Sabtu, 10 September 2011

ODONG-ODONG STORY

Minggu malam, 28 Desember 2008, (waktu O2 lg laris-larisnya)

MENANTI O2

Entah kenapa kalau lihat odong-odong beroperasi, bawaan ku mau ketawa mulu, geli aja gitu. Kesan odong-odong itu jadul, sederhana tapi mewah, unik, kreatif, dan salah satu fasilitas mencari kesenangan untuk anak di tengah susahnya hidup.


Malam ini kami berencanag naik O2 sambil makan singkong gaul made in dewe. Aku, ibu, dan si kecil Azizah bersiap-siap menunggu dan menanti kedatangan O2 di depan rumah.


Tepat pukul 08.30, O2 trip pertama lewat tapi ternyata sudah penuh dengan penumpang urunglah niat untuk menaikinya. Kami pun tetap menunggu tapi posisi menunggu sudah tidak di depan rumah lagi, soalnya banyak nyamuk, gelap-gelapan lagi, jadinya kami pindah ke depan rumah nek Sirat yang lebih terang dan ada bangku buat nunggu.


Tak lama berselang setelah kami hijrah, O2 yang dinanti pun datang, O2 trip kedua pun lewat, tapi penonton harus menelan kekecewaan sekali lagi, karena kali ini pun O2 overload alias penuh jek!.


BTW, setiap kali O2 lewat, aku gak akan pernah lupa buat ketawa, hahaah. Eits...kembali ke Menanti O2. Apakah kami berhasil menaiki O2 dan berkahir happy ending everafter?. Ikuti terus kisahnya.

15 menit kemudian


Jam sudah menunjukkan pukul 09.00WIB, O2 yang ketiga datang dan kelihatan berhenti di ujung jalanrumah nek Sirat, sepertinya akan ada harapan soalnya dari kejauhan nampak ada peumpang yang turun.


Benarlah kata pepatah kebanyakan dari kegagalan dalam kehidupan adalah karena manusia tidak sadarbahwa manusia nyaris sukses sewaktu putus asa. Tapi apa yang terjadi sodara2, ketika o2 itu lewat tak ada sisa satu bangku kosong pun untuk kami penumpang yang malang ini. Capek Deeeeh….!


Seperti lagu Ridho Rhoma—Menunggu, kami pun tetap menunggu walaupun cuaca udah mulai mendung,hembusan angin malam yang dingin terus menerpa wajah ini.


Tiba-tiba suara yang tak mengenakkna itu kembali terdengar dari jarak radius 200 meter—degedegedeg. Ini adalah O2 yang keempat yang kami tunggu. Ternyata memang tak diizinkan Allah untuk kami berodong2 ria malam ini, soalnya yang keempat ini juga penuh bahkan sampe ada penumpang yang harus bergelantungan disisi tiang O2. Wah…gak iya neh, singkong gaul ku yang tadinya buat makan di atas O2, malah dah abis gara ku makan saat masa iddah alias masa menunggu tadi.


Akhirnya karena udah ngantuk plus dikerubungi nyamuk, angin-angin tanda mau hujan sudah mulai ngamuk.Yoda lah menanti O2 untuk hari ini cukup sampai disini dulu. Sampai jumpa diwaktu dan lain kesempatan dari studio satu Zee Zee FM, nurul pamit Assalamualaykuuuum.


To be continued..

Rabu sore, 11 Maret 2009
AKHIR DARI SEBUAH PENANTIAN

Akhirnya setelah sekian lama harapan untuk naik O2 terpendam, sore ini sepulang dari kursus menjahit barulah terwujud.

Bercampur perasaan geli (mau ketawa aja bawaannya) dengan mantap aku panggil “Odong-Odooooooooong” dan berhentilah dia untuk mengangkut diriku sang penumpang yang istimewa ini. Dengan anggunnya naiklah diriku ke ata O2, dimulai dengan kaki kanan sambil baca bismillah dan mendarat muluslah pantatku dan terduduk mannislah di gerbong kedua O2, hanya aku penumpang yang ada di gerbong kedua bersama kenetnya.

Semua mata tertuju padamu, kurasa cocoklah slogan dari program Miss Indonesia disematkan pada diriku saat itu. Soalnya pas di atas O2 perasaanku mengatakan bahwa sepanjang jalan semua orang melihat aku, deuuu…jilbaber naik O2, deuu…cantik-cantik naik O2 begitulah kurang lebih kata orang2 yang melihatku naik O2 (woi…lebay woi!). Untung gila ku lagi gak kumat soalnya ku sempat berniat untuk melambaikan tangan ala Miss Universe kepada orang2 yang melihatku di sepanjang jalan, hahahha

Momen yang kayak gini ni yang kutunggu-tunggu, ngobrol bareng sama kenet O2nya. Maklumlah naluri seorang penulis yang bawaannya pengen tahu dan pengen nanya tentang segala hal lagi berkibar-kibarnya kayak jilbabku yang berkibar-kibar disapa angin sore yang sepoi-sepoi.

Namanya Bang Rismar, sepertinya dia PUJAKESUMA alias PUtra JAwa KElahiran SUmatera, agak kurus, hitam manis, rambut cepak plus murah senyum. Bang Rismar salah satu kenet O2 yang kunaiki, dia bertugas di gerbong kedua (Yaelaa…bertugas? Digerbong kedua? bahasanya kayak menceritakan suasana di kereta api eksekutif gitu ya kan padahal kan nggak).

Sepanjang jalan ku berbincang-bincang renyah sama si Abang kenet. Aku menanyakan kenapa sepi penumpang di O2 yang kunaiki ini. Beliau bilang memang kalau sore agak sepi penumpang, ntar abis maghrib barulah penumpang agak ramai. Satu pertanyaan sensitive yang sempat ku tanyakan pada si Abang kenet yang tidak mau kupanggil Bang Mar ini yakni soalnya soal penghasilan perhari yang di dapat dari menarik O2 ini, dengan sumringah si Abang menjawab,” Ya…kalo lagi rezeki, Alhamdulillah pernah perhari dapat lima ratus ribu (what?, menjanjikan juga ya narik O2). Pertanyaanku berlanjut, “Lah…itu di bagi-bagi la ya bang?”. Si abang yang paginya berprofesi sebagai pengacara (pengangguran banyak acara) dan sore sampe malamnya jadi kenet O2 ini menjawab “iya, tapi setelah bayar setoran, beli solar, baru bisa dibagi tiga (kenetnya 2 orang, sopirnya 1 orang). Mendengar jawabannya aku pun ber O..O ria.

Acara talkshow dadakan yang disiarkan secara langsung di atas O2 ini sempat terhenti gara-gara dipertengahan jalan aku disapa sama anak muridku yang lagi main guli dipinggir jalan “Ummiiiiiii” teriaknya, dalam hatiku Cuma bisa ngedumel (duh, mati aku, ketahuan anak murid ni, kalo aku lagi naik O2 ). Tuh, kan satu kampong pada heboh aku naek O2. Susahnya jadi artis.

Bincang-bincang pun berlanjut, dari si Abang aku dapat informasi yang terakurat, tercepat, terdepan, bombastis, fantastis, dahsyat, bahwa O2 yang kunaiki in punya tempat pemberhentian si jalan Damar, tepatnya di rumah sang Juragan O2, sang juragan punya 2 unit O2. Trus di Medan ada sekitar 50 unit O2, tentunya dengan rute dan juragan yang berbeda-beda pula.

Tak terasa aku dah memasuki jalan bambu bentar lagi aku nyampe rumah.
Dasar akunya memang selebritis kali ya…ibu aku yang lagi santai kayak di pantai dan lagi duduk-duduk di depan konter hape adiknya, hysteria melihat aku di atas O2 (Whahaaahaaa…si Nurul naek Odong-odong). ?!!!

Tepat di depan warnet DeGaRa aku diturunkan. Dengan pe de nya aku turun (walaupun banyak pengunjung warnet yang lagi nonkrong2 di depan warnet melihatku turun dari O2). Namun aku cuek aja yang penting hasrat ingin naik O2 telah terpenuhi.

Hehey..berhasil…berhasil, Horrey!

THE END


Jumat, 09 September 2011

MARAH, RAMAH, HARAM

sumber: google.com

Dear Zee…
Marah, Ramah, Haram,..udah dibalik2 pun hurufnya kata terakhirnya juga gak enak hahahaha. Ada kalimat bijak pernah terbit di dunia ini, kurang lebih bunyinya seperti ini, jangan pernah membuat/membiarkan org yang kamu sayangi pergi dalam keadaan marah.
Kalimat bijak itu ada benarnya, daku pernah marahan sama adikku paling kecil, dan aku membiarkannya pergi ke sekolah dalam keadaan marah. Hadeh, perasaanku bener-bener nggak enak @_@.
Belum lagi ditambah dengan nonton film yang memuat adegan seperti itu, ada dua tokoh bertengkar, lalu si tokoh yang dimarahi itu pergi trus sutradara membuat tokoh yang pergi itu kecelakaan. Heuheuheuheu.
Makanya, klo perasaanku gak enak sama orang, mau orang itu ngerasa ato tidak, aku Cuma bisa minta maaf dan minta senyumnya itu aja sudah cukup buat hatiku utuh halaahhh.
Curhat di sabtu pagi tralalalal ^_^
Jangan marah lagi ya say =)

Sabtu, 16 Juli 2011

[THE HARDEST DAY] PENGANTIN SEHIDUP SEMATI

Aku pikir aku tidak punya kakak, ternyata aku punya kakak. Dia datang mencari ayah ketika ia hendak menikah dan membutuhkan ayah untuk menjadi wali nikahnya. Awalnya aku shock, namun perlahan aku mulai membuka hati dan menerimanya mengisi ruang-ruang di hatiku.

Berbulan-bulan semenjak kedatangannya, ayah mendapat kabar bahwa pernikahannya gagal, sang calon membohongi kakak. Sang calon ternyata sudah bertunangan di kampung.

Tak banyak yang aku ketahui tentang kakakku ini, mendesak ayah untuk menceritakan apa yang terjadi, ayah selalu menghindar. Baiklah mungkin belum saatnya, aku pikir.

Setelah itu di tahun yang sama pula, kakakku yang hanya berbeda dua tahun dariku, kembali menjumpai ayah di Medan. Ia meminta ayah datang pada hari pernikahannya di Batubara, kali ini pria yang datang adalah jodoh dari syurga yang di datangkan Allah.



Hari pernikahan itu tiba, aku, Emak, Adik perempuanku dan aku, pergi menghadiri pernikahannya ke Batubara. Kakak sengaja menyewa mobil agar kami bisa berangkat ramai-ramai kesana tanpa harus bersempit-sempit dan berpanas-panasan di angkutan umum.

Ini adalah kali pertamaku bertemu kakak kandungku, setelah dua puluh tahun lebih berpisah. Cantik. Ia begitu dekat dengan ayah. Senangnya. Di hari yang paling membahagiakannya itu ayah hadir untuk menjadi wali nikahnya. Alhamdulillah hari 22 di bulan Mei tahun 2011 menjadi hari paling membahagiakannya. Aku turut berbahagia. Aku tak banyak berbicara. Aku masih speechless. Dan suatu hari aku tahu bahwa aku menyesal tidak mengenalnya lebih dekat pada dimana hidupnya masih ada.

11 Juli 2011, pukul 22.30. Kabar mengejutkan itu datang dari sebuah pesan singkat dari adikku. Innalillahi wa innailahi raji’un telah kakak dan abang, kak ade dan suaminya meninggal di tabrak tronton pada sore tadi, mohon doakan arwahnya. Sesaat aku terdiam, berkelebatan perjumpaan dengannya dua bulan lalu pada akad nikahnya. Allah. Kata itu yang bisa aku ucapkan. Kepalaku mendadak sakit. Aku pun memilih tidur berharap ini semua hanya mimpi dan esok pagi terbangun aku pastikan SMS duka itu tidak pernah ada.

Pagi masih sama, ini bukan mimpi. Aku pastikan lagi dengan mengirim pesan singkat ke adikku, apakah SMS tadi malam benar adanya. Ya, benar.

Sepanjang hari Emak mencari kabar tentang keberadaan jenazah dengan menelepon keluarga Kak Ade di Batubara. Jenazah di mandikan di Batubara dan akan dibawa ke Medan tepatnya di tempat tinggal keluarga suami kakak, dan direncanakan keduanya dikuburkan di Medan juga.

Ayah? Ya Ayah begitu terpukul mendengar berita ini. Aku sedih melihat ayah.
Siang itu kami bersegera menuju rumah keluarga suami kakak, karena dikabarkan kedua jenazah tiba di rumah duka sekitar waktu zuhur.

Tiba di rumah duka. Entah bagaimana, aku masih dalam kondisi percaya tidak percaya. Sejenak percayaku bulat saat memandang papan bunga itu Elida Susanti dan Susilo Sudarman. Kesedihan itu menyeruak kembali. Sepanjang jalan, Ayah begitu erat menggandeng tanganku, hingga sampai di mulut gang rumah duka pegangan ayah makin erat, langkah ayah makin cepat, di depan tampak kumpulan orang membulat mengelilingi kedua jenazah, sepertinya sedang ada khutbah kematian. Ayah menyeruak kerumunan. Ya, kedua jenazah itu adalah kakakku dan suaminya. Pegangan Ayah dilenganku seketika merenggang dan ayah terkulai pingsan di depan jenazah kakak. Bersyukur ada seorang bapak yang menggotong ayah ke dalam rumah duka. Aku tak tahu harus melakukan apa. Aku sedih melihat ayah sedih, aku sedih melihat kenyataan di depan mata. Aku?. Aku berusaha menguatkan ayah. Emak juga. Aku menyesal, secepat ini kah kak?.

Dalam sholat jenazah untuk kakak dan abangku, aku luruh, aku haru, aku rapuh, aku punya kakak. Selamat jalan kak, bang?.

Mendengar cerita dari ibu kandung kakak. Sore itu kakak baru pulang dari kampus selesai siding meja hijau untuk pendidikan strata satunya dan pulang dibonceng abang yang baru pulang kerja. Entah apa yang dikejar, sehingga harus mendahului truk tronton namun dari arah berlawanan ada juga kendaraan yang melaju, tak mampu mendahului tronton, kecelakaan itu pun terjadi. Kakak tercampak sekian meter tak jauh dari abang yang juga jatuh dan terluka parah, namun sempat menggendong kakak yang katanya sedang hamil tiga minggu ke tepi jalan, setelah itu abang menghembuskan nafas terakhirnya di tempat kejadian sedang kakak masih bertahan. Namun, dalam perjalanan ke rumah sakit, kakak pun menyusul abang.

Terakhir kalinya di pemakaman sebelum ia berkalang tanah, Ayah dan aku melihat wajahnya yang tenang. Allah terlalu sayang pada kedua pengantin baru itu. Allah, terima ya Amal kebaikan kakak dan abangku itu, Aamiin.

Sekarang aku tak punya alasan lagi untuk mempertanyakan ayah tentangnya. Dia memang kakakku semalam, hari ini, besok, dan selamanya. Sayang kakak.



220511-110711

Jumat, 08 Juli 2011

Refleksi Revolusi Jilbab

Saat itu bulan Juli 2009 masih ranum-ranumnya, namun suasana tersebut tidak cukup mewakili apa yang terjadi di ruang pengadilan kota Dresden, Jerman. Marwa Al-Sharbini, muslimah asal Mesir akan memberikan kesaksian atas tindakan rasial yang dilakukan Alex Wiens, pemuda Jerman pengidap Islamofobia keturunan Rusia, terhadap Marwa karena Alex berulangkali menyerang Marwa hanya karena Marwa mengenakan jilbab. Atas tuduhan itu, Alex ditahan dan 1 Juli 2009 adalah sidang pertamanya. Lalu kejadian mengenaskan itu pun terjadi. Di ruang pengadilan, belum sempat Marwa memberikan kesaksiannya, Alex menyerang Marwa dan menusuk ibu satu anak itu sebanyak 16 kali hingga Marwa yang saat kejadian sedang hamil tiga bulan, meninggal dunia. Sedang Suami Marwa, Elwi Ali berusaha melindungi istrinya tapi justru ditembak oleh polisi yang menjaga sidang tersebut.



Apa yang dialami Marwa yang rela syahid demi hijabnya tentu menjadi bahan refleksi buat kita semua para muslimah. Lalu bagaimana keadaan muslimah hari ini dengan jilbabnya?.

Sedikit flashback sebelum pemakaian jilbab bisa semarak hari ini, pada era 80-an terjadi peristiwa Revolusi Jilbab di Indonesia. Revolusi besar-besaran yang mengubah sisi kehidupan masyarakat Indonesia secara drastis. Setiap revolusi terjadi karena beberapa faktor, dari internal sendiri secara singkat penulis paparkan bahwa revolusi menyeruak sebab diberlakukannya SK 052/6/KEP/D/8 oleh pemerintah orde baru pada 17 Maret 1982 melalui departmen pendidikan, yang mengatur bentuk dan penggunaan seragam sekolah di sekolah-sekolah negeri. SK tersebut tidak mengakomodir penggunaan seragam sekolah lain khususnya busana muslimah. Berdasarkan SK itu mulailah merebak para siswi berjilbab di sekolah-sekolah negeri, SK itu seolah pemicu yang memotori dan membulatkan tekad para siswi untuk menunjukkan identitas muslimahnya. Peristiwa demi peristiwa terus bergulir, semangat keberislaman di kalangan pelajar dan mahasiswa mulai menampakkan geliat yang berarti. Namun, semangat keberislaman tidak luput dari tantangan demi tantangan, malah kasus pelarangan jilbab makin gencar. Saking gencarnya, demi sebuah idealisme beberapa siswi yang bersekolah di salahsatu sekolah negeri di Jakarta pusat terpaksa drop-out sekolah daripada harus melepas jilbab. Aksi drop out ini malah makin menambah siswi jilbaber dan kasus pelarangan jilbab merembet ke beberapa provinsi di Indonesia pada tahun ajaran 1987/1988. Hingga akhirnya MUI dan beberapa organisasi Islam saat itu ikut campur tangan dan sampailah masalah ini ke meja hijau, dengan berbagai pertimbangan, beberapa sekolah seperti SMAN 1 Bogor dan SMAN 68 Jakarta Pusat yang melaporkan para sisiwi berjilbab ke pengadilan, akhirnya meminta maaf kepada siswi mereka dan mengizinkan mereka bersekolah kembali tanpa harus melepas jilbab.

Apakah perjuangan berhenti sampai disitu saja? Ternyata tidak, seperti efek domino, seolah semua masyarakat saat itu sepakat untuk mendukung isu pelarangan jilbab, mulai dari penyebaran black campaign jilbab beracun yang bertujuan menjatuhkan mental muslimah yang baru berjilbab secara kaffah, lalu ada peristiwa penelanjangan muslimah berjilbab karena dituduh mencuri permen dari sebuah toserba sampai peristiwa pengeroyokan massal terhadap muslimah hingga nyaris meninggal karena dituduh sebagai penebar racun. Masyarakat yang termakan berbagai isu hingga akhirnya beralih menjadi simpati karena semua tuduhan mereka tidak benar dan pembelaan terhadap muslimah berjilbab terus mengalir.

Sekarang zaman berganti, perjuangan memakai jilbab tidak seekstrim pada tahun 80-an khususnya di Indonesia, namun bukan berarti eksistensi jilbab tidak akan mendapat tantangan apapun. Terbukti dari peristiwa yang dialami Marwa, islamofobia masih bersarang dibeberapa masyarakat. Disinilah perjuangan kita, wahai para muslimah. Tantangan berbeda tentu bentuk perjuangannya pun berbeda.

Jilbab: Samurai-nya Muslimah
Betapa sayangnya Allah, ketika perintah berjilbab langsung dariNya. Dia berfirman:
يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min:”Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 33:59).

Tidak lain tidak bukan, Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hambanya. Allah turunkan perintah berjilbab karena Allah sudah berjanji dengan berjilbab seorang muslimah beriman lebih mudah dikenal (identitasnya) dan tidak diganggu.
Dengan berjilbab, seorang muslimah merasa bebas. Jilbab adalah simbol kebebasan bagi seorang muslimah. Bebas dari pendangan orang yang kebanyakan hanya memandang secara fisik, berat badan, dan apa yang kelihatan dari diri kita. Dengan berjilbab, orang hanya berfokus pada isi otak/pengetahuan kita, kepribadian kita. Seorang muslimah juga bebas dari lelaki yang bernafsu padanya serta bebas memilih siapa yang akan bisa dan tidak bisa melihat auratnya.

Seorang penyair bernama Soni Farid Maulana sampai berkomentar tentang manfaat luarbiasa dari muslimah berjilbab, seperti pedang bagi samurai, begitulah jilbab sebagai jalan hidup bagi muslimah.

Pencerdasan dalam Berjilbab

Jilbab membuat muslimah mendapatkan berpaket-paket kebebasan, namun akankan kebebasan yang didapat sejalan dengan gaya berjilbab kita yang bebas juga?.

Ada banyak ragam desain jilbab yang bermunculan saat ini, setiap pengusaha busana muslim berlomba-lomba menciptakan produk jilbab unggulan mereka, lalu bagaimana standar jilbab yang syar’i, agar muslimah tidak salah kaprah dalam memakai jilbab?.

Jilbab tidak sama dengan kerudung. Jilbab adalah pakaian keseluruhan yang kita pakai untuk menutup aurat (QS. Al-Ahzab:59), sedangkan kerudung (khimar) adalah apa-apa yang dapat menutup kepala (QS. An-Nur:33).

Perintah Allah diatas ditegaskan lagi oleh Nabi Muhammad S.A.W. dalam hadist beliau yang artinya : "Wahai Asma! Sesungguhnya seorang perempuan apabila sudah cukup umur, tidak boleh dilihat seluruh anggota tubuhnya, kecuali ini dan ini, sambil Rasulullah SAW menunjuk muka dan kedua tapak tangannya".

Jika hari ini kerudung masih menggantung dan melilit di leher akan lebih indah lagi jika diulurkan hingga ke dada, jika hari ini jilbab kita masih nge-press sana sini, jangan sampai kita seperti seonggok daging berjalan daripada kelihatan seperti manusia seutuhnya. Dan menjadi ladang dosa bagi sesiapa yang tergoda gara-gara melihat jilbab kita yang kurang sempurna. Niat hati ingin berjilbab, namun tidak sempurna, sayang bangetkan?. Kalau ada yang sempurna kenapa harus setengah-setengah?.

Islam datang untuk membebaskan muslimah dari perbudakan, dari status penduduk kelas dua. Namun, dalam Islam laki-laki dan perempuan itu sama di mata Allah hanya tingkat ketakwaannya saja yang membedakan. Belum lagi, penghargaan Islam kepada muslimah hingga Rasululullah bersabda bahwa ada surga di bawah telapak kaki ibu, ini menunjukkan betapa muslimah begitu diistimewakan dalam Islam. Lain hal dengan kaum feminis yang hanya melihat Islam dari jauh, bahwa muslimah itu bakal terpenjara dalam balutan pakaian takwanya. Kenyataannya tidak, muslimah justru makin leluasa dalam mengembangkan potensi positifnya untuk diri, keluarga dan ummat.

Dulu saat para muslimah susah payah mendapatkan haknya menutup aurat, perjuangan yang begitu panjang, perlawanan yang tidak ada habis-habisnya dari berbagai penjuru, sampai diusir, dikucilkan, dibotak, dan lain-lain. Sampai akhirnya berujung indah. Beberapa sekolah sudah ada peraturan mewajibkan siswinya memakai jilbab dan efek positif lainnya. Diharapkan kita yang dilahirkan pasca revolusi jilbab dalam lebih memaknai arti eksistensi jilbab itu sendiri bagi muslimah sejati. Jangan sampai apa yang diperjuangkan muslimah sebelumnya di masa revolusi jilbab menjadi sia-sia hanya karena pengaruh westernisasi yang mengusung pemikiran feminis yang membuat kerudung makin lama makin pendek, jilbab makin ketat, moral makin tidak pada tempatnya dan harga diri muslimah makin tak ada. Naudzubillah summa naudzubillahi min dzalik.

Selamat Hari Hijab Sedunia, 1 Juli 2009-1 Juli 2011. Mengenang Marwa El-Sharbini ‘Sang Martir Jilbab’.

*Tulisan ini dimuat diharian Analisa pada 8 Juli 2011. Tulisan ini terpotong dibeberapa bagian dan ini versi lengkapnya. Semoga bermanfaat dan jadi bahan selfreminder juga buat diri penulis scra pribadi :). Dan untuk Teh Marwa mudah2n syahid dan dilapangkan kuburnya Aaamiin!

Senin, 27 Juni 2011

EPISODE KETIDAKADILAN

Tidak ada ketidak-adilan yang bisa terjadi, tanpa disiapkan penyeimbangnya oleh Tuhan.

Jika hakmu dicurangi, ada sesuatu yang dilebihkan bagimu di sudut yang sebetulnya sangat terang, jika engkau membebaskan mata hatimu dari kemarahan dan kesedihan.
...
Damaikanlah hatimu, agar terlihat jelas keadilan Tuhan bagimu.

Mario Teguh


Apa yang kamu rasa ketika dihadapkan pada orang-orang bermasalah? Tentu rasanya campur-campur ya, setidaknya itulah yang aku rasakan beberapa bulan lalu. Tidaklah mudah meng-organize satu acara yang didalamnya terlibat bermacam ragam isi kepala untuk disatukan dalam mencapai tujuan bersama.

Entah kenapa penyelenggaraan seminar ini dari awal sudah banyak mendapat aral rintangan menghadang tak jadi masalah dan tak jadi beban pikiran *lah kenapa nyanyi OST nya film Kera Sakti hahahaha :D. Ya, penyelenggaraan seminar ini beberapa kali mengalami tarik ulur ‘ah, usah saja diadakan bakal tak ada yang mendukung kita’, ‘mau darimana dananya, dana kita sama sekali nol’, ‘gila, aja yang even kemaren aja dosen gak ada yg mau nimbrung, konon lagi acara ini’, bla bla bla, namun dengan segala daya upaya dan pertimbangan kebaikannya jika acara ini terlaksana maka akhirnya acara ini pelan-pelan jadi, mulai dari pematangan konsep, lobi dosen sana sini, merekrut panitia dari berbagai kelas, mengumpulkan dana awal, SEMUANYA.

Hari-hari berlalu, minggu-minggu terlewati, dan bulan-bulan terlampaui, sampailah acara ini pada H-10. Mulailah acara ini dapat gesekan dari sana sini, adalah sebuah organisasi yang seharusnya membawahi acara ini namun di awal2 konsep acara sempat lepas tangan, dan ujung2nya minta diakui bahwa organisasi mereka harusnya dilibatkan. Ah, PENGAKUAN, GILA HORMAT macamnya bukan konsumsi awak pulak. Tapi, demi kelancaran acara ini dan kebaikan semua pihak, ok itu semua diperturutkan. Ku kira urusan selesai disitu saja. Aku yang sebagai salahsatu Steering Comitee dalam acara itu, kembali terusik dengan masalah lagi.

Aku dapat kabar bahwa salahsatu panitiaku terlibat perang urat leher dengan salah satu kepala suku di organisasi yang aku sebutkan di atas. Klimaksnya konflik personal ini merembet ke aksi global, si kepala suku ini mengancam akan merusuh acara ini dengan cara apapun bahkan ia juga mengancam akan melaporkan panitia acara ke polisi atas pengaduan merusak nama baik dan penyelenggaraan acara yang tidak sesuai prosedur. Kejadiannya pas H-1 sedangkan aku dan temanku sesama SC sudah panik luarbiasa. Bagaimana ancaman mereka itu terbukti? Bagaimana dengan pembicara asing yang kami undang tentu akan ada kesan yang gak baik buat kampus ini? Bagaimana dengan peserta dari luar kota yang udah bela2in datang ke kampus naek bus bermalam2? Bagaimana dengan semangat panitia? *miris banget hati ini ketika rentetan ‘bagaimana’ meluncur begitu saja sambil memandangi panitia yang sibuk kerja dari deretan kursi peserta yang masih kosong ini, ah nggak sanggup membayangkannya*. Sempat stress luarbiasa, namun daku coba menguatkan diri sendiri bahwa enak udelnya aja merusuh acara yang udah dikonsep mati-matian sama seluruh panitia sejak 6 bulan lalu. Ancaman kepala suku daku tanggapin dengan meminta penjelasan dan alasannya ia melakukan aksi itu, aku telepon lalu minta janji ketemuan, malam itu juga. Acara ini harus terlaksana, tidak gara2 satu parasit lalu acara ini bubar, oh tidak bisa!.

Akhirnya aku dan beberapa panitia menemui kepala suku dan antek2nya di sebuah warung tempat biasa anak sekitaran kampusku pada nongkrong. Ternyata duduk permasalahannya adalah lagi lagi gila hormat, kepala suku itu merasa sudah diinjak2 keseniorannya oleh kawanku yang masih terhitung junior *persoalannya hanya dia saja yg duluan lahir. Emang sih dua duanya sama2 punya salah yang si junior ngomong bagus2 eh tiba2 si senior nyolot apa gak terpancing esmosi jiwa si junior yg akhirnya ikut nyolot juga. Kami pun selaku panitia dan mewakili si kawan ini (junior. –red) meminta maaf pada kepala suku *pas pulak si junior lg menghadiri acara ke luar kota* , awalnya ia gak terima ia bersikeras agar dipertemukan dg si junior namun akhirnya dia luluh dan berjanji tidak akan merusuh acara esok hari. Daku lega luarbiasa, acara negosiasi malam itu yang kalau kalian ada disana, hanya ada satu bidadari berwajah lusuh bin ngantuk karena udah kelelahan jiwa dan raga turut meramaikan acara konferensi meja petak dengan sesekali disesaki asap-asap rokok itu *weleh weleh…. Intinya komunikasi, kalau semua dikomunikasikan dengan bahasa cinta, insyallah semuanya akan menjadi jelas dan saling mendengarkan dan didengarkan tapi coba semua saling nyolot menyolot terang saja bakal gak ada yang jadi pendengar yang baik kala itu, dan pesan pun tak sampai. Malam cerah tralalal itu, diakhiri dengan acara maaf memaafkan dan memastikan tidak ada kerusuhan apapun selama acara berlangsung serta tidak ada pungutan liar dari oknum yang mengaku panitia atau pun oknum yang hanya mementingkan kepentingan perutnya semata. Dan aku memastikan itu semua secara pribadi, aku lihat wajah2 mereka satu persatu, kumasuki kedalaman mata mereka mudah2an tidak ada kemunafikan disana. Alhamdulillah tidurku nyenyak malam itu.

Keesokan harinya, pas hari H, kecemasan akan ancaman kerusuhan masih membayangiku tapi alhmdulillah, awal, tengah dan akhir acara semua aman, hanya ada beberapa masalah kecil saja.

Beberapa hari kemudian, ketika segalanya aku kira aman-aman saja, daku kembali mendapat selentingan bahwa ada panitia yang diteror kepala suku agar menyerahkan sejumlah uang keuntungan dari acara seminar itu. What?!? Uang? Keuntungan? Hadeuhh…rasanya kemarahanku memuncak sampai ke ubun-ubun, namun aku berusaha mengendalikannya. Untung gimana? Murni acara ini berawal dari 0 rupiah, aku saja sebagai SC bersyukur sekali acara ini bisa terlaksana, nggak sanggup mikirin untung apapun, acara terlaksana dengan sukses, peserta dapat ilmu, pembicara beraksi dengan sempurna, panitia yang kerjasamanya aku salutkan itu semua hal yang tidak bisa dihargai dengan apapun, tapi ini? Ada pihak yang sepeser pun tidak melakukan apa apa malah minta bagian *nyadar gak sih loh, ngaca nggak sih lo???. Mereka kembali mengancam dengan nada ancaman yang sama bahwa kalau permintaan mereka nggak dipenuhi mereka mengancam akan melapor ke polisi dengan tuduhan merusak nama baik dan penyelenggaraan acara yang tidak sesuai prosedur. Sejujurnya dari awal aku pribadi tidak takut dengan ancaman apapun, selama ini acara sudah dilaksanakan sesuai prosedur, semua pihak sudah tahu, tidak ada yang harus ditakutkan, mau dia ngaku kalau dia itu wartawan dan sebagainya aku tidak gentar, pihak panitia bisa saja melapornya balik dengan tuduhan pemerasan. Impas kan?.



Akhirnya setelah rembuk dengan panitia inti termasuk bendahara, kami memutuskan untuk mengembalikan sejumlah uang dari peserta yang tergabung dalam organisasi yang daku sebutkan diatas, berdasarkan kesepakatan malam meja petak itu, anggota mereka dalam organisasi itu dibebaskan dari biaya registrasi, kami pun mengembalikan uang itu ke tangan kepala suku, kontan, dan aku gak yakin ia akan mengembalikannya ke anggota yang kami data namanya. Takut melakukan kebodohan yang kesekian kali, kami pun mengembalikan uang itu padanya dengan syarat ia harus menandatangani surat perjanjian bahwa uang itu sudah berada di tangannya jadi tidak ada dikemudian hari ia ungkit2 bahwa uang itu belum dikasih panitia. Saat pemberiaan uang dan penandatangan surat perjanjian itu, aku tatap matanya dengan tajam dan kukatakan padanya ‘Gimana bang? Sudahkan?, Aman-aman sajakan?, jadi uang ini bukan uangku atau uang panitia ini adalah uang peserta, aku kasih ini ke bang dan mohon tandatangani ini biar sesuai prosedur seperti yang abang bilang tempo hari, semua harus sesuai prosedur’, semua cakapnya aku balikkan. Dan ia tak berkutik apapun, ia legowo, dan melenggang membawa pulang uang itu.

Tak berapa hari berlalu, ada kabar nggak enak menerpa telingaku lagi, ternyata kepala suku dan satu anak buahnya meneror temanku yang SC juga dan intinya minta uang panitia lagi? Masyaallah, manusia jenis apa sih ini? Geramku. Kukatakan pada kawan sesama SC, tak ada yang perlu ditakutkan, coba tawarkan kepadanya bahwa permintaan ia akan kita diskusikan kayak tempo hari di meja petak, termasuk aku harus ada di sana, mengapa ia harus meneror kawanku sesama SC tapi aku tidak diterornya. Ganjil kan?. Ah, lelah jiwa dan raga menghadapi jiwa2 kerdil itu. Perlahan rumor itu menghilang dengan sendirinya.

Hikmah dari kejadian ini adalah, KOMUNIKASI, eh si ‘K’ yang satu ini penting banget. Insyaallah jika terjalin MARI NGE THE MARI BICARA, maka semua akan jelas, kita tau mau mereka, mereka tau mau kita tentunya dengan seni berkomunikasi yang baik dan benar dong. Sudah tu >>> hadapi masalah dengan tegar dan sabar jangan langsung disikapi dengan emosi juga. Hikmah yang lain adalah, sekali lagi daku belajar menghadapi karakter manusia yang bermacam ragam, namun tergantung kita apakah kita mampu mewarnai mereka dengan akhlak kita yang baik sementara mereka mungkin sedang terkurung dalam jiwa yang tidak baik atau malah kita yang terwarnai dengan jiwa mereka yang tidak baik. Jangan orang lain sudah berlaku tidak adil, toh kita pula malah berlaku yang sama, kapan keadilan akan berwujud sempurna di bumi, jika kita semua begitu?. Itu semua pilihan. Lalu perhatikan apa yang terjadi! ^_^.

*legaaaannyaaaa nulis catatan ini ^_^ -sambil keluar dari kulkas hahahahah.

Minggu, 12 Juni 2011

Hakikat Cinta dan Pernikahan dalam Islam



Jumat, 27 Mei 2011 19:47 WIB
Oleh : Agustiar Nur Akbar

Cinta mengandung energi yang sangat besar, energi yang sangat luar biasa. Itulah kenapa seorang ibu rela berkorban sekalipun nyawanya demi sang anak. Seorang suami dapat tak hiraukan lelah dan peluh yang bercucuran demi anak istrinya. Para sahabat rela berkorban demi Allah dan Rasul-Nya, Muhammad SAW. Dan Romeo yang rela mati demi Juliet kekasihnya (sebenarnya ini adalah perbuatan bodoh atas nama cinta).

Energi cinta yang besar mempunyai kekuatan untuk mendorong seseorang melakukan sesuatu diluar akal sehatnya. Dan memberi kekuatan besar bagi seseorang untuk melakukan Sesuatu yang ia cintai.

Namun sayang, seringkali kekuatan energi cinta yang begitu besar menguap begitu saja tanpa ada sinergi dengan hal positif. Hal ini banyak terjadi dikalangan kawula muda kita, sahabat-sahabat kita, dan saudara-sadara kita. Atau mungkin justru kita sendiri. Cinta yang mereka usung selalu semu dan fana. Terbukti dengan kekecewaan, dan kesedihan yang diderita pada akhirnya secara sia-sia.

Sudah menjadi fitrah cinta yang timbul antara pria dan wanita yang bukan mahram. Seperti yang difirmankan Allah SWT dalam Al Quranul Karim. “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”. (Q.S Ar Rum [30] : 21).

Cinta walaupun mempunyai energi yang luar biasa namun ia juga rapuh. Islam mensyariatkan pernikahan untuk untuk melindunginya dari kemadharatan yang ada padanya. Dengan akad pernikahan, Islam menghalalkan segala macam bentuk ekspresi cinta dari pasangan suami istri. Bahkan setiap ekspresi dari cinta tersebut bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Pengorbanan atas nama cinta tidak lagi menjadi sia-sia. Akan tetapi bernilai sangat istimewa.

Rasa letih, lelah sang kepala keluarga untuk anak istri menjadi ibadah. Kesabaran istri dalam taat kepada suami, melayaninya dan mengasuh serta mendidik anak-anaknya menjadi ibadah. Dari hal terkecil sampai dengan hal yang paling besar terhitung ibadah.

Kerapuhan cinta bisa membuat dua insan berpisah. Dalam syariat pernikahan Islam. Islam menjaga hak setiap pihak, sehingga tidak ada yang dirugikan. Ketika terjadi perpisahan atau perceraian hak dan kewajiban dari kedua belah pihak telah diatur dengan sempurna. Dari mulai yang terkait dengan diri sendiri secara langsung. Seperti mut-ah (pemberian kepada istri ketika dicerai), dan aturan untuk rujuk. Maupun yang terkait dengan pihak lain, seperti pembagian waris dan aturan menikah kembali dengan pasangan yang berbeda.

Tidak ada isitilah pihak yang dirugikan disini. Pihak yang lepas dari tanggung jawabnya seperti menelantarkan anak dan istrinya. Ia akan diperhitungkan baik di sisi manusia maupun di sisi Allah SWT. Keributan akibat harta gono-gini antara pasangan pun tidak akan terjadi. Karena telah diatur dalam pembagian waris dan penentuan kepemilikan harta.

Dengan demikian energi cinta yang besar tidak akan sia-sia serta tidak membahayakan. Rapuhnya pun tidak akan merugikan satu pihak, apalagi menderita sia-sia. Seperti pasangan yang ditinggal kekasihnya dan ia dalam keadaan mengandung, misalnya. Dari sini kita juga dapat mengatakan, penghargaan tertinggi untuk wanita atas nama cinta adalah pernikahan secara Islam. Wallahu a’lam bish-shawab.

Penulis adalah mahasiswa Indonesia yang kini tengah menimba ilmu di Kairo, Mesir.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/05/27/lluu6v-hakikat-cinta-dan-pernikahan-dalam-islam

Minggu, 15 Mei 2011

Udah Banyak Aja Umur Kau, Rul!




Pagi itu aku bangun pukul 05.30 WIB di hari itu aku merasa umurku berkurang, namun amal baik masih tak ada seujung kuku pun. Pagi itu ku awali dengan beberes-beres ria, mulai dari gosok pakaian hingga merayakan ultah bersama emak. Emak datang pagi itu dari Bandar Setia *daku anak nenek yang kudu tinggal di rumah nenek*.

Aku sambut kedatangan emak di depan pintu dengan senyum lebar mengalahkan lebarnya pintu yang ku buka untuk emak pagi itu. Emak langsung cipika cipiki denganku…aih…emaakkk ^_^.

Sesampainya di dapur, Ido sudah mengeluarkan kue hitam manis itu dari kulkas, lalu Emak teriak memanggil namaku…aku yang di kamar membereskan peralatan menggosokku langsung ngacir mendengar panggilan merdu itu.



‘Oalah Rul…udah banyak juga umur kau’, Emak mengusap-usap kepalaku. GLEK! Aku langsung terdiam dan mencoba mencari makna perkataan emak di kedalaman matanya. Umaaaakkk…maaf kan anakmu ni yang belum bisa ngasih apa2…*tiba-tiba hujan di hatiku gan!*T_T


Aku pun cepat-cepat mengalihkan haluan sesi sedih-sedih ke sesi makan-makan kue dan poto-poto. Jadi, sebelum kue disembelih, aku harus mengabadikannya terlebih dahulu. Ido sang potografer dadakan kusuruh mengambil gambar. Senangnya yang lagi ulangtahun . Kue pun dipotong..hmm…nyam…nyam…ehm, ini adalah kue ulang tahun terlezat yang pernah aku makan, bolunya padat ndak kayak bolu black forest biasa ku makan, apalagi banyak hiasan irisan keju di tiap pinggirnya, dah gitu…hiasan kacang mede tiap ujungnya dan yang lebih eksotis lagi adalah, tebalnya balutan coklat asli…wuahhh…kelezatannya masih kebayang mpe sekarang. Thanks ya Do *asyiknya punya adik seorang Chef* ^_^.

Setelah kemeriahan makan memakan kue serta foto memfoto, daku kembali bersiap-siap untuk ke kampus bareng emak. Walaupun waktunya mepet harus disempat2kan ke kampus sekalian mau membagi kue buat anak2 di Dinamika. Sesampainya di kampus, anak2 yg ada di secret udah senyum-senyum aja ke arah gue, dan keluarlah segala ucapan Selamat, thanks ya sobat ^_^. Love u all.

Siang hari aku harus meluncur ke jalan, karena malam nanti aku akan berangkat ke Pekan Baru naik bus antar provinsi, emang sih anak2 sempat berniat ngerjain bidadari yg satu ini…adalah HP ku diambil agar aku bisa bertahan di secret, adalah flasdis ku yang diambil, namun, karena mereka sudah disuap dengan kue coklat, akhirnya aku bisa melarikan diri BWAHAHAHAHAHA…Daku berangkat ya! Met Mendaki Gunung Sinabung, btw tempat kuenya jangan ikut dimakan :p.

Saatnya daku memanjakan diri dengan menghadiahkan diri liburan ke suatu tempat sekaligus ikut dalam acara TFT FLP Se-Sumbagut di Pekan Baru plus Bedah Buku di TB. Gramedia JendSud Pekan Baru *curi-curi momen lah ceritanya*, wuaahh ini kado ultah yang lain dari tahun tahun sebelumnya. Thanks to Allah, again n again ^_^.
Kepada semua sahabat teman yang mencinta dan dicinta, terimakasih buat doa tulus di hari aku mengulang tahun kelahiranku, berkah Allah untukku dan untuk kita semua. Aaamiiinn….

-Sebuah senyum akan membuatmu tampak lebih indah/sebuah dukungan akan membuatmu lebih bersemangat/n’ Semoga doaku membuatmu lebih kuat/karena Allah punya hadiah untukmu>>>Secercah cahaya untuk setiap kegelapan/Sebuah rencana untuk setiap hari esok/Sebuah jalan keluar untuk setiap permasalahan/Sebuah kebahagiaan untuk setiap kesedihan/Keep spriti…Barakallah fii umurik/ -faba-




Kegilaan Orang Ulang Tahun

1. Menanti dan Menghitung Sahabat n Keluarga yang Ngucapin Selamat

Jadi ceritanya nih, setelah beberapa menit sekali melihat notif di fesbuk, ada sekita 120-an teman n sahabat yang ngucapin ultah...thanks ya sob, gan, fren, ^_^

Kalau vie HP bisa disebutkan nih yang ngucapin Met Ultah, ada Molen thanks ya mol, doa mu untukku kuaminkan semiliar juta ribu kali amiin ^_^, ada Sarah, Ibna, Lita makasih ya dek, Kak Fadhli, Faiz, Adi, Buk Fitri, Tami...:) Thanks to all.

Ada beberapa someone special *udah beberapa, someone lagi, banyak amat :)* yang aku nanti nanti SMS nya, namun sampai pukul 00.00 tanggal 5 Mei 2011, SMS, FB, YM, Twitter, tak kunjung datang ya sudahlah, mungkin dia lupa.

Inilah kegilaan orang yang lagi ulang tahun.Di satu sisi cukup senang banyak yang ngucapin via fesbuk tp disisi lain aku rindu ucapan via SMS huwaaaa....T_T




Terkhusus buat adikku Ido...thanks ya sayang untuk kue ultah n suprise party nya hehehehe...love u all buat adik2ku yg satu rahim, Sarah, Oji, Kiki :).

2. Bawaannya Senang Luar Biasa
Ho oh...selama seharian aku sumringah luar biasa, rasanya aku pengen bilang ke semua orang yang aku temui hari ini...WOI...AKU ULANG TAHUN LOH HARI INI...KASIH SELAMAT DONG KE AKU! halaaahhh...klo begini mah pengen minta di timpuk pake sejuta kue ulang tahun hahahahah*

3. Kado Spesial
Yup, ultah kali ini aku menghadiahkan diriku yakni jalan2 ke Pekanbaru n Bedah buku GGC disana. Asyiknya jalan2 pake uang sendiri lebih asyik lagi jalan2 di ongkosin *kalo yg terakhir mah siapa yg kuat buat nolak* :)


Sekali lagi Selamat Ulang Tahun Nurul Fauziah yang ke 23, berkah selalu mengelilingimu :). Terimakasih ya Allah :).