hobi cewek lazim seperti memasak, tapi mengejar copet.

Suatu hari gara-gara mengejar copet, Lea bertemu dengan Gilang. Bagi Lea, Gilang adalah pangeran impiannya, dan ia langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Lea bahkan rela berubah demi cowok itu.

Berhasilkah Lea mendapatkan Gilang? Atau Lea malah jadian sama sahabatnya sendiri?
Sebenarnya kisah yang diangkat dalam novel remaja ini cukup sederhana, namun dikemas cukup apik oleh sang penulis yang punya nama pena Teera ini. Bahwa walaupun kita mencintai seseorang tapi kita tidak harus menjadi orang lain seperti apa yang diinginkan orang yang kita cintai itu, istilah kerennya just be your self.

Cukup menghilangkan stress ketika membaca novel ini karena dari kebawelan si Lea yang lumayan parah banyak kamus humor baru yang bikin ngakak. Selain itu, gaya kepenulisan novel ini cenderung lebih kepada dialog-dialog, seperti gaya kepenulisan Ernest Hemingway—penulis terkenal dunia, tidak ada deskripsi panjang lebar tentang perasaan dan pikiran para tokoh. Permainan emosi dan pergolakan batin seperti ketika Lea diteror dan difitnah juga ketika Lea jatuh cinta, hanya dapat diterka dari kalimat dan tindakan para tokohnya. Selain itu saking bawelnya si Lea seperti yang ditulis sang penulis, terkadang saya tidak paham inti dialog yang mau disampaikan Lea si tokoh utamanya itu apa. Memang terlalu bawel bin cerewet juga tidak bagus.
Membaca novel ini seperti serasa kembali ke masa-masa sekolah dulu, seperti kata almarhum Chrisye, tiada kisah paling indah, kisah kasih di sekolah. Selain itu novel ini pas banget dibaca sebagai pengisi waktu libur kamu.
Selamat Membaca

Minggu, 05 Juli 2009

OJI & Sssstttsssttt…

Azan Maghrib baru saja selesai berkumandang, dan segeralah diriku berwudhu lalu mendirikan solat Maghrib sedangkan adikku si Oji masih anteng di depan televise, disuruh sholat, hanya gumaman “mmmm…” yang keluar dari mulutnya yang berarti dua hal: pertama, akan sholat tapi sebentar lagi dan yang kedua bermakna akan sholat tapi sebentar lagi, eh sama aja yak an?. Yoda aku pun masuk kamar untuk sholat.
Setelah aku raka’at ke 3 lalu salam menolehkan wajah ke kanan yang berarti masukkan aku ke surga jannatuna’im ya Allah, dan menolehkan wajah ke kiri yang ya Allah jauhkan aku dari siksa neraka, tiba-tiba si Oji masuk ke kamarku dengan tergesa-gesa, mukanya pucat, dan napas berburu seperti baru ikut lomba lari marathon, lalu dia bilang “Kak ada ular di belakang”, dibelakang itu maksudnya di dapur, “Hah…betul ko Ji?, mana mungkin ada ular”, Iya kak betul, aku dengar bunyi ssttt… di dapur di bawah meja makan”. “Aku selesaikan dulu doaku ya, aku belum berdo’a ni”.
Selesai berdoa aku dan Oji mencari tahu apakah benar ada ular di dapur. Ternyata sodare2 bukan tertawa aja yang menular lebih cepat ke orang lain tetapi rasa takut ternyata juga bisa menular, aku pun jadi ikutan takut. Aku dah membayangkan bagaimana sosok ular yang dibilang si Oji itu berukuran besar kayak di pilem2 barat terus panjangnya bermeter-meter, pikiran ku terus berburuk-buruk ria, bagaimana jika ularnya manjat dinding, kemana aku kan lari?. Lagian siapa yang nggak takut bila ular seperti itu masuk ke dalam rumah. Hiiii…
Penasaran dengan promosi si Oji tentang ular yang dia maksud, akhirnya berdua kami keluar dari kamarku. Saking takutnya keluar dari kamar saat buka pintu pun kami haris lihat kiri kanan memastikan kalau-kalau itu ular ada di depan pintu, ternyata keadaan masih dalam on the control. Dengan mengendap-endap, aku di depan dan si Oji di belakangku, kami berjalan pelan menuju dapur. Sesampainya di dapur rasa takut itu makin besar.
“Mana ularnya, Ji?”
“Itu kk, di bawah meja”
Aku lihat di bawah meja tak ada apa-apa lah kayaknya.
“Bukan pas di bawah mejanya kk, tapi dia ada di atas kursi”, Jadi biar kujelaskan kawan2 meja makan kami itu ada kursinya nah, Karena lagi nggak ada acara makan memakan, kursinya di masukkan ke dalam meja. Apakah meja makan kalian juga kayak gitu?
“Mana Ji?”
“Nah, ko buka lah kk pake ujung sapu ini”, alamak dia ngasih aku sapu, saking takutnya untuk membuka alas meja dengan tangan, takut di patuk soalnya. Ku terima lah pemberian adikku itu. Saran yang bagus ku pikir.
Mau tak mau aku beranikan diriku. Pokoknya sok pemberani lah, terpaksa memberanikan diri tepatnya, kayak dipilem2 action, padahal aku takutnya setengah mati.
Ternyata sodara2 setelah layar terkembang alias pinggiran taplak meja di buka, mau tahu sesuatu apa yang dengan Pe We alias Posisi Wuenaknya, tergeletaklah di atas kursi sebuah plastic hitam yang isinya beberapa buah timun sgar. Emang sih sekilas timun-timunnya kayak kepala ular tapi kok kesannya lebay gitu ya???
Setelah dilakukan penelitian lebih lanjut, asal muasal bunyi ssstttss yang didengar si Oji berasal dari termos keci punya Azeeza yang penutupnya tidak rapat sehingga udara dan sisa-sisa air yang di dalam termos berdesak-desakan keluar dari pinggir penutup sehingga menimbulkan bunyi ssttsstt. Wah, dah ilmiah apa belum ya jawaban aku ini? Perasaanku mengatakan dah ilmiah kali pun.
Dulu aku pun sempat terkecoh dengan bunyi ini tapi tidak kusimpulkan bunyi itu sebagai suara ular kayak si Oji, tapi bunyi suara hantu yang mau menakut-nakutiku. Ssstttss…ssstt…(macam pernah dengar aja suara hantu ntu kyk mana).

Jumat, 12 Juni 2009

LASKAR PERS

KUMPULAN BERITA
Diajukan sebagai kelengkapan tugas seorang anggota magang Dinamika Pers
Disusun oleh:
Nurul Fauziah (Zee)
Medan, 27 Desember 2008

Berita Minggu I
Konsep Kebangkitan: Ahsanu Amalan
Refleksi Pasca Dies Natalis IAIN SU

Zuhur itu hari Rabu, 3 Desember 2008 di masjid Al-Izzah IAIN SU kedatangan al-ustadz Drs. H. Ahmad Zuhri M.A, beliau salah satu Dosen di fakultas Ushuluddin.

Taushiyah ba’da sholat Zuhur berjama’ah itu dibuka olaeh Pak Abu Bakar untuk kemudian langsung mempersilahkan l-Ustadz untuk menyampaikan taushiyahnya.

Beliau mengawali taushiyahnya yang berjudul Refleksi Pasca Dies Natalis IAIN SU dengan sebuah pertanyaan: “Untuk apa kehidupan itu ada?” lalu beliau membacakan sebuah ayat alqur’an Surah Al-Mulk ayat 2—sebagai jawaban dari pertanyaan tersebut, yang artinya, “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang terbaik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.

Agar Allah menguji siapa diantara kamu yang paling ahsan amalan-nya. Maksud dari konsep ahsanu amala disini menurut beliau;
1. Keinginan / kemauan yang kuat untuk maju.
2. Kemampuan yang sangat maksimal (professional).

Konsep yang pertama diistilahkan beliau dengan Al-Qirodattuttammah—keinginan yang sangat luar biasa untuk mencapai sesuatu. Hendaknya konsep ini dimiliki oleh kita selaku manusia khusunya dalam hal ini oleh para lulusan sarjana. Tanpa keinginan yang sangat luar biasa ini mustahil kita akan mencapai sesuatu.
Perguruan tinggi yang setiap tahunnya menghasilkan para sarjana yang tentunya para sarjana yang dihasilkan ini sudah punya keinginan bagaimana memanfaatkan ilmu sesuai bidangnya di masyarakat.

Konsep yang kedua yakni diistilahkan Al-Qudrotuttammah—kemampuan yang sangat maksimal (professional). Salah satu penyakit kita adalah berbuat sesuatu sekedarnya . Sekedar jadi, sekedar siap atau kata-kata “yang penting siap”, yang penting kerja”, yang penting jadi”. Kemampuan yang sangat maksimal atau istilah modernnya professional, bekerja secara totalitas mutlak harus ada pada setiap diri individu. Profesional dalam bidangnya masing-masing, berkompetensi dalam kecakapannya masing-masing,totalitas dalam berbuat sehingga apapun yang dihasilkan InsyaAllah juga akan sempurna.

Semoga taushiyah ini yakni ahsanu amala dapat dijadikan konsep kebangkitan para sarjana lulusan IAIN SU setiap pasca Dies Natalis begitulah Ustadz Zuhri mengakhiri taushiyahnya.
Zuhur itu di masjid Al-izzah IAIN SUsetelah selesai diadakan. Mahasiswa yang ada segera kembali keperaduannya ada yang kembali ke ruang kelas untuk melanjutkan jadwal kuliah selanjutnya, dan ada yang bergegas untuk segera solat zuhur, semuanya kembali dengan urusannya masing-masing.

Reported by: Zee

Berita Minggu ke II
Menyerahkan Diri Sepenuhnya Pada Allah

“Kekuatan seorang mukmin terletak pada imannya”

Kembali lagi Zuhur itu, Rabu, 10 Desember 2008, di Masji Al-Izzah IAIN SU, taushiyah ba’da sholat Zuhur berjama’ah dibawakan oleh Ust. Drs. H. Zuhri, M.A. Kali ini beliau membawakan taushiyah berjudul: Menyerahkan Diri Sepenuhnya Pada Allah.

Masih berkaitan dengan suasana Idul Adha, beliau membahas makna hari raya umat Islam tersebut dari perspektif yang berbeda yakni tentang kemusyrikan.

Ustadz yang Zuhur itu memakai baju koko warna putih ini membuka taushiyahnya dengan mengatakan bahwa misi pertama dari Nabi Ibrahim allaihissalam adalam membasmi kemusyrikan.

Kata beliau, menurut Imam Qurthubi syirik pada seorang mukmin ada 3:
Yang pertama,syirik dalam masalah aqidah, kedua syirik dalam masalah amal, dan terakhir syirik dalam qolbu atau hati atau yang sering kita sebut dengan Riya’.

Ustadz yang fasih berbahasa Arab ini menjelaskan satu persatu pembagian dari syirik tersebut. Yang pertama bahwa syirik dalam masalah aqidah ialah masalah keyakinana, tidak mempercayai Allah sepenuhnya dan seyakin-yakinnya, masih percaya kepada dukun, bahkan menurut beliau, sekarang banyak bermunculan syirik modern khususnya merebak di televise yang meniklankan jasa paranormal dengan menggunakan fasilitas provider HP dan menarik pemirsa bahwa jika ingin meramal kesuksesan, kepastian jodoh dan lain sebagainya tinggak ambil HP dan punya pulsa lalu keti REG spasi Ramal, Reg spasi Jodoh dan lain sebagainya banyak macam dan ragamnya. Terhadap hal yang satu ini kita dan kelurag kita harus berhatihati jangan sampai terjebak. Syirik yang kedua adalah syirik dalam masalah amal yakni seseorang yang mengharamkan yang halal dan yang menghalalkan yang haram. Dan ketiga, Syirik khofi ataau Riya’, penjelasan untuk syirik jenis ini Al-Ustadz tamatan S-3 di Universitas Khourtoum, Sudan ini mengutip penjelasan dari Imam Qurthubi kembali bahwa yang termasuk Syirik Khofi ada 3 yaitu:
  1. Berbuat karena manusia bukan karena Allah.
  2. Bebrbuat sesuatu dengan bersemangat tapi karena banyaknya orang dating / berkumpul, contohnya: seorang Imam solat yang bersemangat menjadi imam jika ma’mumnya banyak.
  3. Ikhlas dari awal sampai akhir (totalitas), namun ketika dipuji, terbesit di hati rasa senang. Untuk itu berhati-hatilah dengan syirik yang tersembunyi ini yang tanpa sadar dapat menyerang kita sewaktu-waktu.  Selanjutnya beliau menutup taushiyahnya dengan nasihat bahwa agar kita melakukan kesyirikan dalam bentuk apapun karena kita tahu bahwa syirik termasuk dosa besar yang sulit mendapatkan ampunan dari Allah jika tak benar-benar bertaubat dan nasihat ustadz yang sering juga berwara-wiri meyebar da’wah di radio di kota Medan menasihatkan bahwa laksanakan segala sesuatu dengan ikhlas.
Reported by: Zee

Berita Minggu III
KEGIATAN DAD IMM SE-IAIN SU

IMM (Ikatan Mahasiswa muhammadiyah) adalah salah satu organisasi ekstra kampus di IAIN-SU yang bergerak dibidang pengkaderan dan perbaikan moral serta ilmu pengetahuan. Dengan niat fastabiqul khoirot dan amar ma’ruf nahi mungkar serta mottonya yang anggun dalam moral dan intelektual, IMM melakukan aktifitasnya di IAIN SU seperti pengajian, diskusi dan pergerakan-pergerakan lain yang membangun mahsiswa menuju lebih baik deri segi moral dan intelektual.

Sama seperti organisasi ekstern lain, IMM juga melakukan pengkaderan yang memiliki tahapan-tahapan, yang dimulai dari MASTA (Masa Ta’aruf), DAD (Darul Arqam Dasar), DAM (Darul Arqam Madya), dan yang terakhir DAP (Darul Arqam Pusat). Darul arqam adalah wadah pengkaderan IMM untuk membentuk kader yang militan dan memiliki wawasan yang luas. Darul arqam artinya ‘rumah Arqam(salah seorang sahabat rasul)’ istilah ini diambil karena pada masa Rasulullah SAW dulu rumah Arqam dijadikan untuk tempat diskusi-diskusi ilmu dan strategi-srtategi perang melawan kaum kafir. Dan IMM merngambil istilah ini untuk melakukan pengkaderan.

Acara DAD dilaksanakan pada tanggal 21-23 Novemebr 2008 di Mesjid Taqwa Muhammadiyah di Jalan Demak No. 3 Medan. Dengan Ketua Panitia Pelaksana acara: Immawan Fikri Arif (FU/TH/07) dari PK IMM fak. Ushuluddin, sekrtarisnya : Immawan Samsul Anwar Lubis (FT/PAI/07) dari PK IMM fak.Tarbiyah, dan Bendaharanya : Nurdiana (FD/MD/07)dari PK. IMM fak. Dakwah serta MoT (Master of Training) acara : Immawan Zefri Ar-Rizky (FT/PAI/05) dari PK IMM fak. Tarbiyah yang mengusung thema: ‘Mewujudkan kader yang progresif, militan, dan loyal terhadap ikatan dan anggun dalam moral serta unggul dalam intelektual untuk melanjutkan perjuangan “persyarikatan”, bangsa dan negara.

DAD yang dilaksakan Imm se-IAIN SU ternyata mendapatkan banyak perhatian dari civitas akademika. Terbukti lebih dari 100 orang yang mengambil formulir dan yang terdaftar berjumlah 96 pendaftar. Sebelum menjadi peserta DAD, pendaftar wajib mengikuti Screening Test. Yaitu test yang menggukan sistem interview atau tanya jawab, yang dimulai dari pembacaan ayat Al-Quran, karena kader IMM harus mampu membcaA-Quran dengan baik dan benar, sehingga dapat dijadikan pedoman hidup. Selanjutnya pertanyan-pertanyan mengenai ke-Muhammadiyah-anatau ke-IMM-an, serta yang terpenting motivasi peserta dalam dalam mengikuti DAD serta berkecimpung di IMM. Para penguji terdiri dari perwakilan Pimpinan Cabang IMM Kota Medan dan beberapa panitia pelaksana. Melalui Screening Test yang dilakukan 2 hari pada tanggal 19-20 November 2008, tercatat bahwa ada 86 pendaftar yang dinyatakan lulus dan berhak mengikuti DAD IMM se- IAIN SU. Pengkaderan ini terdiri dari materi-materi yang memperluas pengetahuan pesrta seperti ke-muhammadiyah-an, ke-IMM-an, ke-IMMawati-an, ibadah praktis serta beberapa materi pendukung mengenai kepemimpinan, dll.

DAD yang bertujuan sebagai momen perekrutan kader baru untuk regenerasi IMM kedepan serta membentuk kader yang militan, progresif dan loyal terhadap ikatan serta anggun dalam moral dan unggul dalam intelektual. Dan itu terbukti dengan diadakannya Diskusi Kritis (Diskrit) mengenai ‘Pernikahan Dini’ dipandang dari Perspektif Islam, Hukum Perkawinan Indonesia, Kesehatan, Psikologi, serta sosiologi. Materi disajikan oleh peserta DAD sendiri yang telah lulus mengikuti pengkaderan DAD sebagai follow up yang wajib mereka laksanakan.

Reported by: Zee


PORSENI TENNIS MEJA DI IAIN SU

Salah satu pertandingan yang diadakan dalam rangka Porseni (Pekan Olah Raga dan Seni) yang diadakan di lingkungan IAIN SU dari tanggal 10 Desember samapai dengan 24 Desember 2008 adalah Tennis Meja.
Pertandingan tennis meja yang diadakan berlangsung lancar, para peserta tampak antusias untuk turut ambil bagian dalam meramaikan semarak PORSENI yang jarang-jarang diadakan oleh BEM selaku panitia ini.
Berikut hasil akhir pertandingan tennis meja beregu putra:

Juara I : Fakultas Dakwah
Juara II : Fakultas Syari’ah
Juara III: Fakultas Ushuluddin

Beriku juga hasil akhir pertandingan tennis meja beregu putri:
Juara I : Fakultas Tarbiyah
Juara II : Fakultas Syari’ah
Juara III: Fakultas Dakwah

Melalui, kegiatan positif seperti ini dapat memunculkan atlet-atlet yang selama ini tenggelam dalam kegiatan perkuliahan yang padat serta membuktikan bahwa pemuda Islam tidak loyo tapi semangat dan hebat. Bravo porseni IAIN SU!. Selamat kepada para pemenang!.

Reported by: Zee


Berita Minggu IV
Dari Talk Show Hari Ibu
Kekuatan Cinta Seorang Ibu

Bulan Desember menjadi bulan istimewa para Ibu-Ibu di seluruh Indonesia. Untuk itu Lembaga Dakwah Kampus Al-Izzah IAIN SU dari Departemen Keakhwatan turut merayakan dan menyemarakkan Hari Ibu dengan serangkain kegiatan antara lain pada tanggal 22 Desember yang merupakan tanggal yang ditetapkan pemerintah sebagai Hari Ibu, LDK Al-Izzah IAIN SU, mengadakan tebar bunga yakni membagikan setangkai bunga kepad para dosen yang juga berprofesi sebagai Ibu yang berada di kampus pada hari senin tersebut, selain itu mengisi talkshow on air di radio simfoni fm, dan mengadakan perlombaan menulis Surat Cinta untuk Ibu.

Dan puncak acara menyambut Hari Ibu diadakannya Talk Show Hari Ibu engan tema: “ The Great Power of Mother pada Selasa, 23 Desember 2008 di lt.II IAIN SU pukul 08.30.

Dengan mendatangkan beberapa pembicara kondang yakni Dosen Fakultas Ushuluddin Dr. H. Ahmad Zuhri, M.A, Ibunda Selfi Afriani SE, Ak, Ustadzah Mar’atuSholihah, Lc serta Ibunda Sutiaswati Handayani (istri WAGUBSU). Namun, Ibunda Sutiaswati tidak dapat hadir dikarenakan agak kurang sehat.
Dihadiri oleh sekitar lebih kurang 60 peserta dari 150 peserta yang mendaftar. Sempat terjadi salah paham dengan peserta laki-laki bahwa acara tersebut hanya diperuntukkan buat kaum perempuan saja. Sehingga muncul selentingan bahwa yang punya ibu bukan hanya perempuan saja tapai laki-laki juga punya ibu. Akhirnya kesalahpahaman tersebut dapat diatasi dengan penjelasan yang diberikan panitia bahwa acara talkshow tersebut diperuntukan buat semua kalangan yang merasa punya ibu.

Acara sedikit mundur dari jadwal yang seharusnya dikarenakan menunggu para pembicara yang belum hadir serta para peserta yang sebagian besar dari mahasiswa IAIN SU yang juga pada hari itu banyak yang sedang mengikuti perkuliahan di kelas masing-masing, hanya beberapa saja yang baru mengisi bangku-bangku yang kosong yang disediakan panitia. Tak berapa lama acara pun dimulai dan dibuka oleh protocol dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an serta beberapa kata sambutan salah satunya dari ketua panitia dan masuklah pada acara inti yakni talkshow yang dibawakan oleh ketua LDK Al-Izzah IAIN SU sebagai moderator.

Sebagai pembicara pertama yakni Ustadz Zuhri yang membawakan materi karakteristik Ibu yang baik dalam pandangan Islam, beliau mengatakan bahwa hari ibu bukan hanya sehari tapi harus setiap hari.

Dilanjutkan oleh Ibunda Selfi Afriani yang terfokus pada masalah “Peran Ibu dalam Mendidik Anak”, beliau mengatakan bahwa seorang ibu memiliki peran yang sangat vital dalam proses pendidikan anak sejak dini, sebab ibulah sosok yang pertama kali berinteraksi dengan anak. Karenanya ibu menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya.

Pembicara terakhir disambung oleh Ustadzah Mar’ah yang memaparkan tentang sebuah pengalaman berharga para Ibunda di zaman Rasulullah. Dari materi yang dibawakan Ustadzah terungkaplah sejarah Ibunda-ibunda luar biasa yang hidup di zaman Rasulullah, seperti Ibunda Al-Khansa yang merelekan keempat anaknya syahid di medan jihad, juga ada Ibunda Ummu ‘Aiman yang selalu mendampingi Rasulullah sampai dewasa. Ustazah yang tampil bersahaja itu menjelaskan itu semua membawa para audiens serasa kembali ke masa lau masa dimana para Rasul dan sahabat serta sahabiah hidup dan menjadi contoh teladan, walaupun hujan deras di luar Aula sempat mengalahkan suara Ustazah dalam microphone sehingga sedikit agak kurang jelas.

Kemudian talkshow dilanjutkan dengan sesi Tanya jawab, audiens cukup antusias, hal itu dibuktikan dengan banyaknya audiens yang mengangkat tangan ingin bertanya. Sebagian besar peserta menanyakan sejarah asal mula ditetapkannya tanggal 22 Desember sebagai hari ibu.

Acara pun ditutup dengan pengumuman pemenang lomba menulis Surat Cinta untuk Ibu , pemenangnya terdiri dari juara I umum sampai III umum, serta juara harapan I sampai juara harapan III. Mereka adalah Juara I Rosmalina (Fak. Tarbiyah/PBI/I), Juara II Murni Sari (Fak. Dakwah/ PMI/ I), Juara III Supriani (Fak.Tarbiyah/BKI/I). Juara Harapan I, Kaminah (Fak.Tarbiyah/PAI/VII), Juara Harapan II, Sugiarjo (Fak. Ushuluddin/FPI/I), dan Juara Harapan III Fitri Malyani (Fak.Tarbiyah/PMM/I).

Reported By: Zee


Berita Minggu ke V
Silent Week or Busy Week?

Berdasarkan kalender akademik IAIN SU tahun akademik 2008-2209 bahwa tanggal 29 Desember 2008 sampai dengan tanggal 3 Januari 2009 adalah liburan persiapan semester ganjil atau yang dikenal dengan Minggu Tenang atau istilah kerennya Silent Week.

Seharusnya yang namanya Minggu Tenang adalah waktu untuk para pegawai akademik mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan pelaksanaan ujian semester ganjil supaya berlangsung lancer, aman, dan tertib. Sedangkan bagi para mahasiswa, Minggu Tenang adalah waktu untuk menenangkan hati dan pikiran dari segala bentuk hal yang membuat stress atau tertekan serta waktu untuk mengambil nafas karena selama ini disesakkan oleh kegiatan kampus dan perkuliahan yang seabrek-abrek.

Namun, fenomena yang terjadi di kehidupan nyata bahwa minggu tenang tidak berarti dan sepenuhnya tenang menenangkan tapi merupakan minggu untuk menyempurnakan mata kuliah atau praktikum yang belum mencapai bobot pertemuan yang seharusnya selain itu minggu tenang merupakan waktu untuk mencari bahan tugas di perpustakaan yang diembankan dosen biasanya berupa makalah ataupun laporan-laporan. Sekarang pertanyaannya adalah, minggu tenang atau minggu sibuk?.

Apapun itu bentuk dan istilahnya, baik itu minggu tenang,silent week atau apalah, yang penting tetap jaga kesehatan mental dan pikiran untuk menghadapi ujian semester ganjil ini. Chayo, Wish you luck!.

Reported by: Zee


Berita Minggu ke VI


IAIN SU : KAMPUS HIJAU?

Beberapa waktu lalu saya menghadiri sebuah acara di Universitas Panca Budi Medan sebagai salah satu peserta bazaar. Sudah lama saya tak berkunjung ke kampus ini terakhir kali berkunjung dalam rangka mengikuti Ujian Saringan Masuk STAN tahun 2006 lalu. Kini kampus tersebut tampak lebih hijau, asri dan sedap dipandang dan bahkan ada sebuah big plan di akhir tahun yakni 31 Desember 2008 mendatang bahwa Unpad akan menerapkan kampus bebas asap rokok. Wah..wah kira-kira kapan ya IAIN SU menerapkan hal yang serupa?.

Sungguh jauh berbeda dengan apa yang dialami kampus kita, saya suka sedih jika melihat ada mahasiswa yang tanpa rasa bersalah dan berdosa serta dengan ringannya tangan mereka membuang sampah sembarangan, membuang sampah keluar jendela kelas. Bahkan masjid Al-Izzah IAIN SU yang tak tahu kapan akan dibangan lantai duanya, hilang keindahannya karena di setiap sudut masjid pasti ada sampah yang menumpuk. Tidakkah terpikir untuk menyediakan tong sampah besar disetiap sudut masjid?.

Labelnya memang agama Islam, di bawah naungan Departemen Agama, tapi entah kenapa hadis Rasulullah yang terkenal bahwa Kebersihan adalah sebahagian dari iman, tidak menjadi salah satu prinsip hidup yang wajib ada pada diri yang merasa muslim. Aneh ya?.

IAIN SU menjadi kampus hijau, asri, bebas dari sampah, bebas dari asap rokok dan sedap dipandang butuh kerja sama dari semua warga IAIN SU dan tak hanya merupakan tanggung jawab petugas kebersihan kampus saja. Mau?.

Reported by: Zee