Minggu, 02 September 2012

Bidadari Penyebar Undangan Pernikahan

-->‘Dek, tolong bantu sebarkan undangan ini ya, mungkin kakak bakal gak sempat lagi buat keliling’

Aku menatap tumpukan undangan berwarnakan kulit terong sambil berpikir bahwa hal ini akan menjadi hal yang seru dan ternyata memang benar seru.
Sejak amanah itu diberikan padaku di hari Minggu, mulai membentang peta rumah yang hendak dituju untuk dibagikan undangan. Jadilah empat hari ini aku dan temanku bergerilya menyebarkan undangan.
Alasan kenapa aku terima tawaran untuk membantu sebar undangan, tidaklah muluk-muluk, insyallah tulus murni untuk membantu. Itu saja. Namun, sebenarnya ada alasan lain sih, teringat tulisan Jamil Azzaini, ‘Kalau mau dapat jodoh, ya, sedekah yang berdekatan dengan seputar perjodohan. Misalnya, kamu membuatkan undangan teman kamu yang mau menikah’. Hehehehe…
Sebagian undangan sudah disebar dan hari ini hari terakhir penyebaran undangan. Sisa dua undangan lagi yang belum diantar. Pertama, aku ke kampus tempat dimana Mb Win bersemayam :D. Ternyata Mb Win tidak sendiri ada teman obrolnya, yakni Bu Ros.
Sebaik aku sampai, Mb Win langsung punya ide tebak-tebakan.
‘Bu Ros, coba tebak dia kelas berapa’, sambil melirik lucu ke arahku
AKU??? *deg deg an menanti jawaban seperti apa yang akan keluar dari mulut Bu Ros*
‘SMP, ya? ’ jawab Bu Ros sekenanya
Me: -_-“
 ---- Abaikan percakapan di atas, bad ending banget. Langsung ke inti persoalan :D--------
By the way, Mau tahu gayaku pas menyodorkan undangan?
‘Mbak, datang ya!’ sambil menyorongkan undangan ke arah Mb Win dan tak lupa pasang wajah akting seolah akulah yang punya hajat :D padahal cuma kurir doang hehehe
‘Wah, undangan siapa ni? Nurul ya?’ seru Mb Win dengan wajah berbinar binar
Cihuy, aktingku berhasil :D *Dalam hati*
Selanjutnya, aku mengakui segalanya bahwa itu undangan Bang Fad … Bla … Bla
Cerita punya cerita, eh Bu Ros, teman ngobrolnya Mb Win malah mulai mengarahkan cerita ke pernikahan.
Bu Ros cerita tentang pengalaman dia bertemu dengan jodohnya. Bila diceritakan ulang, kita bisa menggelar tikar, seduh kopi dan makan ubi bakar di halaman belakang sambil cerita :D.
Inti sari dari cerita Bu Ros hari ini adalah:
1.      Bahwa orang yang menikah, butuh dua tahun untuk beradaptasi dengan kehidupan pernikahannya.
2.      Jika sudah menikah dan terjadi percekcokan, jangan sekali-kali sang istri mengadu pada orangtuanya, tapi mengadulah pada orangtua suami begitu juga sebaliknya bila istri susah diberi tahu, suami mengadulah pada orangtua istri.
Terus, apa lagi ya? Itu saja point yang aku dapat dari obrolan siang tadi.
Kemudian, aku melanjutkan perjalanan ke Barat untuk mengambil Kitab Suci, eh tunggu dulu, berasa opening  cerita Sun Go Kong deh -_-. Aku melanjutkan perjalanan ke kantornya Bu Rutma. Sekilas Ibu Rutma kayak ibu-ibu *emang ibu-ibu kaleeee* Ibu Rutma orangnya asik :D
Lihat Bu Rutma seolah melihat aku di usia dia yang sekarang, mungkin bila aku sudah memasuki masa se-usianya, sebelas dua belas kami mirip. Awet mudanya, cerianya, cara menjalani hidup, ah mirip aku banget J, serius. Terkadang begitu ya kan, interaksi kita dengan banyak orang tidak menutup kemungkinan kita bertemu orang yang dari segi sifat, gaya bicara, gaya jalan, sikap, kita seperti melihat diri kita sendiri.
Awalnya tidak nyangka pertemuanku dengan Bu Rutma bakal selama itu, satu jam setengah kami ngobrol dan yang diobrolin sudah melewati ruang dan waktu, alias yang dibicarakan itu masa lalu hehehe. Lebih gak nyangka lagi Bu Rutma bakal seterbuka itu, ekspresif banget hehehe dan dia tidak segan berbagi pengalamannya dalam menjemput jodoh.

Sebelum lupa ini dia point nasihat dari Bu Rutma:
1.      Patuhi orang tua. Kelihatannya klise banget ya, tapi beneran deh, orangtua selama masih ada, kita kudu hormati dia, dengerin baek-baek nasihatnya. Insyallah urusan kita akan dipermudah sama Allah.
2.      Isi masa penantian dengan kegiatan yang positif.
3.      Kata orang, pernikahan itu seperti bermain judi. Ibu tidak setuju dengan pernyataan itu. Percayalah, wanita yang baik untuk pria yang baik begitu sebaliknya. Bila nanti ada rumah tangga yang goyah, coba lihat bisa jadi ada cara yang salah saat kita menjemput jodoh kita, misalnya sampai melawan ortu karena gak dapat restu, atau sudah ‘pegang’ sana sini sebelum halal :D , jangan sampai ya terjadi T_T
4.      Apalagi yah hal yang paling kuingat dari nasihat Bu Rutma *mikir sambil makan dodol*, oh ya, Bila kita telah menikah, ingat bahwa harta suami adalah harta emak dan bapaknya juga, jadi jika suami membelikan sesuatu, misalnya pakaian, satu untuk ibunya dan satu untuk istrinya, pastikan ibu suami harus memilihnya dahulu baru sisanya adalah punya istri .
5.      Kemudian Jika mertua ke rumah dan dia suka sama sesuatu, jangan kamu menolak untuk memberinya. Bila ibu mertua suka sama sandal istri, langsung saja berikan, meski sang istri sukaaa banget sama sandal itu, toh sandal bisa dibeli lagi, tapi bukti kepatuhan kita pada orangtua kapan lagi diwujudkan selain memberikan apa yang kita punya. Ingat mertua kita sudah menjadi orangtua kandung kita juga. Menyenangkan hati orangtua kan pahala juga, besaaar banget pahalanya
Ah, efek silahturahmi itu besar banget ya? Senangnya ada yang mau berbagi cerita dengan kita, hati menjadi seluaaasss langit di angkasa dan belajar dari pengalaman merupakan harta yang berharga euy ^_^
Mau tahu banyak tentang pernikahan dan kamu punya twitter, bisa follow @TweetNikah, daku bukan adminnya tapi followers sejati hehehe sukaaa banget sama twit-twit tentang nikah yang diposting adminnya dan ada tema tertentu yang dibahas seputar pernikahan.

Oke, sampai jumpa di tulisan berikutnya yah. Bidadari Penyebar Undangan pamit dulu


kawanimut.com




   

Sabtu, 11 Agustus 2012

Printer yang Malang

 -->
Sepanjang Juli-Agustus entah udah berapa kali aku bolak balik masuk toko servis printer langganan si Vero kalau lagi ngulah. Perkenalkan Vero adalah printer milik FLP Sumut, namun si Vero lebih lengket denganku :D. Jadi kalau dia sakit, aku panik *segitunya* .
Awal Juli lalu cartridge warnanya yang galau. Oke, diganti. Beberapa minggu kemudian cartridge black –nya juga gak mau kalah. Diganti juga. Huwaa…biaya ganti catridge udah bisa beli printer baru :D, tapi Vero masih bisa bertahan, jadi Vero masih di hati *eaaa…*
Beberapa hari ini Vero ngulah lagi, gak bisa nge-print, tombol orange kedap kedip terus, kotak peringatan bilang begini: the ink has run out, cartridge should be replace. Huwaa..apalagi ini? Masak ganti cartridge lagi? Yang bener aja. Setelah di flashback lagi, kumatnya Vero, sesaat setelah cartridge black nya diisi ulang. Aku pernah alami hal yang sama, cuma lupa solusinya -_-“.
Di sekret, aku gak bisa gak berbagi rasa dengan anggota lain, dalam hal ini aku gak pelit rasa, aku bagi rasa stresku pada anak-anak :D. Sebut saja namanya ‘Fulan’, dia orang yang paling merasakan apa yang aku rasakan soal Vero. Sesaat sebelum Vero dibawa untuk check up, kami mencoba men-cek nya dulu, siapa tahu Vero berubah pikiran dan sembuh *emang bisa?* :D
Setelah aku cek, Vero tetap tak jua mau nge-print barang selembar aja, tombol orange nya juga masih kedap-kedip. Maka, datanglah si Fulan dengan gaya sok tahunya. Dalam hati, semoga sok tahu tidak membawa petaka :D *teringat seseorang*.
Dengan gaya sok tahunya, badan Vero di buka, terus dilihat pergerakan cartridge, kemudian Fulan ambil gunting. *aku, panic, Vero mau diapain, oh*. Rupanya gunting buat menahan tombol yang men-setting gerak cartridge. Gak berapa lama, aku coba buat print lagi. Masih juga tidak bisa.
Lalu, Fulan mengangkat cartridge hitamnya, kemudian dia tanya mana ‘suntiknya’, aku isi ulang pakai injeksi. Sempat bertanya-tanya buat apa suntik tinta hitamnya, pas kuberi dan kutanya buat apa, eh si Fulan bilang, buat nyedot tintanya. APAAA!!! Ntu cartridge baru diganti, sempat menggalau lagi, awas ya Fulan. Si Fulan tetap dengan operasi kecilnya, yang cartridge  di pukul-pukul lah ke tisu biar tintanya keluar. Aku? Dibalik punggungnya, teriak-teriak tak menentu, ah pokoknya seperti ibu yang gak tega anaknya cabut gigi sama Dementor :D. Akhirnya, Fulan berhenti melakukan operasi kecilnya. Lega.
Bersebab pertolongan pertama apapun yang kami lakukan gak ada yang berhasil. Langkah terakhir Vero dibawa ke tempat servis langganan. Setelah dicek, Vero hanya butuh sentuhan 20 detik pada tombol orange-nya sama abang tukang servis -_-“.
Terimakasih abang servis, Vero kini telah sembuh :D
google.com


Minggu, 06 Mei 2012

SEBERAPA PANTAS

-->
            Bukan, ini bukan ngebahas lagunya Sheila on 7, tapi membahas hal yang begitu menggalaukan buatku dan kaumku—sesama kaum hawa.
            Beberapa waktu lalu, aku dan Sahabatku saling bertukar cerita. Kali ini ceritanya begitu mengejutkanku, Sahabatku menjadi tempat curhat salahsatu temannya yang di kampus, temannya curhat tentang rahasia yang begitu besar. Teman sahabatku itu seorang cewek yang seperti cewek pada umumnya, namun dibalik keumumannya itu tersimpan masalah yang luarbiasa menggalaukan hatinya. Ia selama ini telah berpacaran dengan seorang cowok bahkan sering bertandang ke warnet dan terjadilah kegiatan maksiat itu, hampir beberapa kali. Kini cowok itu telah tamat kuliah dan pergi keluar kota, mereka putus hubungan begitu saja, dan sekarang si cewek merasa berdosa, merasa ‘kotor’, ia menyesal. Terlepas dari keluarganya yang terpelajar dan cukup dibilang harmonis, namun…siapa sangka? Allah, pergaulan zaman sekarang T_T. 

            Cerita kami pun berlanjut, sahabatku pernah cerita bahwa ia pernah diskusi dengan seorang cowok dan kurang lebih diskusinya sama dengan status fesbuk temannku hari ini.
Keanehan pertemanan antara laki-laki dan perempuan. Begini : jika ada laki-laki yang mengaku menghormati dan menjaga reputasi baik temannya yang perempuan, tapi dengan cara bercanda yang berlebihan, memakai kalimat yang tidak sepantasnya, membicarakan topik yang entahlah, di forum umum pula, pikiran saya bertanya-ta...nya.:
1.      Apakah dia akan menikahi dan menjadikan perempuan seperti itu sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya?
2.      Apakah dia rela jika adik perempuannya diperlakukan begitu?
3.      Bagaimana jika ibu yang melahirkannya dulu diperlakukan begitu?
o.O
Ketika kutanya, "tapi kenapa?" Dia bilang, "Za, ada perempuan yang cuma pantas dipacari. Bukan untuk dinikahi. Perempuan yang dinikahi itu adalah ibu untuk anak2, jadi tidak boleh sembarangan."
Well, yang terakhir saya sepaket. Tapi yang pertama? oh. Gosh! Dia memacari perempuan-perempuan bahkan sudah lintas tahun tapi mengatakan mencari ibu untuk anaknya bukan dari jenis itu :
hey, Ladies! andai kalian melihat apa yang kulihat. Ckckck!
Dan ini tidak terbatas soal pacar-memacari. tapi juga pertemanan secara umum. Oh, boy, Jika mengaku kalian adalah teman baiknya dan peduli padanya, maka jagalah dia untuk menjaga dirinya.
            Sedih T_T, semoga kita dilindungi dari kejahatan Jin dan Manusia. Aamin ya Allah.
            Bentar ya narik napas dulu nih, semua ini membuatku sesak napas. Oke, aku jadi bertanya seperti ini seberapa pantas seorang cowok membuat ukuran cewek mana yang pantas hanya buat pacaran ,diputuskan seenaknya dan cewek mana yang pantas untuk dijadikan istri, ibu dari anak-anak mereka? #tepuk jidat deh
            Ah, tak guna aku emosi disini #sambil minum teh manis dingin.  Yang jelas, mau cowok mau cewek pasti punya ibu kan, atau adik perempuan, sepupu perempuan, keponakan perempuan kan? Memang lagu Coklat Band ‘Karma’ itu beda dengan Kurma *apaan sih? =D*, jadi gini, hukum timbal balik itu nyata adanya, hari ini kita mencubit orang, suatu saat kita bakal dicubit, ibu kita bakal dicubit, saudara kita bakal dicubit, so, hukum ini berlaku buat kita, orang-orang yang teramat dekat dengan kita, atau keluarga. Nah, jika sayang sama keluarga kita, ya perlakukan sesama selayaknya kita juga ingin diperlakukan dengan baik, insyallah, bukan pun kita yang merasakan buah dari kebaikan kita, tapi keluarga kita bakal merasakannya juga. Indahkan? =)
 
            Sebenarnya bukan maksud hati hendak menyudutkan makhluk bernama cowok, (Laprico, laki-laki, pria, cowok *punya arti beda, menurutku*), terkadang yang cewek pun juga ada melakukan hal sama, berpacaran dengan banyak cowok, dengan niat yang kurang baik.
            Ah, kawan, cinta memang kata kerja yang luarbiasa indah, tapi bisakah bersabar sebentar saja? *self reminder. Kekasih kan datang sesuai dengan iman di hati, laki-laki baik untuk perempuan yang baik. Jodoh di tangan Tuhan. Hampir semua teori terkait hubungan lawan jenis berkali-kali diputar di kepala kita seperti kaset. Jika kita bersabar sedikit saja, untuk kenikmatan seumur hidup, Allah Maha Tahu yang terbaik untuk hambanya. Please, jangan merusak diri untuk kenikmatan sesaat, dan mengabaikan kesabaran. Semua ada waktunya. Kesedihanku mendalam kepada remaja saat ini yang cuek tentang virginitas, wajar jika Tuhan kerap murka pada kita, maksiat dimana-mana.
            Kepada, temannya teman sahabatku, jika sedikit banyak sudah terlanjur bergelimang dosa, yakinlah Allah adalah dzat penerima taubat. Setinggi apapun dosa seseorang, selama nyawanya masih belum sampai tenggorokan, maka taubat apapun pasti diterima, tak ada kata terlambat.
            Untuk cowok-cowok yang masih berpikiran seperti yang aku ceritakan di atas, please, gak kayak gitu cara menjemput istri dan ibu dari anak-anakmu, ada cara yang jauuuuuuuuuuuuuuhhh lebih baik dan lebih terhormat.  Untuk para cewek, please kita memang makhluk yang gampang terpedaya, maka perkuat benteng pertahanan dengan iman yang membaja, isilah masa-masa kesendirian dengan cara yang lebih bermanfaat, ingat, suatu saat kita menjadi awal hidup bagi banyak manusia-manusia lain, ia bernama rahim. Sesuatu yang baik tentu berasal dari yang baik pula.

Melewati 24 Tahun


          Mengutip sebaris kalimat bijak dari seseorang bahwa, tidak ada live happily everafter, yang adalah bagaimana kita melewati tahun demi tahun dengan rasa syukur.
          Ah, sudah 24 tahun saja jika dihitung menurut tahun Masehi. Hari kelima bulan Mei tahun 2012, tak banyak yang aku lakukan, rutinitas aja sebenarnya, sesekali tetap bertanya, tanggal berapa ini? Sabtu pagi itu aku mengajar di sekolah, dapat ucapan selamat umur berkurang, bingung juga harus menempatkan ekspresi jika sedang berada di hari lahir, harus kah bahagia memperingati hari dimana berkurangnya umur?
          Pulang ngajar, ke PQ ambil jadwal mengajar, lepas itu naik sudako buat pulang, ah hampa betul satu harian itu =D, sesekali mengintip notif fb, udah berapa orang yang mendoakan *terharu, banyak banget yang sayang sama uul, 130-an teman dan sahabat turut mendoakan, semoga diaminkan malaikat ^_^, aamiin*, sampai di rumah, bingung mau ngapain. Bener-bener hari yang ‘sesuatu’, mendung, waktu berjalan lambaaattt sekali, seolah kamera slow motion mengelilingiku seharian. Alhasil, dibawa tidur siang juga =D, efek kurang sehat mendukung, yah hitung-hitung bedrest lah.
          Hap, itulah rangkaianku melewati hari yang kata orang istimewa.
          Ulangtahun, kata ustadz Yusuf Mansur adalah budaya barat, apalagi diperingati dengan segala hiruk pikuknya, tiup lilin, party, dan lain-lain. Bagiku mengulang tahun adalah memperingati umur yang berkurang dengan ungkapan rasa syukur tak henti-henti pada Sang Maha Pencipta. Jika di flash back lagi, tahun ini adalah tahun yang terasa banget up and down nya seorang Zee. Aku bertahan, karena iman di dada yang membaja, jika tak ada iman, wallahu ‘alam, seolah akulah yang punya masalah maha banyak di dunia ini, padahal masih banyak yang lebih parah namun jauh lebih bijak dalam melewati hari-harinya, saudara kita di Palestina, tekanan apa yang tidak mereka rasakan?, semua, hampir tiap hari penuh tekanan, tapi mereka bertahan, mereka tetap melanjutkan hidup, kenapa ambil contoh Palestina?, karena negeri yang aman impian semua penduduknya, aman negerinya, tentu menjalani hidup jauh lebih tenang bagi orang yang berpikir.
          Mengulang tahun, selain terus menerus mengeja kata syukur, juga kesempatan setahun sekali muhasabah diri, walaupun idealnya tiap hari sebelum tidur, evaluasi diri, nah, momen ulang tahun, evaluasi diri selama satu tahun yang telah dilewati. Apakah termasuk orang yang beruntung atau merugi? *cukup aku, buku harian dan Allah saja yang tahu* =)
          Hal yang paling aku suka saat momen memperingati hari lahir, hujan doa yang mengguyur dari saudara yang mencinta dan dicinta, asli membuat terharu bin merembeskan air mata, *terima kasih ya semua, kepada yang mendoakan diriku diam-diam, terimakasih juga yaaaa…*,  belum lagi tulisan esei yang terbit di Mimbar Umum, adalah hadiah istimewa, hehehe
          Sekali lagi, selamat melewati angka 23 dan menjalani angka 24, semoga ke depan lebih baik, ya Zee =) Aamiin

#hidup bukan tentang lembaran lembaran usia yang berguguran, hidup adalah rangkaian sujud syukur dan dzikir dzikir syukur tiap hela nafas