Tampilkan postingan dengan label Santai yuukk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Santai yuukk. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Oktober 2012

Bukan Tidur Siang Biasa


Nap, atau tidur siang, adalah suatu hal yg jarang aku lakukakan. Selasa tralala itu ntah rasa kantuk darimana hingga buatku harus makan bubur eh tidur siang maksudnya :D.
Bla…bla…bla

comerecommended.com

Dipercepat aja ya, ecek-eceknya aku dah tidur siang trus bangun. Nah, kebiasaan bangun dan sebelum tidur selain baca doa, adalah nge-cek si Gotem apakah ada missed call atau massage. Ternyata ada satu pesan di inbox-ku.
Aslkm
Kak, ini era dari Dema (semacam BEM nya kampusku). Mau konfirmasi mslh MC utk hari kamis ini gmn kak?

Aku yang setengah isi setengah kosong, eh kenapa jadi judul buku sih, aku yang setengah sadar setengah gak sadar, membaca sms itu masih kreyep-kreyep, namun akhirnya sadar juga.
W3,
Hah? MC apa?
MC acara Stadium general peringat hari kesaktian Pancasila!
Lah, kok bisa? Kak kan dah alumni, seharusnya yang mahasiswa dong yang jadi MC? Maaf, kk gak bisa, lagipula hari kamis kk ada agenda
Ada dikasi tau Anjar? Soalnya dia yang rekomendasikan!
Gak ada, Anjar gak ada ngasi tau kk
Maaf, kenapa setiap kalimat diakhiri tanda seru?

Hahaha, aku udah mulai betanduk, soalnya disetiap kalimatnya diakhiri tanda seru, setahuku, tanda seru untuk kalimat perintah atau command, lebih dari itu jika tanda seru diletakkan tidak pada fungsinya, kesannya ya itu tadi, bentak-bentak, arrghhh…
Memang kebiasaan kak!
 Hhehe
Kemaren anjar yg ngasi no kak

Nyantai amat dia bilang kebiasaan, sedang daku hampir berubah jadi Hulk, untung aku cepat-cepat meredakan emosi, kembali lagi ke bentuk asli, bidadari *cermin mana cermin??? :D
Duh, kebiasaannya segera diubah deh, kesannya kamu ngebentak-bentak kk. Emang Anjar bilang apa?
Gak tau kk, Anjar kemaren bilang. Sebelumnya kk kmaren ada atw gak di hub Anjar kk?
Kan daku dah bilang, kalo daku gak ada dihubungi sama Anjar, Hallooo…???
Gak ada dek, Anjar gak ada hubungi kk
Okeelah kak
Mksh ya kak
Mengganggu kak
Oh ya nama  kk masyita kan kak?

Daku nyengir kuda baca smsnya yang terakhir :D
Bukan, nama kk Nurul Fauziah :D
Sesuatu ya, panjang-panjang sms eh, taunya salah orang -_-, Masyita itu teman sekelasku dan dia belakangan laris banget jadi MC di kampus di masa-masa semester akhirnya ini, dan Daku sama Masyita lumayan dekat, jadi wajar banget Anjar susah bedain kita dua, hahaha. Masyita-Nurul, Nurul-Masyita. :D
Kesimpulannya, pemirsah ^_*
Sekali tidur siang aja, eh pas bangun langsung ditawari MC di acara kampus, konon lagi aku tidur siang tiap hari, gak kebayang pas bangun ditawari MC di acara Panasonic Award, HAHAHAHA *PLAK XD*












Jumat, 25 Juli 2008

PUISI : MELEMBUTKAN JIWA ANAK

PUISI: MELEMBUTKAN JIWA ANAK
Oleh: Nurul Fauziah
Dan untuk puisi
Kami memiliki ramuan ajaib
Racikan yang kami dapat
Dari negeri bidadari dan kampong kurcaci
Kami beritahu padamu: Obelix dan Asterix pun
Mengincarnya sejak lama.
Potongan puisi yang berjudul “Klarifikasi Kurcaci” di atas adalah karya Abdurrahman Faiz, seorang anak berusia 11 tahun yang sudah piawai menulis puisi sejak usianya 8 tahun dan sudah menerbitkan 2 buku antologi puisi, dengan judul buku keduanya yang terbaru adalah Nadya: Kisah dari Negeri yang Menggigil terbitan Forum Lingkar Pena Publishing.
Tidak banya anak Indonesia zaman sekarang yang mampu mengekspresikan perasaannya salah satunya dalam bentuk puisi. Hal itu mungkin dikarenakan kurangnya minat anak dalam mempelajari pelajaran sastra, terkesan membosankan atau karena lebih asyik bermain games online dan bermain playstation serta menonton televisi.
Puisi atau sastra secara umum, adalah instrument yang membhasakan kelembutan jiwa seseorang. Puisi juga membuat seseorang lebih dekat dengan perasaan, perasaan mereka sendiri, membantu mereka memahami hal yang tersirat dari alam, dan menagkap makna-makna kemanusiaan yang paling dalam yang senantiasa terlahir dari nurani manusia. Bagi seseorang, puisi juga merupakan hiburan jiwa.
Itu sebabnya Umar bin Khattab menganjurkan pengajaran sastra untuk anak-anak. Karena sastra kata Umar, dapa mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani. Rasulullah SAW sendiri menyukai puisi dan menghapal beberapa bait puisi Arab kuno serta mengenal para penyairnya. Dikalangan sahabat juga terdapat banyak penyair. Para pahlwan perang, di zaman Rasulullah dan sesudahnya, selalu menggunakan puisi sebagai cara untuk membangkitkan semangat perang kaum muslimin. Karena itu dalam tradisi sastra Arab ada beberapa penyair yang mempunyai spesialisasi dalam bidanng “Syi’rul Hamasah” (Puisi Semangat).
Di Afganistan sendiri, anak-anak diajarkan berpuisi—dikenal dengan istilah Sherngaji (Adu Puisi). Juga di beberapa belahan dunia lain yang menjadikan puisi salah satu kebudayaan dan menjadi mata pelajaran yang diajarkan di sekolah-sekolah dasar seperti di Korea, Cina, Jepang dan Amerika.