Bukan, bukan ini bukan tagline sebuah asuransi :D the power of we , tapi ini tentang kita, kawan =)
Ini tentang obsesi yang terarah, tidak mengeruhkan tapi malah membeningkan hati dan jiwa seorang pemuda berusia 23 tahun. Satu-satunya yang dia tahu adalah hanya orang yang paling bertaqwa yang berhak mendapatkannya.Dan hanya sebaik-baik pasukan yang layak mendampinginya dalam penyerbuan bersejarah itu.
Maka, menjelang penyerbuan bersejarah itu, tepat di sepertiga malam terakhir, pemuda tersebut berdiri dan meminta semua pasukannya juga ikut berdiri.
“Saudara-saudaraku di jalan Allah” serunya, “Amanah yang dipikulkan ke pundak kita menuntut hanya yang terbaik yang berhak mendapatkannya, Tujuh ratus tahun lamanya Rasulullah menginginkan kota ini untuk ditaklukkan, namun Allah belum mengizinkan, dan sekarang Aku katakan pada kalian, yang pernah meninggalkan shalat fardhu sejak baligh, silahkan duduk!”
Sunyi, tak seorang pun bergerak
“Yang pernah meninggalkan Puasa Ramadhan, silahkan duduk!”
Lagi-lagi hening, bahkan keringat jatuh sekalipun bisa terdengar saking heningnya
“Yang pernah mengkhatamkan Al Qur’an melebihi sebulan, silahkan duduk!”
Dan kali ini segelintir orang perlahan menekuk kakinya, berlutut berurai air mata
“Yang pernah kehilangan hafalan Al Qur’annya, silahkan duduk!”
Kali ini semakin banyak calon pasukan yang menangis, khawatir bila tak ikut jadi ujung tombak pasukan. Mereka pun duduk
“Yang pernah meninggalkan sholat malam sejak baligh, silahkan duduk!”
Hanya beberapa yang masih berdiri, dengan wajah tegang, detak jantung bergemuruh, dan tubuh menggeletar.
“Yang pernah meninggalkan puasa Ayyamul Bidh, silahkan duduk!”
Akhirnya semua terduduk lemas, namun hanya satu orang yang masih berdiri gagah, Ialah sang pemimpin pasukan alias sang sultan, Muhammad Al Fatih. Kota yang menjadi obsesinya untuk ditaklukkan dan juga maklumat Rasulullah tujuh abad lalu adalah Konstantinopel.
Pertanyaannya sekarang, apa yang membuat Al Fatih sebegitu terobesinya, hingga rela mempersiapkan usia mudanya untuk berhak jadi pemimpin pasukan menaklukkan Konstantinopel?
Ternyata jawabnya adalah dari hadis Rasulullah yang sering dibacakan pembimbing sang sultan waktu kecil, Syaikh Aaq Syamsuddin, Mufti di istana Sultan Murad.
Isi hadis itu: Rasulullah pernah ditanya oleh salah seorang sahabatnya, “Mana yang lebih dahulu yang dibebaskan, Konstantinopel ataukah Roma?, lalu Rasulullah menjawab ‘Kota Heraclius (Konstantinopel) lebih dahulu. Yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pasukan. Dan pemimpinnya adalah sebaik-baik panglima”
Sebab isi hadis itulah, Al Fatih kecil mulai membeningkan dirinya, menjauhi kehidupan mewah istana, berguru kepada para ulama, ibadah dengan khusyu’ dan berdoa setiap hari ‘Ya Allah, jadikan aku sebaik-sebaik pemimpin atau sebaik-baik prajurit!’
Visi, kita butuh visi kawan yang membuat kita kuat, disaat kita lemah kita baca lagi visi kita, kita ingat lagi visi kita, begitupun di organisasi yang kita geluti. Kebeningan visi akan mengokohkan jiwa dan menumbuhsuburkan cinta.
Bening. Sesuatu yang mudah dibayangkan. Mudah dihayati. Mudah dirasakan. Menggerakkan, terbit inisiatif!
Tahu mengapa surga digambarkan begitu bening oleh Allah? …Dan naungan pohon-pohon surge itu dekat di atas mereka dan buahnya digampangkan memetiknya dengan semudah-mudahnya. …Mereka dikelilingi pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kau lihat mereka kamu akan mengira mereka mutiara yang bertaburan…” (QS. Al Insaan:11-21). Karena fitrah manusia adalah diberikan sesuatu yang jelas, terdeskripsi, nyata.
Nah sekarang, kawan, jika visi dan tujuan kita dalam organisasi itu jelas, semua alam semesta yang bertasbih memuji Allah itu pasti membantu kita. Tapi jika tujuan kita kabur, maka kawan-kawan dalam organisasi itu yang ingin membantu malah jadi bingung gak tahu mau bantu apa gak tahu mau melakukan apa, kapan harus membantu, dan bagaimana caranya membantu. =( sehingga insiatif itu kurang, kreativitas meredup,
Contoh sederhanya begini, kita tekad ‘besok saya mau bangun pagi-pagi’, nah loh, jam 10, juga masih pagi =D. Coba umumkan ke seluruh penghuni rumah besok kita mau bangun jam 03.30 WIB, nah ini jelas toh? :D, next, kita juga pasang usaha, dengan mengatur jam weker atau alarm hp, dan ucapkan beberapa kali sebelum tidur ‘saya akan bangun jam 03.30’, maka alam bawah sadar kita pun akan bekerja jika semuanya spesifik dan jelas.
Jadi, kawan, yoklah kita beningkan lagi visi dan tujuan kita di organisasi ini. Mau kayak mana pun kebaikan akan cepat menyebar kalau kita menyatu, the power of us. dalam naungan visi dan tujuan yang bening tadi. Yang hendak, merapat, yang belum hendak mendoakan dari jauh pun jadi, pintu terbuka bagi siapa saja yang mau mencapai tujuan.
6 Syawal 1434 H
#digubah seperlunya dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, penulis Salim A. Fillah
…ketika kita jujur pada Allah atas target-target kita, Dia akan menggenapkannya untuk kita. Pasti (Salim A.Fillah)
Kata bijak diatas aku jadikan status di akun Facebookku, dan tak berapa lama muncul notif dari sebut saja namanya Danu *emang namanya Danu-_-* Danu ini memanggilku ‘cil’ sedangkan aku memanggil dia ‘tem’ sejarah panggilan cil dan tem itu bolehlah nanti kita adakan press conf nya yah bila ingin mengetahui keterangan lebih lanjut *kayaknya gak penting banget deh :D*
Balik lagi ke pembahasan :D, nah ada yang mau tahu dimana aku dapatkan kalimat bijak di atas? Yah apalagi kalau bukan dari buku yang sedang aku baca, tulisan Ustadz Salim A.Fillah.
Awalnya sama kayak Si Tem, aku gak ngeh dengan kalimat tersebut, tapi mari sini aku sederhanakan kalimat bijak di atas yah dengan sebuah pertanyaan paling popular sejak zaman dahulu kala, cita-cita kamu apa?
Semua orang sudah tidak asing lagi dengan pertanyaan itu kan?, apalagi sejak kecil sudah disuntikkan pertanyaan itu setiap kali jumpa dengan sanak saudara atau paling gak saat perkenalan di sekolah. Nah, kira-kira jawaban kamu apa? Beragam ya kan? Dokter, Polisi, Pengacara pokoknya gak jauh-jauh dari profesi, yah walaupun sebenarnya makna cita-cita gak sesempit itu setelah aku mengenal namanya hidup dan kehidupan *tsaahhh :D mendadak jadi sufi begini? Alias suka film – apaan sih?*
Cita-cita erat kaitannya dengan impian, keinginan, dan satu hal manusia adalah makhluk yang paling tidak pernah puas, betul? Untuk itu kita punya tombol untuk terus menyalakan “ingin”, what next ? what next? Dan what next dalam hidup. Kalau gak ada impian mah gak beda sama robot, hidup tapi gak ada nyawanya, gak ada nafsu, gak ada harapan. Justru dengan rajin menyalakan sinyal harapan dalam hidup, hidup kita makin lebih hidup.
Cumaaa, hanya sajaa, ternyata cita-cita kita tadi, tidak bisa jadi sekadar, sekadar cita-cita, sekadar ingin. Bila kita sekadar ingin, berarti kita belum benar-benar menginginkannya dan bisa jadi juga sebab itulah Allah menunda untuk menjadikan itu terwujud untuk kita. Nah Loh? :O
Dan, udah mau dekat ini kita dengan inti pembahasan, jadi sebenarnya impian, cita-cita, harapan dan kawan-kawannya itu harus kita detailkan, kita rincikan, kita buat proposalnya, kita buat kalender kerjanya, bah udah kayak organisasi aja. Emang, kita ini adalah organisasi, bener gak? Tersusun dari berbagai organ tubuh kan? :D ada hal yang sebelum kita bisa mengurus orang lain, memimpin sebuah kelompok, tentu kita harus bisa dan telah mengurus diri sendiri, mengorganisasi diri sendiri, kenal dengan diri sendiri, dengan begitu jadi lebih mudah deh menghadapi diri sendiri dan mengontrol diri sendiri. Masih ingatkan kata bijak yang ini, musuh paling nyata sebenarnya itu adalah diri sendiri. Kalau bukan kita yang menaklukkannya siapa lagi?
Termasuk urusan cita-cita, mau jadi Penulis, cukupkah dilisan saja, aku mau jadi penulis! Lalu? *krik krik*
Nah, rancang deh, mau jadi penulis itu … kalau perlu buat mind map, semacam peta dia. Bila susah mengawalinya, bisa diawali dengan pertanyaan 5W+1H dan pertanyaan tersebut ditanyakan ke diri sendiri yah, teori itu sungguh sangat membantu. Apa itu Penulis? Kenapa ingin jadi Penulis? Kapan kita bisa disebut jadi Penulis, buat rincian waktunya, kalender kerja yang aku bilang tadi di awal? Dimana nanti ruang kita bekerja? Bagaimana atau langkah apa yang membuat kita jadi penulis?
Hati-hati dalam menjawab pertanyaan untuk diri sendiri itu, sekilas gampang, tapi agak sulit, karena memang harus JUJUR, JUJUR pada ALLAH, artinya keinginan tersebutlah yang begitu amat sangat kita inginkan dan yang kita tulis dan yang kita bawa dalam tiap doa dalam sholat kita. Kalau sudah begini, apatah lagi, tunggu saja Allah akan menggenapkan cita-cita kita untuk jadi Penulis.
Penjelasan aku tersebut hanya contoh sederhana saja, masih banyak contoh yang lain, dan sudah aku praktekkan, hasilnya WOW, walau gak persis sedetil yang kita tuliskan tapi Allah mewujudkannya jauh lebih baik daripada apa yang kita detilkan. Gak percaya?
Contoh nyatanya saja, aku adalah orang yang hobi travelling ala ransel gitu deh, maklum masih ya oma ya oma :D, tapi aku gak peduli, sebaik aku punya keinginan untuk jalan-jalan, maka keinginan itu langsung aku tulis di kertas HVS bekas dengan menggunakan krayon, keinginan itu aku tulis sekitar awal tahun 2011, bunyinya kurang lebih seperti ini:
Aku ingin jalan-jalan ke Barus, Padang, Sumedang, Bangka Belitung
Udah empat destinasi itu saja di tahun 2011, eh siapa sangka di akhir 2011, ada rejeki bisa ke Barus dan tahun 2012 ada rejeki lagi ke Padang.
Sayangnya impianku itu gak aku detilkan, harusnya aku detilkan, misal: mau ke Barus, nah pake resep wawancara diri lagi pake rumus 5W+1H tadi, begitu seterusnya.
Aturan mainnya versi diriku adalah IMPIAN >TULISKAN >>> DETILKAN >>> TEMPEL DI TEMPAT YANG GAMPANG DILIHAT >>> USAHA>>> DOA >>> lalu perhatikan apa yang terjadi.
SEMANGAT! Karena hidup adalah misteri, SUBHANALLAH! Kalau gak hidup itu misteri, mungkin aku gak akan segila ini berlelah lelah demi surga di kehidupan yang lebih abadi. Akhirat! Semoga bermanfaat, teman =)
Bismillah, akhirnya digerakkan Allah juga buat nulis :D, iya dong, gimana kalau gak digerakkan sama Pemilik Ilmu, belum tentu juga saya bisa nulis kembali, tarraaaa… :D
Okeh, sebelum kita lebih dalam lebih dalam dan lebih dalam, tatap lekat-lekat, tapi jangan di tatap aja, dibaca juga ya dan diresapi aromanya … *berasa mau demo masak yah? :D*
Ada seorang pemuda bertemu orang kepo a.k.a want to know aja, tapi kita turut berterimakasih dengan keberadaan orang kepo, karena kalau tidak, alamat lah jawaban yang spektakuler gak akan keluar dari lisan si pemuda ini.
Pertanyaan pertama, *kayak kuis apa gitu ya? :D, tapi gak apa, kita simak aja yuk, lanjut!*,
X: “Bagaimanakah semangat Anda dalam menuntut ilmu?”
Y: “Saya mendengarkan huruf demi huruf seakan-akan huruf-huruf itu belum pernah saya temukan selama ini. Karena itu saya kerahkan seluruh anggota tubuh saya untuk menyimaknya.”
X: “Bagaimana minat Anda terhadap ilmu?”
Y:“Minat saya laksana orang yang mengumpulkan makanan dan berambisi menikmati kelezatannya secara sempurna.”
X: “Lalu bagaimana Anda mencarinya?”
Y: “Saya mencarinya laksana seorang ibu yang kehilangan anak satu-satunya yang di dunia ini ia tidak memiliki apa pun selain dia.”
Gimana? Keren-kerenkan jawaban si Y?, pertanyaan dari saya nih, siapakah Mr. Y? Yup, benar sekali *emang ada yang jawab? :D*
Dalam sebuah riwayat tidak disebutkan siapa orang yang tiba-tiba menanyakan pertanyaan di atas, bisa jadi terinspirasi dari semangat si Mr. Y ini menuntut ilmu, oke langsung saja Mr. Y tersebut adalah Imam Syafi’i.
Sedikit saja profil dari Imam Syafi’I ini bila ingin lebih lengkap tentang hidup dan kehidupannya dipersilahkan googling atau baca buku biografinya J
Saya bisa dibilang big fans alias penggemar berat dari sosok pemuda Quraisy, kelahiran Gaza, Palestina pada 1246 tahun silam tepatnya 767 M ia lahir. Imam Syafi’I adalah imam besar sepanjang zaman yang telah melahirkan banyak pemikiran dan menjadi standar bagi rujukan hukum Islam di dunia dan yang paling menginspirasi dari kehidupan beliau adalah semangat bajanya dalam menuntut ilmu hingga ke ujung dunia sekalipun.
Well, itu dia pembuka tulisan saya kali ini, gak ada maksud apa-apa hanya ingin mengajak sedikit open mind aja terhadap fenomena UFO :D eh maksudnya fenomena paradigma, kapan sebuah ilmu itu mahal dan murah.
Ilmu itu kata guru saya, sesuatu yang buat kita dari tidak tahu menjadi tahu, sedangkan menurut teori filsafat ilmu bisa lebih dalam lagi pengertian dan asal muasal ilmu, orang cerdas pasti nyari tahu deh yah minimal googling ^_^
Derek Bok, mantan presiden Harvard University pernah bilang ke orang yang bukan saya :D tapi kalimat Om Derek saya baca di buku Sean Covey ‘The 7 Habbits off Highly Effective Teens’ pas zaman Aliyah dulu, ada satu kalimat yang membuat saya bergumam ‘iya juga ya?’, adalah kalimat ini nih “kalau kamu pikir pendidikan itu mahal, coba saja ketidaktahuan”. Memang kesannya money oriented banget ya, yah namanya orang Barat yang dia pikir gimana cara agar bisa berkompetensi di dunia serba cuanggih ini, sedangkan kita disuruh berkompetensi dalam hal kebaikan ‘fastabiqul khairat’, bro sist, hehehe, tapi kalimat si Om Derek ini ada benernya juga, setiap hal yang ingin kita raih, pasti ada harga mahal untuk itu semua, bener gak sih?
Mau IP 4,09 *emang ada ya?* :D, mesti ngurangin yang namanya jam santai-santai, kayak online di dumay, shopping, nonton, dll, nah gitu juga yang dilakukan Imam Syaf’I, hasilnya bisa kita lihat sekarang, pemikiran beliau tak lekang ditelan waktu, kira-kira kita bisa gak ya kayak gitu, meski kita gak ada, tapi ilmu yang kita ajarkan jadi amal jariyah, pahala yang gak putus-putusnya ntar pas kita di alam kubur. Subhanallah. Takbir!
So, back to the topic, kita kadang sering ngeluh, terhadap ilmu yang pengen kita anut *bahasa gue, selangit banget yah? :D, anut-anut*, tuntut lah gitu atau bahasa enaknya kuasai ilmu. Mulai dari harganya yang dikeluarkan pihak penyelenggara yang mungkin kemahalan atau jauh jarak tempuhnya dari tempat kita tinggal, atau tabrakan dengan jadwal kita yang lain, dan seribu dua alasan lainnya *bosan saya mah pake istilah seribu satu, pengen buat sensasi dengan kata seribu dua, padahal gak ngaruh apa2 juga sih :D*
Jadi, itu semua adalah judul lagu Hoobastank Band yang nangkring dua minggu berturut-turut di chart number two versi Billboard Hot 100 di tahun 2004 apalagi kalau bukan lagu, THE REASON a.k.a ALASAN, bapak ibu saudara-saudara. *esseeehh, dah mirip belum, kayak penyiar radio? :D*
Nah, ada lagi nih komen yang sering kita dengar, ‘duh, aku pengen ikut, tapi ada diskon gak harga tiketnya?’, ‘aarrgghh, pengen datang, tapi lokasinya jauh bangeettt’, ‘hari Kamis ya acaranya?, masih ngantor L, kenapa gak hari Minggu sih acaranya?’, bla…bla…bla… hehehe, nohok banget yah, mahaph buat yang tertohok dan tertonjok, sometimes kan saya juga gak sadar sering komen begitu *ngaku hihihi, pengalaman sih* Ya, wajar ya manusiawi banget, teriak-teriak yang pada dasarnya ingin menunjukkan ketidakberdayaan.
Sudah…sudah…gak apa-apa kok, kitakan sama-sama belajar, maka dari itu saya nge-note tentang hal ini, biar saling mengingatkan *kedip kedip mata*
Biar lengkap lagi tertohok dan tertonjoknya, saya tambahkan dengan nasihat dari Ust. Felix Siauw, seseorang BISA dipertanyakan kadar ke-SERIUS-annya | bila masih ada kata TAPI dalam kamus per-JALAN-annya. Nah loh, nge-JLEB gak, baca nasihat Ustadz? Daku aja mendadak jadi butiran debu bacanya, atau mendadak badanku nyusut nyusut, trus jadi liliput deh @_*
By the way, jadi normal balik yuk setelah tadi mendadak jadi butiran debu berjama’ah hehehe *bagi yang merasa :p*
Tentang mahal tidaknya sebuah ilmu, mungkin sudah banyak yah pelatihan/seminar/ atau apalah nama majelis untuk menuntut ilmunya ini itu yang menawarkan ini itu dan harga yang ini itu juga *apaan sih? -_-*, pertama, lihat teliti dulu 5W+1H dari pelatihan itu, bisa jadi cuma modus nipu doang, yah yang lagi nge-tren sekarang *nipu kok dijadikan tren sih? >.< kebanyakan minum cairan masuk angin ya begitu, terlalu pintar, kenapa jadi emosi?, sabar mana si sabar?*,
Kedua, tanyakan ke diri sendiri ‘AMBAK’pinjam istilah Pak Hernowo, Apa Manfaatnya BagiKu, kalau udah tahu manfaatnya, udah selangkah lebih maju kan untuk mewujudkan mimpu mengikuti pelatihan yang kita incar? Atau bisa juga dengan menjawab pertanyaan yang ekstrim berikut ini, terinspirasi dari gaya pertanyaan temannya Ust. Salim A. Fillah, ‘apakah (acara) ini ada hubungannya dengan surga?’, Nah, lo, nge-JLEB dah se-JLEB-JLEB-nya J
Ketiga, cek harganya, bila masuk akal dan sebanding dengan kualitas yang ditawarkan, ya kenapa gak, pastinya panitia udah mikirin segala kemungkinan yang ada hingga memutuskan harga tiket sekian dan sekian. Panitia acara, adalah orang yang juga pernah ikut acara-acara sebelumnya, pasti sebelum memutuskan harga tiket, dia memosisikan diri dia sebagai peserta. Dan bila harganya bakal gak terjangkau nih kalau acara baru diumumin seminggu sebelum, maka dari itu panitia ngumumin acara minimal sebulan sebelum acara, jadi ada kesempatan buat peserta ngumpulin uang. Seandaianya bakal gak terjangkau juga tu harga tiket, yah mungkin belum rezeki, belum jodoh :D, dan biasanya jika sudah seperti itu, saya akan menodong teman saya yang beruntung mengikuti acara itu, untuk berbagi ilmu tentang apa yang dia dapat,pastinya setelah acara selesai dong, hehehe gimana? Minat? Minat jadi teman saya yang siap saya todong? *loh kok?*
Keempat, atur jadwal dan transportasi yang bakal digunain buat nganter kita ke TKP. Kalau acaranya di hari padat merayap badai ulalala, yah mau gimana lagi, lagi-lagi belum jodoh dan rezeki, mending do’ain acaranya lancar, nah kalau lokasinya jauuhh dari tempat tinggal, mungkin dari jauh hari pula pesan tiket transportasi, bila tak memungkinkan juga lagi-lagi belum jodoh, semoga akan indah pada waktunya *eaakkk*
Oh ya tambahan juga nih, nanggepin alasan yang waktu acara tabrakan dengan jadwal kita, hmm…komen saya sih, gini aja, kalau bisa izin dari jadwal kita yang sebenarnya untuk bisa hadir di acara yang kita nanti-nanti, why not? Toh, belum tentu kan acara itu bakal diadakan lagi dalam waktu dekat, yah untuk hal-hal yang ‘seumur hidup’ gitu kejadiannya, yah gak apa-apa juga berkorban, lagi-lagi ada harga yang harus dibayar kan untuk sesuatu yang ingin kita raih. So, you know yourself so well dah :D *gubahan seperlunya dari lirik lagu Smash hihihi*
Simple, kan? :D
Balik lagi, tentang mahalnya sebuah ilmu, kadang kita orang Indonesia, masih kurang yang namanya budaya saling menghargai atau apresiasi, jangankan budaya saling menghargai, budaya antri dan buang sampah pada tempatnya aja, masih miris dan sedih T_T *emosi lagi kan, tante*, penjual tisu? Mana penjual tisu?*
Yah, kita memang masih harus truuuss belajar, iri gitu liat warga Negara lain, yang kental dengan budaya saling menghargai dan apresiasi dalam hal positif, sedangkan kita masih sibuk saling menjatuhkan dan menjelek-jelekkan, bahkan mematahkan semangat, hadeh, pahit banget dah!
Tentang mahalnya sebuah ilmu, kalau saja kita mau think positive dan apresiatif, hati kita bakal seluas samudra. Oh iya, pembicaranya didatangkan dari seberang pulau, butuh biaya besar, wajar mahal karena ilmunya buat investasi masa depan, bisa jadi dengan bayar sekian rupiah hari ini, adalah tidak ada harganya jika ilmu tersebut bermanfaat dan hasilnya kita bakal dibayar lebih, jauh berkali lipat dari harga pelatihan yang dulu kita ikutin, atau wajar mahal karena bisa jadi si pembagi ilmu, dulu ngedapetin ilmunya juga dengan susah payah. Atau, maklum saja mahal, toh acaranya 2 hari, pembicara yang diundang udah para expertahli dibidangnya, dapet buku lagi, trus snack, dan sertifikat juga, hmm… *kok mirip acara yang bakal ada di tanggal 12-13 Mei nanti ya?* :D
So, rekan-rekan seperjuangan *berasa di medan perang apa gitu yak an?*, itu saja dulu yang bisa saya sharing, saling mengingatkan terus ya, mungkin hari ini kawan-kawan yang lupa, bisa jadi someday saya yang lupa, untuk itu semut aja gak bisa hidup sendiri apalagi saya yang apa adanya ini *uhuk…uhuk ^,,^* Mohon maaf kalau dalam tulisan ini ada yang nyakitin, maap banget, tapi tulus dari palung hati terdalam, agar kita sama-sama jadi generasi yang berlomba-lomba dalam kebaikan, kebaikan untuk ngingetin dan dalam kebaikan yang lain.
Ada yang lebih Woww di Mei, Tere Liye akan datang ke Medan tepatnya tanggal 12 Mei 2013 Pukul 14.00 WIB di Acara Seminar Nasional FLP Sumatera Utara. Dan besokn...ya di jam yang sama, tanggal 13 Mei 2013 ada Gol A Gong dan Boim Lebon. Bertempat di Auditorium Universitas Negeri Medan, Jalan Willem Iskandar Pasar V Medan Estate.
Yang ngaku-ngaku penggemar Tere Liye, ayo-ayooo datang di seminarnya. Utk pemesanan tiket silahkan hub. 085261027698, masih HTM promo, Rp. 90.000 only. s.d 13 April 2013