Kamis, 16 Februari 2012

KALAU KESAL, NGEMIL BUKU

            Ini hari Rabu ya?, hah, Rabu tralalalala kali ini begitu wow, wah, hadeh, ya ampun, prikitiew, yihaaa. Kenapa? Karena hari ni aku harus menunggu pembagian em em selama 2 jam, gara-gara menunggu kepsek yang kudu ngajar di kelas bersebab guru kelasnya sedang tidak bisa berhadir. Dua jam berlalu begitu saja berkat bercerita dengan pegawai admin yang ternyata berbicara dengan dia, kalau ceritanya ditulis sudah menjadi dua novel bestseller hehehehe, kita tunggu ja lah novel kakak tu yah =). Hokeh, teng jam 12, saatnya pembagian em em. Aku kira kepsek langsung menuju kantor guru, eh ternyata malah ngatur anak-anak supaya tertib saat sholat zuhur, dah gitu dia malah mengutus pegawai adminnya untuk berhitung-hitung tralalala persoal berapa yang harus ku dapat. WHAT? Jadi masa penantian yang dua jam itu? @_@, udahlah daku dah janjian ma teman, jam 1 untuk ke acara Kompas Gramedia Fair. Alhasil daku baru bisa gerak ke TKP jam setengah dua, belum lagi makan siang dan menunggu angkot yang lama gilak.

            Hap, kekesalan hari ni cukup sampe di jam 12 saja, saatnya berubah jadi labu (loh kok? =D). Jadwal Kompas Gramedia Fair (KGF) hari ni menghadirkan Iwan Setyawan, novelis asal Batu, Malang, yang terkenal lewat novel pertamanya berjudul 9 Summers 10 Autumns. Novelnya begitu menginspirasiku, kisah hidupnya sebelas duapuluh dengan kisah hidupku (yang ada tuh ya sebelas duabelas, sebelas duapuluh mah perbandingannya jauh amat =D). Satu hal inti dari novel itu, bagaimana caranya keluar dari kesulitan hidup dengan mengandalkan kekuatan pendidikan formal, dan kekuatan karakter pastinya, dah gitu, bagaimana caranya menggantikan airmata kesedihan dan kesulitan ibu, menjadi airmata kebahagiaan yang dipersembahkan kepada sang ibu. Heuheuheuheu, ya Iwan adalah bukti nyata the power of practice, bukti nyata keyakinan untuk berubah dan keluar dari kesulitan hidup sebagai anak supir angkot beranak lima. Yuhuuu…pastikan kapal hidupmu teruss berlayar walau sesekali badai menghantam, namun teruslah berlayar sampai ke pelabuhan keberhasilan. Berlayarlah bersamaku #deuuu…dah kayak lagu SO7 neh ^_*.

Berburu Goodybag
            Yuhuuu…pertama kali masuk ke KGF di lantai II, TCC. Aku dan Uci, disambut dengan berbagai stan, ada stan Tribun, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Kartu Kredit BCA, Hotel Santika. Semua stan itu kami lewatkan dengan sempurna, kami malah lebih ngiler lihat buku yang didiskon. Setelah melihat lihat, daku pun ketemu dengan teman yang di kiri kanan sudah rame goodybag, hasil mejeng di stan ini itu. Daku pun ndak mau kalah, pengen dapat goodybag gratis. Aku pun menyeret Uci untuk bertandang dari satu stank e stan yang lain. Bertandang ke stan Tribun, tanya ini itu, tulisan apa yang bisa dimasukkin para penulis selain wartawan Tribun, oh rupanya tulisan yang ada di rubrik Citizen Journalism, jadi buat kawan-kawan penulis, isilah kolom Citizen Journalism, tapi pihak Tribun belum nyediain honor, so…tulis ajalah pokoknya bonus honor mah belakangan, sejutaaaa??? Eh maksudnya setujuuuuu???. Dan, kau tau kawan? Aku kira, aku dapat goodybag, ternyata nggak L, soalnya kami ndak daftar untuk berlangganan Tribun, daku kan dah langganan Kompas =D. Stan pertama gagal, stan berikutnya adalah stan penjualan Tisu, pas sekali stok tisu di rumah habis, mumpung lagi promo daku pun beli Tisu. Stan berikutnya adalah stan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, disini jiwa Miss Question-ku kambuh, tanya ini itu, haseekkk bakal dapat goodybag, kata hatiku, eh setelah menunggu lama, ternyata ndak ditawarin goodybag, emang Mas yang jaga stan, ndak liat apa lirikan mataku yang tertuju pada goodybag? =D. Hahaha…kudu berani malu dah kalo jalan-jalan sama diriku =D. Stan berikutnya adalah stan Hotel Santika, hadeehh disini mah, ditawarin buat kartu membership, glek! Kalau buat kartu member, berarti uang untuk beli buku bakal terancam, dan stan ini pun juga gagal. Yah…10 menit berburu goodybag pun gagal L. Baiklah kita beristirahat yuukkk di dekat panggung utama, tapi…??? Mana nih seminar yang ditunggu-tunggu???. Usut punya kusut, seminar ternyata dilaksanakan di Ruang Seminar lantai III, langsunglah kami menuju lantai III.

             Syukurlah…seminar belum terlalu lama berjalan, kami pun dapat duduk agak dibelakang. Ternyata pesertanya rame euy, dari kalangan guru, hanya beberapa yang mahasiswa dan siswa. Senengnya bisa ketemu penulis idola. Sesi yang paling kutunggu adalah sesi tanyajawab. Dalam hatiku, aku harus bertanya nih. Beberapa kali tunjuk tangan, daku terus saja tidak digubris ma MC nya =D (apa karena duduk di paling belakang itu, sehingga duduk sama berdirinya daku susah dibedakan dan membuat MC nggak melihat daku, seimut itukah akuuu #sambil berkaca =D), dan pada akhirnya daku ditunjuk juga buat bertanya, Cihuuyyy…^_*. Petualangan berlanjut sampai ke sesi poto bareng dan tanda tangan, serta motivasi yang menular, merasuk ke kalbu #waseeekkk =D.

poto bareng Iwan Setyawan, penulis novel 9 Summers 10 Autumns

              Keluar dari ruang seminar, kami sumringah tralalalala, daku, Uci, Nisa, Ela, pasalnya poto barengnya keren gitu #uhuk uhuk. Sampai di pintu keluar, kenapa ada yang mengganjal ya? Ah ya, ada satu buku incaranku yang belum sempat daku beli tadi. Aku dan Uci pun kembali ke ruang pameran sedangkan Nisa dan Ela memilih pulang. Petualangan pun dimulai lagi. Peleh di peleh buku, saat ritual pilih memilih terdengar suara panitia KGF, belanja buku senilai 100rb, lalu ditukarkan dengan kupon, untuk diundi dalam kompetisi meraup buku. Lampu gila hadiahku tiba-tiba bersinar terang benderang, ‘‘WAKTU ANDA TINGGAL 10 MENIT LAGI UNTUK MENUKAR STRUK BELANJA DENGAN KUPON ‘MERAUP BUKU’’. Aku pun mulai panik, hadeh gimana nih supaya genap 100rb, mana nih buku yang harga 10rb?, perburuan pun berakhir, struk pun bertukar dengan kupon ‘meraup buku’.

Pengumuman
              Panitia mulai memilih kupon dan mengumumkan ke khalayak, terpilihlah 3 orang beruntung. Nah, mereka masih harus diuji lagi dengan cara, berlomba meraup buku yang ada di Kotak Buku  selama 30 detik, peserta yang tercepat dan terbanyak meraup buku dari kotak buku dan berlari kembali menuju garis start/finish, dialah yang menang.

             Tiga peserta pertama, dua peserta, seri, mereka dapat meraup 42 buku, sedangkan peserta ketiga hanya berhasil meraup 35 buku. Alhasil peserta yang mendapat 42 buku, boleh membawa pulang seluruh buku. Haseekk…=D. Aku yang duduk di tempat duduk penonton, ngarep banget dipanggil. Panitia pun bersiap-siap untuk sesi berikutnya, sedangkan aku, malu-malu tapi mengharap dipanggil ini malah sibuk nahan pee dari tadi, akhirnya karena sudah tidak tahan lagi, aku ngacir ke toilet, aku titip kupon ke Uci. Tidak berapa lama, saat perjalanan menuju toilet tiba-tiba kamera bergerak slow motion  #berasa syuting AADC deh =D, sayup-sayup terdengar namaku dipanggil NURUL FAUZIAH. Pertama nggak yakin, panggilan kedua lah yang mampu meyakinkan pendengaran ini. Langsung sajalah daku berlari slow motion *gak jadi pipis hihihi*, menembus keramaian, menuju panggung utama, namun keburu Uci yang sudah naik panggung, dan kubiarkan Uci tampil mewakili diriku =D, namun tiba sesi kompetisi meraup buku, daku minta tolong sama Fauzan, adik kelasku di kampus yang pas kali dia datang. Fauzan panik. ‘Kak, gimana strateginya?’ bisiknya padaku. ‘Udah, ntar ozan ngumpulin buku yang tipis tapi banyak yah =D’. Tibalah saat kompetisi, HAHAHAHAHAH #masih ingat banget wajah Ozan yang serius banget meraup buku =p. Apalagi pas Ozan tergopoh gopoh keberatan bawa buku :p, makasi ya Ozan ^_*.

              Peserta pertama berhasil meraup 50 buku, peserta kedua 35 buku, peserta ketiga 40 buku, dan peserta keempat yaitu si Ozan berhasil meraup 47 buku. Dan peserta pertama dan kedua terbanyak meraup buku, boleh membawa pulang bukunya. BWAHAHAHAHA, kami senang gilak =D. Kebayang banget daku dan Uci bakal tergopoh gopoh mengotong tuh buku @_@, baiklah kami pun membagi hasil jerih payah ini ^_*. Ozan dapat setengah, daku dapat setengah lagi. Alhamdulillah banget, sesuatu yah hari ini. Thanks ya Allah ^_^.  

              Nah, kalau kesal, jangan lampiaskan ke makanan #pengalaman banget kayaknya hahahah, itupun gak gemuk gemuk, tapi lampiaskanlah ke even-even dunia buku, dunia baca dan dunia menulis, lalu perahumu akan kembali berlayar setelah badai menghadang, sedaaaapppp, lanjutkan pelayaran lageeee…^_*. #pasang sauh lebar-lebar, naikkan jangkar, stay cool di ruang navigasi…(sambil suit-suit).

 #Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog yang diadakan dalam rangka Festival Membaca dan Menulis 2012 memeriahkan Milad FLP ke-15

Lampuki: Bukan Kampung Biasa (Full Version)


Judul buku       : Lampuki
Penulis              : Arafat Nur
Penerbit            : Serambi Ilmu Semesta, Jakarta
Cetakan I          : Mei 2011
Tebal                 : 436 halaman

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. ‘Mereka bertanya, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu manusia yang bakal membuat kerusakan dan menumpahkan darah sesamanya, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?’ Lalu Tuhan pun menjawab, ‘Sesungguhnya Aku lebih mengetahui akan apa yang tidak kamu ketahui.’ ( Albaqarah: 30)

            Membaca Lampuki berarti membaca dua hal. Pertama, perjuangan semu sebuah komplotan yang dipimpin oleh pria berkumis tebal, Ahmadi dan berbagai episode para tokohnya yang unik serta mampu membuat pembaca tertawa getir. Kedua, sejarah Aceh di era Daerah Operasi Militer.
            Lagi, karya sastra bersetting Aceh masa silam, sebuah cara lain mengemas luka, luka yang kata Helvy Tiana Rosa belum sepenuhnya selesai, luka sisa kejahatan perang. Lampuki, sebuah novel yang berhasil mempesonakan juri dalam dua ajang bergengsi di dunia sastra yakni pemenang unggulan sayembara menulis novel Dewan Kesenian Jakarta, 2010 dan pemenang penghargaan sastra KLA (Khatulistiwa Literary Award), 2011 kategori karya sastra berbahasa Indonesia terbaik.
            Lampukiadalah nama sebuah kampung di wilayah Pasai, kampung yang lebih mirip wilayah terpencil dan terpuruk  dan dinarasikan sebagai sebuah kampung yang sebetulnya tidak jauh dari Lamlhok, kota itu hampir runtuh, tenggelam dalam perang dan dilanda penjarahan. Sebagian besar bangunanya hangus dan hancur akibat kemarahan penduduk kampung sekeliling, lantaran kota itu menyimpan kebusukan dan memilihara kemaksiatan(hlm.52)
            Adalah seorang teungku (guru ngaji) bekerja sebagai kuli bangunan dan sempat terlibat dalam proyek pembangunan kompleks tentara di kampung Lampuki. Fokus cerita bukan pada kehidupan teungku semata tapi ibarat menonton film seri dengan menggunakan narator untuk menuntun pembaca memasuki tiap tiap bab-nya dan berkenalan dengan para tokohnya.  Nah, kisah pun dimulai setelah perumahan itu ditinggalkan penghuninya dan diganti penghuni baru saat perang bergejolak.
            Tirai kisah dibuka dengan penuturan Teungku Muhammad si pembawa kisah dalam novel ini. Seluruh narasi diambil dari sudut pandang si teungku oleh Arafat Nur selaku pengarang. Teungku Muhammad adalah pemilik balai pengajian di dekat rumahnya, ia mengajarkan Alqur’an secara sukarela kepada anak-anak sekitar kampung. Suatu malam balai pengajiannya didatangi Ahmadi atau si Kumis Tebal , tokoh sentral  yang juga pemimpin pemberontak di wilayah Sagoe Peurincun. Maksud kedatangannya adalah menyulut gairah kaum muda  Lampuki untuk berperang.
            Janji muluk Ahmadi tidak berlangsung sebatas balai pengajian saja, ia mendatangi kedai-kedai kopi dan Pasar Simpang. Ahmadi terus menggaungkan perihal martabat serta kejayaan Aceh di masa datang  bila terbebas dari ‘penjajahan’ orang-orang seberang. Banyak yang tidak peduli dengan Ahmadi, penduduk bahkan pasrah membayar ‘pajak’ untuk keperluan perang daripada masuk keluar hutan bersama komplotan Ahmadi.
            Lain Ahmadi lain pula tokoh yang memeriahkan isi novel yang sampulnya di dominasi warna merah ini. Halimah, istri Ahmadi tak kalah hebohnya dalam memerankan pribadi yang bermuka dua. Ia lalu lalang melewati pos jaga sambil mengutip pajak dari rumah ke rumah, tak ada tentara yang curiga bahwa ia sebenarnya istri dari pemberontak.
            Ada juga sepotong episode yang dikisahkan guru ngaji persoal penghuni kompleks perumahan di Lampuki yakni si Karim, Pedagang Ganja, tetangga teungku si Syamaun, pemilik ayam namun tak becus mengurus ayam sehingga seringkali kotoran ayam Syamaun menjadi masalah besar bagi teungku jika mengotori balai pengajiannya. Ada banyak humor disini, sulit juga menempatkan kapan pembaca dituntut untuk tertawa, sementara kisah yang diangkat sebenarnya memiriskan hati tentang manusia-manusia yang hilang idealisme. Pengarang piawai melucukan karakter namun sebenarnya menyedihkan.
            Sebuah novel tak lengkap rasanya jika tanpa ada kisah cinta, benar kata novelis Fira Basuki, ada tiga hal yang harus ada dalam novel jika hendak laku dipasaran, tragedi, drama dan cinta. Untuk menambah kesan dramatis, pengarang menyematkan kisah cinta terlarang disela-sela gebalau konflik perang. Kisah cinta terlarang antara Jibral si Rupawan, salahsatu murid ngaji teungku dengan istri para pemberontak, Halimah istri Ahmadi dan Hayati istri Puteh.  Pada penceritaan tentang percintaan  sepertinya Arafat terjebak dalam godaan untuk menampilkan adegan cerita erotis yang  berseberangan dengan nilai moral walaupun pada dasarnya si pengarang,  saya pikir sudah cukup hati-hati dalam pemilihan kata dan kalimat.
            Alahai, membaca Lampukiseperti membaca buku sejarah tapi bukan buku sejarah, membaca kumpulan humor tapi bukan sesungguhnya humor.

Bahasa Kepalan Tangan VS Bahasa Novel
Teks sastra tulis Tjahjono Widijanto seorang penyair dan esais asli Ngawi dalam artikelnya yang berjudul Luka Dalam Sastra Indonesia dan Korea, bukan saja merupakan dokumen keindahan bahasa semata, melainkan juga dokumen sejarah yang didalamnya penuh luka sebuah bangsa. Dalam soal luka ini, tulis Tjahjono lagi bahwa peristiwa dalam sejarah “resmi”, oleh sastra tak dianggap sebagai “realitas tunggal” yang benar dan valid, sastra mengolahnya sebagai satu hal yang harus dipertanyakan lagi. 
  Arafat Nur, begitu menggemparkan dunia sastra nasional umumnya dan sastra Aceh khususnya. Aceh seperti yang kita ketahui pernah jadi wilayah operasi militer. Tentara dikirim untuk menumpas apa-apa saja yang dianggap pemberontak pemerintah pusat atau yang lebih dikenal dengan sebutan Gerakan Aceh Merdeka. Tak pelak ini semua menggerahkan para aktivis HAM, walau bagaimanapun tak ada perang yang tak menyebabkan pelanggara HAM. Masa ini terjadi di zaman Presiden Suharto, kemudian di masa Presiden Gus Dur, Aceh tidak lagi menjadi wilayah operasi militer.
Lewat novelnya ini, ia berani membeberkan segala hal yang meresahkan, dan segala luka sisa perang dengan penyampaian bernada satir cerdas. Latarbelakang sebagai wartawan Harian Waspada kontributor Aceh, cukup membantu Arafat dalam mengkritisasi konflik Aceh. Sejumlah kritiknya bertabur tiap kali tokoh teungku bernarasi.
Terlebih lagi, tidak lebih dari dua tiga penduduk yang tinggal di seputar situ saja yang bersedia hadir mendirikan jemaah di meunasah, lainnya tidak terlalu menggubris seruan menyembah Tuhan. Lalu beberapa penduduk yang memang tidak suka sembahyang, memanfaatkan situasi  itu untuk menutupi keengganan dirinya dengan berkata, ‘Tuhan pun tiada ingin menagih hambaNya bersujud secara jamaah di meunasah untuk kemudian kepalanya dilubangi peluru! (hlm. 119).
Dalam bab lain:
…Karim menyelipkan tiga lembar uang merah ke dalam saku bajuku, uang kertas berwarna merah. Itulah warna yang punya nilai paling tinggi di negeri ini, serupa halnya warna bendera dan darah. Maka, tidak salah bila mereka menyebutkan negeri ini— sambil bernyanyi-nyanyi riang dan bangga--tanah tumpah darah. Memang selamanya negeri ini senang dengan pertumpahan darah. (hlm.178)
Carut marut konflik saat perang menular ke segala lini, perasaan yang paling menjulang tinggi di kondisi seperti itu adalah perasaan takut, takut dituduh pemberontak, takut akan Tuhan pun sirna,  takut mati dan lain lain. Terlebih apa yang dilakukan Ahmadi dan komplotannya adalah baik yakni membela tanah airnya, namun disisi lain cara yang ia tempuh untuk mencapai yang baik itu yang dibenci penduduk se-kampung Lampuki, bersebab ulahnya yang turun gunung di saat situasi aman dan menyebarkan janji semu akan kemerdekaan sejati yang diperoleh jika bersedia gabung dengan laskarnya, namun pada akhirnya tingkah Ahmadi jualah penyebab munculnya bab Tahun Penuh Bencana dalam novel ini. Hal tersebut tergambar dalam narasi berikut:
Mereka yang menggiring kami adalah malaikat-malaikat loreng dengan alat siksa senjata yang menakutkan. Kami saling melihat ritual yang merupakan ganjaran atas kesalahan penyerangan si Kumis Tebal; seorang istri menyaksikan suami  dan anak laki-lakinya dipukuli; seorang ayah melihat anaknya dipukuli; seorang anak perempuan melihat ayahnya dikasari; hingga seorang jiran melihat jirannya sendiri dipukuli (hlm.378)
Sampai disini simpulkan sudah, tak selamanya hutang nyawa dibalas dengan nyawa, tak selamanya bahasa kepalan tangan dibalas dengan senjata super canggih. Itulah yang ditulis  Sapardi Djoko Damono salahsatu endorser dan juga juri Sayembara Menulis Novel DKJ 2010 dalam Lampuki, strategi pengarang untuk mengambil jarak emosional dengan masalah politik dan social penting yang diungkapkannya berhasil menyadarkan kita bahwa protes atau komentar social dan politik tidak harus disampaikan dengan bahasa kepalan tangan. So, proteslah dengan cara elegan salahsatunya memakai bahasa novel, semoga pemimpin negeri ini suka baca.
            Dalam konteks ini, melanjutkan tulisan Tjahjono Widijanto diawal, teks sastra hadir sebagai upaya manusia (atau sebuah bangsa) kembali pada nilai dasar dan universal kemanusiannya. Sastrawan hadir tentu bukan sebagai sejarawan, tapi pencatat, pemikir dan creator, ia memiliki cara dan kemampuan tersendiri dalam menampilkan sejarah ‘mental’ sebuah bangsa. Dari situ mungkin pelajarn terpenting dari sejarah bisa kita dapatkan. Yah, jika terluka obatilah dengan menulis.
            Mungkin untuk ukuran pembaca yang suka novel pop, novel ini tergolong serius, tapi gaya penulisan Arataf Nur, jauh dari kesan serius, ada terselip humor namun tidak juga menghilangkan pesan terdalam yang hendak disampaikan melalui novel. Lampuki sebuah novel a must read,  untuk yang ingin mengenal persoalan manusia dan negeri ini, karakter manusia hipokrit terurai jelas tiap episodenya, sekalipun tetap ada hubungannya dengan episode lain.

Kritik untuk Lampuki
            Ya, disini kita masuk zona bebas tapi no alay =DD, jadi gini, klo gak gara-gara lomba, Lampuki mungkin gak akan ku lahap sampai habis. Dalam perjalanan Medan Sibolangit, Sibolangit-Medan, lalu lanjut Medan-Labuhan Batu Selatan, namun karena berangkat via bus malam, jadi gak sempat baca, maka waktu membaca adalah disela-sela perjalanan dari hotel ke Bumper PT. Asam Jawa Torgamba, lalu dari hotel ke PMKS di Cikampak, dan novel pun tamat saat perjalanan dari hotel yang ada di Kota Pinang ke Medan, wuaahh…melelahkan.
            Melelahkan memang, benar kata Ayu Utami dalam resensinya tentang Lampuki untuk pembaca awam membaca Lampuki seperti menonton film serial, tiap seri nya punya judul beda dan sekali tamat, namun masih terus berkaitan dengan seri berikutnya. Nah, bagi pembaca awam juga seperti saya ini cukup mengkerutkan kening, belum lagi kata-kata yang dipakai penulis.
            Menurutku, kata-kata yang dipakai penulis dalam gaya penceritaannya, adalah kata pasaran, hadeehhh @_@, jujur ni ya puyeng bacanya. Sama seperti pertama kali membaca Saman-nya Ayu Utami, eh Ayu Utami apa Djenar Maesa Ayu ya yang nulis, duh aku lupa, yang jelas, pertama kali dikasih pinjam ma kawan, belum sampai satu bab habis, aku mau mual bacanya, otakku mulai mengkomandokan untuk serempak memutuskan sarafnya sendiri-sendiri. Danger banget baca novel yang menggunakan bahasa yang gak jauh2 dari bagian fisik tertentu dari tubuh manusia baik laki-laki atau perempuan.
            Dalam kasus Lampuki, agaknya seorang Arafat Nur menjaga koridor dari apa yang difalsafahkan oleh organisasi kepenulisan tempat ia bernaung, Forum Lingkar Pena—Arafat pernah menjadi pengurus di FLP Lhoksemawe. Hal yang sama juga pernah terjadi pada cerpenis asal Lubuk Linggau, Benny Arnas. Mereka terjebak dalam penceritaan tentang percintaan, hubungan laki-laki dan perempuan. Seringkali bahasa yang digunakan terlalu vulgar, tidak menggunakan bahasa yang sehalus mungkin dan menghindari jebakan penceritaan adegan yang terlalu ‘wah’. Masih hangat dibenak pembaca bagaimana Habiburrahman El-Shirazy dalam Ayat-Ayat Cinta menceritakan malam pertama Fahri dan Aisyah, tak perlu berlama-lama disana karena hanya akan menjadi sia-sia, toh focus cerita bukan pada hal yang ‘begituan’, lalu kenapa penceritaan yang seperti itu menjadi sebuah keharusan ketika menyelipkan bumbu romantisme dalam novel-novel dewasa Indonesia? Jawaban dari pertanyaan ‘kenapa’ saya ini, mohon dijawab memakai hati dan logika novelis Indonesia.
            Saya pernah membaca bahwa pembaca yang sering membaca hal-hal yang tidak jauh dari selangkangan, ia akan terus mencanduinya. Membaca tidak sama seperti saat kita menonton. Menonton TV, membuat pemirsa tidak perlu memeras otak untuk membayangkan wajah pelaku di TV, secara semua memang tampak, berdialog, dan bergerak, berbeda jika kita membaca, saat membaca, kita mengerahkan seluruh fungsi otak, untuk membayangkan, merasakan, dan lain sebagainya. Nah, kekuatan imajinasi inilah yang perlu diarahkan, jika bacaan kita bagus maka imajinasi kita terhadap apa yang kita baca ya tidak jauh dari hal-hal dan pemikiran yang baik, hasil dari bacaan yang baik tadi, sebaliknya, jika bacaan kita tentang ‘itu semua’, maka isi otak kita juga tidak jauh beda dari apa yang kita baca. Kita adalah apa yang kita baca.
            Maka dari itu, tulislah hal yang bermanfaat, karena akan dibaca banyak orang, dan orang akan merasakan manfaat baik dari apa yang kita tulis. Tentu, komunitas menulis yang kita naungi seharusnya berpengaruh besar terhadap hasil tulisan kita, itu gunanya kita masuk organisasi atau komunitas menulis, supaya terarah saat menulis dan tidak melenceng dari koridor yang disepakati. Bukan berarti saya mendewakan komunitas menulis tempat saya bernaung, tapi sependek pemahaman saya, profesi menulis itu adalah kerja tim, jika kita bersama tim, misi memerangi tulisan yang bisa merusak sistem otak, bisa sama-sama diperangi dan efeknya luas, tapi jika sendiri tanpa ada penyatuan kekuatan, efek baik itu terasa lamban bekerja dan jangkauannya belum tentu luas. Menulislah untuk kebaikan! =))


Senin, 13 Februari 2012

Orang Gila dan Buku

orang gilalah yang meminjamkan buku pada orang lain tetapi lebih gila lagi orang yang pinjam itu mengembalikan buku kepada orang yang punya
-
ini kata orang bijak ya bukan orang gila-

atau

Ketika kita meminjamkan buku ke seorang kawan, maka kita akan kehilangan buku. Dan, ketika Anda meminjamkan buku kepada musuh, maka kita akan datang kawan.

nah lo, kucing aja suka baca, masak mau kalah sama kucing seh #nyakar2 buku =D


Aku sudah lama mendengarkan quote-quote ini, dan you know what dalam beberapa bulan terakhir aku bahkan mendengarkannya dua kali. Mendengarkan quote ini apalagi dari orang-orang yang kusegani dan nasihatnya patut didengar, serasa seperti mendapat gelegar petir di siang hari bolong, tapi lima menit kemudian daku lupa dengan nasihat ini dan mulai bergerilya untuk mencari buku asyik yang layak dipinjam. Karena apalah daya isi dompet tak sam[ai membeli buku yang kusukai dan rata-rata mereka mahal pula.

Namun, nasihat ini begitu amat sangat kupahami.

Begini ceritanya…

Desember tahun lalu (2010) , (kamera mulai menampilkan gambar flashback –halaaah :D), saat itu lagi sibuk gila mempersiapkan acara Pekan Jurnalistik Kampus bersama anak-anak LPM Dinamika IAIN SU, eh datanglah sesosok, sebayangan, sekelebatan (jangan mubazir dooonngg!), ya lah lebih tepatnya sesosok pria, tinggi, rambut cepak, kulit sawo matang dan menenteng helm serta tubuh berbalut jaket. Dia datang padaku dengan wajah innocent-nya.

“Dek, adek ya yang punya buku bang Alay (nama pengarang disamarkan)?”
“Iya, kenapa bang?”
“Gini, abang mau pinjam bukumu,soalnya ada teman abang yang abang janjikan buku ini, boleh abang pinjam?” Abang udah mesan sama bang Alay, tapi waktu tu dia masih di Mekkah, dah gitu dia gak tau apakah buku itu masih ada sisa atau gak”.
“Oh ya udah”
“Beneran nih dek”
“Iya tapi jangan lupa ya bukuku dibalikin”
“Iya”
“tapi bukuku sama rahmah, minta ja ma dia”
“Oh, rahma, ada nomor telpon Rahma”
Bla…bla…singkat cerita dia mendapatkan buku itu.

Sehari…dua hari…tiga hari...seminggu…dua minggu, lah buku ku kok gak balik-balik?, hadeuuhhh, malah lupa pula minta no hp abang tu. Tapi ntar lah ku minta no hp sama junioran-nya di fakultas.
“Bang, ehm…bukuku dah selesai?” (pertama nada smsku masih lemah lembut gemulai)
“Udah, kemaren udah abang kasih ke Fauzi”
Lalu aku sms Fauzi
“Zi, ada Bang Toyib (nama samaran ) ngasih buku ke Fauzi?”
“Gak ada kk, kemren ntu mungkin anak buahnya yang ngasi buku tu, coba tanya orang sekret”
Oh mungkin sama Rahma dikasihkannya buku tu, pikirku. Kudatangi Rahma yang sedang mengetik berita.
“Rahma, ada anak buah Bang Thoyib ngasih buku ke Rahma?
“ada kak, ini dia bukunya”, sambil menyodorkan buku berwarna hitam dominan ada juga warna merah sedikit, ukuran bukunya seukuran kantong, buku pocket.
Lah, sejak kapan buku yang kupinjamkan berubah bentuk, perasaan ini bukan buku yang pertama kali ku kasih pinjam lah. Emang penulisnya bang Alay juga tapi sekali lagi ini bukan bukuku.
“Tapi ini buku yang dikasih temannya Bang Toyib ke Rahma, mb. Rahmah pun bingung kenapa buku ini yang dikasih”.
Langsunglah, rasanya darah ini mengalir deras seolah-olah mereka dikomandokan untuk segera mengalir ke otak, menggelegak, wajahku merah padam, reflek urat-urat wajahku bersepakat untuk mengkerut dan membentuk wajah manyun. Rusak sudah hariku. Ku ambil hp dengan kasar ku cari nomor hp bang Thoyib. (adegannya lagi marah nih :D)

Isi percakapan ku adalah bahwa aku minta balik bukuku segera. Tapi bang Thoyib berkilah katanya dia belum ketemu dengan bang Alay. Ku tanyakan padanya apa hubungannya dengan Bang Alay?, dia terdiam beberapa saat. Lalu dia mengalihkan pembicaraan dengan mengatakan bahwa dia sedang di luar kota dan sedang dalam perjalanan menuju Medan, ia berjanji sesampainya di Medan dia akan mengembalikan bukuku.

“Iya bang pokoknya aku gak mau tau, aku mau bukuku yang lama wajib balik”, dengan nada tinggi. Langsung ku tutup teleponku. Kesal.

Beberapa hari berlalu sejak kekesalan itu. Teman-temanku pada kena imbasnya.

“Baru kali ini, aku liat mb zee marah” curhat si Omi

Hehehe masak sih Omi…eh, adegannya masih marah, jangan cengengesan gitu dong!, apa kata sutrah darah nanti ^_^

Sebenarnya aku sudah ada firasat buruk tentang keadaan buku ku itu. (Saking cintanya ma buku, sampe ada ikatan batin antara aku dan buku). Pikiran terburukku adalah bukuku itu bakal gak balik buat selamanya.

Malam Sabtu adalah malam kelabu buatku. Ketidaktenangan aku akan bukuku itu membuatku mendesak bang Thoyib untuk meminta kejelasan. Aku pun sms-an dengan bang Thoyib.

Kau tahu kenapa aku yakin banget bukuku gak balik adalah bunyi sms balasan dari bang Thoyib…”Tadi waktu solat jum’at abang jumpa sama bang Alay katanya dia mo ngasih bukunya, jadi boleh minta waktu 3 hari?”

Aku terdiam sesaat. Betulkan firasatku. Lalu sms berlanjut, aku tetap berkeras mau bukuku itu balik, gimana pun caranya. Eh si bang Thoyib malah nanggepinnya begini “Aduh…tp yang itu dah abang kasih ke tmn abang itu dek, gmn tu? =(  Jangan marah ya, plizz…tp wktu tu kata nurul boleh tp wajib d ganti”.

MasyaAllah, aku stress luarbiasa, nangis sejadi-jadinya…whoaaaa…aku ditipu…pembaca baca sendirikan di awal si Thoyib gunakan kata kerja PINJAM bukan MINTA.

Terang saja, dengan penuh blak-blakan biar orang ni sadar n gak ada lagi korban yang berjatuhan, langsung ja kubilang bahwa bang thoyib udah menipu, semoga tidak ada korban lagi selain aku, asal abang Thoyib tau ya buku itu sangat berharga banget buat aku, buku itu kubeli susah payah, mana ada tanda tangan bang Alay pula lagi dah gitu buku itu yang ngajarin aku gimana nerbitkan tulisan di Koran dan tulisanku terbit di Koran untuk pertama kali gara-gara belajar dari buku dan pemahaman yang diberikan Allah hingga aku bisa memahamkan dan mempraktekkan isi buku itu. Banyak deh kenangan buku itu. Aku gak mau tau gimana pun caranya buku itu balik. Lalu Bang Thoyib bilang bahwa buku itu gak mungkin balik karena udah sama kawannya yang ada di Lampung. Innalillaaahhh…Aku nangis lagi, ish,,,kesal banget gak sih ketika orang yang kau percaya menipumu mentah-mentah. Kenapa tidak mungkin tanyaku?, gini ja, aku katakan padanya, abang suruh kawan abang tu kirimkan bukuku via pos dan abang nanti kirimkan buku yang baru abang beli dari bang Alay kepada teman abang yang di Lampung itu. Namun, saudara-saudara apa tanggapannya…eh dia balas smsku dengan “heheheheheh…macam betol aja”. Andai pembaca tau, aku dah geram sangat, kalaulah si Bang Thoyib itu samsak yang ada di ring tinju, udah ku pukul-pukul dia sampai puas. Sakit hati.

Lelah juga ngomong sama orang waras yang pinjam buku tapi tidak mengembalikan buku yang dia pinjam ke pemiliknya. Ku katakan padanya si Thoyib abal-abal itu, kau balikin buku ku tapi untuk sesaat dan untuk waktu yang tidak ditentukan mohon jangan memperlihatkan wajahmu padaku. Forgiven but not forgotten…kumaafkan tapi mungkin tidak akan kulupakan.

Jadi, wahai anak muda, berikut pelajaran yang bisa kau ambil dari kisahku (alamaakkk, berasa orang tua yang ada di bungkus wafer kesukaan aku itu loh :D).

  1. Kata orang bijak yang di atas tadi ada benarnya. Aku jadi berusaha untuk tidak meminjam buku dan gak mau jadi orang gila :D, tapi kalau gak tahan, aku akan meminjam juga dengan syarat aku gak mau jadi the next bang Thoyib versi yang aku ceritakan di atas.
  2. Kalaupun mau ngasih pinjam buku ke orang lain karena gak tega liat wajah innocent-nya. Caranya: pastikan orang yang kamu pinjamkan buku itu adalah orang yang kamu kenal luar dalam, lalu buat ijab Kabul begini bunyinya…”Saya pinjamkan buku ini kepada kamu, selama 5 hari dan harap kembalikan tepat waktu”, lalu yang pinjam menjawab “Saya terima pinjaman kamu selama 5 hari dan akan saya kembalikan tepat waktu”, nah loh, dengan begitu si peminjam serasa diikat sama sumpah heheheh (segitunya). Nah, jangan lupa catat siapa yang pinjam buku kamu, dan tanggal pengembaliannya.
  3. Aku belajar ikhlas dari kejadian ini. Ikhlas itu tidak nampak, halus banget tapi jika dipraktekkan bisa sangat mempengaruhi diriku. Aku juga belajar memaafkan tapi untuk melupakan hal itu…time will heal everything.
  4. Pesanku terakhir, jangan mau deh jadi Bang Thoyib seperti yang aku ceritakan, kalau ada yang terlanjur jadi Bang Thoyib segera tobat deh, dah gitu bedakan ya antara kata PINJAM dan MINTA. Pinjam pulpennya dong? (lah, emang kapan sampeyan mau balikin tintanya :D, yang benar adalah pinjam pulpennya minta tintanya :D)
  5. Untuk menuliskan pengalaman ini sebenarnya membuka luka lagi, tapi setidaknya aku sudah menuliskannya dengan begitu aku bisa sedikit lebih baik dan mempercepat kesembuhan lukaku :D.
  6. The last, sebagai peminjam buku yang baik budi, *aseeekkk* ada baiknya setelah minjam buku, bukunya disampul, jadi deh hati yang punya buku girang, nah besok-besok dia bakal pinjamkan buku terus ke kita, intinya sih dianya malah nyampul hahahah, tapi gak apa-apa namanya juga usaha ya kan =). Asyiknya lagi, tuh buku abis kita baca n resapi, trus kita resensi deh, kirim ke media, eh terbit di koran, *plus-plus bonusnya =D
  7. Kumpulkan uang dong, masak mau sampe tua minjem melulu, hehehei, kalo aku sih nunggu sampe toko buku ngadain diskon gede2an dan dimana ada diskon buku disanalah aku berada. Hihihihihi
Jadi, sebenarnya gak ada yang gak mungkin kalo untuk jadi cerdas dan buat otak kita ni berfungsi, ya kan ^_*

Sekian ceritaku, semoga bermanfaat.

Salam dari seorang yang gila pinjam buku dan baca buku!

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog yakni rangkaian lomba dari Festival Membaca dan Menulis 2012, Milad FLP ke-15

Rabu, 01 Februari 2012

FLP dan Aku: Sebuah Nafas Panjang


FLP adalah hadiah Tuhan untuk Indonesia


-Taufik Ismail, Sastrawan Indonesia-
           
            Menulis adalah duniaku sejak kecil. Diawali dari kesukaanku membaca, sewaktu SD. Ayah dan Emak selalu berlangganan koran dan majalah. Koran untuk bacaan Emak dan Ayah, sedangkan majalah Aku Anak Shaleh, Bobo serta Tabloid Fantasi untuk bacaan aku dan adik-adikku. Terkadang aku suka membongkar-bongkar koleksi buku Ayah di rak bukunya, kutemukan disana deretan buku-buku lama, ada alqur’an terjemahan Bahasa Arab-Bahasa Sunda, ada juga buku tafsir mimpi, agenda ayahku sampai suatu hari aku kepergok membaca agendanya dan ketahuan oleh ayahku, “Ini bukan bacaanmu, sayang”, begitu katanya sewaktu menegurku, namun dalam hatiku berkata aku akan membacanya suatu hari nanti. Aku suka penasaran dengan sosok ayahku yang satu ini, dia sama sekali jarang mau berbagi cerita tentang masa kecilnya jika bukan aku yang menanyakannya lebih dulu. Ayahku ini memang pelit bercerita, lelaki pendiam.

            Oya aku juga suka menulis, apalagi menulis catatan harian. Aku lupa siapa yang memberi buku harian kecil mungil sewaktu aku SD dulu, buku itu yang pertama kali memancingku untuk menulis catatan harian, aku berterimakasih pada yang memberikannya, kalau nggak salah itu adalah hadiah ulangtahunku, ah, payah sekali ingatanku ini, aku lupa hehehe…. Catatan itu berisi cerita bersama teman-teman saat main bola kasti, ada juga cerita tentang pengkhianatan persahabatan, wah yang satu ini ceritanya agak berat plus serius gitu ya kan, tapi ya sudahlah cukup direkam dalam buku harian saja tidak untuk diingat terlalu menyakitkan. Ciee..e…

            Cerita perjalanan karir kepenulisanku berlanjut di Tsanawiyah. Di masa puber inilah masuk kita ke buku harianku 2 jilid, tebal buku harianku itu melebihi kamus Bahasa inggris saja. Banyak kali ceritaku di masa ini, dan aku semakin menyenangi dunia tulis menulis, setiap even pasti kuselalu cerita sama buku harianku, semua disini cerita cinta pertama, teman-teman yang curhat masalah cinta, sebagian besar tentang cinta-cintaan lah, namanya juga lagi puber. Selain menulis aku juga hobi menonton tv, dulu ada serial tv Blobi yang sering ditayangkan di Trans tv, suatu hari mereka mengadakan lomba menulis kelanjutan kisah Blobi, dan aku pun mengikuti lomba itu, waktu itu aku belum pandai mengetik di computer, tapi keinginan ku untuk mengikuti lomba itu begitu besar, jadi tulis tangan jadilah dan Alhmdulillah, suatu hari temanku teriak-teriak pas masuk kelas, “Rul, aku lihat nama kau di TV semalam”, hah?Aku tidak menyangka, nggak lama datang tukang pos ke rumah yang mengantarkan surat dari trans tv yang isinya menyatakan bahwa aku adalah pemenang lomba menulis cerita serial Blobi, aku keluar sebagai juara harapan, ish…jika kubongkar lagi naskah tulisan itu, wuih, tulisan tanganku berantakan, tapi kuakui isi ceritanya mantap juga (lah ini mah air laut asin dengan sendirinya J). Honor dua ratus ribu berpindah ke rekeningku, kalau tidak karena menang lomba itu juga aku pun tak punya rekening dan itu adalah honor pertamaku dan termahal yang pernah kudapat masa itu. Aku senang setengah mati. Awal yang bagus untuk memulai karir kepenulisanku.

            Berlanjut di Aliyah, hobi bacaku semakin menggila, entah buku apa saja yang sudah aku baca di Aliyah, segala novel islami tahun 90-an aku lahap semuanya, majalah Annida pun tak luput dari lalapanku, sampai ada teman yang menjulukiku mirip Annida, aku dengan kacamataku dan ujung jilbabku yang melambai-lambai. Kutemukan juga karakter Aisyah Putri yang keren dan lucu abis, aku baca novel ini dari usaha pinjam meminjam dari seorang sahabat, namanya Tika, kami kalau sudah di kelas suka gila-gilaan menceritakan kembali buku yang sudah kami baca yang pada akhirnya budaya baca dan pinjam meminjam jadi tren di kelas IPA 1 kami dan tidak kalah bersaing dengan tayangan film drama korea yang juga diceritakan kembali untuk memeriahkan kelas disela-sela pergantian guru dan jam-jam istirahat. Para cowok untuk yang satu itu menyingkir jauh-jauh karena mereka pun tak mengerti apa yang kami komburkan, hahaha… Aku kangen kalian semua T_T.

            Hobi menulisku juga tidak redup begitu saja, menulis buku harian tetap kulakukan, kali ini isi buku harianku penuh dilemma, cerita cinta yang setengah indah setengah mengharu biru, dinamika berorganisasiku di Aliyah dan segala suka dukanya, problema masalah keluarga yang tak kunjung selesai. Tak jarang jejak-jejak airmata juga mengabadi di buku harianku jilid 3 ini.  Dengan catatan harian yang kubuat, aku juga belajar menjadi dewasa juga, dengan menulis aku merenungkan segala kejadianku dan itu yang membuatku pelan-pelan menjadi dewasa dan bijak menghadapi hidup dan kehidupan.

            Tahun 2006 memasuki tahun ketiga aku sekolah di Aliyah, kudapat kan kabar bahwa FLP SU sedang membuka pendaftaran anggota baru. Oya sebelumnya aku belum cerita ya awal mula aku mengenal FLP, berawal dari hobi bacaku melahap novel, kumcer islami yang lagi boomingnya di awal tahun 90’an sampai 2000’an, dan selesai membaca itu semua aku senang membaca profil penulisnya, dari situlah aku mengenal seorang Helvi Tiana Rosa, Asma Nadia, Muthmainnah, Pipiet Senja, dan kawan-kawannya serta pada akhirnya membuatku mencari tahu apa sih FLP itu sampai bisa mencetak penulis hebat kayak mereka, sehebat apa sih FLP itu?. Aku penasaran. Hingga akhirnya kutemukan pengumuman bahwa FLP lagi membuka pendaftaran anggota baru. Langsung saja aku, Dedek dan Baim, senang gila dan berambisi untuk mendaftar. Namun ditengah jalan aku memutuskan untuk tidak meneruskan keinginan untuk mendaftar karena aku harus focus mempersiapkan ujian akhir sekolahku. Dan aku berharap besar tahun depan disaat aku sudah tenang dan tidak lagi heboh mempersiapkan apapun, aku pasti akan mendaftar.

            Akhirnya tahun 2007 FLP SU buka pendaftaran lagi, tanpa ba bi bu be bo lagi aku langsung daftar, cerpen terhebatku sudah kupersiapkan, pengetahuanku tentang bahasa dan sastra Indonesia pun juga sudah kupersiapkan dengan sangat baik. Persenjataan sudah lengkap jadi tidak ada lagi yang perlu ditakutkan. Berkas sudah masuk, tinggal menjalani sesi wawancara. Mbak Rif’atun Nihayah Rambe atau lebih sering dipanggil Mbak Ifa adalah mbak yang mewawancaraiku. Aku lupa persisnya hal apa saja yang ditanyakan padaku, tapi yang jelas inti pertanyaan nggak jauh-jauh dari pertanyaan yang umumnya diajukan saat perekrutan memasuki organisasi apapun di dunia ini. Mempertanyakan tentang loyalitas, tujuan masuk FLP atau visi misi, serta kesediaan jadi pengurus. Karena FLP adalah organisasi nirlaba yang jarang sekali orang yang bisa bertahan karena organisasi tidak bisa memberi materi apa-apa, justru para anggotanya yang dituntut untuk memberi dan menyumbangkan apa yang dia punya untuk kepentingan FLP. Itu saja. Bukan FLP yang butuh kita, kita yang butuh FLP begitu kata-kata bijak yang selalu digaungkan para senior di gendang telingaku, dengan begitu sense of belonging setiap anggota terhadap FLP diuji disini.



Kenapa Bertahan?



            Sudah lima tahun aku bertahan di FLP, telah banyak yang kudapat dari FLP dan itu semua tidak akan pernah aku dapatkan di bangku kuliah dan di universitas manapun. Suka duka belajar menulis fiksi dan non fiksi, dari aku yang benci setengah mati dengan menulis puisi sekarang malah jadi cinta setengah mati dengan menulis puisi, suka duka ditolak oleh para redaktur koran, naskah yang dibedah, dkritisi dan dicaci maki oleh para kawan-kawan yang senior, celotehan lucu, renyah, rasa kekeluargaan yang begitu besar dan mesranya. FLP itu sudah kuanggap keluarga keduaku, rumah keduaku setelah aku dan orang rumahku.

            Puncaknya saat aku secara mendadak diminta untuk menjadi perwakilan dari FLP untuk mengikuti Munas II 2009 di Solo, waduh aku kaget setengah hidup bayangkan saja aku tidak punya persiapan apa-apa, uang pun tak cukup, pas pula dengan waktu membayar uang kuliah, tapi setelah memikirkan berbagai pertimbangan yang disodorkan padaku hingga akhirnya aku memutuskan untuk bersedia menjadi delegasi dari FLP SU, bermodalkan sumbangan uang teman-teman, terimakasih banyak kepada Kak Fadhli yang kantongnya paling banyak bolong, juga pada Kak Sukma, Mbak Win, Mbak Ifa ku sayang cintaku.

          Sesampainya di Solo dan sepulangnya dari Solo aku masih bertanya-tanya kenapa harus aku?, sejak dari itulah aku jadi paham, jadi ini cara Allah membuatku agar terus dan terus belajar dan memberikan yang terbaik untuk FLP, sebab ada doa, harapan dan cinta dari teman-teman FLP yang turut mengirimkan aku ke Solo. Kini tidak ada alasanku untuk tidak loyal pada FLP. FLP salahsatu tempat belajarku seumur hidup. Walau tak jarang badai belakangan ini sering melanda rumah cahaya FLP tercinta.  Seberat apapun dalam  menggerakkan FLP kita, tetap harus ada yang hidup, ya FLP kita harus tetap hidup, karena antara aku dan dunia tulis menulis sudah sulit dipisahkan. Kalau sudah begini, pasti inginnya flashbackke masa dimana para sesepuh  susah payah membangun eksistensi FLP di Sumatera Utara, supaya ghirah  itu menyala lagi. Bahkan kejadian itu sempat terulang, FLP SU mulai ditinggalkan para anggotanya, hingga hanya bersisa hitungan jari, perlahan tapi pasti dengan niat dan semangat kuat FLP SU bangkit pelan-pelan seperti lagu-nya Kotak Band. Semenjak rekrutmen anggota angkatan 4, FLP SU mulai semarak lagi. Semoga kita semakin solid ya kawan-kawan. Insyallah.

              Sekarang di tahun ke lima aku di FLP bahkan diamanahkan untuk jabatan sekretaris umum, bukanlah hal yang mudah. Tentu tantangan seperti menghadapi karakter kawan-kawan, melengkapi berkas untuk dilaporkan ke FLP Pusat, dan lain ssebagainya, sedikit repot memang, tapi aku yakinkan bahwa organisasi ini harus tertib secara administrasi. Bagaimana tidak, kejahatan saja bisa terorganisasi dengan baik, toh organisasi yang membawa kebaikan seperti FLP harus lebih terorganisasi dengan baik dan rapi tentunya.

              Yah, lebih dari pada itu, komunitas itu penting, adalah hal yang tidak gampang, menularkan virus membaca dan menulis di provinsi Sumatera Utara yang bisa dibilang minat baca masyarakatnya masih kurang, ingin suatu saat Sumut punya event Sumut Book Fair, wah…tentu kita bisa mewujudkannya suatu saat, FLP SU bersinergi dengan komunitas baca tulis lainnya yang tumbuh sumbur di Sumut beberapa tahun terakhir.

               Finally,  mengutip penjelasan Mbak Sinta Yudisia dalam Esai-nya berjudul ‘Bertahan di FLP’ bahwa  bagi penulis, mungkin saat menulis adalah kerja solitair, sendiri, berkhalwat, terasing. Usai itu, ia akan membutuhkan bantuan banyak pihak mulai editor, pihak penerbit, ilustrator, endorser, pembaca, pengkritik dan....doa sekian banyak orang yang akan menghantarkan keberhasilan langkahnya. Sungguh, di titik ini, kerja penulis bukan solitair lagi tapi kerja berjamaah. Kerja bersama-sama, kerja saling terkait dan mendukung. Bravo FLP!





*Penulis adalah Sekum FLP SU periode 2011-2013. Esai ini diikutsertakan dalam Lomba  ESAI “AKU DAN FLP”