Sabtu, 14 Juni 2014

Jilbab Traveller: First Flight dan Kuala Lumpur, Malaysia


9 Juni 2014
Wohooo, Today is My Big Day, \^0^/ hari ini adalah hari penerbangan pertamaku ke luar negeri. Perlahan tapi pasti mimpi yang kutulis di dinding kamar, terwujud satu per satu. Menjelajahi bumi Allah, dan Malaysia, adalah negeri pertama yang akan aku tuju.
Seakan percaya tak percaya, dah kayak adegan Rapunzel pertama kali keluar dari menara hahaha, Galau abis :D. Nah, Aku, seminggu sebelum keberangkatan aja masih tugas di luar kota, belum packing dan belum observe, aku masih search sedikit di internet, dan menghubungi kawan-kawan yang di Malaysia serta saudara emak. Sampai malam hari H pun, kami (aku pergi bersama Kak Erna) belum pasti bakal ada yang jemput atau tidak di bandara :D karena teman yang di Kedah sudah mewanti-wanti bahwa bandara KL itu buesssaarr, dan pun bila tiba di KL, KL itu luaasss T_T ya kekhawatiran yang berlebihan tapi mestilah ditanggapi serius dan endingnya… :D 
Ekspresi Rapunzel saat pertama kali keluar dari Menara nya HAHAHA
Senin malam, selesai sholat maghrib, aku baru mulai packing -_-“ dan Alhamdulillah selesai sekitar dua jam berikutnya :D dan sekitar jam 10 Kak Erna datang. Dia menginap di rumah, agar kami bisa berangkat bersama keesokan paginya. Selama seminggu keberangkatan kami belum ada bertemu untuk merencanakan hendak kemana saja di Malaysia selama dua minggu, Mas Bro dan Mba Sis :D , malam itu barulah kami bicarakan dan simpulannya adalah kami dijemput oleh seorang teman temannya teman di bandara. Dan kami akan langsung ke Kedah. Gak sabar menunggu esok pagi ^_^.
Tarraaa…pagi, kamu *_*, sebelum berangkat kami menunggu Alfamart depan rumah buka :D , dan hari itu aku dalam kondisi drop, batuk dan flu T_T maka aku perlu bawa permen tolak angin, tolak angin cair, lalu lasegar ukuran 1 liter, youC1000 rasa lemon, wafer tango, cemilan oishi sponge coklat.
Well, udah jam 9 aja, fine, saatnya berangkeee…becak mesin telah di stop, dan kami pun menuju stasiun Bus Damri di Carefour. Awalnya aku gak tau stasiun Damri ini dimana ternyata disamping Carefour :D . Nah, buat yang minim dana untuk berangkat ke bandara via taksi,kereta api atau kendaraan sewa lainnya, mending naik Bus Damri aja deh, murah meriah \^0^/ gak berasa 2 jam, eh udah sampai di Bandara KNIA.
Aku dan Kak Erna
Dengan nomor penerbangan QZ-124 Air Asia dan jadwal terbang 13.30 , kami pun menanti giliran check in dengan duduk manis (ahai… ) dan pemirsah,  bila hendak berangkat menggunakan pesawat apalagi ke luar negri, pastikan kamu sudah sampai 2 jam sebellumnya di bandara, bersebab, jam tiba dihitung berdasarkan jam yang berlaku di Negara kita tuju, dan Malaysia itu 1 jam lebih cepat dari Indonesia.
Jangan kayak kami hahaha, kami sempat direpetin petugas check in, kami sepele sama jadwal check in, karena melihat antrian check in masih panjang, jadi ya duduk tenang aja dulu, eh giliran udah sepi baru heboh hahaha. Kami check in dalam keadaan terburu-buru X_X setelah direpetin petugas check in -_-“, Alhamdulillah tak ditinggal pesawat, hahaha, nasib kali aku ini, tempo hari pas tugas keluar kota, hamper ditinggal kereta api -_-“ ya Allah.
Karena diawali dengan terburu-buru, maka kami pun menuju ke ruang keberangkatan juga terburu-buru hahaha. Jadi di KNIA itu ada tempat khusus untuk keberangkatan, dia seperti pintu masuk, nah boleh masuk bila men-scan barcode tiket, saking paniknya, Kak Erna yang megang tiket kami, tak sadar bahwa tiket dari check in tadi itu diselipkan di passport, hebohlah kami mencari benda yang bisa di scan. Bertanyalah kami sama abang-abang yang ada di belakang kami yang kayaknya juga mau masuk.
Pas pulak Kak Erna pegang tiket online yang sudah ku print out, tiket itulah yang digosok gosokkan Kak Erna ke layar scan barcode, haduh, kalo ingat kejadian itu ngakak guling-guling aku :DD Nyadar kebodohan yang kami lakukan pas bertanya dengan petugas, dan kami pun bisa melewati pintu untuk masuk ke ruang keberangkatan.
Selanjutnya, kami menuju ke ruang pemeriksaan passport, lalu masih dengan tergopoh-gopoh pulak T_T aku tak merasakan lagi betapa beratnya tasku T_T #umaakk , kami menuju bagian pemeriksaan barang, dan disini kehebohan terjadi,
Aku panik, 2 tasku sudah berjalan ke terowongan pemeriksaan, nah tinggal dompet kecil yang kugantung dileher, aku panik umaaakk, hampir aku potong leher #horor >.< eh potong tali tas kecilku, tapi kenapa gak dari tadi aku copotkan tali pengaitnya saja, daripada ribet melepaskannya dari kalungan leherku. HAHAHA
Sebenarnya aku tau bahwa kita tidak boleh bawa cairan lebih dari 100 ml, nah kalian dah baca kan di awal perjalanan tadi kami sempat belanja, dan semua minuman itu disita #Umaak lagi TT_TT, aku sempat menyerahkan botol Tupperware-ku, tapi tak tak, tak tega, enak aja petugas imigrasi itu -_-“ ku minumlah setengahnya, lagi pulak aku capek juga kan pas lari-lari dari tadi HAHAHA, sedangkan minuman yang lain kami relakan, lain aku lain pula Kak Erna, Kak Erna disempatkannya meminum youC100 miliknya, HAHAHA, tak mau rugi :p, barulah kami boleh jalan lagi. Saat rapi-rapi, seorang petugas mengumumkan ‘Dompet, siapa ini?’ pas ku tengok, huwaaa dompetku T_T Ya Allah, thank you Allah :-*. Seronok kali kan perjalanan ini hihihi
Lalu kami pun menuju Gate 3, tempat dimana pesawat kami parkir. So, dimanakah dikau wahai Seat 27B? Kami pun terbang, #terharu *_* terakhir kali naik pesawat itu 5 tahun lalu -_-“ dan teteup deg deg an, segala macam dzikir aku lafadzkan, aih, cem gini lah Miss #Cupu jalan-jalan :D  
Hanya perlu waktu 45 menit saja, tapi ditambah pendaratan yang super hati-hati dan agak makan waktu, ada juga lah 1 jam di pesawat, kami tiba di Bandara jam 14.30 waktu Indonesia sedangkan waktu Malaysia adalah 15.30.
Untuk penerbangan low cost  dan khusus pesawat Air Asia, kita bakal mendarat di KLIA 2, ini Bandara baru, baru diresmikan 2 Mei 2014, meski baru, tapi memang luaasssssss T_T, untuk menuju ke pemeriksaan passport saja memakan perjalanan 30 menit, lalu pemeriksaan barang, dan kemudian ruang keluar dari Bandara, disana sudah ramai orang yang menanti keluarga, teman, dan lain-lain. Sedangkan kami? Kami harus menunggu jemputan Yusuf sekitar jam 5 sore nanti, ah tak lama pikir kami, sempatlah kami mencari sim card hp, ya Bandara KLIA 2 ini macam Mall, bukan macam lagi emang Mall lah :D cantek kali *_*.
Bawaan Kak Erna hahaha :D , bawaanku lebih heboh lagi hihihi
Nah, sim card yang kami pilih berdasarkan observ adalah Maxis, sekitar 9RM udah termasuk pulsa 5 RM di dalam, dan sudah bisa internetan puaass :D menunggu Yusuf, kami sempatkan sholat, kemudian cari tempat menunggu yang asik.
Kartu Maxis
Menunggu dan menunggu, eh udah jam 5, belum ada tanda-tanda Yusuf datang, oke. Sebaiknya kita makan, kami pun makan. Lapar, jendral T_T. Tips, nih buat kamu yang lagi-lagi minim dana kayak kami ini #eh :D , bawa nasi lengkap dengan lauknya yah, karena beli di Bandara itu mahal, ntar belum ngapai-ngapain ringgit kamu habis lagi T_T.
makan nasi bungkus di Bandara KLIA 2 ckckck, pasti orang Indonesia kan? Hahaha
Dan, sudah jam 7 malam, di Malaysia ini, jam 7 itu kayak jam 5 di Medan, masih terang, wow, *_* belum ada tanda-tanda Yusuf datang. Kami pun menelepon Yusuf, ternyata eh ternyata, waktu yang diperlukan Yusuf dari Kampus nya Kolej Universiti Islam AntaraBangsa Selangor sekitar 2 jam, oke dan kami pun menunggu lagi T_T
Dalam masa penantian itu kami gunakan untuk sholat magrib jam setengah delapan, lalu beli minum karena bandara sangaaatt dingin T_T, jadi dehidrasi bawaannya, lalu kegiatan kami berikutnya keluar masuk dari satu toilet ke toilet lainnya HAHAHA, membandingkan toilet yang di ujung sana dengan yang di ujung sini, HAHAHA. Kemudian, kami menulis, lalu menulis, lalu menunggu, dan terasa sekali, sudah jam 9 :D Yusuf nelpon, dan ternyata mobilnya rusak pulak TT_TT perlu waktu 2 jam lagi untuk tiba di Bandara, maka kami pun mengulang kegiatan yang di atas tadi, kecuali sholat, karena sebelumnya sudah di jamak, :D
Dua kali beli minum, X_X sebotol RM 3,5
Sekitar jam setengah 12, penantian yang panjang pemirsah hihihi tapi tetap dibawa seru :D , Yusuf tiba, kami pun berangkat ke flat adiknya di daerah Damansara, dan itu sekitar 2 jam dari Bandara. So, Malaysia ni luaassss, kemana-mana jauh, jadi wajar saja jika mobil (baca: kreta ) sudah menjadi keperluan utama bagi warga Malaysia. Pengen belajar bawa mobil *_* #Semangat, Ul :D , lanjuutt…
Khusyu' , menunggu HIHIHI
Sepanjang perjalanan, kami bercerita, dan memuaskan mata dengan pemandangan Malaysia di waktu malam. Indahnyaaaa *_* Nah, tentang si Yusuf ini, nanti akan diceritakan dalam satu cerita khusus, sabar yah ^_^. Ada yang unik dari si Yusuf ni, dia paling tidak focus bawa mobil bila sudah menjawab telepon, pasti nyasar HAHAHA.
Singkat cerita, tibalah kami di Damansara, sebuah daerah yang berisikan bangunan flat berlantai 6. Kuala Lumpur adalah pusat belajar dan bekerja bagi para warganya sehingga kita pendatang tidak akan menemui rumah penduduk pada umumnya, rata-rata gedung perkantoran, perkuliahan dan flat. Kalau pun rumah, pastilah ia perumahan yang elite yang tertata rapi.
Flat yang sederhana ini, jadi tempat menginap kami sementara, karena sudah tidak mungkin lagi mengejar bus ke Kedah. Esok perjalanan dilanjutkan. Nah, sampailah kami di flat Yusuf, di lantai 6, alamak penatnya T_T gemetar kaki ku saat menaiki anak tangga ini.
Dan, cerita ini bersambung yeee… mau tau gimana serunya perjalanan kami ke Kedah, Jom…

Senin, 26 Mei 2014

Senin Sore, Hujan, Fortuner, Tupperware dan Aku

Di penghujung hari Senin, 26 Mei 2014 ingin rasanya duet dengan Mariah Carey untuk menyanyikan Hero, it’s a long road / when you face the world alone / No one reaches out a hand / for you to hold

Yok, Let’s review keseharian aku di hari Senin yang gak biasa ini. Pagi bangun dengan mata sembab dan masih ingin lanjutkan tidur lagi :D tapi aku tahu kalau aku harus mengajar anak bangsa, Semangat lah awak yak an ^_^
Oke, karena sudah telat, aku hanya membawa bekal nasi saja, rencana mau beli lauk seperti biasa, tapi tadi mah pelanggan warungnya rame banget, ku urungkan niatku untuk beli lauk dan you know what, aku membawa dua Tupperaware imut tanpa ada isinya T_T, dan aku memang sempatkan juga bawa sereal yang karena masih panas, aku pun menyimpannya di botol kecil, dan bekal itu semua ku letak di goody bag, goody bag nya udah rada rapuh gitu deh, tapi aku yakin aja makenya, padahal T_T kalau tau kejadiannya bakal seperti tadi sore ….
Di sekolah, seperti biasa, aku…telat :D anak-anak udah kelar upacara aku baru datang, dan aku tiba, aku tak langsung ke lapangan, tapi rapi-rapi dulu, minum sereal ku dulu yang sudah hangat dan sholat Dhuha (ehm, mumpung masih muda ya kan, yang muda yang sholehah, insyaAllah) setelah itu barulah aku meluncur ke lapangan.
Kegiatan anak-anak hari ini tak banyak, evaluasi di Sentra Memasak. Sementara di luar sana, beban langit seperti bertambah-tambah saja, tinggal menunggu kerannya dibuka dan deraslah, sehingga makin meriah yang namanya Sentra Memasak X_X, aku hampir tidak bisa mengendalikan anak-anak yang special ini -_- makin deras hujan, makin kencang pulak suara mereka, akhirnya kubawa lah mereka bermain hahaha ini bekal dari mengikuti penampilan Kampung Dongeng semalam, banyak kuperoleh ice breaking :D
Singkat cerita, tibalah waktu pulang sekolah. Aku kira anak-anak udah gak les lagi tapi kata Bu Nisa, anak-anak Les, baiklah T_T, nah anak-anak itu paling malas les hahaha, kalau sudah begitu maka akan disiasati dengan iming-iming hadiah atau tidak ya mengikuti mau mereka terlebih dahulu, kayak hari ini, Baihas, diajak baca Iqro’ eh dianya malah ngajak daku dengeri cerita. X_X Baihas ini hobi nonton dan cerita, tadi dia cerita film My Name is Khan dari awal sampai akhir, :D meski agak mengantuk, demi Baihas, alias menyenangkan hati anak-anak, aku pun mendengar cerita Baihas, dengan syarat, setelah aku mendengarnya dia mau mau mendengarkan aku untuk mau diajak baca Iqro’ :D
Menjelang sore, hujan masih awet aja T_T, dan aku sudah memperkirakan kondisi jalan bakal macet total, perjalananku ke tempat ngajar privat bisa menghabiskan waktu dua jam X_X ternyata betul, aku pun telat lagi, aihh…T_T aku sudah sampai di daerah UNIMED ini, tapi pas sampai di Lau Dendang eh ortu murid privatku sms bahwa tak jadi les, wuaaaa T_T nyeseknya itu disini.
Akhirnya aku memilih balik pulang, sebelumnya aku ashar dulu di masjid, kaoskakiku basaahh T_T. Alat kecentilanku berupa bedak padat kesayanganku ketinggalan di sekolah T_T, cemana ini? Mana besok libur lagi, ah sesuatu kali kurasa hari ini. Perjalanan pulang pun memakan waktu satu setengah jam.
Oh ya tadi di awal aku ada cerita kondisi perbekalanku kan? Nah, aku ingatkan kembali bahwa saat perjalanan pulang dari sekolah, aku kan pakai payung, basah, pas naik angkot langsung kulipat aja tu payung, dan kumasukkan ke dalam goody bag ku yang terbuat dari kertas karton itu, disitu aku masih nyantai saja meski kutahu ini tas bakal jebol X_X dalam hitungan jam :D
Dan, sampailah aku ditujuanku, tepat azan magrib, suasana jalan basah karena hujan seharian tadi dan mulai gelap, hanya diterangi lampu jalan ditambah lampu gerobak roti bandung tepat dimana aku hendak menyebrang, namun tanpa disangka, saat ditengah penyebrangan, goody bagku jebol T_T, dua Tupperware imutku, botol minumku, botol serealku, payung, berhamburan di jalan T_T dan ada juga kudengar suara teriakan perempuan, perasaan bendaku yang jatuh kenapa yang disana yang menjerit.
Satu hal, ini seperti adegan-adegan di FTV jadi ingat si Juki gue, hahaha  aku reflek toh mengutip bendaku yang berhamburan, sementara ada mobil fortuner putih di depanku, hahaha T_T pada saat itu aku berharap ada yg bantuin aku mengutip benda-bendaku, tapi gak ada T_T, atau paling tidak, orang yang mengemudi fortuner putih itu turun dan membantuku, asli sumpah, itu semua hanya ada di tipi berwujud iklan odol gigi Clos* Up atau iklan parfum A*e dan ditambah imajinasi tingkat tinggiku. :D 
sumber foto: http://www.garassitoyota.com/2013/05/harga-toyota-fortuner-surabaya.html
Selesai mengutip, aku gak sempat nengok sekitar, yang kutahu, cepat mengumpulkan barangku lalu pergi secepatnya dari lokasi, T_T
Duh ya Allah, kalau ingat kejadian sore menjelang maghrib tadi, aku ngekeh sendiri T_T, penderitaanku sebenarnya makin lengkap, sesaat sebelumnya dapat kiriman gambar dari sahabatku yang isinya begini:

Dan itu pas banget, hahaha Uji Nyali bener dah :D
Cuma yang aku sedihkan adalah Tupperware imutku hilang satuuuu huwaaa, padahal itu pemberian Mbakku tercinta, cemana ini? Dicetak ulang lagi gak ya produk tersebut oleh Tupperware? T_T
dok.pribadi [ bekal tempat nasi,botol sereal,1 Tupperware imut yg seharusnya dua, satu ilang T_T dan satu lagi botol minumku, lupa ku poto X_X dan yang di atas itulah almarhum goody bagku T_T 
dok.pribadi, [Nah ini dia si botol minumku, yg tadi ketinggalan dipoto sama kawan-kawannya] :D

 
Dok.Pribadi [Huwaaa biasanya mereka bertiga begini tak terpisahkan, kini Tupperware imutku yg ditengah telah hilang T_T , maafkan aku, padahal dengan adanya kalian bertiga, aku jadi turut mengurangi sampah plastik saat membeli lauk pauk atau membawa bekal dari rumah, kamu diproduksi lagi gak sama pabrik Tupperware? ]
Aku baru nyadarnya pas, selesai mengutip bendaku, diperjalanan pulang aku masih memeluk tumpukan barang-barangku gak sempat lagi memasukkan dalam tas, karena memang gak muat, kalau gak ngapain aku bawa goody bag T_T, dan aku pun tiba di rumah seperti orang yang baru diusir majikan hahaha :D
Alhamdulillah masih selamat dan gak dilindes sama si fortuner :D gak lucu aja kan ntar ada berita bahwa seorang gadis kritis ditabrak fortuner saat mengutip bekalnya yang jatuh dan berserak ditengah jalan, ya kan kalau ditinggal begitu aja sayaaanggg T_T aih, tapi murah kali harga nyawaku ya tapi kalau dipikir pikir bukan masalah nyawa juga tapi menghargai pemberian orang terkasih gitu loh, sampai punya kewajiban untuk menjaga pemberiannya ^_^ (banyak kali ‘tapi nya :D )
Hari ini macam Hari Senin lah kutengok

Senin, 12 Mei 2014

Menovelkan Sejarah: Sebuah Cara Melawan Lupa


Judul                 : Sang Patriot
Penulis              : Irma Devita
Penerbit           : Inti Dinamika Publisher
Cetakan            : I,  Pebruari  2014
Halaman          :266 Halaman

Menovelkan Sejarah: Sebuah Cara Melawan Lupa
Oleh: Nurul Fauziah

Sang Patriot, sekilas judulnya sama dengan judul film yang berkisah tentang hidup Prabowo, mantan Panglima Kostrad era Presiden Soeharto. Film dokumenter tersebut tayang menjelang Pemilu Legislatif lalu dan berdurasi sekitar 30 menit. Tentu ekspektasi penonton mengarah pada bagaimana lika liku hidup Prabowo hingga masa pencapaiannya saat ini, namun, film yang diisukan sebagai salahsatu media kampanye partainya, justru mengisahkan penyebab Prabowo yang diadili oleh pengadilan militer dan diberhentikan dari kesatuannya bersebab Tragedi 12 Mei 1998 silam.
Masih lekat diingatan tentang krisis politik yang melanda Indonesia 16 tahun lalu, Jakarta, pusat ibu kota Negara Republik Indonesia, rusuh, dan berujung pada demonstrasi besar-besaran menuntut lengsernya Presiden Soeharto. Aparat keamanan, yang diharapkan mampu mengamankan massa, justru berbalik malah tindakan aparat mengancam jiwa rakyat sipil, akibatnya korban jiwa bergelimpangan, diantaranya mahasiswa. Esoknya, 13 Mei 1998, massa mengamuk, kerusuhan semakin menjadi, Jakarta chaos. Sampai sekarang peristiwa tersebut, tragedi Mei 1998, oleh August Mellaz, salah seorang yang ambil bagian dalam arus demonstan, dikenal dengan perjuangan melawan lupa.
Kita tinggalkan sejenak, Sang Patriot versi film, dan mari mengenal lebih dekat salah seorang patriot yang kisahnya lebih nyata, lebih sejati, tanpa dibuat-buat, dan tanpa mengharap sebuah pengakuan, tapi keikhlasan berjuang demi tanah air yang layak huni untuk hidup yang lebih baik.
Oke, here we go
Kisah dibuka dengan prolog yang khas tulisan Dan Brown saat mengawali beberapa novelnya, salahsatunya The Da Vinci Code, cerita dibuka dengan kematian sang pendeta yang tidak wajar, dan dari sinilah cara Dan Brown mencengkram imajinasi pembaca untuk tidak tahan meneruskan bacaan hingga tuntas.
Begitu juga yang dilakukan Irma Devita, pada prolog Sang Patriot, mungkin buat pembaca yang tidak sabar, tentu langsung membuka beberapa halaman terakhir, yang merupakan puzzle yang melengkapi prolog, tapi buat apa puzzle awal dan akhir tanpa dilengkapi rangkaian puzzle di tengah-tengah cerita? Tentu akan bolong, tidak menjadi cerita yang utuh, maka kisah pun mengalir.
Terdiri dari 25 judul, termasuk prolog dan epilog, dan judul yang kedua setelah prolog adalah Senopati Kecil dengan latar dan setting Kediri tahun 1923 , awalnya nyantai aja begitu pas dibuka dengan kisah Legenda Calon Arang, tapi setelah dipikir-pikir apa kaitannya dengan kisah yang mau diangkat, yakni Senopati Kecil, sang Patriot yang menjadi tokoh sentral dalam novel ini. Kalau pun hendak dibuka dengan memperkenalkan asal usul Gurah, sebuah desa di Kabupaten Kediri yang menjadi latar bab ini, mungkin bakal lebih asyik  Mbak Irma mengawalinya dengan penggambaran suasana desa Gurah waktu itu. Tapi tak mengapa, pun begitu saya sebagai pembaca jadi turut tahu bahwa legenda perempuan sesat itu ternyata berasal dari Desa Gurah.
Adalah orang zaman dulu, hidup berpindah-pindah, begitu juga yang dilakukan oleh sepasang suami istri, Hasan dan Amni beserta anak mereka, dari Madura memilih Kampung Kauman, Kediri sebagai tempat mengukir hidup.
Nah, dibagian ini pembaca akan disuguhkan siapa sosok Sang Patriot kecil. Jujur, saya sendiri saja tidak tahu siapa beliau, kalau bukan dari pemaparan di halaman 10,
Di rumah itulah Sroedji, anak kedua pasangan Hasan dan Amni yang lahir di Bangkalan, tanggal 1 Februari 1915, beserta enam saudaranya dibesarkan.
Dan diantara para saudaranya, hanya Sroedji seorang yang punya semangat tinggi untuk bersekolah, ya tahu sendirilah di zaman itu dengan menganggarkan Ayah yang seorang pedagang dan ibu yang seorang rumah tangga, agak mustahil untuk bersekolah tinggi, tapi beruntung Sroedji yang cerdas akhirnya berhasil melanjutkan sekolah setamat dari kelas II sekolah rakyat atau Ongko Loro ke Hollands Indische School (HIS) berkat bantuan Pakde Pusponegoro, seorang ningrat. Dan terus berprestasi hingga bisa bersekolah di sekolah kejuruan bidang pertukangan, Ambactsleergang.
Sampai disini, pembaca terus dimotivasi dengan optimisme Sroedji muda, sesekali ia juga membantu ayahnya berdagang, paling suka dengan kebiasaan Sroedji
Selagi menunggu dagangan, Sroedji tekun membaca buku-buku berbahasa Belanda yang selalu dibawanya (Hal.13)
Bener-bener keren nih pemuda (uhuy :D)
Cuma memang disekitaran halaman 16-18 itu keterangan waktu melompat-lompat, Mbak Irma mungkin lupa menyertakan keterangan waktu dan tempat, eh tiba-tiba sudah di pelabuhan aja, kedua orangtua Sroedji berangkat haji.
Memasuki Judul 3, lebih ehm lagi , penasaran bagaimana sang patriot jatuh cinta, di Judul ini jawabannya. Adalah Rukmini perempuan beruntung itu, namun juga kuat kemauan. Betapa inginnya ia bersekolah di Sekolah Tinggi Hukum dan menjadi seorang yang bergelar Meester in de Rechten. Namun, apalah daya, sang ayah, pun menjodohkan ia dengan seorang pemuda.  Singkat cerita, dengan diawali pertemuan jahil di pasar dan berakhir di pelamin. Bahagia sekali. Pasangan adalah cerminan kita, maka Rukmini adalah cerminan Sroedji begitu sebaliknya mereka saling melengkapi.
Hanya sampai di Judul 1-3 sajalah pembaca disuguhkan episode kehidupan Sroedji yang anteng, damai dan sentosa. Sroedji tidak kebanyakan pemuda yang sudah merasa aman dengan keadaan yang bersekolah tinggi, menjadi pegawai di pemerintahan, beristrikan seorang yang berpendidikan pula dan dikaruniai anak yang lucu. Dalam benak Sroedji betapa inginnya ia ikut andil dalam membela negeri.  
Nah ini asyiknya membaca novel yang bersetting sejarah, secara gak sadar kita belajar sejarah, dari penyelipan opening oleh penulis sebelum masuk ke kisah tokoh utamanya. Sroedji, yang sudah lama sekali bercita-cita menjadi tentara Indonesia tetap menunggu kesempatan yang tepat tanpa gegabah meski sebenarnya dimasa penjajahan Belanda, pemerintah membuka kesempatan bergabung di Koninklijke Millitaire Academie(KMA) dan Corps Opleideing Reserve Officieren (CORO). Tapi Sroedji tidak mau. Baginya bergabung dengan korps militer Belanda sama dengan kaum kafir yang menghantam bangsa sendiri.
Pada 3 Oktober 1943, Koran Djawa Baroe, disana tercantum bahwa Jepang membuka perekrutan tentara PETA (Pembela Tanah Air) dan betapa berbinarnya mata Sroedji membaca pengumuman itu dan terbersit di hati keinginan lamanya yang terpendam
Tentu keinginannya ini tidak mudah terwujud bersebab ia mesti merundingkannya dengan kekasih hati, Rukmini, sempat was-was bila Rukmini tidak mendukungnya, tapi Rukmini memang wanita yang luarbiasa akan pemahaman terhadap potensi dan keinginan suami tercinta. Ia pun mengikhlaskan Sroedji ikut perekrutan itu,

Kau punya mimpi jadi tentara agar  dapat membaktikan tenagamu kepada rakyat banyak. Mungkin inilah saat yang tepat mewujudkannya…’ (Hal. 47)

Tak mudah menjadi seorang kadet, latihannya luarbiasa keras. Sroedji berusaha bertahan sekuat tenaga dan menjadi penyemangat teman-temannya. Kalimatnya keren,

Seorang prajurit yang kehilangan semangat juang ibarat mayat yang mengusung keranda kematiannya sendiri’  (Hal.57)

Pada halaman 171 juga ada kalimat keren Sroedji

‘Sekacau apapun keadaan, sikap tenang, disiplin dan kepandaian membaca situasi akan berujung pada jalan keluar terbaik’

Bermodalkan latihan yang amat keras selama 4 bulan, resmilah Sroedji menjadi anggota PETA, dan membentuk Daidan atau batalion di Karesidenan Besuki. Namun yang namanya penjajah, sudah pasti banyak bohongnya. Para petinggi PETA mulai melihat kekejaman Jepang terhadap rakyat, selain itu perekrutan anggota battalion mulai tidak diperhatikan, untuk latihan tidak dilengkapi dengan fasilitas persenjataan, bahkan tentara PETA sendiri tidak dibolehkan pegang senjata. Seiring berjalannya waktu, Jepang hancur, sejak peristiwa pemboman Hiroshima dan Nagasaki di tahun 1945. Berefek pada pembubaran PETA oleh pemerintahan Indonesia. Perjalanan karir ketentaraan Sroedji tak henti sampai di pembubaran PETA, istilah kemiliteran dalam bahasa Jepang mulai di ganti, pada hal. 73 Mbak Irma memaparkan, Sroedji berpangkat Mayor yang membawahi wilayah Jember Selatan berpusang di Kencong dan memimpin Batalion Alap-Alap atau Batalion Sroedji. Dari sinilah Sroedji mulai beraksi.

Sebuah Kado untuk Nenek Tercinta

Novel yang warna covernya ini merah keemasan sudah direncana terbitkan sejak Mbak Irma masih kecil.  Jadi teringat kisahku dengan ibu dari nenekku alias buyutku, aku selalu menjadi teman saat ia tidur, dan sebelum tidur di dalam ranjang berkelambu itu, buyutku tak bosan-bosannya bercerita, terkadang kisah yang diceritakan itu-itu saja hehehe, tapi menyenangkan sekali.

Aku rasa begitu pula yang dilakukan Mbak Irma dengan sang nenek. Dan novel ini bukan sembarang novel. Novel ini wujud dari janji Mbak Irma gadis terhadap neneknya Rukmini untuk mengisahkan perjuangan sang kakek dalam bentuk novel.

Tak banyak cucu yang memiliki motivasi seperti Mbak Irma, semoga kelak dengan terbitnya novel ini menjadi inspirasi para cucu  atau keturunan dari patriot di seluruh Indonesia  untuk mengisahkan perjuangan kakek, nenek atau anggota keluarga mereka yang pernah berjuang untuk Indonesia namun namanya tenggelam oleh waktu.

Bila Mbak Irma tak menuliskan kisah Sroedji mungkin tak banyak yang tahu bahwa kisah kepahlawanannya yang begitu luar biasa.

Sekali lagi selamat buat Mbak Irma akhirnya janji terhadap nenek tercinta terlunaskan sudah. Tinggal saat ini bagaimana kita menjadikan sejarah sebagai bahan untuk memprediksi masa depan, mengimprovisasinya dan meneruskan perjuangan para patriot bangsa.

Kisah Rukmini juga mengingatkan ku pada film IP MAN seorang pendekar Wu Ching, Ip Man memiliki istri yang begitu ia cintai, ya mirip Sroedji ini, sewaktu Cina dijajah Jepang, ia pun ikut berjuang. Istrinya juga tidak lepas dari ancaman bahaya diperkosa dan dibunuh.

Menjadi istri tentara bagi Rukmini juga tidak mudah, apalagi pas membaca adegan sewaktu Rukmini hijrah ke Kediri dalam keadaan hamil besar, MasyaAllah itu aku membacanya sesak napasT_T Mbak Irma pintar membangun suasana di dalam novel ini T_T seolah aku mengikut perjalanan Rukmini.

Kebangkitan Novel Sejarah

Sejarah, mestinya menjadi pelajaran yang menyengkan di sekolah, karena dari sejarah lah generasi muda bisa belajar dari masa lalu, lebih mengenal jati diri bangsanya, tidak mudah terpengaruh kebudayaan bangsa lain, menghargai jasa pahlawan dan masih banyak lagi manfaatnya.

Nah, semoga dengan semakin berkembangnya tren menerbitkan novel sejarah, bisa membantu generasi muda untuk menyukai sejarah.

Tentu tidak mudah bagi Mbak Irma yang terbiasa menulis non fiksi tapi bersebab sebuah janji, ia pun menulis novel dan itu langsung novel sejarah yang penelusuran risetnya tidak mudah, belum lagi penggambaran adegan sadisnya. Sempat dibeberapa bagian membuatku mual T_T ini Mbak Irma gimana ya kondisinya pas mengetik adegan itu, dan aku selain mual, jadi membara juga, ya Allah segitunya, rakyat zaman dahulu diperlakukan T_T selama ini melihatnya cuma di film thriller atau psycho  gitu, tapi membaca novel Mbak Irma membuatku berkesimpulan, memang penjajah itu mati semua hatinya T_T titisan monster, bahkan Dementornya penjara Azkabannya Harry Potter.

Untuk data novel, daku gak meragukan lagi, karena dia cucu sang patriot, hanya saja memang pendiskripsian tempat dan latar, Mbak Irma masih kaku, efek terbiasa menulis non fiksi itu bisa jadi kebawa, namun untuk pemaparan data, Mbak Irma luwes sekali, ini manfaat terbiasa nulis non fiksi, lebih tertata dia, lebih terstruktur, enak bacanya, yang pembahasan berat soal tanggal dan peristiwa jadi ringan dibuatnya ;)

Oh ya, tentang Somad si pengkhianat, kenapa ya Sroedji tidak menyadari keberadaannya setelah tiga kali berturut-turut Belanda mengetahui keberadaan Batalion Sroedji? Agak aneh aja menurutku bagian ini, atau merupakan klimaks biar seru

Dan memang agak susah dibedakan mana kisah yang nyata dan yang ditambahkan oleh penulis atau semua kisah adalah memang benar adanya?

Kemudian, ada pencantuman bahasa Jawa yang tidak ada terjemahannya, pada halaman 79, karena tidak semua pembaca, bisa mengerti bahasa Jawa, mungkin bisa dilengkapi dengan artinya, meski sebenarnya di beberapa bahasa Jawa, Mbak Irma mencantumkan artinya, tapi mendadak penghujung cerita Mbak Irma sudah merasa bahwa pembaca sudah mengertilah itu.

Lalu untuk istilah-istilah lain, hendaknya tak perlu dimuat pada halaman belakang, pembaca biasanya paling malas saat asik baca di susahkan dengan istilah asing kemudian diminta mencari artinya di halaman belakang, itu agak menganggu banget. Bagaimana jika peletakan footnotedengan begitu, pembaca tidak perlu terlalu jauh kehalaman belakang tapi hanya dengan melihat keterangan di footnote saja.

Oh ya satu hal lagi yang daku suka, bahwa perjuangan memang tidak dengan leha-leha, berpasrah diri terhadap Allah , iman yang tebal dan kuat kemudian iming-iminga mati syahid peroleh syurga itu motivasi luarbiasa sekali. Dapatlah daku simpulkan bahwa, sebenarnya Allah yang menguatkan para patriot bangsa ini, teriakan Allahu Akbar menggema di buku ini dan itu memang menggetarkan musuh Allah. Nah, pelajarannya adalah kalau mau jadi tentara, jadilah tentara yang taat agama, Sroedji dengan keimanannya membuat ia tetap keep calm, dan stay cool.

Overall, novel ini sangat menginspirasi, selamat membaca, selamat belajar sejarah.