Senin, 17 Februari 2014

Workshop Qbaca: Menggagas 1001 Cerita Nusantara

doc.pribadi

Wew, workshop perdana di tahun 2014 yang kuikuti adalah workshop Qbaca: Menggagas 1001 Cerita Nusantara (18/2) . Dan menjadi suatu kehormatan, Medan menjadi kota pertama, roadshow tim Workshop Qbaca. Seperti apa? Sila dibaca ^_^
Adapun pemateri pertama dibawakan oleh Mas Bambang Trim, as we knew, Mas BT ini menjuluki dirinya sebagai Tukang Buku Keliling yang telah menulis lebih dari 150 judul buku, bangganya lagi, ia adalah anak Medan euy, asli Tebing Tinggi. Anak Medan memang T-O-P :D dan sekarang Mas BT aktif sebagai ketua kompartemen Diklat-Litbang-Informasi IKAPI, dan program Menggagas 1001 Cerita Nusantara bekerjasama dengan Qbaca diamanahkan ke Mas BT.

Workshop dibuka dengan pembahasan tentang konten, agak mengintip ke Wikipedia dulu :D , konten (content, in English)  adalah informasi yang tersedia melalui media atau produk elektronik.
Nah, Mas BT, cukup memukau saat menyampaikan bahwa buku yang paling laku di Amerika Serikat adalah buku tentang teknik menggendong bayi, yang penulisnya terinspirasi saat melihat masyarakat Bali menggendong Bayi, #hallooo? See?
Hari ini orang yang paling hebat adalah orang yang menguasai konten, dan Indonesia dalam slide-nya, Mas BT sampaikan bahwa , dengan 17.508 pulau di dalamnya dan 746 bahasa yang digunakan masyarakatnya, itu semua bisa menjadi surga berkembangnya konten-konten berbasis Nusantara. Hal inilah yang mendasari semangat program Menggagas 1001 Cerita Nusantara, tepatnya untuk menyelamatkan konten-konten tersebut dan mengabadikannya dalam bentuk tulisan sehingga bisa diwariskan kepada anak cucu bangsa Indonesia, kelak.
Masih tentang konten, jauh hari sekali, tepatnya 1996, Bill Gates ber-statement begini: Content is King. Delapan tahun kemudian, 2014 ini, kita bisa melihat hasil dari pernyataan orang terkaya di dunia tersebut. Ya sekarang disebut Big Data Era.

Konten yang berupa data dan informasi itu menjadi raja karena hampir setiap hari diakses jutaan orang, dan kebayang gak, kalau data itu berupa benda yang visible, setiap detiknya ia berseliweran di sekeliling kita.

Bila sudah seperti itu, kenapa tidak konten tentang Indonesia kita kumpulkan dan rapih kan sehingga berpeluang besar untuk disebarluaskan secara besar-besaran ke seluruh dunia.

Meski, risikonya adalah di luarnegeri, kata Mas BT, sudah ada text book yang khusus membahas Indonesia, di satu sisi, bangga dong, Negara kita dipelajari oleh orang asing, di sisi lain, adalah siap-siaplah kita dijajah lagi secara konten atau pemanfaatan sumber daya alam bila tak tahu atau sanggup mengolah sumber daya alam sendiri. Ya Allah, jangan sampe T_T ntar anak cucu gue gimana? :O

Setelah mengetahui kenyataan tentang konten, semoga membuka pikiran kita semua untuk lebih melek informasi/konten, dan jangan mau menjadi PKI , Pemuda Kurang Informasi. Hehe
Fenomena Buku di Indonesia
Pembahasan selanjutnya tentang Fenomena Buku di Indonesia. Pada sesi ini tak kalah mencengangkan lagi. Berhubung karena TB Gramedia adalah toko buku terbesar di Indonesia, jadi standar jumlah buku yang diproduksi di Indonesia tiap bulannya berkiblat ke TB Gramedia. Tahun 2011, tercatat 2300 buku yang masuk ke TB Gramedia per bulannya, catat ya PERBULAN. Estimasinya adalah, tahun 2013 ada 30.000 judul buku yang diproduksi di Indonesia. Wow! Ini adalah kabar menggembirakan buat kita semua, namun belum sepenuhnya, karena menurut saya kegembiraan ini belum didukung total oleh kesadaran masyarakat untuk membeli buku asli. Masih bermentalkan gratisan atau fotokopi T_T Semoga kita segera sadar dan berbenah.
Data buku di Indonesia tersebut menjadi data tersendiri oleh IKAPI untuk mendata penerbit dari 30.000 buku yang diterbitkan, dan ternyata dari 1.126 penerbit yang terdata di IKAPI, sekitar 1.004 penerbit yang terdata berasal dari pulau Jawa ;O, sisanya tersebar di Indonesia dengan pembagian yang cukup mengiris hati. Yah, agaknya ini menjadi PR buat kita semua, agar lebih bisa bersinergi lagi, dan penerbit yang belum terdaftar segera mendaftarkan diri ke IKAPI. Oh ya, adapun dari 30.000 buku tersebut, hampir 60% adalah buku teks, selebihnya buku umum. Lagi-lagi ini tantangan para penulis Indonesia. Mari kita galakkan program Menggagas 1001 Cerita Nusantara.
Ngobrolin soal buku, kadang memang gak ada matinye :D tapi pernah gak terpikirkan, apa standar yang membuat buku itu disebut buku. Dan UNESCO pun membuat standarisasinya, meski tetap dilakukan penyesuaian penyesuaian.
Yang disebut buku, syaratnya:
1.       Bukan terbitan berkala
2.      Lebih dari 49 halaman
3.      Memiliki kover yang tebal
4.      Diterbitkan suatu Negara dan tersedia untuk public
5.      Dicetak min. 50 eks
Pertanyaannya, gimana dengan buku anak? Keblenger juga anak dikasi buku yang tebalnya 49 halaman :D , maka, penyesuaian itu penting, pengecualian untuk buku anak, begitu paparan Mas BT.
Lanjuuutt
Mulai Menulis
Lalu, kita ni udah sadar akan pentingnya konten, nasib buku di Indonesia, so? What next?
Ya mulai Menulis dong, ^_^. Ayo, tunjukkan bahwa kita bisa berkontribusi dalam program 1001 Cerita Nusantara ini. FYI, adapun naskah 1001 Cerita Nusantara ini nantinya dibuat dalam bentuk e-book. (penjelasannya terpisah ya, panjang buanget kalau dibahas juga disini hehehe)
Adapun jenis naskah yang diterima tim Penggagas 1001 Cerita Nusantara adalah bisa: fiksi, non fiksi dan faksi
Misal: konten yang Anda angkat adalah tentang tanaman, pernah kah kita terpikir untuk menyusun buku dengan judul 50 tanaman yang mengubah dunia?, itukan sekaliber dunia, kita bisa mempersempitnya dengan 50 tanaman yang mengubah Indonesia, lebih spesifik lagi, di Sumatera Utara.
Itu contoh, dan kontennya Indonesia banget kan yang kaya akan alamnya. Anda bisa juga menelurkan ide, tak perlu jauh-jauh, apa yang sangat dekat dengan Anda, tentu masih berbasis Nusantara ya.
Bila Anda sudah mulai menulis, karena naskah akan diterbitkan dalam bentuk e-book, maka jumlah halaman yang diminta min. 24 halaman. Naskah ditunggu sampai April 2014. Info lanjut bisa menghubungi Mas BT di bambangtrim72@gmail.com. Naskah untuk sementara waktu dikirim ke email tersebut. InsyaAllah ide Anda aman pada orang yang tepat.
Oh ya, hindari plagiat yah ^_^
Goes to Frankfrut Book Fair 2015
Yuhuuu, tahu tidak, goal dari program ini juga adalah untuk menyukseskan Indonesia yang dapat kesempatan menjadi tamu dalam Frankfrut Book Fair 2015, sebuah event terbesar di dunia yang konsen dalam dunia baca tulis, dengan lokasi event seukuran tiga kali lapangan bola, Negara yang diundang panitia mendapat kesempatan untuk memamerkan buku-buku dari penulis dan penerbit di negaranya, even ini juga kesempatan besar untuk menasionalkan nama penulis dari tiap Negara. Kerenkan? *_*
Nah, tahun 2015, Indonesia mendapat jatah space sekitar 250 meter persegi, luasnyaa, :O melihat kondisi perbukuan kita, malu dong bila space tersebut kebanyakan kosong melompong, untuk itulah program ini hadir, dan kabarnya pemerintah memfasilitasi untuk menerbitkan buku yang diseleksi dari 1001 Cerita Nusantara ini, tunggu apalagi?
Program ini berlaku untuk siapa saja, penulis terkenal atau belum terkenal sekalipun asal punya niat dan misi yang sama. Mengangkat konten berbasis Nusantara.
Adapun buku yang sudah terpilih untuk dipamerkan di FBF 2015, buku roman karya sastrawan lama, seperti Siti Nurbaya-Marah Rusli, Debu Tjampur Debu-Chairil Anwar, Layar Terkembang-ST. Takdir Alisjahbana. Bumi Manusia-Pramoedya Ananta Toer, Sepasang Pedang Iblis-Asmaraman, dan karya sastrawan masa kini lainnya.
Yuk, menjadi bagian sejarah dengan mengabadikan dalam tulisan 1001 Cerita Nusantara.
Ruang Nada Sela, Kantor Telkom Medan, 18 Februari 2014

Jumat, 07 Februari 2014

Surat Untuk Stiletto Book

--> 
Sudut kamar, 7 Februari 2014
Dear Stiletto yang smart n sexy badai,

sumber gambar: baneofyourresistance.com

Ah menulis surat in the middle of deadline itu seperti Cinta mengejar Rangga di Bandara, harus segera disampaikan bila tidak nanti rasa ini bisa menjadi daftar rasa dalam mie instan. :D 

sumber gambar: facebook.com

Hai, Stilo kaget ya dapat surat dari aku? Dalam hati Stilo #kamu siapa? :O Hehe baiklah, perkenalkan namaku Nurul Fauziah, aku pecinta kegiatan membaca dan menulis. Aku pernah bercita-cita menjadi pegawai di salahsatu toko buku terbesar di Indonesia. Ya, itu cerita singkat tentang diriku.

Sebenarnya sudah lama aku mengenal tentang dirimu, sejak kemunculan pertamamu diwarnai dengan even-even  kepenulisan bertajuk A Cup of Tea, beberapa tema yang diangkat sempat aku ikuti, yang paling aku ingat itu even A Cup of Tea Menggapai Mimpi, tapi belum beruntung hehe. Mungkin pengalamanku akan Menggapai Mimpi menurutmu belum cetar membahana, maka dari itu naskahku tidak lolos, tapi aku yakin, meski belum baca dan memiliki buku tersebut T_T, naskah yang terbit adalah yang the best ever. Sejak saat itu, bersebab kesibukanku, aku jadi jarang ikut even kepenulisanmu, atau bisa jadi juga karena gak dapat informasinya, atau karena aku yang gak update tentang kamu yah di socmed? Ah, biarlah pertanyaan ini menemukan jawabannya sendiri seperti dengan sendirinya aku menemukanmu, #cieeee 
 
Nah, sekarang gak terasa dirimu sudah memasuki tahun ketiga meramaikan dunia penerbitan Indonesia, Selamat ya Stiletto #emmuuah hehe. Ibarat bayi yang berusia tiga tahun, kamu lagi ceria-ceria nya, kemudian lagi berbahagia merayakan lancarnya kamu dalam menegakkan kaki untuk berjalan bahkan berlari ^_^

Well, Awal mendengar namamu, Stiletto, aku gak ngeh sama sekali sampai akhirnya aku menonton sebuah iklan yang aku sekilas mendengar kata Stiletto, dan aku baru tahu kalau Stiletto itu sepatu hak tinggi T_T. Betapa cupu-nya aku. Haha. Pantas saja, logo kamu bergambar sepatu tersebut. Hadeh, kemana saja aku? Pemilihan brand kamu unik, Stilo apalagi sesuai banget dengan filosofis yang dibangun dari keberadaan sepatu tersebut.

Dalam website-mu *aku nyontek dulu nih hihihi*, kamu ada karena salahsatunya terinspirasi dari kalimat,

Strong women wear their pain like stilettos, no matter how much it hurts, all you see is the beauty of it.

Dalem banget dah ungkapan tersebut, JLEB abis @_@, arti menurut versiku adalah, wanita kuat itu membalut luka mereka ibarat memakai sepatu stiletto, betapapun lukanya, sakitnya, semua yang dilihat adalah kecantikannya saat memakai sepatu itu, gak ada itu meringis kesakitan.

Dan itulah ceritaku saat masa-masa pertama aku mengenalmu, setelah itu perkenalanku padamu berlanjut kepada like fanpage mu di facebook, hunting buku-bukumu, tapi jujur untuk mengoleksi bukumu aku bisa dibilang bukan seorang yang Rockie Reader atau  Loyal Reader apalagi hehe, yang A Cup of Tea Menggapai Mimpi saja belum sempat aku koleksi T_T, tapi kemarin aku bela-belain meng-hunting novel Seribu Kerinduan Mbak Herlina P Dewi yang ternyata ia seorang Pemimpin Redaksi kamu, WOW :O,Dan satu-satunya alasan aku membeli novel yang membahana itu adalah sinopsisnya yang gak jauh beda dari kisah yang aku alami baru-baru ini #huwaaaa, tisu mana tisu? T_T

 Dan, here I am,
Aku dan kisah Renata
 
sumber: dokumen pribadi
Meski belum membaca secara keseluruhan, buku terbitan kamu yang perdana aku koleksi ini, udah oke banget, tema dan isi cerita tak usah diragukan, apalagi yang nulis adalah Sang Pemred kamu, Stilo ^_^ , namun memang menurutku, mesti cover bukanlah segalanya, tapi terkadang coveradalah segala-galanya, desain cover sebenarnya udah dapet, tapi kualitas kertas covernya Stilo, kurang kokoh menurutku, sehingga mempengaruhi ke’bening’an desain yang ditampilkan, kalau pun tema cover sendu galau tralalala tapi didukung kualitas kertas cover yang bagus, pasti bisa lebih kece lagi. Untuk font mungkin bisa lebih gede lagi, Stilo, yang ramah mata gitu,  Oh ya, Stilo, satu lagi ini, pemilihan desain layoutuntuk ruang quote di setiap lembarnya penting banget, biar mata ini lebih dimanjakan lagi olehnya sehingga berat untuk tidak menuntaskan bacaan dari buku terbitan kamu. Tsaaahh. Semoga membantu ya Stilo, maaf ya kalau aku bawel >.<

Sekali lagi, Stiletto Book, happy anniversary yaaa, peluk dan cium dari jauh, semoga makin berjaya dan menginspirasi perempuan Indonesia, dan kita, perempuan yang membaca buku terbitan kamu bisa lebih seksi dalam kecerdasan, lebih percaya diri dengan kemampuan, dan tampil lebih cantik dengan pengetahuan, seperti yang kamu visikan dalam hidup kamu Stiletto. \(^0^)/

http://stilettobook.com/

From your big fans,
Nurul Fauziah
nufazee@gmail.com

#Tulisan ini diikutsertakan dalam Writing Contest: Surat untuk Stiletto Book, DL: 7 Februari 2014 pukul 23.59


Kamis, 23 Januari 2014

Dalamnya Resensi Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

-->
Judul          : Tenggelamnya Kapal Van der Wijck
Pemeran    : Pevita Pearce, Herjunot Ali, Reza Rahardian, Randy Nidji
Produser   : Ram Soraya, Sunil Soraya
Produksi   : Soraya Intercine Films
Jenis Film  : Drama Romantis
Durasi        : 165 menit
Tanggal Liris: 19 Desember 2013

Dalamnya Resensi Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Oleh: Nurul Fauziah

http://mutuku.blogdetik.com/2014/01/03/konyolnya-ending-film-tenggelamnya-kapal-van-der-wijck/
Cinta, selalu menjadi tema sentral yang menginspirasi banyak orang untuk berkarya termasuk film. Tenggelamnya Kapal Van der Wicjk adalah salahsatu karya film yang diadaptasi dari novel karangan Buya Hamka, berjudul sama, dan sukses dirilis tanggal 19 Desember 2013. Berkisah tentang sepasang anak manusia yang saling jatuh cinta, namun perjalanan kisah cinta tak semulus yang diharapkan, kentalnya aturan adat dan istiadat setempat menjadi tembok besar bersatunya hati mereka.

Terkisahlah pemuda asal Makassar bernama Zainuddin yang memutuskan merantau ke Batipuh, Padang Panjang, kampung halaman ayahnya selepas sekian lama meyatim piatu dan hidup dibesarkan seorang pengasuh. Berbekal sebuah nama keluarga ayah, Mande Jamilah.
Setibanya di Batipuh, Zainuddin begitu terpesona dengan lukisan alam, tanah kelahiran ayahnya dan juga secara tak sengaja menyaksikan langsung pancaran kecantikan, bunga desa, yang sedang melintas jalan kampong, pagi itu, siapa lagi kalau bukan, Hajati. Cinta pada pandangan pertama pun terjadi.

Antara Hajati dan Zainuddin tanpa dikomandokan, hati mereka saling terpaut satu sama lain. Surat demi surat pun tercipta. Pertemuan langsung saat balas dan terima surat juga tak terhindarkan. Hingga hubungan terlarang tersebut sampai ke pandangan dan telinga Datuk Rangkayo, mamak (paman) dari Hajati. Orang yang paling berhak atas hidup Hajati setelah Ayah dan Ibu Hajati, meninggal.

Kisah selanjutnya, nonton sendiri yeee…

Awal yang Datar
Keinginan untuk menonton film ini cukup besar tapi tidak sebesar pemikiran pragmatisku, yang menganggap, ya sudahlah, tunggu versi download-nya :D, lagi pula menonton film Indonesia mah sering ruginya, baru beberapa bulan di bioskop eh ntar sudah ada tayang di televisi dah gitu tiket nonton sekarang ya ampun ampunan mah harganya T_T, mending beli buku deh #curcol -_-“ Namun, berdasarkan desakan seorang kakak, yang menurutnya menonton di bioskop dengan layar 6 x 12 meter itu beda dari sekadar nonton di televise atau di layar netbuk, maka jadilah daku memenuhi undangan nonton bareng si kakak.

Here we go…

Saat layar terkembang #jiaah macam nonton layar tancap :D sampai satu jam pertama, daku akui, adegan demi adegan berjalan dataaarrr banget, hampir tertidur, hoaamm. Mungkin yang bikin datar dan mata cepat mengantuk adalah, tone warna gambar yang berubah-ubah, setting Batipuh,  tonemendadak biru, setting Batavia dan Surabaya beda lagi tone nya  Tapi, yang bikin mata melek dan telinga semriwing, adalah dialog yang digunakan oleh para pemain, diantarnya Zainuddin yang diperankan oleh Herjunot Ali, cowok satu ini dipermak abis dan berpenampilan se-cupu mungkin tapi teteup, ganteng #eh :D .

Herjunot Ali, menurutku cukup totalitas memerankan Zainuddin, mulai dari dialog yang menggunakan aksen Bugis, sekilas terdengar seperti aksen Batak, tapi setahuku, begitulah aksen Bugis, keras, tegas dan to the point serta santun,  salut buat Bang Her #panggilansokakrabku hahaha, setelah pendengaranku mencernanya, pasti gak mudah Bang Her melafal dan belajar Bahasa Daerah suku Bugis T_T

Nah, kalau Pevita Pearce yang memerankan Hajati lain pula, awalnya agak skeptis, kok bisa sih dia yang memerankan Hajati? Tapi pemirsah, Anda salah menilai :D daku malah lebih dapet aktingnya Uni Pevita #eh aslinya dia Gadis Minang gak sih? #googling

Cara bicaranya, pembawaannya yang datar dan nyaris tanpa ekspresi, dialek Minangnya yang memang daku akui gak selebay dialek Bang Junot, tapi top margotop buat akting, Pevita Pearce, berasa Hajati gue pas nonton TKVW T_T #daku seolah merasakan apa yang dirasakan Hajati #Oh *mulai lebai si penulis -_-“ , oke, back to normal :D

Seiring perjalanan adegan demi adegan, akhirnya sampailah adegan, sedih-sedihan T_T #sihiy adegan itu saat, Mamak (Paman) menasehati Hajati, ah sampai disini, inilah yang daku kecewakan dengan adat L Dalam adat istiadat Minang, posisi seorang paman memang memegang peranan teramat penting atas hajat hidup keponakannya, termasuk masalah memilihkan jodoh.

Apa yang dikatakan Mamak itulah yang mesti dijalankan, sisi positifnya adalah jiwa peduli seorang paman terhadap keponakan dalam adat istiadat Minang sangatlah tinggi.

Maka, didapatlah dialog ‘ngenes’ berikut ini dengan gubahan seperlunya, soalnya takut salah bila menulis dalam Bahasa Minang, mengerti bila dilisankan, kacau balau tiba menuliskannya hahaha #masalahnyo lah lamo indak pulang kampuang dan cakap Minang

‘Cinta kami suci, mak’ sambil berlutut dan suara parau, Hajati coba jelaskan kepada Mamak perihal hubungannya dengan Zainuddin

‘Hey, Hajati, Cinta itu Khayal, Dongeng dalam Kitab, kau pikir akan jadi apa hidupmu nanti bila menikah dengan orang yang tidak beradat…bla…bla…miskin…bla…bla…kau itu anak dari Datuk Rang Kayo, Dengarlah cakap mamakmu hari ini, dijamin indak manyasal beko (nanti) di kemudian hari, malah kau yang akan batarimo kasih pada mamakmu ini, mamak lah labiah tuo, labiah banyak makan garam…’

Sebenarnya dialog-dialognya yang bikin daku ingin menonton ulang film ini hehehe :D kena banget soalnya hahaha #ehm -_-“

Nah, dari adegan tersebutlah, mulai, basah mataku hahaha, tapi belum menderas, masih mendung. Adegan awal , masih dapat banget suasana kampung nan tenang dan asri, cara pemuda pemudinya menjaga hubungan dan pandangan, kerenlah, mantap ^_^ memasuki adegan yang lebih dalam, mulailah…

Singkat cerita, Zainuddin bersebab darah Bugis-nya (padahal Ayahnya, Minang pun ckckc, itulah ya kan rasisme tadi T_T, tak manusiawi awak dibuatnya) dan hubungan terlarangnya dengan Hajati, diusir secara terhormat dari Batipuh. Sebelum berpisah, Hajati menjumpai Zainuddin di tepi danau yang ada di Batipuh, lokasi favorit Zainuddin kalau lagi nulis surat, disinilah mereka mengikat janji setia #ciyee #uhuk, Hajati memberikan selendangnya sebagai azimat cinta mereka, dan berjanji untuk terus menulis surat berkirim kabar. Sekian bulan kemudian , di surat mereka kesekian, Zainuddin yang menuntut ilmu di Padang Panjang, menerima surat bahwa Hajati akan ke Padang Panjang menonton Pacuan Kuda Tahunan, Zainuddin senang alang kepalang.

Tibalah hari yang dinanti, Hajati pun sampai di rumah sahabatnya, Azizah, orang Minang tapi ke Belanda-Belanda-an. Azizah ini adik dari Aziz diperankan Reza Rahardian, bekerja di pemerintahan Belanda. Pertama kali lihat Hajati, Aziz jatuh hati. Di awal rencana, Hajati ingin bertemu Zainuddin secara sendiri, pada akhirnya, Hajati pergi dengan Aziz, Azizah dan teman-teman Belanda Aziz, wew, Hajati dipermak abis, luntur mah penampilan Gadis Minang dengan khas kerudung dan baju kurung.

Acting Reza Rahardian mah gak perlu diragukan lagi, the best actor ever lah, kalau ditatap lama si Reza ini mirip adik lelakiku, Rizky ^_^ , cakepnya, brewoknya, #hadeh #paket komplit dah *bisa dibungkus gak ya?* *Emang beli cireng, pakai bungkusan?
* -_-“

Adegan ini, sebenarnya illfeellangsung dengan tokoh Hajati, selugu-lugunya gadis kampung, yang memegang betul petuah guru mengaji di surau serta mengkaji Al Qur’an dan Hadits tentang tata cara menutup aurat, tentulah dipegang teguh,  tapi sekejap saja dirayu Azizah untuk berpakaian gaun panjang  tak berlengan, mudah saja diterima Hajati dengan bujukan bahwa Zainuddin akan terpukau bila Hajati berpenampilan seperti itu #help sutradara

Di Pacuan Kuda, melihat kebersamaan Hajati dan Aziz, Zainuddin pun berprasangka, musnah sudah harapan bertemu dan mengobrol panjang dengan Hajati sekadar menuntaskan rindu. Meski begitu, tak urung niat Zainuddin mempersunting Hayati, maka melayanglah surat kepada Datuk Rangkayo untuk meminta Hajati menjadi isteri. Namun, disaat yang sama, Aziz didesak orangtuanya untuk segera menikah dengan alasan cukup umur dan demi menyudahi kehidupan hura-hura Aziz selama ini.

Kirim-kiriman surat pun terjadi, perang batin antara keduanya mulai pecah, Hajati bingung dengan posisi sulit, antara tidak ingin durhaka kepada Mamak yang merawat dia selama ini jika menolak pinangan Aziz dan dengan kebahagiaan dia bila bersama Zainuddin. Akhirnya dengan maksud menyelamatkan hati Zainuddin, dan menyenangkan hati Mamak, pinangan Aziz-lah yang diterima Hajati.

Mendengar kabar, Hajati menerima lamaran Aziz, Zainuddin menulis surat yang isinya begini:
‘Hajati, begitu mudahnya kau menerima pinangan Aziz, tak ingatkah azimat cinta kita, kerudung yang kau berikan di tepi danau itu? Dan juga janji kita? Bla bla bla … ah, aku pikir ini semua hanyalah perkawinan kecantikan dan harta saja…Tahukah kau seperti apa Aziz itu? Aku meminta Bang Muluk mencari tahu dan ternyata Aziz adalah penjudi terkenal di kota ini, tak kau pikir ulang lagi keputusanmu? #lupa gue apalagi -_-‘ tapi inti suratnya begitulah

Dan Hajati pun membalasnya sebagai berikut, dan aku tahu #tsaah sebenarnya Hajati berat memilih, tapi dia tidak punya pilihan T_T pada akhirnya ia turut patuh kepada sang Mamak serta para tetua adat,  meski dalam surat itu, Hajati menyampaikan bahwa  keputusan menikah dengan Aziz, seolah-olah adalah murni keputusannya, padahal asli paksaan dari Ninik Mamak Hajati T_T

‘Zainuddin, adapun perkawinan ini bukanlah perkawinan kecantikan dan harta, perkawinan ini adalah benar adanya keputusanku, lupakan semua kenangan kita, anggap saja kita tak pernah bertemu’

Jeng…jeng…

Pernikahan pun digelar, #aiih nonton adegan baralek, pengen pulang kampung aja bawaannya hahaha, Bahasa Minang, suasana kampungnya itu nganenin *_*

Selanjutnya? … #sebentar, penulis ke warung dulu ya, beli Genset sachet hahaha #penulis aneh

Ba cinto di awak, manikah di urang, ungkapan Minang ini passs banget buat Zainuddin, Zainuddin patah hati, sodara-sodaraaa *toa*

Zainuddin mendekam di kamar, hampir dua bulan lamanya, tak nak makan, tak nak hidup, ntah pun tak nak mandi,  tak nak semuanye #lah kenapa ipin upin nyasar kemari hahaha

Adegan Zai patah hati, non sense banget buat aku, sepatah-patah hatinya orang, okelah ada yg bunuh diri, tapi orang tipe Zainuddin, ilmu agamanya tinggi, keturunan terhormat pula di Makassar sana, kok bisa? Se-drop itu? Se-stres begitu? Sampai berhalusinasi yang berlebihan, masak Mantri Desa, lelaki, dikira Hajati? #hadeh, ya setidaknya meski berhalusinasi, masihlah bisa membedakan mana laki-laki dan perempuan #jiaah sok tahu gue, emang pernah ngalamin? :p Udah gitu, di adegan ini, Junot mulai kehilangan arah, mulai mengalami disorientasi aksen, tapi gak sampai jadi butiran debu #berat kali bahasanya :O. Menurut sebagian penonton adegan halusinasi Zai dan bumbunya itu lucu, tapi bagiku, lebay, maksa.

Hajati dan Cinta, Gak Pernah Salah
Beberapa hari lalu sempat baca, dimana gitu, daku lupa yang jelas bunyinya begini, Kalau kamu lagi ujian, lalu menemukan pertanyaan sulit yang bila dijawab takut salah, maka, jawab saja CINTA, karena cinta gak pernah salah, #hahaha begini nih kalau murid udah keracunan sinetron cinta-cintaan yang ge je itu.

Setelah puas membedah adegan demi adegan versi On The Spot, :p gak lah, versi daku lah yang pendiem ini kalau lagi tidur :p , maka kita masuk ke pembahasan pembelaan. Mau tau? Cekidot terus ^_^

Dibeberapa adegan terakhir, air mataku mulai unstoppable #jiaah istilahnya, bayangin aja men, emang sih salah juga, lagi kondisi hati terserak berani-beraninya nonton pilem beginian, makin menjadilah, meradang, memerih #ooppp

Pernikahan Hajati dan Aziz, hambar adanya, Aziz tetap sibuk dengan urusan kerja dan tentu saja judi, Hajati malah seperti hidup di sangkar emas,  sedangkan Zainuddin terus berusaha bangkit dari keterpurukan, Zainuddin bersama Bang Muluk, anak dari Keluarga yang rumahnya jadi tempat menginap Zainuddin, memutuskan pergi ke Batavia (pelajaran juga nih jenderal, kalau menyembuhkan luka patah hati, kudu totalitas men, pergi sekalian nyebrang pulau, tapi salahnya gak bisa pindah planet pula -_-“ )

Zainuddin terus bersinar, agaknya ia mempraktekkan apa yang pernah dibilang Helvy Tiana Rosa, ada dua keadaan yang membuat seseorang menjadi penulis, Jatuh Cinta dan Patah Hati. Zainuddin jadi novelis terkenal, dengan nama samaran ‘Goebahan Z’, bahkan bonusnya lagi, Zai ditawari untuk mengurus sebuah perusahaan penerbitan di Surabaya. Drastis, Zai dan Bang Muluk kaya berat dah, by the way persahabatan antara Zai dan Bang Muluk mirip kisah film India yang high recommended dah sepanjang zaman, Mann.

Lalu, seiring berjalannya waktu, di sebuah perhelatan opera, Aziz dan Hajati diundang menonton, dan tak dinyana ternyata penulis naskah opera tersebut adalah Zainuddin, Aziz pun tak canggung mengakrabkan diri lagi, bahkan tanpa tedeng aling aling langsung minta bantuan berupa pinjaman uang demi membayar utang, akibat gila judi.

Perlahan, keadaan Aziz dan Hajati makin parah, jatuh miskin, Aziz kembali bermohon kepada Zai, mereka pun menumpang tinggal di rumah megah bak istana milik Zai (ah, masih non sense juga, di rentang waktu kisaran tahun 1930-an ada ya Inlander/pribumi bisa memiliki rumah semegah itu? :O

Nah, saat satu atap inilah keadaan makin meruncing, termasuk urusan perasaan.

Ah, kalian tahu wahai pembaca, sepanjang cerita, tampak sekali Zai lah korban pengabaian cinta Hajati, padahal Hajati –lah korban sebenarnya, Hajati masih cinta dengan Zai tapi bersebab adat dan patuh pada Mamak, Hajati korbankan kebahagiaannya, kemudian masuk ke dunia pernikahan, gaya penampilan Hajati berubah drastis, ondee, sebegitu Belandanya kah Aziz, sampai-sampai sejak menikah Hajati nyaris tak pernah lagi terlihat berpenampilan kerudung dan baju kurung. #sutradara mana sutradara. Hajati gak salah, Zai T_T plis deh!

Adegan terus mengerucut dan semakin pelik, ibarat benang yang udah kelilit lilit, bersebab masalah yang bertubi, Aziz sakit, Aziz mohon tinggal di rumah Zai beserta istri, dan pada akhirnya terusik juga harga diri Aziz sebagai lelaki, sebaik sembuh, Aziz putuskan untuk cari kerja dan meninggalkan Hajati di rumah Zai sampai Aziz dapat kerjaan, namun, karena  tak tahan dengan kondisi yang ada, bukan cari kerja, Aziz malah cari mati, ia ditemukan mati bunuh diri di kamar hotel. Hajati shock.

Sebelum bunuh diri, Aziz sempatkan nulis surat yang isinya, *pokoknya tokoh utama dalam film ini, penulis semua dah, bangga dong :D , penulis surat ^_^ *, ‘Hajati, maafkan aku yang telah merampasmu dari Zainuddin, dengan ini aku lepaskan engkau, bila masa iddahmu selesai, maka aku relakan Engkau bersatu dengan Zainuddin’.

Alahai, lagi-lagi pilihan sulit, disatu sisi, horeee…Aziz sudah meninggal #loh kok? Gak sholehah banget jadi istri, T_T ya Allah, apakah ini sensifitas si penulis review? #jedug2kan kepala ke tumpukan Roti Vanhollano, tapi gak lah, Hajati-kan istri sholehah nan ikhlas, selang beberapa bulan, akhirnya, Hajati beranikan diri mempertanyakan cinta Zainuddin, aku pun bila jadi Hajati, tak nak juga tinggal satu atap dengan orang yang hatinya pernah erat lekat di benak dan pikiran #daleeemmm

Dialog yang menguras air mata itu pun terjadi:
Ceritanya,Hajati mempertanyakan lagi cinta, Zai, dan tahu jawaban Zai apa? Aih, disini air mataku dah kayak air terjun sipiso piso TT_TT

Zai luapkan semua amarah dan dendam, sebenarnya gak dendam juga, apa ya namanya ‘kesesakan sebenar benarnya sesak’, kurang lebih begini inti dialognya, bahwa bagi Zai, Hajati itu sudah mati, Hajatinya yang dulu adalah yang teguh menunggu lamaran Zai, tapi ternyata malah memilih lamaran Aziz (sampai disini sebenarnya pengen nge-jitak Zai, gak tahu apa Hajati susah payah menolak paksaan Ninik Mamak untuk menikah dengan Aziz, tapi karena adat harus dijunjung tinggi, Hajati tak punya pilihan, salahkah Hajati? Haruskah ia pergi ke pantai dan pecahkan piring?) dan sekarang Hajati yang di depan matanya adalah tidak lebih dari istri sahabatnya, ooo…makin menjadilah tangisan si kawan tu, tapi Zai terus meluapkan kesesakan hatinya, Hajati speechless hanya bisa berurai air mata.

Tak mudah bagiku menerimamu lagi Hajati, aku hanya mengikuti apa yang kau sampaikan dalam surat itu, bahwa aku harus melupakanmu, mengubur semua kenangan, menganggap semua tak pernah terjadi, dan itulah yang aku lakukan Hajati, aku lakukan permintaanmu, Hajati dan sekarang kau memintaku?,  pantang pisang berbuah dua kali, pantang pemuda menikah dengan bekas istri orang, #nusukk’ begitulah kata Zai, ‘Besok, berangkatlah dengan Kapal Van Der Wijck, aku akan membayar semua biaya perjalananmu, maaf aku tidak bisa mengantarmu, Bang Muluk akan mengurusi semuanya’ Zai berlalu dengan beberapa lembar uang yang ia letak di meja dekat perapian, sedang Hajati, berlemas lutut, lalu terduduk menangis terisak. #hmm, penulis narik becak dulu deh, eh narik napas maksudnya

Adegan Penutup yang ‘APA?!’
Ya adegan berikutnya semua bisa nebak dong? Hajati naik kapal, diikuti lambaian saputangan putih para penumpang TKVW pagi itu, dan gak tahu kenapa, semua penumpang janjian menggunakan sapu tangan putih untuk adegan lambaian tangan dan tangan mereka gak lelah apa?, #wew #urusan mereka lah itu ya :D

Di atas kapal, Hajati dengan kedataran ekspresinya, tatapan matanya yang kosong, ramai pun penumpang, tapi tetap saja dia merasa sendiri #kasian Hajati T_T meski begitu batin Hajati terus berdialog, sepanjang perjalanan, selembar foto Zai, tak terlepas digenggaman.

Tibalah detik-detik kapal tenggelam, eits sebelum itu, daku mau komen dulu,kenapa banyak melibatkan pemain asing ya dalam film ini sebagai figuran? Biar terkesan film internasional atau supaya apa? Apakah perseteruan Belanda-Indonesia tidak menganggu kisah cinta dua sejoli ini, pada waktu itu, 1930-an, kenapa bumbu sejarah perjuangan Indonesia, tak ada sama sekali? Mungkin karena mau menonjolkan kisah cintanya kali ya? Tapi tetaplah harus ada setting sejarah perjuangan Indonesia yang menyertainya #lebih observasi sejarah aja kali ya Om Sutradara yang kurang dalam film ini :)
Kapal pun tenggelam, ya adalah efek komputerisasinya, mendekati efek Titanic lah, mantap. Adegan Hajati tenggelam pun keren, heuheuheu, dialog batin Hajati keren pas tenggelam itu ^_^ ‘Biarlah kematianku ini adalah menjadi kematian dalam mengenangmu’

Pengisi Soundstrack, Nidji juga keren *_* lirik lagunya nendang dan dukung banget dengan konten film, OST jagoan film TKVW adalah Sumpah dan Cinta Matiku.
Cintanya slalu abadi
Walau takdir tak pasti
Kau slalu dihati cinta matiku
Slama aku berdoa melayangkan cinta
Yang slalu kujaga

Dan, aku menunggu kapanlah lampu tulisan EXIT menyala, soalnya kan Hajati dah tenggelam tu :D pasti habiskan filmnya, ternyata eh ternyata masih nyambung. Kabar kapal tenggelam sampai di Zai, Zai panik. Zai menyusul Hajati ke rumkit, berharap masih ada harapan. Well, Finally I Found You. Disinilah adegan yang APA?! Itu bermula, mirip-mirip adegan pas Fahri membimbing Maryam di detik-detik terakhirnya, tapi itu dalam keadaan mereka sudah halal. (Ayat-Ayat Cinta)

Nah, loh, iki piye? Kenapa Zai curi-curi dalam kesempatan ini, mana adat istiadat yang dijunjung tinggi? lebih dari itu mana aturan agama tentang hubungan laki-laki dan perempuan yang belum muhrim? Kenapa jadi terkesan mirip film drama romantis Barat yang berakhir dengan kissing?

Dueaarrr, lagi-lagi ini hanya film, teman J tak banyak yang diharapkan dari film yang katanya ‘diadaptasi’ dari novel berjudul sama karya Ulama Buya Hamka. Ya, jadilah penonton cerdas nan bijak, tak semua yang ditonton itu benar, tapi setiap yang benar itu datangnya dari Allah, bila patah hati segera disembuhkan,  karena biasanya orang yang luka hati jarang mau bergegas mengobati, berlaku adillah dalam kehidupanmu #Mario Teguh wanna be hihi, percayalah, luka hati yang terarah dan terorganisir bisa mengubah masa depan, tentunya ke arah yang lebih baik dong ya, ingat, obat hati adala lima perkara, sekali lagi, kapal boleh karam, tapi hati mestilah tetap kuat berlayar.

24 Januari 2014, 01.59 WIB

Salam Olahraga